Tulisan Oleh Simon Nagari
MIMPI DALAM MIMPI (sebuah perwujudan mimpi)
April 6th, 2010 Posted 1:45 am
Tags: Sharing
Posted in Simon Nagari
MIMPI DALAM MIMPI (sebuah puisi tak berujud)
April 6th, 2010 Posted 12:16 am
(Simon Nagari)
Kala sakit mencengkeram
Kala pulas karena lupa
Kala tak nyenyak beralaskan kursi lipat
Bayang itu hadir
Melalui bermacam dimensi
Mencari sesuatu yang tepat
Untuk ditata dan dirajut
Menjadi sebuah mimpi yang indah
Menjadi banyak mimpi yang menyedihkan
Ataukah sekedar mimpi dalam mimpi
Tags: Puisi
Posted in Simon Nagari
Miskinku syukurku
March 21st, 2010 Posted 9:54 pm
(Simon Nagari)
Tags: Puisi
Posted in Simon Nagari
Sepi………
March 20th, 2010 Posted 6:34 pm
Cuman sepi aja…………….
Tags: Curhat
Posted in Simon Nagari
Rindu Melayang
January 14th, 2010 Posted 8:54 am
Posted in Simon Nagari
WHAT’S FOREVER FOR
January 7th, 2010 Posted 9:43 am
Tags: Motivasi
Posted in Simon Nagari
Tiada cerah tanpa mendung
January 3rd, 2010 Posted 10:57 pm
(Simon Nagari)
Tags: Puisi
Posted in Simon Nagari
Kingdom of Heaven……….sebuah jawaban….
December 31st, 2009 Posted 9:35 pm
(Simon Nagari)
Aku ingat betul, ketika dalam sebuah layatan seorang kawan yg lama tidak bertemu dan ternyata dia sedang mendalami agamanya, bertanya,” Kamu kan seorang keturunan Tionghoa, bisa gak menjelaskan tentang Tupekong (maaf jika salah penulisannya)”, seraya tersenyum, “maksud kamu??”, aku agak keheranan, kemudian dia memperjelas pertanyaannya tentang sebuah agama/kepercayaan di negeri ini, dimana ada dewa Tupekong didalamnya, yang membuatnya sangat ingin tahu mungkin karena dia menganggap bahwa Tupekong adalah Tuhan bagi penganutnya. Enteng aja kujawab, bahwa aku memang keturunan Tionghoa, tapi tidak menganut agama/kepercayaan tersebut, jadi cuman mengerti sedikit, karena setahuku Tupekong adalah salah satu dewa. (more…)
Tags: Maaf, Sharing
Posted in Simon Nagari
Refleksi singkat de javu
December 22nd, 2009 Posted 7:49 pm
Tags: Sharing
Posted in Simon Nagari
Sentimentil usang 13 Desember
December 13th, 2009 Posted 7:46 am
(Simon Nagari)
Purwokerto, dulu masa kecilku, belakang rumah kakekku sawahterbentang luas, ada sungai kecil yang airnya mengalir sangat kecil,dan terkesan bau karena juga terkena limbah pabrik soun, tapikesejukan sangat terasa, enak berjalan diatas pematang, sesekali memetik kacang panjang untuk dimakan sambil memancing belutsangat menyenangkan. Jalan didepan rumah masih tak begitu lebar,hanya dilewati sepeda sesekali.
Aku ingat betul, tiap pagi bangun duduk diberanda, memperhatikan orang-orang berjalan menuju kota untuk menjual sayur mayur, ada beberapa sepeda dengan muatan karung goni, berisi beras, untuk dijual di perempatan jalan tidak jauh dari rumah.
Kadang nenek menghentikan ibu penjual sayur, kemudian terjadi transaksi yang sangat sederhana, setelah itu ada suara-suara penggorengan di dapur yang sangat sederhana juga, walau saat itu kompor minyak sudah merupakan barang bagus di dapur.
Purwokerto, sekarang, ditanah yang sama, sudah berdiri bangunan-bangunan memanjang, ada yang tingginya mendekati langit, sura-suara bising knalpot kendaraan sudah menghiasi pagi ini, karena jalan didepan sudah berubah menjadi jalan yang lebar dan mulus, dengan trotoar di kanan kiri menggantikan sungai kecil, bangunan toko, gudang dan garasi mobil sudah memenuhi batas pandang kita, yang dulu sangat hijau dan kadang kekuningan bulir padi, sudah tak ada lagi. Kawat-kawat listrik sutet, sudah tidak lagi terbentang diatas hamparan pematang-pematang sawah, tapi telah melewati tembok-tembok semen tinggi nan kokoh.
Tags: Perjalanan
Posted in Simon Nagari
Mana tangan baikmu??
October 1st, 2009 Posted 9:12 am
(Simon Nagari)
Saat liburan lebaran kemarin, ibu mengajak untuk menjenguk makam adikku, keliatan sangat bersih dan terawat, rupanya kakak dan ibu sangat memperhatikan perawatan makam itu. Makam yang terletak dibawah sebatang pohon kamboja putih, sangat adem dan nyaman untuk duduk berlama-lama di pinggiran makamnya.
Banyak kenangan yang aku ingat, tapi ada satu pertanyaan yang membuat aku terjaga saat terlelap di kursi kerjaku pagi ini, ”Mana tangan baikmu?” seorang penjual makanan menanyakan itu kepada adikku. Aku sempat tertegun dan mencari-cari asal suara itu, tapi aku tak menemukannnya, entah kemana perginya. Aku ingat kembali saat kejadian itu terjadi, saat pertanyaan itu terlontar langsung aku jawab
“Maaf, dia kidal,”
Tags: Lebaran
Posted in Simon Nagari
Eng, Harga Sebuah Keputusan
September 8th, 2009 Posted 1:30 am
(Simon Nagari)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009
“Gimana kabar Eng?,” tanya Slamet ketika aku berkunjung kerumahnya, “Baik, sangat baik, tidak seperti yang kita bayangkan disini,” jawabku, “Maksudmu gimana?,” Slamet seperti kebingungan dengan jawabanku, “jelaskan sedetail mungkin, biar aku bisa tahu dengan jelas,” aku tersenyum, “Dia cukup sehat, cukup bahagia hidup dengan seseorang yang dicintai dan mencintai, mereka seiring dan saling melengkapi, mengerjakan pekerjaan bersama dan bergantian,” aku mulai menyulut rokokku, kuhisap pelan-pelan, Slamet memandangiku penasaran, “aku tak tidur semalam, kami habiskan untuk bercerita,” aku jelaskan semua dialog yang terjadi antara aku dan Eng, “mungkin dia benar bahwa wanita yang dinikahi dulu, membuatnya gila, membuatnya bagaikan hidup dineraka, sehingga demi menyelamatkan anak-anaknya dari tontonan menyakitkan yang terus menerus, dia nekat untuk mengambil pilihan terburuk, pergi dan tak kembali, terlunta-lunta di berbagai kota, hingga dia bisa mulai bisa berpijak lagi sekarang, menyedihkan memang, tapi aku merasakan kedamaian yang diperolehnya sekarang, merasakan ketentraman untuk menutup sisa-sisa hidupnya,” lanjutku, “pilihan yang tidak gampang, tapi sungguh keberanian yang luar biasa, aku salut, aku yakin dia tetap punya rencana besar untuk anak-anaknya kelak,” kututup cerita itu seiring dengan tegukan tetes terakhir kopi yang disuguhkan padaku.
Tags: Lomba Nulis Hari Aksara 2009
Posted in Simon Nagari
Rasa syukur ya??
August 30th, 2009 Posted 10:48 pm
(Simon Nagari)
Ketika aku baca tulisan seorang sahabat baru, aku terperangah, aku terkejut, aku termenung. Tulisan pertamanya yang membuat aku menjadi terbangun dari tidur lelap keputusasaan, terjaga dari ketakutan mimpi buruk, tersadar dari kegersangan yang aku gelayuti bertahun-tahun, ya, “bersyukur” sebuah kata yang selama ini tak pernah aku hayati maknanya, tak pernah aku resapi dalam-dalam, ohh Tuhan maafkan diriku ini.
Ketika aku mulai tahu nikmatnya sebuah rasa syukur, aku mulai belajar untuk bangkit, aku mulai belajar untuk merangkak dan aku mulai belajar untuk berjalan, untuk menuju kepada sesuatu yang terang, untuk menuju kepada sumber cahaya, untuk menuju kepada usaha mencari sesuatu yang benar, ya, benar untuk dilakukan dalam sebuah kehidupan, oohh Tuhan bimbing aku dalam jalanMu.
Ketika aku sudah menapakan kaki diarah jalan menuju terang, ada sekian banyak cobaan, ada sekian banyak rintangan, ada sekian banyak godaan, dan ada sekian banyak tikungan tajam mematikan, namun tekadku untuk melewatinya sudah bulat, oohhh Tuhan kuatkan dan jaga kaki ini.
Dan ketika nanti aku telah menemukan cahaya itu, biarkan aku beristirahat dalam damaiMu Tuhan, amin.
Posted in Simon Nagari
Ingin
August 28th, 2009 Posted 11:29 pm
(Simon Nagari)
Setiap pagi aku biasanya pergi naik motor, tak ada tujuan tetap, hanya untuk melepaskan penat dan kebosanan. Disebuah gereja aku selalu berhenti, kusempatkan untuk menyerahkan semua yang akan terjadi hari ini kepadaNya, kemudian melanjutkan perjalanan tanpa arah, kadang menuju rumah beberapa teman, hanya sekedar untuk berbasa-basi beberapa menit, dan perjalanan kembali kuteruskan, hingga sinar matahari terasa agak panas barulah kuarahkan roda-roda itu untuk pulang.
Namun entah kenapa, hari ini, setelah kuserahkan semua kepadaNya, aku ingin menelusuri jalan-jalan kecil penuh kenangan. Hingga sampai didepan sebuah rumah, kuhentikan motor, kupandangi cermat rumah itu, tak ada yang berubah selama 16 tahun, rumah utama ada didepan, dan hanya ada satu pintu disamping untuk masuk kedalam kamar-kamar kost kecil.
Posted in Simon Nagari
Duniaku
August 28th, 2009 Posted 11:28 pm
(Simon Nagari)
Dulu aku selalu terbang bebas, kemanapun aku mau pergi, kapanpun aku ingin pergi. Aku jelajahi semua arah, utara, barat, timur dan selatan, tak terasa apapun dihatiku, tak terbesit sedikitpun kesan yang ingin selalu kuingat, karena aku merasa tak ada apapun dan tak ada seorangpun yang bisa mengisi kembali jiwa kosong ini. Aku tak peduli rasa, aku tak peduli ingin tertawa atau bersedih, aku tak peduli lemah atau kuat, aku tak peduli lagi akan diriku, karena telah kumasuki semua dunia.
Kini duniaku telah berubah, yang dulu penuh kebebasan tak tentu arah, kini aku hanya terpuruk didepan selembar layar, tak pergi bergeming dari bangkuku, hanya grafik dan angka yang selalu kuhitung, berulang dan berulang. Hanya gerak gelombang naik turun yang selalu kupandangi, berulang dan berulang. Aku tak bosan menghitung , aku tak bosan mencari arah, aku tak bosan menarik garis, aku tak bosan merubah angka, aku tak bosan mengais dan mengais ulang semua yang telah kusingkirkan.
Posted in Simon Nagari
Tak ada bedanya
August 28th, 2009 Posted 11:26 pm
(Simon Nagari)
Samar-samar kudengar Ebiet melantunkan lagu “Apakah ada bedanya,” kudengarkan dengan cermat, dan aku tulis diselembar kertas lusuh liriknya,
Apakah ada bedanya
hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang
sama-sama kosong
kucoba tuang kedalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Posted in Simon Nagari
Risk and reward
August 23rd, 2009 Posted 3:44 pm
(Simon Nagari)
Sepertinya sebuah realtionship sama dengan permainan di pasar modal, harus kita pertimbangakan risk and reward nya. Mencontoh pemain-pemain profesional, seberapa besar resiko apabila kita memutuskankan untuk melakukan transaksi dan seberapa besar yang akan diperoleh, semakin pandai menghitung dan menganalisanya, maka semakin profesional lah seseorang bermain di sektor tersebut, karena semua diukur dari kesuksesan mendapatkan hasil, dengan resiko kecil tentunya. Demikian juga apabila kita melakukan sebuah relationship, dan biasanya memang selalau terkait dengan bisnis, namun apabila semuanya tidak terkait dengan bisnis, hanya sekedar rasa dan seolah-olah saling membutuhkan untuk saling melengkapi dan menguatkan pada suatu masa, dimana kelemahan dan keputusasaan menggelayut, haruskah risk and reward kita hitung ulang??haruskah kita timbang lagi dan memutuskan: worthy or not worthy???
Rupanya, jika kita tidak saling mengerti dan memahami kegunaannya, apalagi apabila kita tidak bisa saling jujur, harus ada hukum risk and reward, worthy or not worthy, kenapa demikian??, jawabnya kita membutuhkan perhatian sebagai manusia yang dimanusiawikan, aku pria engkau wanita, aku ingin memberimu kekuatan dengan semangat dan kasih sayang, dengan segala pengorbanan yang bisa aku lakukan, dengan segala upaya untuk memberikan perhatian yang tidak aku batasi waktu, walau ruang kita terbatas. Namun bukan berarti aku hanya harus memberi, aku pun butuh engkau sebagai pelengkap dan pengisi hidupku, jadi perhatianmu bukan hanya basa-basi, apalagi jika engkau tak mau jujur kepadaku, maka situasi pasti akan tidak terjaga, dan sudah selayaknya aku mendengarkan sejumlah sahabat-sahabatku, untuk menimbang risk and reward, apakah engkau worthy untukku dan hidupku??
Posted in Simon Nagari
Topeng transparan seorang wanita (part 1)
August 23rd, 2009 Posted 3:43 pm
(Simon Nagari)
Berawal dari dunia maya, perkenalan karena iseng, bukan karena pernah kenal di masa lalu, namun hanya karena ada namanya yang tercantum di dinding pesbuk, dan sungguh sangat mengusik hati Mr.B untuk menyapa Mrs.C. Berlanjut dengan perbincangan yang semakin intens, tak satu haripun terlewati.
Pembicaraan, penelusuran dan rasa penasaran, terus berkembang. Rasa ketertarikan terutama menjadi sebuah kerinduan Mr.B, semakin hari semakin menggebu, sambil bertanya kepada diri sendiri “kenapa sih, aku kok bisa seperti jatuh hati pada satu wanita ini?, menarik hatikukah setelah kulihat profil dan album fotonya? ataukah karena selama ini tak pernah ada rasa lagi terhadap seorang wanita?dan ini merupakan sebuah titik balik yang lama dicari? entahlah, jalani aja” pikirnya.
Rupanya gaung bersahut, Mrs.C memberikan satu titik harapan, dan dengan indahnya hari-hari dilalui, pembicaraan yang nyambung, mengarah kepada sebuah rasa yang terpupuk semakin besar, tumbuh dan tumbuh menjadi sebuah keinginan untuk mulai terbuka, menceritakan masing-masing problem, berusaha untuk membicarakan bersama, mencari solusi bersama, dan mengarah kepada sebuah janji untuk bertemu.
Tags: Serial
Posted in Simon Nagari
Terikat erat sampai mati (part 2)
August 21st, 2009 Posted 9:14 pm
(Simon Nagari)
Kejadian terus berulang, setiap ada masalah, mr X pergi entah kemana, dan semakin seringnya sobatku itu lari dari pertengkaran-pertengkaran mereka, sesering itu pula istrinya datang kerumahku, menangis dan merengek. Hmmmm layaknya seorang jagoan (jagoan neon..), aku selalu berusaha untuk merapatkan lagi, terus, terus dan terus. Jika anak mereka sakit, sementara sobatku sedang dalam pelarian, aku mengantar sang istri dan anak-anaknya ke dokter, menjemput sekolah….wahhhh hebattttttttt…….mungkin itu yang akan keluar dari para pengejek, tapi biarlah, toh aku tulus membantu, karena mereka sudah seperti saudara kandungku.
Sampai suatu saat, ada sedikit perselisihan denganku, hubungan kami mulai renggang, aku mulai menjauh, dan terakhir kudengar, mereka pindah ke kalimantan, dengan tawaran karir yang menggiurkan, dan benar juga mereka berangkat. Dan kabar tak lagi terdengar, karena aku memang sengaja menutup telinga, demi kebaikan mereka, pikirku.
Tags: Serial
Posted in Simon Nagari
Terikat erat sampai mati (part 1)
August 21st, 2009 Posted 4:21 pm
(Simon Nagari)
Ketika kita mulai menyinggung tentang perkawinan katolik dalam percakapan kemarin, pikiranku kembali melayang, jauh kebelakang. Aku sangat ingat semua peristiwa2 yang memilukan, saat usiaku masih sangat dini untuk melihat perlakuan itu, yang seharusnya tidak terlihat oleh seorang anak kecil. Namun entah kenapa peristiwa tidak pernah hilang dari memori, tapi aku tak akan membongkarnya disini, karena ini rahasia kecilku, yang hanya ingin kubagi dengan seseorang, kelak saat usiaku menjelang habis. Aku hanya akan menceritakan kisah getir sobat kecilku, dalam sebuah perkawinan katolik.
Pertemuan terjadi di stasiun, saat aku dan mr X kebetulan pulang kampung, kami bercerita panjang lebar, akhirnya kami saling memberikan alamat kost masing-masing, yang ternyata tidak berjauhan. Pertemuan demi pertemuan kami lakukan, hingga berlanjut, menjadi sebuah persahabatan yang berulang seperti saat aku kecil, melakukan banyak hal-hal gila tanpa ada satu beban, this is a freedom, people with a freedom.
Tags: Serial
Posted in Simon Nagari














