Tulisan Oleh Vincensia Naibaho

Cintaku Berawal dan Berakhir di Ujung Ketapel

No Comments »

December 14th, 2011 Posted 10:28 am

Hanya tulisan lama, pernah di muat di majalah remaja Story

 

            Dengan sigap, tangan kananku memetik buah mangga yang warnanya sudah kekuning-kuningan. Tangan yang satu lagi memegang ranting  pohon yang lumayan besar  supaya tidak jatuh ke bawah (iya iyalah, masa jatuh ke atas). Untung juga rimbun pohonnya, jadi aku bisa sembunyi di atas. Sebentar-sebentar kulihat ke bawah, siapa tahu tulangku yang pelit ruarrrr biasa itu lewat. Bisa ditempelengnya aku kalo ketahuan mencuri mangganya, tanpa peduli aku ini perempuan lemah yang tak pantas ditempeleng, tapi pantas dibelai :)

            Kantong plastik hitam yang kuikatkan di pinggang celana pendek sudah penuh. Cukuplah kukira untuk bekal selama dua hari. Air liurku mendadak dangdut melihat mangga-mangga yang ranum itu. Karenanya, aku duduk di dahan dan mulai menggigit sebiji. Upss, tiba-tiba kulihat Ompung Jagur lewat sambil membawa  cangkul. Pasti dia mau ke ladang. Matanya mendongak ke atas, melihat-lihat mangga yang bergelantungan. Behh, takut pula aku ditengoknya sedang wisata kuliner di atas. Bukan apa-apa, meski sudah bau tanah, Ompung Jagur ini punya mata yang kualitasnya pantas diacungin jempol.

            Bulan lalu, kami pergi ke Pemandian Air Hangat bersama Rotua dan kakakku, Tiopan. Di sana jumpa sama Ompung Jagur yang sedang makan mie gomak di kedai. Dan kamipun  akhirnya duduk sama sambil minum teh manis dan makan telor rebus. Matanya memandang ke bawah,  ke arah danau dengan serius.

            Lalu si Rotua tanya.

            “Tengok apa kau, Ompung?”

            Dengan kalem dijawabnya,

            “Cok kau tengok dulu perempuan yang mandi di bawah sana. Tak ada sopannya kutengok. Masa mandi cuma pakai  beha  sama kolor.”

            Alamakkk. Padahal mata kami saja tak sanggup lagi melihat perempuan itu dengan jelas.

            Dan sekarang dia sedang ada di bawah pohon tempatku mencuri mangga dengan jarak pandang hanya sekitar empat meter. Dengan mata tertutup pun rasanya dia bisa melihatku. Aku mencoba diam tak bergerak. Sekarang dia mengais-ngais dedaunan di bawah dengan cangkulnya. Oh, pasti dia cari mangga yang jatuh. Duh, dasar si Ompung yang satu ini. Sudah tua masih juga hobbi makan mangga. Makan  kadal kek,  makan sedotan kek. Belum lagi kalo tulangku datang dan ketemu dengan Ompung Jagur ini. Pastilah mereka bakal duduk-duduk di bawah pohon sambil cerita.

            Aku harus menghentikan kegiatan Ompung Jagur  bawah sana sebelum dia melihatku. Cepat-cepat kuhabiskan mangga yang sempat terhenti kumakan tadi. Kujilat, kuhisap, kuemut (bahh,  jadi napsu aku :) ) sampai akhirnya tinggal biji dan ketika Ompung Jagur hendak tengadah ke atas, kulemparkan biji mangga itu dan “plokkk”,  jatuh tepat mengenai wajahnya.

            Tanpa sempat berpikir, dia lari tunggang langgang sampai lupa sama cangkulnya. Aku ketawa-ketiwi di atas pohon. Aku tahu betul bahwa Ompung Jagur ini terkenal paling penakut di seantoro kampung. Apa-apa dikiranya hantu. Ayam berkokok tengah malam, dia bilang ada hantu.. Angin berdesir di malam hari, dia bilang hantu sedang lewat.  Kucing ribut di atas genteng, dia bilang hantu yang berkelahi. Dia lihat ada bergerak-gerak malam-malam di bawah pohon nangka, eh dia tahu itu bukan hantu, tapi tetangga yang lagi pacaran:)

            Aku ambil lagi mangga kedua dan segera memakannya. Upss,  Ompung Jagur datang lagi mendekat dengan wajah ketakutan sambil menunduk-nunduk. Ngapain lagi si tua ini, pikirku dalam hati. Oh, rupanya dia mau ambil cangkulnya yang ketinggalan. Plokkk, kulempar lagi mangga yang baru setengah kunikmati dagingnya dan kembali Ompung Jagur lari pontang-panting.

            Cukuplah dua  mangga untuk sore yang cerah ini, ucapku dalam hati. Segera kuketatkan ikatan kantong plastik di pinggang celana dan bersiap hendak turun ke bawah. Tiba-tiba .

            “Twingggg”

            Kepalaku serasa berputar-putar saking sakitnya. Bedebah!. Kupegang kuat-kuat belakang kepalaku sambil meringis kesakitan. Ago amangg, sakit kali kurasa. Sampai  air mataku keluar menahan sakit. Kurang ajar. Siapa pula yang tega mengketapel aku sesadis ini. Apa mungkin Ompung Jagur? Ah, tak mungkin! Kecuali matanya, dia itu sudah letoy semua, atas dan bawah, tangan dan kaki. Tak mungkin dia mampu mengketapel aku sekuat itu.

            Segera aku meluncur ke bawah. Demi penguasa bumi dan langit, akan kutemukan orangnya dan akan kukoyak-koyak seperti ayam yang diperkosa kambing, meski aku belum pernah lihat bagaimana cara kambing memperkosa ayam. Mataku berkeliling dari utara ke selatan, melintasi ilalang-ilalang di sepanjang ladang  dan  kulihat sesosok makhluk di kejauhan  sedang memegang katapel.

            Aku segera pasang kuda-kuda, kuambil dua buah batu seukuran telor ayam  dan segera meyusul. Kau akan rasakan nikmatnya telor ini, Bangsat, eh, maksudku batu sebesar telor ini bangsat, ucapku dalam hati. Lalu dengan gaya Xena The Warrior, aku berlari ke arahnya dengan tangan siap siaga untuk melempar.

            Sekitar lima meter lagi, kecepatan kakiku mendadak hang. Dari jarak sedekat ini, baru bisa kulihat wajahnya dengan jelas. Alamakkk, kurasa inilah makluk Tuhan yang paling seksi yang dibilang si Mulan Jamila itu.  Matanya macam telaga kutengok. Bersih, tak ada taik mata. Hidungnya runcing  seperti….,entah seperti apalah itu. Bibirnya  enak kali kutengok bentuknya. Dan badannya tegap seperti tiang rumah. Kulitnya coklat dan mengkilat.. Dan yang paling penting tak ada kumisnya. Aku memang tak suka tengok laki-laki pakai kumis. Macam  sapu ijuk miniatur dipajang di atas bibir  kutengok .

            Tak kusadari  batu bertelor (itulah kan, udah jadi gugup aku jadinya), maksudku batu sebesar telor tadi terlepas dari tanganku. Betul-betul terpesona aku melihatnya. Sempurna kali kurasa laki-laki itu. Semua yang ada padanya terlihat indah. Bahkan ketapel yang dia pegang pun sudah terlihat seperti setangkai mawar merah di mataku. Dia keheranan melihatku yang seperti sebatang es meleleh di panas hari.

            Untung aku cepat tersadar. Kalo tidak, bisa tak berbekas jadinya aku karena  keburu mencair .

            “Ada tadi yang mengketapel kepalaku. Kau kan?’ aku tak sempat lagi mengarang indah. Apa yang ada di kepalaku, itu jualah yang kuucapkan.

            “Oh, “ tiba tiba ekspressinya berubah dan menunjukkan rasa bersalah dengan cara mendekatiku.

            “Sori, sori, ito. Aku  gak tahu. Aku belum pernah pakai ketapel soalnya. Maksudku tadi mau ketapel ke arah  barat,  kog lepasnya ke arah timur ya.”

            Bahh, cemmana pula jalannya bisa begitu, pikirku dalam hati.

            “Apanya yang kena, ito. Bisa aku lihat?”

            Wahh, kesempatan bagus ini. Seumur-umur belum pernah ada orang yang mau pegang kepalaku. Eh sekalinya ada yang mau, langsung manusia kembarannya si Beret Pit.

            Segera kusodorkan kepala yang memang masih berdenyut-denyut kurasa. Kemudian dia memegang kepalaku dan serrr, darahku sepertinya mau keluar. Sial juga, pikirku dalam hati. Harusnya tadi kena ketapel di bagian yang lebih dalam. Di perut atau dipaha :)

            “Wahh, bengkaknya lumayan juga, ito. Gimana ya. Rumahmu di mana, ito? Aku bukan orang kampung sini. Aku ini temannya Bonggas dari Medan. Kebetulan liburan di sini. Ito kenal Bonggas?”

            “Oh, kau kawannya si Bonggas. Ya tahulah. Dia itu dulu satu SDku,”

            “Eh , kita belum kenalan. Namaku Freddy. Marga Situmorang. Aku orang Medan, rumahku di Simpang Limun. Pernah dengar Simpang Limun?”

            “Simpang Tiga pernah. Limun juga pernah. Jualan mamakku itu. Tapi Simpang Limun belum pernah,”

            “Ha ha ha. Lucu juga kau, ito. Boru apa kau?”

            “Aku boru Naibaho. Namaku Ria,”

            “Wah, bagus juga namamu ya. Biasanya orang kampung namanya Tiurma. Tiopan, Rotua,  Tiamsa.”

            “He he,” aku terkekeh. Padahal sudah mau kutendang pantatnya. Dia namai semua keluarga besarku. Tiurma itu nama edaku, Tiopan itu nama kakakku, Rotua itu nama anak tulangku dan Tiamsa itu nama mamakku.

            Tiba-tiba dari rimbunan ilalang muncul lagi orang yang ternyata si Bonggas.

            “Freddy, kog lama kali kau pulang. Ada kau dapat burungnya? Eh, kog bisa kau di sini, Lamria,” Bonggas nampak terkejut melihatku disitu.

            “Lho, namamu Lamria? Kog kamu tadi bilang Ria?” Freddy bertanya dgn wajah kebingungan. Malu kali aku jadinya..

            Tawa Bonggas lantas meledak.

            “Ha ha ha. Dia bilang namanya Ria ya, Fred? Namanya Lamria. Lamria Naibaho.. Biasa dipanggil Lappet.

            ”Brukkk,” kutendang  pantatnya sampai dia terjatuh.

            Mampus kau. Biar sekalian makin tepos pantatmu yang tak seksi itu, makiku dalam hati.

            Bonggas meringis kesakitan.

“Kan betul yang kubilang. Kau kan dipanggil si Lappet. Kenapa  pula kau jadi marah samaku? Kau tendang pula pantatku.” Bonggas berusaha berdiri.

            “Kau juga dulu dipanggil si Kolor. Bukan karna kolormu banyak tapi justru karna  kau tidak punya kolor kalo ke sekolah sampai apamu nampak terus,” langsung  saja kubeberkan masa silamnya yang suram dulu.

            “Ha ha ha ha ha, “ Freddy terbahak-bahak.

 “Lucu kali kutengok kalian berdua bah. Masa teman masa kecil tapi sekali bertemu langsung perang dunia.”

            Bonggas menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karna rumput dan tanah.

            “Aku tadi tak sengaja mengketapel kepalanya, Bonggas. Sampai bengkak kutengok. Kan jadi gak enak hatiku.

            “Bahh, kok bisa pula jadi kepala si Lappet ini kau ketapel. Memangnya mirip kali kau tengok kepalanya dengan sarang ambaroba? Cok kutengok dulu kepalamu, Lam,” Bonggas meraih kepalaku dan menekan kuat-kuat benjolan hasil karya ketapel tadi.

            “Aghhhh,  kurang ajar kali kau, Bonggas. Kau kira tak sakit kau tekan begitu,? Aku menjerit sambil berusaha melepaskan kepalaku dari tangannya.

            “Diamlah dulu. Ini bukan menekan, Jogal. Ini biar darah yang menggumpal tadi kembali lancar, “ Bonggas memijat kepalaku sementara Freddy memperhatikan dengan serius. Sudut mataku mencuri-curi wajahnya.. Gantengnya, pikirku dalam hati. Rasanya sampai seumur ini, belum pernah kutengok laki-laki seganteng ini di dunia persilatanku.. Kulirik lagi wajahnya dan tiba-tiba dia juga melirikku. Alamakkkk, gempa bumi mendadak berskala 8,2 Richter di dalam jantungku.

            “Sudah. Nanti di rumah kau olesi minyak urut saja. Besok juga sudah sembuh. Tapi kau cuci dulu rambutmu nanti, Lam. Banyak kali kutengok kutumu,:

            Bahh, bencinya aku tengok si Bonggas ini. Tega-teganya mempermalukan aku di hadapan pujaan hatiku.

            “Ya sudah, kita pulang saja, Fred. Kita diajak Si Parda ke Air Hangat naik pick up tulangnya.  Mumpung lagi tak dipake. Eh, Lappet, kau mau ikut gak? Kalo mau,  biar kami tunggu kau di rumah?’

            Ke air hangat? Naik Pick Up? Dengan si Beret Pit Situmorang ini? Jangankan naik pick up, sambil lompat gonipun pasti aku mau.

“Ya, pasti maulah,” jawabku kegirangan.

 Lalu kami bertiga pulang. Bonggas jalan di depan, aku di tengah dan Freddy di belakang. Perasaanku, Freddy sengaja berjalan paling belakang agar bisa menikmati lenggak lenggok  tubuhku. Agooo amang!! Ingin rasanya jalan ini tak berujung agar aku bisa dekat-dekat dengan si Freddy yang ganteng ini.

 

                                                                        *****

 

Sudah seminggu sejak bertemu dengan Si Beret Pitt itu  aku tak bisa tidur tenang lagi. Selalu saja kupikirkan wajahnya. Inikah yang namanya jatuh cinta? Seingatku waktu aku SMA kelas 1 aku juga pernah merasakan suka dengan si Saur, tapi rasanya tak separah ini. Aku hanya senang bila melihatnya di pasar sedang  menarik sorong berisi barang orang. He he, Si Saur memang seorang tukang sorong. Tapi kalo tak ketemu di pasar, ya tak apa-apa. Tak sampai kecarian aku seperti sekarang ini.

            Oh Freddy, betapa ketapelmu  telah menimbukan benjolan di kepalaku  dengan bonus cinta di hatiku.  Selama seminggu, aku seperti hantu   yang mengikuti kemanapun dia pergi. Waktu kutahu, mereka pergi main bola volley ke Pasir Putih di Parbaba, aku pun nekad ke sana naik sepeda. Soalnya bapak kami tak punya motor. Kalaupun punya, manalah bisa aku membawanya. Kog tidak naik angkot? He he aku tak punya duit, Coy.

 Sampai di Pasir Putih,  dengan percaya diri aku bergabung dengan mereka bermain volley. Ku sengaja terjatuh persis di dekatnya dengan harapan dia akan menolongku.  Meski tak juga tergerak hatinya menolongku, aku sudah cukup senang saat dia bilang, “Berdiri kau, ito, nanti dipijak si Bonggas kau.” Rasanya yang masuk ke telingaku adalah “ Bangun, Sayang. Aku takut badanmu nanti tertimpa si Bonggas. Aku tak bisa lihat tubuhmu yang indah itu  terluka.” Alamakk. Enak juga rupanya jatuh cinta ini.

 

                                                                             ******

            Sudah pukul  tiga sore ternyata. Aku terbangun dan segera meloncat. Hiyattt. Dan akibatnya  kakakku Tiopan yang sedang menjahit kebaya pesanan orang terkejut sehingga tangannya tertusuk jarum pentul.

            “Lappettttttttt” dia menjerit saking kesalnya.

            “Apa pula kau. Jarum yang tusuk tanganmu kog aku yang kau maki,” seruku tak menerima.

            “Tapi kau yang membuatku terkejut, Bodat.”

            “Ah selalu saja kau begitu. Sikit sikit aku. Sikit sikit aku, “ aku merengut seraya memeriksa isi meja makan.

            ”Buat apa kau buka-buka tudung saji itu. Kau mau makan lagi? Ingat orang lain. Bapak belum makan siang sama si Togu. Makan aja kutengok kerjamu. Tengok perutmu itu, sudah kayak orang hamil 5 bulan.  Masa anak gadis taunya makan saja.  Disuruh ke ladang  malah curi mangga orang. Disuru  cuci kain malah lari ke Parbaba.” Kak Tiopan terus nyerocos tak henti-henti.

            “Mau kemana kau,” tanyanya saat aku keluar bawa ketapel.

            “Mau mengketapel kau dari  ujung jalan sana, biar pas ke sasaran,” jawabku cuek. dan  segera pergi.

            “Lappettttttttttt”

            Aku lari secepat kilat sebelum kak Tiopan  mengejarku pakai sapu lidi.

Tadi pagi kudengar Bonggas dan Freddy mau cari burung di Batu Bolon dan aku berniat meminjamkan ketapel simpananku ini untuknya. Siapa tau hatinya tersentuh dan bisa mernimbulkan getar-getar cinta di hatinya sebelum pulang ke Medan lusa.

            Sampai di Batu Bolon aku melihat-lihat ke sekeliling. Nah, itu mereka sedang duduk di balik batu besar. Kayaknya sambil makan-makan pula itu.. Pelan-pelan aku mendekat dan sembunyi di balik batu dengan maksud meberi kejutan. Sayup-sayup kudengar suara mereka

            “Iya, Fred. Kayaknya si Lamria itu cinta berat sama kau. Hati-hatilah kau,” kudengar suara si Bonggas.”

            “Ha ha ha. Kenapa pula aku harus hati-hati. Kalau dia cinta samaku, ya cintailah sesuka hatinya. Yang penting aku kan gak suka sama dia.”

            Deg!

            “Sebetulnya dia itu baik lho, Fred. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Memang dia jelek, gendut, pendek, hitam, dan tomboy. Tapi hatinya baik. Dia sering bantu ompungku ambil air ke danau meski sepulangnya pasti dia curi dulu jagung rebus ompung dari dapur.

            “Ha ha ha, “ tawa Freddy makin kuat.

            “Sebaik apapun dia, manalah mungkin aku mau sama dia, Bonggas.  Ada –ada saja kau. Lihat hitamnya saja aku sudah  ketakutan. Ah, kau membuatku mimpi buruk nanti malam,”

            Pembicaraan selanjutnya tak kudengar lagi. Perasaan  heboh yang kurasakan seminggu ini perlahan-lahan menguap dan  tidak berbekas lagi.  Naluri Batakku yang pantang dilecehkan membuat perkataan Freddy barusan telah membabat habis rasa yang kukira cinta itu. Aku berdiri dan menjauh, kemudian berputar mencari tempat yang sangat strategis dimana aku bisa melihat wajah mereka berdua. Setelah dapat tempat yang sangat bagus, kurogoh saku celana dan mengeluarkan batu yang paling berat dan  hitam. Kutarik ketapelku dan dengan konsentrasi tingkat tinggi kuarahkan ketapelku ke wajah Si Freddy dan,

            “Aughhhhhh. Aduhhhh. Aduhhhhhhhh.”

Kumasukkan ketapel ke saku celana dan pulang ke rumah sambil bersiul.

                                                              TAMAT

Posted in Vincensia Naibaho

Rindu

No Comments »

December 13th, 2011 Posted 11:19 pm

Inginku memeluk tubuhmu dan mencium pipimu, seraya menanyakan apa kabarmu dan kemudian merebahkan kepala di pangkuanmu. Harapku jarimu akan menyelusupi helai-helai rambutku, seperti yang pernah terekam di ingatanku

 

Tapi kau yang mengajariku tentang cinta yang begitu kaku,tentang ekspressi yang baiknya diselipkan saja di dalam hati.

Kau pindahkan cinta dari bola matamu dan menaruhnya dalam telapak sepatu sekolahku. Kau lebih ingin aku memandangi telapak sepatuku daripada memandang kedua bola matamu. Dulu kukira kau tak senang kucintai. Tapi ternyata itu caramu agar aku cepat-cepat ganti sepatu, karna kau yakin aku tak sudi cintamu berkubang dalam sepatu bututku.Setiap kali aku berdiri di dekatmu, segala rindu membabi buta dalam bathinku. Tapi tak pernah mampu kusentuh tubuhmu, karna cintaku dan cintamu terbiasa diam dan kaku.

 

Ibu, dengan apa bisa kukatakan padamu bahwa setiap hatiku dilanda rindu, hanya engkau yang ingin kupeluk? 

Posted in Vincensia Naibaho

Doa Pertama Untuk Ayah

No Comments »

December 11th, 2011 Posted 10:03 am

Sebenarnya ini tulisan lama. Hanya saja karna menjelang Natal, mungkin cocok juga dibaca.

 

Rasa dingin menyergapku saat angin malam berhembus masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Aku beranjak perlahan, menutup jendela dan merentangkan tirainya. Segera kuganti lampu kamar dengan lampu tidur hingga ruangan menjadi temaram, seakan ingin menyempurnakan suramnya perasaanku saat ini. Aku beringsut ke tempat tidur dan bergelung dalam selimut. Tapi rasa nyaman tak jua kudapatkan di sana. Lalu kusingkarkan selimut itu dan membiarkan diri telentang. Tak sanggup lagi kuhalau bayangan-bayangan itu. 

 

Sudah sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya sejak Natal bathinku dihantui semacam perasaan rindu. Mulanya kukira aku rindu pada nenek. Bayangkan, sudah dua tahun aku tidak pulang ke kampung menjenguknya. Lalu kukeluarkan fotonya dari dompet dan mengajaknya bicara. Itu adalah kebiasaanku sejak tujuh tahun yang lalu apabila aku rindu pada nenek. Dan pastilah rasa rinduku akan segera terobati jika sudah melakukannya. Tapi meski lama-lama aku bicara dengan foto nenek, tetap saja ada rasa rindu yang lain mengetuk ngetuk hati kecilku. Aku mendadak panik ketika seraut wajah muncul menggangguku. Wajah seorang laki-laki gagah yang sudah lama kulupakan dan tak bisa kubayangkan bagaimana rupanya kini. Rupa yang pernah kupanggil ayah.

 

Huggh, aku hampir terbatuk.Dadaku selalu saja sesak setiap mengeja kata itu. Sesak karena sepotong kata itu selalu saja diikuti bayangan menyedihkan dari masa kecilku. Karena itu aku tidak pernah mau mengingatnya. Mengingatnya satu menit akan memberikan perasaan suram selama berminggu-minggu dalam hidupku.

 

Tapi sudah hampir seminggu aku tak sanggup menghalaunya. Dan kini aku pasrah. Kubiarkan apapun berseliweran kini di layar kepalaku. Ada cuplikan ketika aku masih kecil, berusia sekitar lima tahun. Kulihat ayah dan ibu mengantarku pada hari pertama masuk TK. Cantik sekali ibuku dan lihat, tangannya tak pernah lepas dari genggaman ayah. 

 

Kemudian kami bertiga berlari-lari di sepanjang pematang sawah, memancing di danau dan memberi makan bebek-bebek di belakang rumah. Ada juga cuplikan pesta ulang tahunku yang meriah. Aku menahan nafas, berharap cuplikan itu tak berakhir. Tuhan, apapun akan kulakukan asal masa itu tidak berlalu. 

 

Tapi sepertinya tombol pemutar film itu tidak ada padaku, sehingga untuk sekedar mem-pause pun aku tak bisa.. Kemudian muncul ibu yang terbaring sakit. Kurus sekali dia. Wajahnya pucat, ditemani ayah yang terlihat lelah. Selanjutnya aku melihat diriku dipeluk ayah yang menjerit-jerit di depan jenazah ibu. Air mataku menetes. Tuhan, mengapa tak Kau ijinkan aku sedikit lebih lama bersama ibu.

 

Potongan film itu terus berlanjut. Ayah yang kini sendiri terlihat frustrasi menjalani hidup. Hanya aku yang membuatnya bertahan. Tapi kemudian datang seorang wanita dengan dua orang anak. Tiba-tiba saja ayah terlihat berbeda. Sepertinya hidup kembali memberinya warna yang baru. Dan mereka pun menikah.

 

Kututup mata segera. Seolah cuplikan itu masuk melalui mataku sebelum diputar sehingga aku merasa perlu menutupnya rapat-rapat karena adegan selanjutnya kuyakini tak bakal sudi kulihat. Aku tak ingin menontonnya lagi. Tapi film itu terlanjur diputar dan aku harus menyelesaikannya.

 

Kulihat diriku yang kecil jadi bulan-bulanan ibu tiriku dan kedua anaknya. Setiap ayah tidak di rumah, aku dihajar, dipukuli, disumpahi dan dijadikan babu. Dan ketika ayah kembali, maka laporan-laporan tentang kenakalanku menyambutnya. Lalu ayahpun memarahiku dan bahkan tega mengurungku di kamar mandi semalaman.

 

*****

Hari-hari di neraka itu kualami bertahun-tahun. Dan ketika aku lulus SD akupun mengakhirinya dengan minggat ke rumah nenek dari pihak ibu yang juga tinggal di desa yang sama. Aku ingat, sore itu ayah percaya betul bahwa aku yang mencuri uangnya sehingga dia harus menghajarku habis-habisan. Betisku penuh dengan bilur-bilur merah akibat cambukan tali rotannya. Aku yang sudah tak sanggup menangis lagi semakin membuatnya beringas. Dan ketika dia menampariku sampai mulutku berdarah, aku tahu aku harus pergi. Kupandangi ayah dengan mata dingin tanpa air mata, dan akupun pergi. Ayah tidak menginginkanku lagi. Dia lebih memilih istri baru dan dua anak tirinya dibanding aku anak kandungnya, itulah keyakinanku saat itu. Dan saat ini juga. Buktinya, sejak aku tinggal bersama nenek, dia tak pernah menyuruhku kembali atau setidaknya menjengukku.

 

Lalu kehidupanku yang baru dimulai dengan judul damai tapi gersang. Aku bersyukur memiliki nenek yang menyayangiku. Dengan hanya bermodalkan sepetak sawah, dia berani menyekolahkanku. Aku merasa damai hidup bersama nenek tapi juga terasa hampa karena hanya satu kilometer dari rumah nenek ada ayah tapi tak bisa kusentuh.

 

Selepas SMA aku melanjutkan kuliah di kota sampai akhirnya bekerja dengan gaji yang lumayan. Setiap ada libur, aku sempatkan pulang melihat nenek. Tapi selalu saja aku tak bisa betah di sana. Melihat rumah ayah dari kejauhan seperti mengundang kepiluan di masa lalu datang kembali. Itu sebabnya sudah dua tahun aku tak pulang. Rasa sakit itu telah berubah menjadi rasa benci yang amat sangat. Rasa benci yang tanpa kusadar kupelihara selama bertahun-tahun. Tapi selama seminggu ini, aku dihantui perasaan ingin pulang dan rasa itu tak bisa kutawar-tawar lagi.

*****

 

“Bang, Simpang Galungan ya,” seruku pada kernet bus yang menggantung di pintu bus.

 

Aku melompat meski bus belum berhenti benar. Si kernet tadi menyodorkan tasku yang berukuran lumayan besar. Hampir semua isinya oleh-oleh untuk nenek. Sambil berjalan kuedarkan pandangan ke sekeliling desa. Hampir tak ada yang berubah. Desaku tetap saja tertinggal jauh dalam bidang pembangunan. Sekolah-sekolah yang atapnya bocor, jalan yang rusak di mana-mana dan mata pencaharian penduduk yang tak pernah bertambah.

 

Sesampai di halaman rumah nenek, aku berhenti sejenak. Seandainya perubahan itu menjamah desaku, aku berharap rumah nenek tidak ikut berubah. Rumah yang selalu kukenang untuk sekedar menyenangkan diri bahwa masa kecilku amatlah menyenangkan bersama nenek.

 

“Ompung,” panggilku sambil melangkah ke belakang rumah. Dari sana ku dengar suara sapu lidi beradu dengan daun-daun kering.

 

“Ompung.”

 

Ah, sudah semakin pikunkah nenek?

Kulihat nenek tetap sibuk menyapu halaman belakang. Tubuhnya semakin membungkuk. Tapi rasanya hatiku sudah tak punya waktu untuk bersedih . Rasa rinduku jauh lebih besar. Aku tak sabar lagi, lalu kudekati dia dari belakang dan kupeluk tubuhnya yang ringkih. Nenek terkejut bukan main dan seketika menangis seraya meraba-raba wajahku.

 

“Kamukah ini Arta?” Kenapa tidak pernah pulang? Tidakkah kamu rindu sama ompung?”

 

Aku tak menjawab karna takut suaraku berubah jadi tangis. Segera kugendong nenek ke rumah. Tubuhnya terasa ringan di punggungku, sampai rasanya aku tidak sedang menggendong seoerang perempuan tua.

 

Di dalam rumah panggung nenek, kami berdua melepaskan rindu. Kubuka semua oleh-oleh untuknya seraya menceritakan hanya segala hal yang menyenangkan. Aku berusaha mengingatkan nenek kembali pada kenangan-kenangan masa kecil dulu dan kami berdua tertawa. Sampai matahari terbenam, aku dan nenek masih terlena dengan kebahagiaan yang kami rasakan. Kebahagiaan atas pertemuan kami, setelah bertahun-tahun tak bertemu.

******

 

Malam mulai merambah. Aku yang baru saja pulang mandi di danau menggigil kedinginan. Kukenakan sweater tebal yang memang sudah kupersiapkan dari kota. Walaupun aku lahir di sini, tetap saja kulitku tak mampu beradaptasi dengan suhu yang dibawah rata-rata. Nenek sudah membungkus tubuhnya dengan selimut lusuh di atas kasur tipis. Sepertinya nenek kecapekan dan mengantuk.

 

Aku bersandar di dinding dan menekuk kedua kakiku. Malam ini malam pergantian tahun. Di desaku, selalu ada acara kebaktian di gereja pada setiap malam tahun baru. Biasanya semua penduduk pergi ke gereja pukul delapan malam. Setelah pulang ke rumah, setiap warga akan sabar menunggu lonceng gereja berbunyi persis jam 24.00. Di saat itulah semua keluarga akan berdoa bersama dan saling bermaaf-maafan. Bermacam-macam kue sederhana akan menemani mereka begadang sampai pagi. Muda mudi biasanya memanfaatkan malam tahun baru dengan bertamu dari rumah ke rumah. 

 

Bagaimana sekarang wajah ayah ya? Apakah dia pernah mengingatku? Tak terlintaskah di benaknya untuk sekedar menanyakan kabarku kepada nenek? Atau tak ingatkah dia bahwa dia pernah punya anak perempuan? Mataku terasa hangat. Pertanyaan-pertanyaan itu kedengarannya menyedihkan bagiku.

 

“Arta, apa kamu tidak ingin ke rumah ayahmu? Sekedar mengucapkan selamat tahun baru,” tiba-tiba suara nenek mengejutkanku. Aku pikir nenek sudah tidur tadi.

“Untuk apa, Nek?” jawabku ketus.

 

“Toh dia juga tidak menginginkan aku hadir di rumah itu. Menanyakan kabarku saja ke nenek tidak pernah bukan? Aku datang ke sini karna aku rindu nenek. Tidak untuk menjenguk orang lain.”

 

“Jangan begitu, Arta. Mungkin saja ayahmu merasa malu menanyakan kabarmu ke sini. Pergilah sebentar ke sana. Anggap saja kamu ke sana menyombongkan diri, untuk menunjukkan pada mereka bahwa hidupmu tetap berjalan meski tanpa mereka. Mungkin saja mereka menyesal.”

 

Hening. Aku membisu.

 

“Nenek tahu bagaimana besarnya rasa bencimu pada mereka. Tapi nenek tidak tahu bagaimana caranya menjauhkanmu dari rasa benci itu. Yang nenek tahu, apabila kebencian itu tetap kamu pelihara maka kamu yang akan masuk neraka. Bukan mereka.”

 

Dalam remangnya cahaya lampu, aku memelototi nenek. Kalimatnya tidak kusuka. Kalimat yang membuat bathinku seketika berkecamuk. Aku memang ingin sekali melihat ayah. Tapi aku tidak tahu, apakah karena aku rindu atau karena rasa benci. Mungkin nenek benar, aku perlu menunjukkan pada ayah bahwa aku bisa hidup sangat baik walau tanpa dia. Dengan kata lain, dia tidak punya arti apa-apa dalam hidupku. Tapi bagaimana jika ternyata aku tidak sekuat yang kuperkirakan? Bukankah aku akan masuk lagi ke kubangan masa suramku dulu?

 

“Pergilah, Arta. Seandainya ayahmu malah mengusirmu, tidak akan ada yang berubah bukan? Kamu tetap memiliki nenek.”

 

Aku masih membisu. Suara jangkrik di luar mendesakku untuk mengambil keputusan. Tiba-tiba lonceng gereja berbunyi menandakan pergantian tahun telah tiba. Kuajak nenek berdoa. Kubantu dia melipat tangannya. Dalam redup, kami khusuk berdoa mengucap syukur pada Tuhan atas segalanya, memohon ampun atas segala dosa dan memohon kesehatan kepada nenek. Seusai berdoa, kami berpelukan. Bukan, sepertinya aku yang memeluk nenek. Kubisikkan kata maaf di telinga nenek karena membiarkannya sendirian di desa. Dua butir air mataku jatuh menetes di bahunya.

*****

 

Aku berjalan melewati jalan setapak. Dinginnya angin malam begitu menusuk ke tulang tulang tubuhku. Suara riuh terdengar di kejauhan. Bunyi petasan beradu dengan cahaya kembang api murahan. 

 

Sesampai di depan rumah itu, keraguan kembali menggerogotiku. Langkahku tertahan untuk beberapa saat tapi kemudian kupaksakan kembali melangkah mendekati pintu . Dari dalam terdengar suara-suara riuh, tertawa dan menyanyi lagu Natal. Semuanya menyiratkan kebahagiaan. Tuhan, andai aku ada di antara mereka.

 

Tanganku terasa berat ketika mengetuk pintu. Tidak ada yang mendengar karena riuhnya suara di dalam. Kuulangi lagi berkali-kali sampai ruas jariku terasa sakit. Kemudian pintu terbuka dan di hadapanku berdiri saudari tiriku. Ekspresinya setajam batu cadas. Aku masuk perlahan dan berhenti di balik pintu. Kulihat ayah yang terkejut luar biasa melihatku. Tangan kanannya terangkat dan hendak bergerak tapi segera ditahan ibu tiriku. Aku lebih terkejut lagi ketika kusadari bahwa ayah ternyata duduk di kursi roda. Ibu tiriku memandangiku dengan wajah sedingin gunung es, tanpa ada kesan terkejut di wajahnya. Aku salut bagaimana lihainya dia mengatur suasana hatinya saat ini. Kedua saudari tiriku tak berkedip memelototiku. Waktu telah menyempurnakan kejahatan hati mereka. Tak pernah kutemui suasana sekaku dan sedingin ini. Akupun sadar bahwa aku ada di tempat yang salah.

 

“Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin mengucapakan selamat Natal dan tahun baru buat Ayah dan semua yang di rumah ini,” suaraku terdengar asing sendiri di telingaku.

 

Tak ada yang bereaksi.

Akhirnya aku bergerak mendekati ayah dan menjabat tangannya. Dari mulutnya keluar suara ah, uh, ah, yang tak kumengerti. Lama kupandangi wajahnya. Dari bola matanya yang berair kulihat ketidak berdayaaan . Entah kenapa kebencian yang begitu kokoh di sanubariku selama ini hilang tak berbekas. Hampir saja aku mendekapnya ketika kurasakan jabatan tanganku tak mau dilepasnya. Tapi ibu tiriku segera bersuara.

 

“Sudah larut malam. Kami mau tidur.”

 

Akupun segera berlalu. Sepanjang jalan air mataku membludak. Tak pernah kualami perasaan seperti ini. Ditemani bintang yang temaram di langit, mulutku tak henti-hentinya merintih. Tuhan, lindungi ayahku. Tolong, lindungi dia. Air mataku semakin tumpah ruah. Aku berdoa lagi. Tuhan, maafkan aku yg selama ini telah membenci ayah. Aku ingin merawatnya. Beri aku kesempatan, Tuhan. Air mataku menuntut tangis. Dan seketika tangisku pecah membelah kesunyian malam.

 

Sesampai di rumah, kulihat nenek sudah tertidur pulas. Kupeluk dia erat-erat. Dalam bau khas tubuhnya aku tersadar bahwa aku baru saja mendoakan ayah untuk yang pertama kalinya.

**TAMAT**

 

NB: Selamat menjelang Natal buat ayahku di surga. Mengingatmu selalu saja membuatku menangis

 

Posted in Vincensia Naibaho

Bila

No Comments »

December 4th, 2011 Posted 10:19 pm

Bila suatu saat kupergi darimu, kan kuberikan satu kenang-kenangan untukmu. Sebuah hati retak penuh jahitan. Kan kuminta kau meletakkannya di toples kaca dan  kusuruh  melihatnya setiap malam tiba. Agar kau tahu betapa pilu rintihannya di saat sunyi dan kau pahami betapa susah baginya bertahan dengan jahitan yang tak kunjung pulih. Dan bila kelak setitik sesal tumbuh di hati nuranimu, suruhlah aku  pulang. Maka aku akan segera pulang, tapi tidak pulang ke hatimu. Agar kau tahu bahwa mentari tak kan sudi bersinar tanpa aku di sisimu. Agar kau sadari bahwa  hujanpun enggan  berhenti sebelum aku berhenti menangis.

Bila suatu saat kupergi darimu, maka kupastikan itu terakhir kalinya kau melihatku menangis. 

Posted in Vincensia Naibaho

Remember when

No Comments »

December 2nd, 2011 Posted 12:19 am

Masihkah kau ingat satu cerita yang pernah kita tulis di setiap halte yang kita singgahi dulu? Saat hujan turun dengan derasnya. Orang-orang mendekap dada karna kedinginan. Tapi hati kita selalu hangat, hanya dengan saling menautkan jemari tangan. Masihkah kau ingat satu mimpi yang pernah kita titip pada sang bulan dengan malu-malu? Mimpi bahwa kelak kita akan ada di jalan yang sama, tanpa harus menunggu diam-diam di setiap simpang jalan.

Malam ini hujan turun satu satu. Seperti kenangan akan dirimu yang hinggap satu satu di relung hatiku. Entah di mana kini kau berada, entah dimana rindu yang dulu kau punya. Rindu yang hanya untukku. Bila kelak waktu berbaik hati padaku, mengijinkanku menjabat erat tanganmu, ingin sekali kubisikkan satu kalimat untukmu:

Terima kasih, karna kenangan akan dirimu selalu indah di malam-malam sepiku.

Posted in Vincensia Naibaho

←Older