Tulisan Oleh Shandra Syailendra

Jadikan Aku Bising lalu Gilas Mimpiku

No Comments »

August 20th, 2010 Posted 9:46 pm

(Shandra Syailendra)

Walaupun manifestasi mimpiku adalah KAMU.

Kubiarkan saja ini menggelinjang, berlumuran dan lalu bising, hingar, bingar, dan entah apa lagi bahasanya. Aku memang mungkin memujamu, (masih mungkin) karena aku dulu pernah memuja yang lain. Sangat bahkan. Tapi kini aku memujamu. Karena itu aku percaya teori bumi itu bundar. Bola itu bundar. Dan hidup adalah tanda tanya.

(more...)

Posted in Shandra Syailendra

Romantis Yang Patah

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 11:10 pm

(Shandra Syailendra)

Ironinya si romantis. Jauh-jauh ia mengayuh. Tak hanya setes dua tetes peluh yang jatuh. Banyak. Banyak sekali. Basah. Mengguyur. Sejenak terbesit kelelahan dari raut wajahnya. matanya bergradasi kehitaman. Entahlah mungkin karena beban yang sudah terlalu berat dipikulannya. Tapi ia tak memikul apa-apa. Mungkin beban itu memang tak kasat oleh target pandang. Yang kutahu pasti ia sedang patah.

Kutanya, ia tak mengakuinya. Ia memang begitu. Terlalu angkuh untuk mengakui kalau ia sedang patah. Namun dapat dengan sombong aku katakan ada yang hilang dalam setiap geraknya, setiap hembusan nafasnya, dan setiap detak nadinya. Ia pasti sangat patah.

Wahai romantis! Seandainya saja kau tak perlu berpura-pura. Seandainya saja kau membaginya bersamaku tentu segalanya akan menjadi lebih mudah untuk kita. Aku tetap akan menyanjungmu walau kau tak lagi menjadi si romantis. Kau adalah surga  menawan melebihi kebisaanmu yang romantis. Kalaupun kau nantinya akan menjadi ironi sekalipun. Kau tetaplah kau. Tak ada yang berubah bagaimana aku menganggapmu. Tak sebilah belatipun mampu mengiris pesonamu. Kau tetaplah kau. Walau tanpa embel-embel romantis. Kau tetaplah malaikat malam dengan helaian rambut yang yang tersebar di seluruh penjuru jiwa. Menjagaku hingga lelap.

Ketahuilah. Ini bukan tentang kapan, tapi lebih tepatnya tentang dengan siapa.

Tebet. Awal Februari



Tags: ,
Posted in Shandra Syailendra

Senandung Airmata Dalam Balutan Melankolia

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 6:33 pm

Ia menetes, setetes.
Basah dan membasahi.
Aku terhasut dalam buaian keindahannya.
Seketika melankolia lalu bersenandung.
Mengeluarkan bunyian terisak bersama wajah yang lalu basah.
Aku terhasut oleh kebahagiaan.
Kebahagiaan diantara desahan nafas dan betapa kokoh garis rahangnya.
Ia pun kini menetes, setetes.
Basah dan lalu menggenangi.
Tanpa bahagia karena kini balutan kesepian yang menghasutku.
Lagi-lagi melankolia ikut bersenandung.
Menumpahkan berjuta kegundahan dan rindu.
Isaknya kini berbeda, kepedihan yang membalutnya.
Aku terbelenggu dan terjebak dalam duka.
Ia, airmata dan melankolia.
Selalu datang dikala suka dan duka.
Ia, airmata dan melankolia
Tebet 11 februari 2010



Tags: , ,
Posted in Shandra Syailendra

Ilustrasi Kehidupan Tanpa Nada

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 5:12 pm

(Shandra Syailendra)
Dia.
Segalanya yang mengilhami setiap detak.
Menyediakan tempat untuk kurajut, namun lalu terberai.
Begitulah dia.
Tanpa nada dan irama, datar.
Tapi begitulah aku mengaguminya.
(more…)



Tags: ,
Posted in Shandra Syailendra

kamu, kamu, rumitmu dan aku

No Comments »

February 10th, 2010 Posted 9:18 pm

kamu, kamu, rumitmu dan aku

Posted using ShareThis

Posted in Shandra Syailendra

suatu sore saat kita bercerita dalam diam

Comments Off

February 10th, 2010 Posted 8:58 pm

(Shandra Syailendra)

Suatu sore dimana hanya ada kamu dan aku.

Kita bertatapan saling menelanjangi dalam diam. Tak  satu pun dari kita bersuara. Kita sedang bercerita dalam diam.  Hening.  Sepi. Hanya matamu dan mataku yang saling bersenda gurau. Senyummu dan senyumku yang bersentuhan. Bahkan airmata kita yang bermuara tanpa kesedihan. Ini adalah tangisan kebahagiaan karena kau adalah aku, dan aku adalah milikmu.

Itu adalah dulu. Dulu kala suatu sore masih menjadi indah untuk kita.

(more…)



kamu, kamu, rumitmu dan aku

2 Comments »

January 22nd, 2010 Posted 6:25 pm

(Shandra Syailendra)

Seandainya saja kau tahu begitu megah perasaan yang telah terbangun ini. tak hanya aku, tapi kau pun ikut andil.
Mengapa kini dengan semena-mena kau robohkan begitu saja hanya karena kebingunganmu yang aku tak tahu apa?
Susah payah aku mengumpulkan satu persatu pengharapan sehingga telah hampir mendekati sempurna, bahkan dalam setiap doaku pun tak lupa aku meminta agar kau nanti yang menyempurnakannya.
Tapi tidak! Ternyata kau terlalu angkuh untuk mengakui kalau hidupmu dan hidupku akan indah bila kita tahu bagaimana mengatur porsinya. Mengatur alirannya hingga tak harus menyesatkan salah satu dari kita. Tapi kini kau melakukannya. Kau bahkan menenggelamkanku lagi dalam keterpurukan. Kau pelakunya.
Kau terlalu egois untuk bisa mengerti. Jangankan untuk mengerti dirimu. Kau bahkan tak menyediakan tempat untukku agar aku bisa mengertimu. Kau bahkan tak membiarkan waktu dan alam mengerti dirimu. Kau terlalu angkuh untuk itu. Lalu bagaimana kau dapat mememahami aku? Apakah aku hanyalah makanan penutup untukmu. Bukan sesuatu yang penting seperti bagaimana aku menganggapmu?

Tebet dini hari



Tags: ,
Posted in Shandra Syailendra

to be overwhelmed with pain

1 Comment »

January 22nd, 2010 Posted 6:24 pm

(Shandra Syailendra)

Saya sedang lupa bagaimana bersahabat dengan perasaan.
Seingat saya, beberapa minggu yang lalu saya masih bersamanya, bersama dengan perasaan yang bertumpuk seperti setoples gula yang terletak tak jauh dari tempat saya menulis saat ini. Manis.

Sudah beberapa hari ini saya tidak merasa. Apakah saya juga lupa rasanya? Kemarin saya melahap semengkuk bakso yang idealnya bercitarasa gurih, pedas, asin, dan ada sedikit manis karena saya bubuhi sedikit kecap di dalamnya. Tapi? Lagi-lagi saya tak merasakan apa-apa. Hanya hambar, tanpa rasa.

Saya sendiri tak tahu apakah ada yang salah dengan lidah saya?
Mungkin ia terlalu takut merasa. Takut akan kehilangan semua rasa itu dan malah menutup diri dari merasa.

(more…)



Tags:
Posted in Shandra Syailendra

Tercampur, Mencampur, Terhanyut, Tenggelam

No Comments »

December 2nd, 2009 Posted 6:07 pm



Tidak!

Kamu tidak pernah tahu, karena kamu bukan aku. Ini tidak akan pernah sama, apa yang bercampur dengan sengaja di dalamnya, ataupun yang tidak dengan sengaja tercampur.

Sama seperti aku yang tidak pernah tahu apa yang kamu sengaja campurkan atau yang tak sengaja tercampur dalam ruang itu. Tidak.

Dan aku kini tak hanya terhanyut, tapi telah tenggelam. bagaimana dengan kamu?


Tebet 6pm, Pisa Cafe awal Desember

*foto diambil dari blog seorang teman.

Posted in Shandra Syailendra

apakah aku masih indah?

No Comments »

October 2nd, 2009 Posted 5:33 pm


Apakah aku masih indah di matamu setelah tubuhku layu karena usang?
Apakah aku masih indah di matamu setelah tubuhku penuh dengan lipatan-lipatan daging yang menggayut bergelambir?
Apakah aku masih indah di matamu setelah kerutan di wajah ini dengan lincahnya membentuk muara?
Apakah kau masih menganggapku indah? Kubertanya padamu.
Ini adalah sebuah sore dimana aku mulai mempertanyakan hatiku, hatimu, dan hati kita.

Sore yang gamang. Walau setidaknya jari jemariku dapat dengan lincah berayun menorehkan berbagai rupa pertanyaan. Apakah? Tapi mengapa lidahku seperti kelu, kaku, terbujur tak berdaya hingga sangat tak mudah untuk mngaturnya berjajar membentuk barisan dan melontarkannya seperti meriam, lalu meletus?

Oh…Aku tak mampu, sungguh tak mampu. Aku terlalu. Aku terlalu padamu.
Dan kau? Apakah ini hanya berlaku padaku? Apakah hanya aku? Lalu bagaimana denganmu?
Tak ibakah kau melihatku terseret dan semakin tak berdaya karena pesonamu? Apakah ini juga berlaku padamu? Apakah aku juga memiliki hak yang sama untuk melakukan ini padamu? Seandainya saja aku mampu. Bahkan warna wajahmu berubah gelap pun aku tak sanggup. Terlalu megah perasaanku. Terlalu.


Kini aku mulai mempertanyakan ini. Aku mulai mempertanyakan aku. Aku mulai mempertanyakanmu, dan kita.
Apakah aku masih akan terlalu setelah wajahmu dipenuhi keriput yang bermuara? Apakah aku masih akan terlalu setelah nanti lekukmu terlahap lipatan-lipatan daging yang menggelayut bergelambir? Dan apakah aku masih akan terlalu setelah nanti tubuhmu telah layu karena telah using? Aku terdiam dan berpikir. lalu dengan sangat yakin aku katakan, apapun itu, bagaimana pun kau kelak, bila kau lalu menjadi usang, keriput, bergelambir atau apapun itu. kau adalah tetap kau. Yang tetap aku nobatkan sebagai seseorang yang membuatku jadi terlalu.

Surabaya, 2 oktober 2009 *buat kau yang selalu membuatku jadi terlalu

Posted in Shandra Syailendra

Teman, Apakah Masih Boleh Kau Kupanggil Teman?

6 Comments »

September 8th, 2009 Posted 1:00 am

(Shandra Syailendra)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

Tiga puluh dikalikan lima dan tiga puluh satu dikalikan tujuh hasilnya adalah tiga ratus enam puluh lima.

Teman, kalau boleh aku memanggilmu itu.
Ingatkah kau, betapa indahnya kala itu, saat kita berdua berbagi awan, bergulingan tanpa peduli embun yang setetes demi setetes membasahi kita?
Aku masih ingat, teman.
Lalu lagi-lagi teman, ingatkah kau, betapa indahnya kala itu, kala kita berbagi ranting seperti dua burung gereja yang kelelahan tersapu derasnya angin?
Aku masih ingat teman
Dan teman, sekali lagi aku bertanya masih ingatkah kau? Masih ingatkah kau janji yang pernah terucap dari kedua bibir kita?
Aku masih ingat teman.

(more…)



mungkin aku memang suka kau buat cemas

No Comments »

September 2nd, 2009 Posted 1:41 am

(Shandra Syailendra)

Anganku terambang diantara sekelumit kerumitan tentangmu.
Aku diam. Kutenangkan diriku. Kuatur nafasku yang mulai tersengal karena balutan kecemasan. Dimana kau? Mengapa kau diam? Tidakkah kau merindukanku?
Aku menganalogikan cerita ini seperti roller coaster, naik turun. Kadang kau diatas, kadang pula kau di bawah. Mencemaskan. Tapi itu yang kusuka. Aku suka kau buat cemas. Sangat suka. Entah!
Oh, aku tak tahu harus bagaimana berkata.

*mungkin kau tak pernah tahu kalau aku hanya berpura-pura suka dengan cemas ini, atau karena aku harus melahapnya karena aku suka kau?

September 2009 (diawal)



Posted in Shandra Syailendra

kemuning Yang Menguning

No Comments »

September 2nd, 2009 Posted 1:39 am

(Shandra Syailendra)

Kemuning yang menguning

Kemuning!
Yang harus jadi wanita diusia dini.
Yang memikul berat hidup tanpa dapat memilih.
Yang hampir tak pernah mengernyitkan dahi.

Kemuning adalah senyum dan tawa.
Hampir tak pernah tampak mendung dalam kemuning.

Padahal?
Padahal kemuning adalah sepi. Ia sendiri. Ia menangis. Ia sakit. Ia tragis.
Tapi ia tetaplah kemuning.
Berwarna, bergejolak. Berusaha!
Ia rindu disentuh. Apalagi dipayungi. Jangan ditanya.
Hanya berani rindu saja, bahkan inginpun tidak.
Kemuning tak pernah berani berharap. Tapi ia sering berandai.
Seperti kini. Kemuning tak dapat menjadi kuning.
Kemuning hanya mengagumi. Menikmati yang sesaat ini. Hanya seorang diri.
Kemuning yang ragu karena miliknya percaya telah habis
Ia! Kemuning ingin dia. Tapi kemuning tak berani. Tak berani menguning atau menjadi kuning. Padahal ia adalah kemuning.
Kemuning tetap sendiri. Kemuning masih sendiri. Mungkin akan selalu sendiri
Entah?



Posted in Shandra Syailendra

Seandainya Saja

No Comments »

September 2nd, 2009 Posted 1:37 am

(Shandra Syailendra)

Seandainya saja aku bisa berteriak
Akan ku minta dirimu tanpa kecuali
Seandainya saja aku diberi waktu
Akan kuracik untuk merekah menjadi ingin
Seandainya saja kau tumbuhkan bunga
Akan kusajikan dengan jujur kelopak hatiku
Seandainya saja aku bisa meraih
Akan aku biarkan kujatuh dalam dinginmu
Seandainya saja aku bisa berlari
Akan ku biarkan kuterhempas dalam kalbumu
Seandainya saja kau memberi udara
Akan kutiupkan kesungguhan dalam balutan harap
Seandainya kau yang akan berlari
Akan kusergap kau dalam keindahan tak bersarat
Seandainya…seandainya…seandainya….
Tak akan kubiarkan dirimu patah, jatuh dan tersungkur dalam ketidakberdayaan
Seandainya kau tahu
Begitu megah rindu ini bersemayam…
Seandainya, hanya seandainya….
Aku kini kehabisan kata seandainya

“kau begitu indah hingga aku kehabisan seandainya”
Aku tanpa mengerti dimensi ruang dan waktu



Posted in Shandra Syailendra

Sebuah Sudut Di Bagian Utara Ibukota

No Comments »

September 2nd, 2009 Posted 1:35 am

(Shandra Syailendra)

Ini masih terbilang pagi.
Aku tentu saja bukan sudah bangun, tapi belum tidur lebih tepatnya.
Semalam aku terdampar di tempat ini. Aku mengendarai mobil tua tanpa air conditioner dengan seseorang yang aku kenal tapi tak dekat.
Ia tak tahu aku sedang didominasi alkohol. Aku sedang berpura-pura.
aku hanya takut menjadi kikuk saat harus berdua saja. Aku memang bodoh. Aku terlampau tertutup.
Aku tak suka ia mengetahui kalau aku menyembunyikan rasa. Aku bersikap seolah-olah ini hanyalah bumbu kekhilafan tanpa rasa apalagi asa. Biar saja ia menilaiku liar. Justru itu yang aku inginkan. Aku mau ia menganggap aku tak terbawa permainan desahan ini.
Aku mencoba mengingatnya. Yah, semalam untuk kesekian kalinya ia mentransfer pergumulan ini. Aku sakit seketika, aku sakit menduga-duga apa yang ada di hati dan otaknya. Memikirkan apakah ia juga mulai memiliki getaran yang sama saat bibir kita terkatup bersama. Ohhhhh….aku melupakannya. Seperti saat kupaksa ia pulang dengan taksi karena aku merasa makin tak dapat aku menyembunyikan tatapanku yang mulai dikotori perasaan aneh.
aku takut, karena tiba-tiba ia bilang ia suka mataku yang indah. Dan aku menjadi tak suka karena itu sudah mengagitasi dan mengotori permainan liar ini. Tak boleh ada kalimat romantis di antara dosa, bukan?
Kini kucuci wajahku dengan sisa air mineral. Kusudahi memikirkannya. Aku keluar dari dalam mobil. Kulihat ada segerombolan manusia melintasiku. Tatapanku bersinggungan dengan seseorang pria, ia memiliki rambut gelombang yang menggantung, kulitnya putih kekuning-kuningan. Tak disengaja, tapi aku seperti mengenalnya. Mungkin saja di kehidupan sebelum ini. Sudahlah, ia sedang bersuka tak sama denganku yang menyimpan duka karena susah untuk berkata tidak.

*akan bersambung nampaknya



Posted in Shandra Syailendra

←Older