Tulisan Oleh YS. Pamuji

Balada bakso

No Comments »

August 6th, 2010 Posted 5:51 pm

(YS. Pamuji) Pas makan bakso Maming, tiba-tiba inget punya postingan tentang bakso juga.
Tadi malam, setelah selesai Bina Iman Agatha Yunior, aku langsung meluncur ke rumah bu Theo. Sebenarnya sih naik motor – gak meluncur. Gimana mau meluncur? Selain badanku gede dan pasti akan menjadi pemandangan aneh kalau aku meluncur sepanjang jalan, toh jalan ke arah rumah bu Theo juga gak rata. Ke rumah bu Theo dalam rangka latihan koor. Untuk tugas misa nanti sore jam 5 dan sekaligus latihan untuk tugas malam Paskah nanti. Latihan koor-nya se[…]

Posted in YS. Pamuji

seribu rindu … untukmu

2 Comments »

April 28th, 2010 Posted 5:26 pm

aku mengais kata
di antara sore yang memerah kesumba
di sela asa yang berserak tak berupa
sementara di sana
teronggok di sudut senja
bayangmu pias meraja
tertindih tangis hampa
melengos tanpa makna

….

aku hanya terpaku
berkubang seribu rindu

image dari : http://ww2.photolibrary.com/comp.html?similar_id=19685357

Filed under: hari-hari Tagged: hari puisi

Tags: ,
Posted in YS. Pamuji

seribu rindu … untukmu

3 Comments »

April 28th, 2010 Posted 5:26 pm

(YS. Pamuji)

aku mengais kata
di antara sore yang memerah kesumba
di sela asa yang berserak tak berupa
sementara di sana
teronggok di sudut senja
bayangmu pias meraja
tertindih tangis hampa
melengos tanpa makna

….

aku hanya terpaku
berkubang seribu rindu

image dari : http://ww2.photolibrary.com/comp.html?similar_id=19685357



Tags:
Posted in YS. Pamuji

Akulah laki-laki itu …

No Comments »

March 26th, 2010 Posted 8:35 pm

Rumah Sakit Umum A. Yani.
Metro – Lampung Tengah.

Saat itu aku masih tercatat sebagai salah satu siswa di Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Beberapa kejadian masih teringat sampai sekarang. Atau teringat lagi tepatnya …

Seorang laki-laki lusuh yang kelihatan sekali orang kampung. Berdiri kebingugan tidak tahu di mana dia harus mendaftar untuk berobat.

Sepasang suami istri - setidaknya begitulah menurutku – berdiri kebingungan di depan apotik karena uangnya kurang untuk menebus resep obat.

Seorang pemuda datang dan bertanya, apakah test laboratorium ini memang harus dilakukan? Kenapa? Biayanya saya gak punya mas.

Kali lain, orang yang lain lagi, berdiri kebingungan di dekat kantin Rumah Sakit. Istrinya harus dirawat … tetapi dia tidak membawa memiliki uang.

***

Sore ini, aku teringat kembali kejadian – kejadian itu.

“Maaf mbak, uangnya gak ada kalau  265 ribu. Tadi udah dipakai untuk bayar pendaftaran”
“Adanya berapa?”
“Cuma ada 200 ribu mbak.”
Perempuan petugas apotik itu menghilang. Tidak lama kemudian dia balik lagi.
“Ya sudah. Seratus sembilan puluh lima saja.”
“Dengan harga segitu, obat apa yang belum ketebus ya mbak?”
Wanita itu memandang laki-laki di depannya seakan melihat manusia berkepala kuda.
“Katanya uangnya gak cukup. Gimana sih?” Kali ini suaranya agak meninggi.

Laki-laki itu kembali ke tempat duduk. Masih setengah bingung. Apakah obatnya yang dikurangi atau memang harganya bisa kurang.

Percakapan berikutnya.

“Pak … ini dibawa ke laboratorium. Bayar dulu ke tempat pendaftaran yang tadi ya …”
Laki-laki itu menemui tetangga yang mengantarnya ke rumah sakit. Setelah bicara bisik-bisik, dia kembali ke tempat pendaftaran dan membayar biaya laboratorium.

“Pak … silahkan dibayar biaya rongetn-nya, lalu nanti kembali ke sini dan ibu langsung dipindah ke ruang ruang rawat inap.”

Lagi-lagi berulang. Kali ini lelaki itu menerima uang dari anak sang pengantar. Di tangannya masih ada resep – infus - yang harus ditebus.

Sore ini aku teringat lagi kejadian-kejadian Itu.
Bedanya .. kali ini – akulah laki-laki itu.


Filed under: hari-hari Tagged: hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Selamat ulang tahun bidadari

No Comments »

March 25th, 2010 Posted 10:17 pm

Ulang tahunku

Tadi pagi sih biasa-biasa aja sih. Sampai siang dan juga sore tapi waktu bapak pulang, aku minta dibeliin bubur. Padahal aku gak minta ke idolmart. Mungkin karena bapak punya uang atau gara2 aku ulang tahun, aku dibeliin alat tulis dan jepit.

Pertama baru masuk sebenarnya pengen beli diary tapi kata bapak belinya di gramedia. Gak papa sih. Ya udah terus aku sama bapak pulang. Waktu ngelewatin indomaret bapak pengen fanta kuning untung aku kasih tau kalo ibu bif bikin teh. Kalo enggak gimana tuh? Tapi sayang ibu sakit.

Ya udah deh udah dulu ya


aku comot dari 'buku harian' bidadari


Filed under: hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Jeritan di tengah malam

No Comments »

December 26th, 2009 Posted 6:27 am

Aku sudah mulai terasa ngantuk sejak sore. Dan juga capek. Opera Van Java yang biasanya masih mampu menyedot perhatian, kali ini tidak mampu mengalahkan kantuk yang benar-benar terasa. Aku pasrah. Melepas kacamata dan langsung menyerahkan diri pada lelap yang memang sedari tadi sudah menunggu.

Mungkin karena aku lupa untuk berdoa dan mungkin juga karena kondisi badan yang sedang lelah luarbiasa, aku langsung disergap mimpi yang tidak jelas. Orang-orang berteriak dan berlari panik ditingkahi bunyi alarm yang memekakkan telinga. Alarm itu masih menjerit-jerit ketika aku berasa sudah terjaga dengan badan yang bersimbah keringat.

Aku langsung duduk dengan kepala yang terasa pusing. Keliyengan. Jerit alarm itu kembali terdengar. Dengan kepala terasa nyut-nyutan, aku mencari sumber jeritan itu. Kesadaranku masih belum pulih sepenuhnya, ketika menyadari bahwa yang menjerit dari tadi adalah telepon rumah. Deringnya memang diatur pada posisi maksimal, supaya kalau kami kebetulan sedang ada di luar rumah masih bisa mendengar kalau ada yang menelepon.

Aku menyambar kacamata dan dengan terhuyung mengangkat telepon. Kulirik jam dinding. 00:30. Lewat tengah malam. Pasti telepon penting. Dan telepon penting pada jam-jam segini biasanya adalah kabar duka cita. Tiba-tiba aku merasa benar-benar terjaga.

Suara di seberang menanyakan apakah aku masih ingat dengan ibu Agus. Hmmm. Banyak teman di lingkungan kami yang dipanggil dengan nama suaminya.

Yang rumahnya di pertigaan di depan pak. Suara di telepon menghilangkan kebingunganku.

Ya. Pada Misa Adven kedua, kami bertemu di depan halaman gereja pak. Jawabku. Kenapa pak?

Ibu Agus meninggal sekitar jam 11 tadi. Setelah sebelumnya sakit dan sempat dirawat di MMC.

Aku terdiam. Waktu terakhir kali kami ketemu, dia terlihat sehat. Menyapa kami dengan hangat. Seperti biasanya. Walaupun kami memang tidak sempat ngobrol banyak. Tapi tidak terlihat bahwa sedang sakit. Atau mungkin aku yang tidak terlalu memperhatikan?

Telepon aku tutup setelah sebelumnya kami janjian mau langsung melayat malam ini.

Ibu Agus. Aku mengenalnya cukup baik. Satu hal yang paling aku ingat adalah, dia selalu senang bertemu dengan orang lain. Wajahnya selalu menunjukkan kebahagiaan ketika dia menyapa orang lain di setiap kesempatan. Dan seingatku, dia selalu berusaha untuk lebih dahulu menyapa.

Aku teringat kejadian yang sudah lama sekali berlalu. Saat itu kami berdoa di rumahnya. Entah memang ibu Agus menyiapkan sajian makanan yang berlebih atau memang yang datang lebih sedikit dari yang diperkirakan, kue dan gorengan yang dihidangkan tersisa cukup banyak. Seperti biasa, para ibu sibuk membagi-bagi kue itu untuk dibawa pulang. Aku yang datang hanya dengan bidadari – mungkin waktu itu masih berumur sekitar 4 tahun, sudah pamit dan kami menunggu di depan pintu, karena kami nebeng naik kendaraan salah satu ibu yang sedang berbagi makanan.

Sempat terbesit keinginan untuk ikut mengambil gorengan, karena aku lihat bidadari - walaupun tidak bilang kepadaku, matanya melihat ke arah makanan-makanan itu. Tapi rasa malu membuat aku menarik bidadari ke luar rumah. Kami menunggu di luar rumah. Jalanan depan rumahnya yang memang termasuk jalan besar masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, sehingga aku mengenggam tangan bidadariku erat.

Aku sedang berpikir untuk mampir warung dan membelikan makanan kecil buat bidadari biar dia tidak terlalu kecewa, ketika tiba-tiba ada yang memegang pundakku dari belakang. Kulihat ibu Agus berdiri di belakangku dan di tangannya ada 2 plastik kecil yang berisi makanan yang dibagi di dalam tadi.

“Buat si kecil pak.” katanya sambil mengangsurkan makanan ke tangan bidadari.

“Tidak usah bu. Tidak usah merepotkan.” Aku menjawab basa-basi. Sekilas aku melihat tangan putri kecilku tidak jadi terulur. Matanya memandang ke arahku.

“Halah. . Enggak kok.”

“Ini, buat ibu juga yaa …. ” Kali ini dia berbicara pada bidadari. Sekali lagi bidadari melihat ke arahku. Dan begitu aku menganggukkan kepala, tangan mungilnya langsung menyambar plastik berisi kue yang disodorkan.

“Terima kasih.” Suara bidadari lirih. Tapi matanya tetap ke arah kue, bukan ke arah pemberinya. Hihihi.

“Titip salam buat ibu ya pak.” Wajahnya terlihat sangat gembira. Dengan senyum yang hampir tidak pernah hilang.

Selamat jalan ibu Agus. Selamat jalan ibu Theresia.


Posted in hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Aku [masih] ada di sini.

No Comments »

October 26th, 2009 Posted 7:03 pm

x18048084Jalanan gelap. Hujan lebat baru saja berhenti setelah hampir setengah hari mengguyur bumi dengan derasnya. Membuat jalanan yang kami lalui menjadi genangan lumpur. Hujan pula yang membuat kami harus pulang kemalaman.

Sepanjang perjalanan dia menggandengku. Tanganku erat dalam genggamannya. Hangat. Sedangkan tangan yang satunya lagi dipakai untuk menggendong adikku. Kami berjalan perlahan. Genangan air di sana-sini tidak memungkinkan kami untuk jalan bergegas. Sepanjang perjalanan kami tidak berpapasan dengan siapapun. Desa kami tak ubahnya desa mati begitu malam menyapa hari.

Ketika kami hampir sampai, adikku diturunkan dan dia menawarkan aku untuk digendong. Aku canggung. Tapi juga senang. Siapa sih yang tidak senang digendong oleh orang yang kita sayangi dan hanya jarang-jarang kita temui? Begitulah. Aku langsung diangkat dan naik ke pundaknya.

Sejenak aku merasa melayang. Sedikit gamang. Mungkin karena aku takut ketinggian. Aku melihat adikku sudah berjalan menuju ke arah rumah. Masih kudengar lelaki yang menggendongku berteriak kepada adikku dan memperingatkan untuk berjalan hati-hati karena jalanannya licin.

Tiba-tiba – sekali lagi aku merasa melayang. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, pundakku terasa membentur sesuatu yang keras. Dan mukaku tiba-tiba saja sudah penuh lumpur. Aku tidak ingat apakah aku menangis saat itu atau tidak. Tetapi yang aku ingat, laki-laki itu sudah bangun lagi dan langsung memapahku ke arah rumah. Belakangan aku baru tahu, bahwa kamilah yang jatuh di depan rumah itu dan bukan adikku.

Dan di dalam rumah, aku masih mengingatnya dengan jelas, lelaki itu sibuk membersihkan aku dan memeriksa seluruh bagian tubuhku. Dan tidak menyadari di bagian lututnya, celananya memerah. Berdarah.

***

Lelaki itu adalah bapakku. Beliau menjalani operasi setelah sekian lama tertunda-tunda. Betapa ingin aku bisa mengenggam tangannya lagi. Atau sekedar berjaga di sampingnya.

Tetapi tidak.

Aku [masih] ada di sini. Berusaha menata hati dan berharap semua ‘kan baik-baik saja.


Posted in hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Selingkuh pertamaku (2)

No Comments »

August 3rd, 2009 Posted 5:19 pm

lumayan panik ...

lumayan panik ...

Aku langsung menyambar helm dan memakainya. Dengan tidak sabar, aku memacu shogy ke luar komplek perumahan. Begitu sampai di jalan aspal, aku memaksa shogy berlari sekencang mungkin.

Jalanan yang masih sepi, membantuku menunggangi motor dengan kecepatan tidak seperti biasa. Bahkan ketika di perempatan pemda Cibinong ke arah stasiun, aku sempat menggeber tungganganku sampai 80 km/jam.

Aku kesetanan. Targetnya … aku tidak boleh mengacaukan kencan perselingkuhanku yang pertama ini.

Tidak sampai 20 menit, aku sudah mencapai daerah di sekitar stasiun Bojong Gede yang memang aku sudah survey sehari sebelumnya.  Aku langsung menuju ke salah rumah penitipan motor yang memang banyak terdapat di situ.

Ketika motor sudah aku parkir, aku diam menunggu karcis atau tiket penitipan motor. Tapi penjaganya malah ke bagian lain dari ruangan penitipan motor dan membantu orang yang baru saja masuk. Kulihat orang tadi langsung meninggalkan motornya dan langsung ke luar lagi?

Aku masih bingung. Apakah memang nitip motor di sini tidak diberikan lembar bukti penitipan? Terus, bagaimana nanti pengambilannya? Ah. … aku kan bawa STNK. Jadi kalau memang dia lupa sama aku, aku pasti bisa mengambil motor dengan menunjukkan STNK motor.

Berpikiran demikian, aku langsung menuju ke luar tempat penitipan untuk menuju stasiun, ketika tiba-tiba aku mendengar penjaga penitipan berteriak memanggilku.

“Pak! Helmya gak ditinggal?”

Hah? Saking bingungnya, aku lupa melepas helmku ketika ke luar.

Duuuuh …

Setelah menyerahkan helmku kepada penjaga yang senyam – senyum gak jelas gitu, aku segera melesat ke arah stasiun. Semoga saja tetanggaku dan anaknya yang memang udah janjian mengajari aku dalam perselingkuhan pertama ini belum berangkat. Bisa celaka aku kalau mereka berangkat duluan. Karena ini adalah perselingkuhan pertamaku menggunakan kereta api setelah dari awal pindah ke Cibinong sekitar 11 tahun lalu selalu menggunakan bis pulang dan pergi kerja.

Karena bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) dilarang ke luar UKI dan membuat aku tambah lama di jalanan kalau harus naik bis yang dari Senin seperti pernah aku ceritakan di sini, maka aku memutuskan untuk mencoba naik KRL.

Begitu tiba di loket, aku menyodorkan uang 10 ribu (aku sudah tanya-tanya dan diberitahu harga tiket ke Jakarta Rp 2.000,-). Petugas di dalamnya melihatku. Eh .. dia bukan hanya melihat, tetapi memperhatikanku. Apakah aku kelihatan banget seperti orang baru ya? Hihihi …

Oh .. iya. Aku teringat. Aku belum bilang mau beli berapa karcis. Cepat-cepat aku menunjuk dengan satu jari untuk memberitahu bapak penjaga tiket itu bahwa aku hanya perlu beli 1 tiket saja. Itu yang biasanya aku lakukan kalau naik bis, ketika kondektur menarik ongkos. Satu orang.

Sekilas aku melirik di belakangku. Mungkin karena banyak orang yang sedang antri di belakangku itu dikira rombonganku apa ya? Huh. Kenal juga enggak pak?

“Mau ke mana?” Bapak itu bertanya dengan nada yang agak keras. Lhaaa. Mau tanya ke mana aja kok galak sih pak? Sabar pak … Hehehe.

“Mau kerja pak.” Aku menjawab sambil tersenyum semanis mungkin. Siapa tahu dapet diskon. Hehehe …

“Mo ke Bogor atau Jakarta?” Kali ini dia bertanya dengan setengah berteriak.

Ya ampun! Aku lupa memberitahu tujuanku rupanya. Jakarta. Aku menjawab lirih. Tiket dan uang kembalian disodorkan ke arahku dengan sedikit kasar. Duuuh maaf pak. Kirain orang itu beramah-ramah dulu dengan orang baru seperti aku. Ternyata …

Aku langsung meninggalkan loket dan masuk melewati 2 penjaga di pintu masuk. Ketika sampai di dalam, aku baru ingat …

Rel keretanya ada 2. Dan aku lupa tanya, di mana aku harus berdiri menunggu kalau mau naik kereta ke arah Jakarta.

Ketika aku bermaksud mau bertanya pada petugas di situ, ada suara wanita yang memanggilku.

“Om Yuuuuussss ….. “

Hah? Ada perempuan yang sudah kenal aku di sini?


Posted in hari-hari Tagged: kereta, krl, selingkuh

Tags: , ,
Posted in YS. Pamuji

Kekalahan itu menyakitkan

No Comments »

August 3rd, 2009 Posted 4:05 pm

bulutangkis

kalah itu menyakitkan

Aku tidak kuasa untuk melihatnya. Beberapa kali aku menunduk. Sesekali aku bertepuk tangan memberikan semangat. Tenggorokanku tersedak. Tercekat.

Kadang aku ingin berteriak kepada mereka. Sekedar memberi arah. Agar keadaan tidak semakin parah. Tapi aku tidak mampu. Atau mungkin juga karena aku sebenarnya tidak tahu.

Sesekali aku memandang Detha yang ikut cemas. Sedari tadi bidadariku cerewet bertanya. Menang yang mana pak? Keluar atau masuk pak? Dan tiba-tiba aku menjadi orang yang paling tidak sabar menghadapi pertanyaannya. Duh jangan tanyakan apa-apa dulu anakku.

Sekali waktu, mereka bersamaan memandangku. Dengan muka penuh peluh, mereka seakan bertanya kenapa aku tega menyiksanya seperti itu. Wajah mereka lelah. Mungkin juga memendam marah. Ah .. semoga saja tidak.

Diam-diam aku menangis. Dalam hati. Setiap kali mereka dihantam, aku menjerit lirih. Pedih. Tiap kali perlawanan mereka dimentahkan, aku merasakan sakit di ulu hati. Mereka memang yang bermandi peluh. Tapi aku merasa, bahwa kekalahan yang ada adalah kekalahanku.

Semuanya dimulai ketika undangan itu tiba …

OMK di salah satu lingkungan di wilayah kami sedang berulang tahun dan bermaksud mengadakan pertandingan bulu tangkis antar OMK lingkungan. Sebagai penanggung jawab anak muda di lingkungan, akulah yang ketiban sampur untuk menyiapkan semua. Kebetulan pada hari H – Ketua Lingkunganku sedang mengikuti KEP di luar kota.

Aku berpikiran bahwa ini adalah pertandangan persahabatan. Jadi daripada WO aku memilih mengirimkan OMK yang ada. Terus terang, komposisi pertandingannya agak ‘tidak biasa’.

- 1 tunggal putra
- 1 ganda putra
- 1 ganda campuran

Menuruku panitia benar-benar telah menyiapkan pertandingan yang pasti menguntungkan OMK lingkungan mereka. Dengan komposisi seperti di atas, berarti dibutuhkan 4 putra dan 1 putri untuk masing-masing lingkungan.

Padahal setahuku, di lingkunganku, justru kebanyakan pemain bulutangkis untuk OMK adalah putri. Yang putra hanya 1 orang yang ikut latihan di hall.

Ya sudah. Toh ini hanya pertandingan persahabatan. Akhirnya aku menyiapkan 3 pemain putra (ketiganya tidak begitu jago main bulutangkis – bahkan 1 orang adalah bintang lapangan basket) dan 1 pemain putri.

Ketika aku datang ke tempat pertandingan, 1 orang pemain putra ternyata sakit dan 1 orang lagi tidak ada kabarnya. Hiks.

Aku kelabakan mencari pengganti. Salah satu OMK yang sedang tidur, aku minta untuk datang dan ikut main.  Karena tidak ada lagi pemain lain, aku menghubungi panitia dan menyatakan bahwa kami hanya punya 2 pemain putra dan 1 pemain putri. Ternyata 1 pemain boleh main di partai pertandingan. Beres.

Begitulah. Sampai pertandingan dimulai. Aku melihat sang jagoan basket ditekuk habis dari mulai set pertama. Lawannya kelihatannya memang bukan lawan yang enteng. Beda kelas. Demikian juga, di set kedua, walaupun aku melihat dia sudah berusaha matia-matian, tetap saja tidak bisa memenangkan set tersebut. Partai tunggal putra – kalah.

Dilanjutkan partai kedua. Ganda putra. Karena tidak orang lain, sang pemain tunggal putra turun lapangan lagi memainkan pertandingan ganda putra. Mungkin karena cukup kelelahan karena sudah main di tunggal putra atau memang karena kedua pemain tidak pernah berlatih bersama sebelumnya, 2 set langsung dimenangkan pihak lawan.

Hasil 2 – 0 kekalahan untuk tim lingkungan kami. Karena memang hanya  memainkan 3 partai, maka hasil apapun di partai ke 3 tidak akan mempengaruhi hasilnya. Kami tetap kalah. Tapi untuk tidak mengecewakan pemain yang sudah datang, akhirnya aku tetap minta untuk memainkan partai ganda campuran.

Aku tidak tahu, bagaimana jalannya pertandingan partai terakhir, karena aku sudah pulang duluan karena ada tugas kantor yang harus aku kerjakan hari itu.

Tapi yang jelas, aku belajar banyak dari kejadian kemarin. Bahwa … kekalahan tetaplah kekalahan ~ walaupun dalam sebuah pertandingan persahabatan. Dan itu menyakitkan.

* Terima kasih kepada Wisnu, Gerry, Grin dan Chyntia untuk semua dukungan dan keikutsertaannya.


Posted in hari-hari Tagged: catatan, diary, harian

Tags: , , ,
Posted in YS. Pamuji

Selingkuh pertamaku (1)

No Comments »

August 3rd, 2009 Posted 10:05 am

buru-buru nich ...

maaf, buru-buru ...

Akhirnya, aku berselingkuh juga. Dengan tekat bulat dan niat yang mantap, aku memulai perselingkuhan di akhir bulan Juni yang lalu. Kami janjian ketemu pagi buta, jam setengah lima. Ketemu di depan Indomaret di deket gerbang perumahan. Sip!

Tapi karena ini adalah selingkuh pertamaku, malamnya aku malah tidak bisa tidur. Aku masih bisa melihat jam menunjukkan pukul tiga pagi – berarti jam segitu aku belum tidur. Alarm hape yang aku pasang di 04:45, rupanya tidak mampu menyeretku dari lelap.  Begitu dia melengking, kugerayangi sebentar lalu aku matikan. Kulempar agak jauhan dari tempat tidur.

Berisik banget!

Dan aku meneruskan tidur lagi. Aku baru benar-benar terbangun, ketika hapeku menjerit lagi. Kali ini aku harus bangun dulu untuk menjangkau hape yang rupanya terlempar agak jauh. Tapi ini juga yang membuatkku jadi lebih tersadar walaupun masih setengah keliyengan. Ada SMS. Siapa ya?

Kuraih kacamata di dekat tipi. Pesannya singkat. Yaiyalaaaah .. Namanya juga SMS.

“Saya sebentar lagi sudah mau jalan. Ketemu di depan Indomaret ya?”

Gubrakz!! Kesadaranku langsung pulih.  Dengan panik aku bangun dan menyambar handuk. Aku tidak mau selingkuh pertama ini berantakan gara-gara aku telat janjian.Dengan separo terbang aku melesat ke kamar mandi. Gosok gigi dan mandi gak sampe 4 menit.  BAB aku tunda dulu. Moga-moga gak jadi masalah nanti. Hihihihi …

Masih setengah basah, aku langsung berganti baju. Rosa terbangun
mendengar segala kehebohanku.

“Ngapain sih mas, gedubrakan kayak diuber-uber maling?”

“Maling lagi diuber-uber kali. Masa diuber-uber maling.”  Hehehe. Rosa tidak menanggapi candaanku. Mungkin masih ngantuk. Tapi matanya sih kelihatannya bukan ngantuk. Lebih tepat kalau dikatakan bingung.

Tanpa memperdulikan tatapan heran istriku, aku meneruskan persiapan kilatku.  Motor aku keluarkan, langsung dihidupin. Lalu menyambar sepatu.

Rosa masih setengah ngantuk membuka gembok pagar. Tidak sampai 15 menit dari mulai aku mandi, aku sudah siap di atas motor.  Baru ingat, belum doa.  Pagi itu aku berdoa di atas motor.

Setelah berpamitan dan mencium Rosa seperti biasa, aku memulai perjalanan (perselingkuhan pertamaku) pagi itu. Belum sampai 5 meter motor jalan, aku mendengar Rosa berteriak.

“MAS! GAK PAKE HELM??”

… bersambung.


Posted in hari-hari Tagged: catatan, harian, selingkuh

Aku butuh berselingkuh

No Comments »

June 6th, 2009 Posted 8:12 am

cari - cari selingkuhan

cari - cari selingkuhan

Aku tidak pernah berpikiran untuk selingkuh. Sekedar lirik kanan lirik kiri, sekali waktu terjadi juga. Bukan karena takut dosa. Atau gak enak sama tetangga. Atau gak tega sama pasangan yang selama ini (gak yakin juga sih) selalu setia.

Tetapi … keadaan yang memaksaku untuk memikirkan perselingkuhan. Kalaupun aku berselingkuh, berarti karena terpaksa.

Halah … selingkuh kok terpaksa.

Sebenarnya aku masih mencoba bertahan dalam hubungan ini. Tapi rupa-rupanya, tidak mudah untuk menerima perlakuan yang benar-benar menempatkan aku ke derajat yang paling rendah. Perlakuan yang membuat aku merasa tidak dibutuhkan sama sekali.

Tidak dihargai!!!

Dihinakan !!

Apa lagi ya kata yang bisa melukiskan hubungan kami?

Diawali dari kabar yang dihembuskan oleh rekan di kantorku, bahwa bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) tidak diperbolehkan lagi keluar arah UKI. Berarti termasuk bus yang aku tumpangi tiap kali ke kantor termasuk yang kena peraturan ini. Duuuh …

Jadwal pulang ke Cibinong yang tidak tentu, membuatkau baru merasakan dampak dari peraturan ini pada hari Jumat minggu kemarin.

Begitu jam kantor usai, aku meluncur ke arah Senen menggunakan ojek, karena takut tidak kebagian lagi bus Senen – Cibinong. Setelah menunggu sekitar 15 menit, bus Metro Mini itu akhirnya datang juga.

Kosong. Aku menjadi penumpang ke-2 yang naik. Bus yang berAC membuatku langsung merebahkan diri. Lumayan. Hotel Borobudur terlewati ketika bus tiba-tiba berhenti.

Mogok? Ohh tidak !!! Bus-nya nge-tem. Apa ya istilah dalam bahasa Indonesianya? Pokoknya gitu deh. Bus baru berjalan 15 menit kemudian. Benar-benar berjalan, karena memang bus beringsut pelan. Dan tertahan sekitar 10 menit sebelum akhirnya lolos melewati rel stasiun Senen.

Laju bus tetap pelan. Duuuh. Sampai di Galur, dia malah ambil jalur sebelah kiri. Jalur lambat. Punggungku mulai terasa capek. Ketika akhirnya bus masuk JORR, tetap saja bus berjalan tersendat. Metro Mini-ku memang tidak melewati UKI dan langsung masuk tol Jagorawi. Tapi, pelannya itu lho .. minta ampun banget.

Ac yang tadinya terasa nyaman mulai terasa mengganggu. Dingin. Ketika aku akan mengatur arah hembusan AC, ternyata … lobang AC di atas kepalaku rusak. Arah ACnya tidak bisa diubah lagi. Harusnya aku tadi pakai topi.

Bus akhirnya keluar juga di pintu tol Citereup. Belok kanan … dan langsung isi solar. Duuuh. Hampir 7 menit harus nunggu lagi. Dan ketika akhirnya aku turun di pasa Cibinong, sudah jam sembilan seperempat. Ya jam 21:15. Berarti lebih dari 3 jam aku tertahan di dalam bus itu.

HUH!!! Benar-benar menjengkelkan.

Rasa-rasanya .. aku (memang) butuh untuk berselingkuh.


Posted in hari-hari Tagged: Catatan Harian

Kamu tega …

No Comments »

May 22nd, 2009 Posted 9:06 pm

selingkuhAku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku.

“Kamu masih gak ngerti juga ya? Justru kulakukan ini karena aku terlalu mencintai kamu.” Suaranya terisak.

Aku menoleh melihatnya. Sejenak mata kami bertatapan. Ada telaga di matanya. Aku mengalihkan pandangan ke luar. Jalanan tidak terlalu penuh malam ini. Tapi aku membayangkan hatinya pasti sesak.

“Aku sakit. Hatiku sakit. Bohong kalau aku tidak merasa sakit dengan perpisahan ini. Kurang apa aku selama ini? Kamu tega…. Aku gak nyangka banget.”

Suaranya makin lirih. Setengah berbisik. Tapi kepedihan semakin terasa. Aku memandangnya dari pantulan pintu kaca transjakarta yang kami tumpangi. Lagi-lagi mata kami bertemu. Sekejap. Kali ini dia yang membuang pandangan ke arah lain.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan yakin dia tidak ingin mendengar jawabanku.

“Sudahlah mas, memang lebih baik kita berpisah saja. Aku pikir itu yang terbaik buat kita berdua. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil.”

Sejenak sepi. Bus yang kami tumpangi merapat di halte cawang-otista. Tinggal 2 halte lagi. Aku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku.

Bus berjalan kembali. Terdengar isak tangis. Tertahan. Lirih. Duuuh. Makin runyam.

“Aku sudah memikirkannya. Kamu tuh yang harusnya mikir.”

Sepi. Hanya terdengar suara mesin bus. Menggeram pelan.

“Terserah kamu mau bilang apa. Toh bukan aku yang selingkuh.”

HAH? Selingkuh?

“Jadi kamu mau menyangkal?” Suaranya meninggi. Aku yakin beberapa penumpang mulai memperhatikan.

“Aku tuh sudah tanya sama yang bersangkutan dan dia sudah mengakui kalau dia punya hubungan sama kamu. Dia malah minta maaf dan berjanji untuk ninggalin kamu. Mau bukti apa lagi?”

Bus sampai di perempatan UKI. Kali ini jalanan sesak. Mikrolet menghadang di depan kami dengan angkuhnya. Bus tertahan dan menunggu. Aku juga menunggu.

“Kamu mau jelasin apa lagi? Sudah deh. Aku gak mau ketemu kamu lagi.”

“Aku perlu waktu untuk sendirian dulu. Mungkin itu yang terbaiik.”

Suaranya kembali melemah. Bus beringsut meninggalkan perempatan. Beberapa penumpang beringsut mendekati pintu keluar, membuatnya terdesak ke arahku.

Aku melihatnya lagi.

Telaga di matanya telah beranak tangis. Mati kami bertatapan lagi. Sejenak aku ingin memeluknya. Sekedar membagi penghiburan. Sejenak memberinya tempat menyandarkan hati.

Pintu bus terbuka. Aku melangkah keluar tanpa menyapanya. Ketika bus sudah berjalan lagi, aku masih sempat melihatnya. Menatap keluar dengan handphone masih tertempel di telinganya.

Mungkin dia sedang mendengarkan penjelasan dari pacarnya di ujung telepon sana.


Posted in Belajar Nulis, hari-hari

Selamat jalan Kiki …

No Comments »

February 27th, 2009 Posted 9:10 am

kematianAku meletakkan telepon dengan gemetar. Aku masih berharap bahwa kabar itu tidak benar. Aku malah masih menunggu Rosa menelepon lagi dan mengatakan bahwa dia cuma bercanda. Tapi tidak. Kabar kematian itu benar adanya.

Aku menangis dalam diam. Dengan dada yang tiba-tiba terasa berat.

Selamat jalan Kiki …

***

Kiki adalah anak tetangga kami di ujung gang. Anak perempuan berbadan tegap dengan penampilan tomboy. Cantik. Tidak banyak anak seusia dia di gang kami. Hanya dia dan Angga. Tidak heran kami sering menjodoh-jodohkan dia dengan Angga. Tidak jarang kami menggoda Angga, bahwa Kiki titip salam. Angga hanya tertawa mendengarnya.

Ketika kemudian Angga masuk ke Seminari, kadang-kadang Kiki menanyakan kapan Angga pulang. Tetapi setiap kali Angga pulang, bahkan dia tidak pernah menyapa Angga. Paling hanya lewat depan rumah dan sesekali melihat ke arah rumah kami.

Katanya (ibunya pernah bercerita) beberapa kali dia berpapasan dengan Angga di jalan. Mau menyapa selalu gak jadi. Malu katanya. Takut nanti Angganya cuek. Duuh …

Dan kalau ketemu aku, seringkali dia menyapaku dengan wajah malu-malu. Bapak Detha mau ke mana? Pertanyaan standar yang selalu dikatakan ketika kami bertemu. Tidak akan pernah lagi aku mendengar pertanyaan itu dari kamu, Ki.

***

Masih teringat dengan jelas kejadian hari itu. Kiki naik motor tanpa helm dan berhenti di jalur kiri dengan ragu. Padahal lampunya jelas memberi tanda bahwa dia akan membelok ke kanan. Pasti dia ragu. Pertigaan itu memang cukup ramai. Aku berhenti di belakangnya dan memberikan tanda untuk dia segera maju dan membelok ke kanan. Mungkin dia tidak mengenaliku. Tapi toh dia mengambil ke kanan dan meneruskan perjalanan. Terlihat kikuk di antara kendaraan dan angkot yang memang cukup banyak hari itu. Dan dia melaju. Agak terlalu cepat menurutku.

Sempat kami ke ceritakan ke ibunya mengenai kejadian hari itu. Dan menitip pesan supaya dia lebih berhati-hati dan tidak ngebut. Terlalu berbahaya. Apalagi – seperti kebanyakan remaja seusia dia – selalu naik motor tanpa pelindung kepala. Padahal helm terlihat jelas tergantung di motornya.

Aku tidak pernah menyangka bahwa dia harus kembali ke pangkuan Illahi dalam usia semuda itu. Kabar yang aku terima pagi ini, dia meninggal karena tabrakan. Di kelokan jalan itu. Aku belum jelas benar apa yang terjadi, karena Rosa meneleponku dengan tersedu.

Sekali lagi … selamat jalan Kiki.


Posted in hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Aku harus tidak bisa menyerah …

No Comments »

February 13th, 2009 Posted 12:08 am

“ Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”.

( 5 cm )


Posted in hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Aku kangen emak ….

No Comments »

February 11th, 2009 Posted 4:40 pm

Aku berhenti melangkah. Perlahan aku membalikkan badan dan melihat sosoknya yang terlihat lelah. Melihatku berbalik, dia mengangkat pandangannya dan mengulang kalimat terakhirnya.

” Iya nih. Gak tahu kenapa, tiba-tiba aku kangen ibuku. “

” Padahal baru ketemu tadi malam loch … ,” sambungnya sambil menyenderkan badan.

” Ya sudah. Ditelpon aja mas. ” Aku menjawab sambil pamitan keluar dari ruangannya. Dari balik kaca, aku melihat dia sudah tenggelam lagi dalam kesibukan kerja yang akhir-akhir ini memang lebih meningkat dari biasa.

Yang tidak terlihat adalah ~ dalam hati ~ aku sibuk mengingat, kapan aku terakhir kali menyapa emak. Dan tiba-tiba kerinduan menyeruak dan membuatku sejenak merasa sesak.

“Aku kangen emak …. “


Posted in Belajar Nulis, hari-hari
←Older