Tulisan Oleh Yulita Nilawati
Nothing has Changed
August 22nd, 2010 Posted 8:00 am
(Yulita Nilawati)
Malam semakin larut, laptop yang menemaniku baru hendak ku tutup, ketika layar kecil disudut bawah kanan muncul. Siapakah dia..? Sudah beberapa bulan ini, layar itu tertutup seperti tertutupnya pintu kecil direlung hatiku yang terdalam. Baru beberapa minggu ini aku membukanya kembali. Begitu sensitifnyakah aku ? Mungkin ada benarnya, tapi aku banyak belajar bahwa hal itu tidak membawa hal positif.
Mengalami dan merasakan hal-hal yang diluar keinginan membuat hatiku gundah. Sudah benarkah jalan yang kupilih untuk menjalin persahabatan ini. Setelah sekian lama kututup rapat, ketika kucoba membuka kembali pintu ini, kembali hatiku kecewa. Setiap kali kecewa itu muncul, secepat itu pula kututup pintu itu. Aku merasa membutuhkan waktu untuk mengembalikan rasa yang ada.
Tags: Luka Batin
Posted in Yulita Nilawati
Seharusnya Indah….
February 23rd, 2010 Posted 2:18 pm
(Yulita Nilawati)
Semenjak surat Undangan itu kuterima, tak lepas dari benakku apa yang akan kukenakan dihari istimewa itu. Padahal hari indah itu masih 2 minggu lagi tapi persiapan yang kulakukan seperti aku sendiri yang akan merayakannya. Pernikahan Silvia, sahabatku sewaktu di SMA, begitu membahagiakanku. Akhirnya ia menemukan cinta sejatinya, begitu yang terlintas dalam benakku. Walaupun tempatnya jauh dan waktunya malam hari, tak menghentikan niatku untuk menghadirinya. Membayangkan menikah di JHCC, pada saat perekonomian di negara ini sedang dilanda krisis moneter, pastilah bisa dikatagorikan mereka yang berkantung tebal.
Walaupun dengan sedikit memohon, akhirnya izin dari orang tua dapat kuperoleh. Biasanya orangtuaku agak keberatan kalau anak-anaknya pergi sendirian pada malam hari. Berhubung saat itu aku belum memiliki pasangan, kuajak adikku untuk menemaniku. Kebetulan dia menyukai acara pesta, apalagi makan-makan ditempat yang mewah seperti di JHCC.
Tags: Cerpen, Kasih, Keluarga
Posted in Yulita Nilawati
BAHAGIAKAH AKU….
February 17th, 2010 Posted 1:37 pm
(Yulita Nilawati)
Tersentak kubangun dan terkejut melihat jam menunjukkan angka 05.15 WIB. Ya ampun..!!!, mengapa alarmnya tidak berbunyi. Waaahhh…..lagi…lagi….telat nih!!!, akibat menemani Tommy bekerja sampai larut malam dan alarmnya ternyata lupa dihidupkan. Secepatnya kusiapkan air mandi untuk Angel dan makan pagi buat Tommy dan Angel, dua orang yang kucintai dan selalu mengisi hari-hariku. Teeet….teeetttt….!, bunyi klakson mobil antar jemput datang, secepatnya ku berlari keluar untuk mengabarkan bahwa Angel tidak ikut pagi itu.
Beruntung sekali aku walaupun Lisa tidak ada lagi, aku sekarang punya Dita yang bisa kuminta tolong untuk mengantar Angel ke sekolah. Jam menunjukkan angka 06.00 WIB, ketika Tommy berangkat ke kantor. Tak lama kemudian giliran Angel dan Dita pergi ke sekolah. Jam menunjukan angka 06.20 WIB, kubatalkan rencanaku untuk olahraga pagi, karena aku harus pergi ke pasar.
Tags: Cerpen, Kehidupan, Renungan
Posted in Yulita Nilawati
Pintaran Siapa?
February 16th, 2010 Posted 9:59 pm
(Yulita Nilawati)
Hari ini sekilas aku membaca berita dari ‘KORAN FESBUK’, dimana banyaknya pencurian melalui ATM. Setidaknya ada 6 bank yang berhasil dijebol oleh para sendikat international. Bayangkan bagaimana bisa setiap 20 detik, uang kita di rekening bank bisa lenyap begitu saja. Salah satu penyebab terjadinya pembobolan tabungan melalui ATM adalah pelaku mengetahui nomor rekening dan nomor pin ATM korban.
Hal ini membuatku teringat kembali kejadian hari Senin tgl 18 Januari 2010. Siang itu telpon berdering berkali-kali dirumahku. Sebenarnya aku agak malas mengangkatnya, tapi karena merasa terganggu akhirnya kuangkat juga telpon tersebut.
“Hallo…., selamat siang!!, apa betul ini nomor telpon 822xxxx”, terdengar suara dari seberang sana.
Tags: Cerpen, Curhat
Posted in Yulita Nilawati
HE NEVER SLEEPS
February 16th, 2010 Posted 9:23 pm
(Yulita Nilawati)
Sudah hampir jam 10 malam, saat Bertha dan Tommy keluar dari Rumah Sakit. Menunggu giliran memang pekerjaan yang membosankan, habis banyak waktu yang terbuang. Hari yang cukup melelahkan setelah habis pulang dari kantor, tetapi semua ini merupakan syarat yang harus mereka jalani. Setelah beberapa saat menunggu kendaraan yang belum lewat, sehingga timbul perasaan kesal. Apalagi warna langit tampak memerah, rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan.
Setengah berlari, kami mencari tempat untuk berlindung. Terlihat sebuah tenda sederhana, masih ada 1 penjual sate padang yang masih mangkal dipojok jalan itu. Segera kami memutuskan untuk berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani segelas kopi, sebatang rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan kami duduk. “Disini saja nak, daripada kehujanan…”,begitu katanya saat kami meminta ijin berteduh.
Tags: Tuhan
Posted in Yulita Nilawati











