Archive for the V. Olsy Vinoli Arnof Category
UNJUK KEBODOHAN
March 7th, 2010 Posted 6:40 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Waktu itu saya sedang di rumah sakit dan menonton televisi yang menyiarkan drama kolokan fraksi-fraksi dari Pansus Bank Century yang tengah memamerkan sesuatu pada diri mereka yang mereka sangka sebagai perjuangan politik demi rakyat. Pokok persoalan yang seharusnya adalah masalah pengawasan, dengan ajaib –– ajaib, karena apapun yang konyol, pasti berlangsung di Indonesia Raya yang Berketuhanan yang Mahaesa ini –– berubah menjadi pertunjukan teater bodoh tanpa pangarah laku dan naskah yang layak menjadi sebuah naskah drama. Jauh lebih menyenangkan, apa boleh buat, menonton lawakan brutal Opera van Java. Masih ada yang bisa ditertawakan, masih ada kritik-kritik seni pertunjukan yang bisa digunakan sebagai sudut pandang untuk menonton dagelan purba itu: setidaknya menyimak keawasan masing-masing pemain dalam merespon properti panggung dan merespon pemain lain: versi amburadul pentas drama gaya brechtian meski muatan narasinya tidak jenius seperti yang digubah dan diarahkan Betrold Brecht. Tapi ketahuilah, di negeri ini, kejenisiuan tersuruk di kolong jembatan dan di tempat pembuangan sampah; seperti kemunafikan agama-agama orang Indonesia yang mengutuk sperma yang membuat perempuan hamil tanpa direstui olehnya (setelah perempuan kedapatan hamil, justru yang dibejatkan adalah perempuan).
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
BERMULA DARI KOMENTAR
February 28th, 2010 Posted 6:25 pm
(v olsy vinoli arnof)
Beberapa murid SMA di Tanjung Pinang diberi sanksi akademik yang keji dari sekolah karena berkomentar tentang gurunya di Facebook. Saya tidak tahu persis seperti apa komentar murid itu sehingga si guru murka. Yang saya bayangkan adalah kemurkaan tuhan orang Israel ketika mereka tidak setia pada perintah tuhan yang (hanya) sepuluh itu. Namun Facebook dan situs-situs jejaring sosial lainnya, cenderung meruntuhkan batas antara ruang pribadi dan ruang umum. (more…)
Tags: Catatan, Curhat, Renungan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
BAGI YANG MENYANJUNG DAN MENENTANG NEO-LIBERALISME DAN BAGI YANG TAK TAHU APA-APA KARENA TELAH TERMANJAKAN OLEH CANDU AGAMA
February 27th, 2010 Posted 8:55 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Sepanjang masa kampanye pilpres-wapres tahun lalu, kata yang kerap muncul tapi kemunculannya tak memperoleh legitimasi historis sehingga tidak dipahami banyak orang adalah, ekonomi kerakyatan dan neo-liberalisme. Kubu anti-SBY-Boediono (Megawati-Prabowo) menggunakan istilah ekonomi kerakyatan untuk menyerang ideologi ekonomi yang disangka disandandang oleh Boediono, neo-liberalisme. Kubu Jusuf Kalla dan Wiranto, berkata tentan kebergegasan. Namun, upaya menghentikan SBY-Boediono yang dipandang pelaku neo-liberalisme justru menunjukkan, betapa kuatnya neo-liberalisme sebagai sebuah ideologi di Indonesia. Neo-liberalisme dimaki karena tidak paham dan makian-makian itu, juga tidak dimengerti. (more…)
Tags: Agama, Catatan, Ekonomi
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
ANAK-ANAK, PERCAYALAH ORANGTUA TAK TAHU APA-APA
February 23rd, 2010 Posted 9:37 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Orangtua kerap memaksakan diri bisa menjawab seluruh pertanyaan anak. Amat sedikit orangtua yang mau jujur kepada anaknya bahwa mereka memang tidak tahu dan tidak paham apa yang ditanyakan anaknya. Namun, pada dasarnya memang orangtua sudah sepatutnya tidak tahu apalagi paham terhadap banyak hal karena, dunia dewasa –– apalagi yang diembel-embeli oleh kemunafikan agama –– menuntut orang untuk bersembunyi ke dalam sebuah kotak pengap yang berjudul kemapanan, yang dalam istilah psikologi-psikologian yang sedang tren di majalah-majalah gaya hidup saat ini, dinamai zona nyaman, yang tujuannya cari aman.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
RAJIN PANGKAL PANDAI
February 22nd, 2010 Posted 4:55 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Demikianlah yang tertulis di bawah kayu salib di ruang kelas SD saya dulu. Tulisan itu diterakan lebih tinggi ketimbang lambang negara, Burung Garuda. Di bawah lambang itu, foto Pak Harto dan wakilnya, waktu itu Umar Wira Hadikusuma, dipajang sebagai keharusan.
Saya tidak tahu, apakah dulu saya anak yang rajin atau tidak. Namun, ketika berdoa bersama sebelum pelajaran dimulai dan berdoa setelah pelajaran usai, sembari mengguratkan tanda salib, saya selalu memerhatikan tulisan itu. Saya nyaris tidak memerhatikan kayu salib meski saya tahu beberapa bagian di korpusnya karatan, apalagi memerhatikan gambar laki-laki berpeci dengan senyuman aduhai di bawahnya yang kala itu, di Indonesia, lebih agung ketimbang Sri Paus Yohanes Paulus II; yang beberapa tahun kemudian berkunjung ke Indonesia dan ke Timor Leste, dan di koran Kompas dan TVRI, saya melihat beliau bersujud di Bandara Soekarno Hatta; di sekolah, saya dan murid-murid lainnya diminta menulis surat pada Sri Paus.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
ACABMEM KAYNAB ULALRET TABIKA
February 22nd, 2010 Posted 4:51 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Saya sering dihinggapi rasa frustasi karena kebiasaan membaca.
***
Dulu, waktu jadi panitia penerimaan mahasiswa baru di kampus, saya pernah ngomel-ngomel kepada seorang mahasiswi baru di jurusan saya karena dalam biodatanya ditulis bahwa hobinya membaca. Saya hamburkan kata-kata penuh kemurkaan padanya,
“Lu kira membaca sama kayak main gapleh apa? Kalo lu kalah muka elu dicoreng ama ampas kopi lawan elu.” Bila di kampus iseng-iseng main kartu gapleh, muka saya pasti langsung cemong seperti muka Kopasus.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
PARA PEMBUNUH
February 16th, 2010 Posted 8:25 pm
(V Olsy Vinoli Arnof)
Ada tiga kelompok kebodohan berbahaya di muka bumi. Pertama dan yang utama, perokok. Kedua adalah pemuka atau pemimpin agama yang membiarkan agamanya menjadi barang dagangan dan menyangka dunia akan baik-baik saja bila semua orang mau beragama dengan konsep yang kadaluarsa dan menunjukkan gincu-gincu kesalehan di muka umum, atau tetapatnya, dunia akan baik-baik saja bila semua orang berhasil menjadi manusia munafik.
Terakhir adalah pengemudi kendaraan yang tidak paham bahwa di muka bumi ini ada aturan berlalu lintas. Yang lain adalah sub-kebodohan dari tiga kelompok kebodohan ini.
Sub-kebodohan itu antara lain; kebodohan anggota Pansus Hak Angket Bank Century yang tidak paham etika hukum dan sistem akuntasi perbankan; kebodohan jurnalis TV One yang bila mewawancari narasumber selalu berkata, tapi kan… tapi kan… tapi kan, sebelum narasumber usai memaparkan pikirannya; kebodohan orang-orang pemalas yang menyangka dengan meratap pada sesuatu yang dia sangka tuhan, segala persoalannya selesai; dan, kebodohan pegawai Kementrian Agama dan Polisi.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
CEMONG PERADABAN
February 16th, 2010 Posted 10:29 am
(V Olsy Vinoli Arnof)
Dulu waktu kecil, saya berpikir Yesus umurnya sangat pendek. Lahir tanggal 25 Desember, lalu empat bulan kemudian, Jumat pertama April, meninggal. Saya percaya sekali dengan anggapan itu dan waktu itu keadaan sangat mendukung.
Waktu itu sedang ramai dibicarakan kasus penganiayaan anak hingga mati oleh orangtua, Arie Anggara. Sampai ada filmnya dan dibintangi oleh Deddy Mizwar. Saya ingin sekali menonton film itu setelah melihat iklannya di koran. Tapi Ibu saya tidak mengijinkan. Segala muslihat, mulai dari merajuk, mogok sekolah, minta dukungan moril ke Kakek, menolak makan (tapi diam-diam bila sudah sangat lapar tetap makan), pura-pura menggigau bila tidur (pura-pura tidur, tentu saja), tidak pipis sebelum tidur (dan akhirnya ngompol), membuat gambar Arie Anggara yang sedang berdiri dengan tangan terikat seperti di poster filmnya, saya lakukan demi bisa menonton film itu. Tapi, sebagaimana saya sangat percaya bahwa Yesus berumur pendek, Ibu pun percaya bahwa saya tidak boleh menonton film itu. Alhasil, sampai sekarang saya tidak pernah menonton film itu.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
PENYEMBUHAN
February 8th, 2010 Posted 9:35 am
- si olsy -
Perhatikanlah sebuah pintu. Pada umumnya, daun pintu di rumah-rumah bergerak ke dalam sehingga bila Anda dari luar dan untuk membuka pintu, yang Anda lakukan adalah mendorong daun pintu ke dalam dan bila sedang di dalam, menarik daun pintu ke dalam.
Berdasarkan pola gerakan bersumbu daun pintu itu, cobalah sekali-kali, bila Anda sakit gigi, taruh telapak tangan Anda di salah satu sisi tegak gawang pintu yang merupakan sisi tempat gerendel dan pasangan kunci terpasang. Setelah Anda memastikan bahwa telapak tangan telah menempel mantap pada sisi gawang tersebut, pastikan pula bahwa bagian ujung jemari Anda harus tertekuk ke sisi dalam gawang tersebut. Lalu, dengan tangan yang satu raih gagang kunci dan bantingkan daun pintu itu agar tertutup dengan keras dan cepat. Alhasil, Anda akan meraung kesakitan karena telapak tangan yang Anda taruh dan menempel di sisi gawang itu tertimpa oleh gerakan daun pintu yang cepat; yang percepatannya, menurut hukum fisika, diperoleh dari berat daun pintu, dan energi yang dipergunakan untuk mengayunkan daun pintu. Begitu hebatnya rasa sakit yang Anda dapat dari momentum akhir atas gerakan daun pintu itu, seketika sakit gigi terlupakan. Akibat dari tumbukannya, paling tidak membuat kulit di jemari Anda memar atau berdarah; paling parah, tulang jemari Anda remuk. Tapi setidaknya persoalan sakit gigi Anda teralihkan.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
DUA CERITA TENTANG KEMAUAN UNTUK TEGAK
January 21st, 2010 Posted 9:13 am
BUANGLAH SAMPAH KE TEMPATNYA
(si olsy dengan huruf kecil semua)
Gadis itu belum cukup 20 tahun menghirup udara di permukaan bumi. Pengalaman dengan aksra dan hidup yang beraksara pun belum sampai 16 tahun. Namun karena tumbuh dalam keluarga yang terobsesi dengan sampah, gadis itu pun memahami perintah, “Buanglah Sampah ke Tempatnya,” tandas hingga akar-akarnya meski di tempat umum, dia hanya membaca kalimat, “Buanglah Sampah pada Tempatnya.”
“Kata “pada” dalam kalimat itu membingungkan,” gerutunya.
“Kata “buanglah” adalah hasil pengimbuhan sehingga menjadi kata kerja yang mengandung pengertian tentang perpindahan.” Dia berusaha memberi penjelasan, meski tetap dengan nada menggerutu.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
DUA TULISAN TENTANG KEMAUAN UNTUK TEGAK DAN AJAKAN UNTUK BERHENTI MERAUNGKAN HAL YANG SAMA BERULANG-ULANG
January 21st, 2010 Posted 9:07 am
(si olsy dengan huruf kecil semua)
Saudari-saudara, mohon maaf, saya mengundak dua tulisan dalam satu undakan karena sedang kesulitan untuk mengakses internet setiap saat seperti yang mudah dan ringan Anda lakukan. Lantaran ingin menyampaikan sesuatu meski lebih sering ditanggapi dengan keliru dan juga oleh gaya menulis saya mudah ditanggapi sebagai tamparan di siang bolong, maka saya melakukan ini.
Aturan main dalam mengundak tulisan yang tujuannya memang untuk menata permainan agar berlangsung dengan baik kadangkala harus disiasati juga. Setiap saat, selalu banyak yang ingin saya tulis. Sedangkan kesempatan untuk mengundaknya seperti menunggu datangnya tanggal 29 Februari. Malah terasa seperti menunggu datangnya komet Helley. Menghabiskan waktu untuk menunggu, e… pas malam kemunculannya malah tertidur.
MENGURAI DAN MENYUSUN
Saya pernah belajar merajut. Mula-mula teknik satu jarum. Setelah dengan teknik itu saya menyadari banyak detil yang tak bisa dicapai, saya belajar menggunakan dua jarum. Setelah itu beberapa barang pernah saya buat. Dua teknik itu berpegang pada azas membuhul dan mengikat; juga mengingat. Membuhul berarti, dalam merajut, menyusun kerangka suatu bentuk yang akan mempertemukan buhulan-buhulan lain. Sedangkan mengikat mempertemukan buhulan-buhulan tersebut menjadi alur bentuk atau rantai yang hendak dibentuk menjadi sweter, (orang kerap ngawur, pakaian penghangat ini diucapkan seolah kata bahasa Inggrisnya adalah sweeter. Bukankah sweter adalah sweater ketika udara dingin kita perlu menghangatkan badan dan badan akan bersimbah keringat bila memakainya di panas terik Jakarta atau Surabaya?), kaus kaki, taplak, selimuat, syal, seprai.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
BUKAN PANSUS MUNGKIN REVOLUSI
January 14th, 2010 Posted 8:58 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Secara leksikal–pengertian kamus, marah dan benci, kemarahan dan kebencian memiliki arti yang berbeda. Apabila ditarik dalam logika sederhana, sebab-akibat, dua kata ini dan dua kata turunan berdasarkan proses pengimbuhannya memiliki alur yang membuatnya nyaris selalu berkaitan satu sama lain. Bentuk keterkaitannya, seseorang membenci sesuatu sehingga ekspresi kebencian itu adalah marah. Bentuk lain, seseorang marah pada sesuatu dan manifestasinya adalah kebencian. Namun dalam berbagai pengembangan sintaksis atas dua kata ini, bentuk dasar atau bentuk berimbuh, atau dalam pengertian psiko-linguistik, dia bisa berada dalam lingkup yang berjauhan. Ada pengertian semantik yang memisahkan pengertian leksikal dua kata ini sehingga mereka menjadi lema yang mandiri dalam kamus. Ini yang disebut dengan berjauhan. Tetapi bila kita menelusurinya lewat aspek tutur dalam kajian psiko-linguistik dan kemudian didekatkan ke aspek sosio-linguistik, maka keterkaitannya membuat kata ini ada dalam satu gugus pemaknaan yang kadangkala, bergantung pada penekanan awal ketika hendak menelaahnya, terjalin dalam hubungan sebab-akibat dan bisa juga dalam hubungan berganda.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
KESENJANGAN
January 14th, 2010 Posted 7:14 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Ternyata di dunia ini ada seorang anak muda yang teramat kaya. Bekerja dengan cara berlari-lari di lapangan, merebut dan mengejar sebuah bola. Christiano Ronaldo. Dia piawai dan mungkin sangat piawai sehingga dia menerima imbalan perminggunya baru akan sanggup disamai oleh 1000 orang pemulung sampah, bila dalam waktu dua puluh tahun mengumpulkan pendapatan hariannya. Imbalan itu pun ditambah dari iklan. Untuk satu iklan, 15 juta orang miskin di Kenya dan Afrika Sub-sahara harus tidak makan selama dua tahun agar jumlah uang yang didapat pemain sepakbola satu ini tersamai. Bila 1 juta orang miskin ini masih saja makan, maka mereka butuh waktu 15 tahun untuk menyamai tumpukan uang pemuda kaya ini.
Menurut berbagai parameter kemiskinan yang sering digunakan untuk menghitung betapa besar ketidakadilan di muka bumi ini, orang miskin adalah yang berpenghasilan di bawah US$ 1, atau di bawah Rp 10.000,00. dalam kurun waktu yang konstan yang membuatnya harus mengabaikan kebutuhan sekunder dan mengecilkan jumlah konsumsi kebutuhan pokok. Akibatnya, kaum miskin harus bertempat tinggal di tempat yang oleh Christiano Ronaldo sulit dipercaya sebagai rumah meski lebih dari 3 miliar jumlah kaum termiskin di bumi terpaksa menamai itu rumah.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
SIAGA DAN WASPADA
January 13th, 2010 Posted 8:43 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Pembahasan Lanjutan Menganai UU 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Dalam pengertian yang agresif, siaga dan waspada dipahami sebagai sikap untuk siap-siap menyerang. Menunggu lawan lengah, menunggu kesempatan lalu menerkam. Seperti lagu Cicak di Dinding. Diam-diam merayap … datang seekor nyamuk, hap! Lalu ditangkap. Kalau dalam urusan lalu lintas lewat UU 22/2009, kesiagaan dan kewaspadaan seperti ini rupa-rupanya tidak dianggap sebagai pengertian yang positif malah bertentangan dengan kebijakan filosifis yang termuat di dalamnya.
Bila kita menelusuri pasal demi pasal, ayat demi ayat, butir demi butir dalam UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengertian siaga dan waspada ini adalah, melindungi keselamatan diri dari segala ancaman dengan cara membuka peluang keselamatan bagi pengguna jalan yang lain. Artinya, dengan menyediakan upaya untuk menyelamatkan orang lain, berarti diri sendiri akan selamat. Tapi sebuah produk hukum selalu bersifat memaksa dan menghukum karena tidak semua orang bersedia mematuhi prinsip-prinsip yang dikembangkan tanpa adanya pemaksaan dan resiko penghukuman. Itulah hukum dan kadangkala hukum positif dirancang untuk melindungi pihak yang berkuasa karena yang membuat hukum adalah pihak yang berkuasa, yang menang dalam pemilu. Namun simaklah UU 22/2009 ini. Dia ingin melindungi setiap pengguna jalan.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
PENYEMBUH
January 13th, 2010 Posted 8:36 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Sekejam apakah hidup bagi si bermasa lalu buruk? Saya tidak tahu jawabannya. Namun saya melihat bagaimana Karen Armstrong yang mengalami masa-masa hidup yang tidak indah di biara berubah menjadi penulis yang cakap. Dia cerdas sehingga bisa membuat orang yang membenci Santo Paulus berbalik mencintainya, bisa membuat orang yang skeptis dan sinis terhadap Nabi Muhammad dan Islam menjadi menghormatinya.
Dia menuturkan perjalanan hidupnya dengan merefleksikan puisi Ash Wednesday TS Elliot dalam otobiografinya, The Spiral Staircase: My Climb Out of Darkness. Dia menulis banyak buku dan agendanya adalah mempertanyakan relevansi agama dan ketuhanan ketika Kasih tampak semakin jauh dari harapan manusia masa kini. Dia menulis banyak buku untuk menyembuhkan luka batinnya,to climb out of darkness, dan memberi inspirasi bagi banyak orang (yang bersedia membacanya) untuk memulai hidup rukun dan bersama-sama melawan ketidakpedulian terhadap sesuatu yang dianggap asing dan berbeda.
Tags: Catatan
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof












