Tulisan Oleh Shandra Syailendra

Jadikan Aku Bising lalu Gilas Mimpiku

No Comments »

August 20th, 2010 Posted 9:46 pm

Walaupun manifestasi mimpiku adalah KAMU.

Kubiarkan saja ini menggelinjang, berlumuran dan lalu bising, hingar, bingar, dan entah apa lagi bahasanya. Aku memang mungkin memujamu, (masih mungkin) karena aku dulu pernah memuja yang lain. Sangat bahkan. Tapi kini aku memujamu. Karena itu aku percaya teori bumi itu bundar. Bola itu bundar. Dan hidup adalah tanda tanya.

Hari ini adalah hari ini. Entah bagaimana dengan esok.

Kini jadikan aku bising.

Cepat! Aku ingin bising dan lalu semuanya tergilas. Aku lelah bermimpi dan menjadi pemimpi. Apalagi mimpi itu tentang kamu.

Biar saja aku hidup hari ini dan tak lagi menjadi pemimpi, karena hari ini aku terbangun dan menuliskan tentang kamu . lagi dan lagi.

Posted in Shandra Syailendra

Jadikan Aku Bising lalu Gilas Mimpiku

No Comments »

August 20th, 2010 Posted 9:46 pm

Walaupun manifestasi mimpiku adalah KAMU.

Kubiarkan saja ini menggelinjang, berlumuran dan lalu bising, hingar, bingar, dan entah apa lagi bahasanya. Aku memang mungkin memujamu, (masih mungkin) karena aku dulu pernah memuja yang lain. Sangat bahkan. Tapi kini aku memujamu. Karena itu aku percaya teori bumi itu bundar. Bola itu bundar. Dan hidup adalah tanda tanya.

Hari ini adalah hari ini. Entah bagaimana dengan esok.

Kini jadikan aku bising.

Cepat! Aku ingin bising dan lalu semuanya tergilas. Aku lelah bermimpi dan menjadi pemimpi. Apalagi mimpi itu tentang kamu.

Biar saja aku hidup hari ini dan tak lagi menjadi pemimpi, karena hari ini aku terbangun dan menuliskan tentang kamu . lagi dan lagi.

Posted in Shandra Syailendra

Jadikan Aku Bising lalu Gilas Mimpiku

No Comments »

August 20th, 2010 Posted 9:46 pm

Walaupun manifestasi mimpiku adalah KAMU.

Kubiarkan saja ini menggelinjang, berlumuran dan lalu bising, hingar, bingar, dan entah apa lagi bahasanya. Aku memang mungkin memujamu, (masih mungkin) karena aku dulu pernah memuja yang lain. Sangat bahkan. Tapi kini aku memujamu. Karena itu aku percaya teori bumi itu bundar. Bola itu bundar. Dan hidup adalah tanda tanya.

Hari ini adalah hari ini. Entah bagaimana dengan esok.

Kini jadikan aku bising.

Cepat! Aku ingin bising dan lalu semuanya tergilas. Aku lelah bermimpi dan menjadi pemimpi. Apalagi mimpi itu tentang kamu.

Biar saja aku hidup hari ini dan tak lagi menjadi pemimpi, karena hari ini aku terbangun dan menuliskan tentang kamu . lagi dan lagi.

Posted in Shandra Syailendra

Romantis Yang Patah

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 11:10 pm

(Shandra Syailendra)

Ironinya si romantis. Jauh-jauh ia mengayuh. Tak hanya setes dua tetes peluh yang jatuh. Banyak. Banyak sekali. Basah. Mengguyur. Sejenak terbesit kelelahan dari raut wajahnya. matanya bergradasi kehitaman. Entahlah mungkin karena beban yang sudah terlalu berat dipikulannya. Tapi ia tak memikul apa-apa. Mungkin beban itu memang tak kasat oleh target pandang. Yang kutahu pasti ia sedang patah.

Kutanya, ia tak mengakuinya. Ia memang begitu. Terlalu angkuh untuk mengakui kalau ia sedang patah. Namun dapat dengan sombong aku katakan ada yang hilang dalam setiap geraknya, setiap hembusan nafasnya, dan setiap detak nadinya. Ia pasti sangat patah.

Wahai romantis! Seandainya saja kau tak perlu berpura-pura. Seandainya saja kau membaginya bersamaku tentu segalanya akan menjadi lebih mudah untuk kita. Aku tetap akan menyanjungmu walau kau tak lagi menjadi si romantis. Kau adalah surga  menawan melebihi kebisaanmu yang romantis. Kalaupun kau nantinya akan menjadi ironi sekalipun. Kau tetaplah kau. Tak ada yang berubah bagaimana aku menganggapmu. Tak sebilah belatipun mampu mengiris pesonamu. Kau tetaplah kau. Walau tanpa embel-embel romantis. Kau tetaplah malaikat malam dengan helaian rambut yang yang tersebar di seluruh penjuru jiwa. Menjagaku hingga lelap.

Ketahuilah. Ini bukan tentang kapan, tapi lebih tepatnya tentang dengan siapa.

Tebet. Awal Februari

Tags: ,
Posted in Shandra Syailendra

Senandung Airmata Dalam Balutan Melankolia

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 6:33 pm

Ia menetes, setetes.
Basah dan membasahi.
Aku terhasut dalam buaian keindahannya.
Seketika melankolia lalu bersenandung.
Mengeluarkan bunyian terisak bersama wajah yang lalu basah.
Aku terhasut oleh kebahagiaan.
Kebahagiaan diantara desahan nafas dan betapa kokoh garis rahangnya.
Ia pun kini menetes, setetes.
Basah dan lalu menggenangi.
Tanpa bahagia karena kini balutan kesepian yang menghasutku.
Lagi-lagi melankolia ikut bersenandung.
Menumpahkan berjuta kegundahan dan rindu.
Isaknya kini berbeda, kepedihan yang membalutnya.
Aku terbelenggu dan terjebak dalam duka.
Ia, airmata dan melankolia.
Selalu datang dikala suka dan duka.
Ia, airmata dan melankolia
Tebet 11 februari 2010

Tags: , ,
Posted in Shandra Syailendra

←Older