Tulisan Oleh Sebastian Ranla
Yang Penting Senyum
October 16th, 2009 Posted 11:55 am
(Sebastian Ranla)
“Moleng! Pisang gorengnya masih panas lho, Pak…” Aku berhenti dari membaca dan mulai memperhatikan penjual makanan ringan itu dalam kapal motor yang hendak membawaku ke tempat aku bekerja. Aku tersenyum ketika dia menawariku sebungkus moleng sambil berkata, “Cuma lima ribu rupiah, Pak.” Aku menggeleng sambil memberi isyarat dengan menunjukkan biskuit yang sudah lebih dulu kubeli. “Tak apa-apa, Pak. Yang penting: Senyum!” Lalu dia meninggalkanku dengan senyum sumringah di wajahnya dan mendatangi penumpang lain sambil tetap tersenyum.
“Namanya Lodi,” kata penumpang di kiri tempat dudukku ketika kutanyakan namanya. Dia sudah berkeluarga dan anaknya bahkan sudah di bangku SMP. Kegiatannya sehari-hari adalah menjual moleng dan pisang goreng di dalam kapal motor yang hendak berangkat ke tempat lain. Agak aneh pekerjaan ini di lakukan oleh seorang bapak keluarga, paling kurang di daerahku, karena jenis pekerjaan ini, yang menuntut orang menawarkan dagangannya sambil meneriakkan jenis barang jualan, lazimnya dilakukan oleh anak-anak usia Sekolah Dasar ataupun remaja belasan tahun. Tapi, ah… Apa urusanku dengan hal ini? Bagiku yang penting pekerjaannya halal dan ditujukan untuk menghidupi keluarganya. Di jaman orang sulit mendapatkan pekerjaan karena kurangnya lapangan pekerjaan ini, kreativitas Pak Lodi mestinya diberi acungan dua jempol.
Posted in Sebastian Ranla
Andai Kita Dapat Berterus Terang
October 11th, 2009 Posted 2:17 pm
(Sebastian Ranla)
Pertemuan-pertemuan singkat dan kebersamaan-kebersaman pendek… Entah sudah berapa kali kita terlibat di dalamnya. Tetapi matamu itu… betapa ia merindukan pertemuan-pertemuan panjang dan kebersamaan-kebersamaan yang berdurasi lama. Salahkah aku? Tentu saja tidak! Sebab meski kamu tak mengungkapkannya dalam kata, matamu mengharapkan sesuatu yang lain. Mata adalah cermin jiwa. Karena itu, kata temanku, jangan perhatikan apa yang keluar dari rongga suara seorang perempuan, tetapi perhatikanlah apa yang dikatakan matanya sebab ia tak dapat menipu dengan matanya. Sungguhh!
Dan tatapan matamu adalah gelombang kerinduan yang menguar dari hati, mengatasi tubuh, beresonansi di udara terbuka dan mencapai membrane hatiku. Aku tahu kau menginginkan kita berada dalam gelombang elektromagnetik yang sama supaya rinduku dan rindumu jadi satu. Namun, kamu tahu, betapa aku telah memasabodohi sinyal yang kamu kirim via udara. Dan kamu mencap aku sebagai pria sulit, tak punya perasaan dan bahkan pengecut. Terserah!!!
Posted in Sebastian Ranla
Jangan Harap Aku Mau Selingkuh Denganmu!
October 10th, 2009 Posted 8:41 am
(Sebastian Ranla)
Masih ingat kan pertama kali kita berjumpa? Di panas teriknya sebuah pasar rakyat di kota ini. Kita berjumpa di tempat penjualan pakaian rombengan. Ketika itu aku hendak membeli sebuah celana blue jeans. Kata kawanku, blue jeans itu tidak cocok untuk daerah panas seperti daerah kita ini. Keseringan memakai blue jeans akan mengakibatkan impotensi, katanya. Ngeri! Dan lagi, di Negara asalnya, blue jeans itu dipakai oleh para pekerja kasar di pabrik-pabrik.
Tetapi tentu saja aku tidak sepaham dengannya seperti biasanya. Pertama, ini soal mode, Bung. Ini jamannya kapitalisme. Tahukah Anda bahwa kapitalisme menjadikan “mode” apa saja yang dianggap miring oleh kebanyakan orang? Lihat saja anak-anak muda beranting sekarang ini. Dulu dianggap banci. Namun kemudian kapitalisme menjadikannya komoditas dan membuat para pemuda beranting itu sebagai symbol “macho”. Demikian pula dengan jeans. Dulu memang untuk para buruh kasar, tetapi sekarang sudah menjadi symbol “kejantanan”. Lihat saja para perempuan pengguna jeans sekarang… Tampak jantan, bukan? Dan yang terakhir ini: brekele! Jelek sekali model rambut itu. Tetapi orang-orang muda rela mengeritingkan rambutnya demi mode tersebut. Kedua, belum ada penelitian di daerah ini yang mengklaim bahwa satu dari sepuluh pria pengguna jeans menderita impotensi. Ketiga, kepraktisan. Bisa dipakai ke mana saja dan terlebih tak perlu dicuci terlalu sering. Makin lusuh malah makin asyik saja. Dan hemat sabun cuci. Satu-satunya alasan bagiku untuk tidak memiliki sepotong celana blue jeans adalah susah waktu mencucinya. Itu saja. Dan karena itu, aku ingin membeli satu, bahkan mungkin dua atau tiga kalau aku sudah cukup punya uang.
Posted in Sebastian Ranla
Mengapa Kita Tak Bisa Berterus Terang?
October 10th, 2009 Posted 8:40 am
(Sebastia Ranla)
Mengapa kita tak bisa berterus terang? Padahal kan hampir setiap hari kita bertemu, bercerita, bercanda bersama? Apakah semua itu hanya kepura-puraan saja? Ah, jika demikian, percuma saja kebersamaan kita yang nampak begitu menawan tetapi merupakan hasil dari kebohongan belaka.
Jujur, aku kaget sekali kemarin ketika seseorang menyampaikan sesuatu tentang saya yang didengarnya darimu. Tentu saja bukan hal yang positif, sebab kalau tidak, tak akan kutulis kisah ini ataupun bila kutulis tentu saja lain kisah dan nuansanya. Yang disampaikannya adalah bagaimana kamu menjelek-jelekkan saya di hadapan dia. Tak perlu saya sebutkan satu persatu detailnya sebab itu hanya akan menambah pedih di hatiku, walau dia bercerita secara rinci tentang apa yang kamu ceritakan kepadanya.
Posted in Sebastian Ranla
Jangan Tatap Aku Seperti Itu!
October 9th, 2009 Posted 3:46 pm
(Sebastian Ranla)
Berapa kali sudah kita bertemu, aku tak menghitungnya pasti. Puluhan kali? Tentu tidak. Ratusan kali? Atau bahkan seribu lebih kali? Mungkin kamu tahu sebab perempuan suka pada hal-hal sepeleh seperti itu.
Tapi… Apa gunanya membilang hal sepeleh seperti itu? Pemborosan waktu namanya. Lebih baik marilah kita mempertanyakan sejak kapan kautatap aku seperti itu. Sejak pertama kali kita bertemu? Mungkin, bila kamu percaya bahwa cinta datang pada pandangan pertama. Sejujurnya, aku sendiri tidak percaya pada pandangan itu. Sebab, yang pertama kali datang kan cuma kesan. Boleh jadi mengesankan. Tapi, namanya tetap kesan kan? Tidak lebih dari itu. Karena itu, aku tidak mau percayai cinta pada pandangan pertama.
Aku baru tahu kautatap aku seprti iut kemarin sore, ketika matamu cemas mencariku di dalam kelas dan tersenyum sangat manis menakala menemukan aku berada di deret paling belakang. Dan…. My God!!! Aku terhanyut dalam tatapanmu itu hingga tak kugubris lagi mata kuliah yang paling kugemari dan dosen yang paling banyak menyedot perhatianku itu. Gila!!! Sensasi tatapanmu sungguh memukau dan membuatku melupakan segalanya: kuliah, dosen, teman-teman sekelas, kursi-kursi, ruangan kelas, gambar-gambar di dinding, coretan-coretan di papan tulis, kertas-kertas yang berceceran di lantai dan suara-suara berisik di dalam dan di luar kelas.
Posted in Sebastian Ranla











