Tulisan Oleh Yunie Batue

Tawa saat mengingatmu, Dang :D

No Comments »

December 15th, 2011 Posted 9:40 am

Entah kenapa akumulai berpikir. kalau aku tidak akan lagi pernah berusaha untuk melupakanmu. Melupakanapa yang pernah kita lakukan bersama selama ini. Tanpa aku sadari, aku telahsering menceritakan apa yang kita lakukan bersama pada orang lain.  Dan setiap aku menceritakan tentangmu. Aku merasakankebahagiaan tersendiri. Aku merasakan aku bahagia telah memilikimu. Walaupun waktumenjadi terasa amat singkat buat kita.
Jadi, akuputuskan untuk terus mengenang semuanya tentangmu. Menceritakan dirimu tanparasa takut lagi. Membuat kamu terus ada didalam hatiku. Dan tak akan pernahbisa digantikan oleh orang lain. Aku ingin melihatmu tersenyum. Saat kamumelihat ini dari surga.
Aku tidak pedulikapan aku akan menemukan pengganti dirimu. Tapi yang aku pedulikan adalah saataku selalu tersenyum jika mengingat dirimu. Aku akan membuat lukaku. Rasa sakitakan kehilangan dirimu menjadi hilang. Biarkan waktu yang membantuku untukmelupakan rasa sakit itu.
Aku tahu,kebahagaian tak akan pernah aku raih jika aku terus melihat masa lalu. Karena akuakan terus hidup untuk masa depan. Walaupun dimasa depanku sekarang gak adakamu. Tapi aku yakin kalau kamu enggak pernah meninggalkanku. Karna kamu terusmencintaiku hingga maut menjemputmu.
Love U foreverand I always love, miss u Udang. You’re the best for me. And love u so much..:D

Posted in Yunie Batue

Ramyun Scene

No Comments »

December 14th, 2011 Posted 2:13 pm

Melihat sceneini didalam film ini. Drama yang belakangan ini mampu menyedot perhatiankusecara penuh. Membuatku tidak sabar untuk menantikan episode berikutnyadisetiap minggunya. Menontonnya walaupun belum nongol subtitlenya. Drama JungIl woo yang selalu membuatku tertawa dan kembali segar setelah menontonya.Drama yang selalu membuatku ingin sekali makan Ramyun ditemani oleh pria-priatampan ini. Akan tetapi melihat scene ini, justru malah membuatku teringat akankejadian yang sangat sudah lama sekali aku lupakan. Kejadian yang begitu manisdan membuatku sangat merindukan hal itu. Berharap kejadian itu akan terulangkembali. Sekali lagi, kenangan akan Udang muncul tanpa aku bisa mencegahnyasedikitpun.
****
Aku terustersenyum sendiri mengingat kalian. Entah apa yang membuatku sekarang inginmemutar kembali waktu. Kembali ke sembilan tahun yang lalu. Saat aku masihduduk dibangku SMA. Saat aku belum lama berpacaran dengan Udang. Saat dimanaaku masih belum mengenal dan tahu apa itu cinta. Yang aku tahu adalah, akupunya kalian. Aku punya sahabat-sahabant seperti kalian. Dan aku senang karenakalian memperlakukanku seperti putri. Yaa… walaupun hanya satu orang yangmenganggapku sebagai seorang wanita. Yaa.. siapa lagi kalau bukan Udang. 
Aku tak pernahsekalipun menganggapnya sebagai pacar. Aku juga tidak pernah mangatakan kalauaku menyukainya. Apalagi mencintainya. Rasanya dunia akan segera kiamat kalauaku bisa menyukai cowok seperti dia. Aku terjebak olehnya. Aku gak pernah tahupasti sejak kapan aku telah resmi menjadi pacarnya. Aku juga gak yakin apaungkapan cintanya itu dianggap wajar dan sah. 
Akan tetapibukan itu yang membuatku merindukan kalian semua. Buluk, Kambing, Cacing, Ubur,dan juga Capung. Yaa.. mungkin terlihat seperti sekumpulan binatang yang sedangmencoba untuk bersahabat dan menjadi saudara. Bukan, mereka bukanlah seekorbinatang. Akan tetapi, mereka adalah sahabat-sahabat Udang. Yang tidak lamasetelah itu menjadi sahabatku juga.
Buluk, namaaslinya adalah Jhonatan Wibowo. Dia adalah blasteran Jawa lampung. Orang yanggak pernah menganggap cinta itu ada. Buatnya life is for fun.  Orang yangselalu memuja wanita dan berganti pasangan setiap bulannya. Jadi entah sudahberapa ratus wanita hingga sekarang yang sudah dia pacari. Cacing, nama aslinyaadalah Iwan Ong. Yaaa.. dia adalah lelaki berketurunan Cina – jepang.Sebenarnya dia juga punya nama Jepang. Tapi aku lupa nama jepangnya siapa.Hahaa.. dia itu seorang cowok yang sangat hobby sekali dengan manga. Dan akuterkena virus karenanya. 
Kambing, namaaslinya adalah Bira Ragasta. Nama yang cukup bagus bukan. Sebagus orangnya.Jujur, awalnya aku kagum padanya. Orang yang punya wajah tampan, tinggi,pendiam tapi juga sangat lembut dan bersahabat. Dan ada sedikit yang bertolakbeklakang dengan sifatnya keseharian. Mungkin, saat pertama kali mengenalnya .kesan itulah yang akan terlihat olehmu. Tapi setelah kamu mengenalnya lebihjauh dan lebih lama. Maka kamu akan bilang, “You’revery crazy and fuck!!!”  
Ubur, ehmm.. diaitu adik kandung Udang. Orang yang punya sifat seratus delapan puluh derajatberbeda dengan Udang. Sepertinya aku harus mengakui kalau dia lebih miripdengan Buluk ketimbang Udang yang secara darah adalah saudara kandung.
Capung, diaadalah saudara sepupu Cacing. Orang yang sangat asyik dan sangat baik. Dia tahudimana dirinya harus menempatkan posisinya. Orang yang sangat pandaiberadaptasi. Itulah Cacing. Jadi, waktu dia memutuskan untuk meneruskankuliahnya di luar negeri. Meninggalkan para sahabatnya. Tak ada yang menahannya.Karna dia akan selalu ada dihati kamu walaupun jauh dari kita.
Nama-namabinatang itu akulah yang memberikannya pada mereka. Entah kenapa, aku dulu sukasekali memberikan nama julukan untuk setiap orang yang aku anggap dekatdenganku. Aku memanggil mereka sesuka hatiku tanpa memperdulikan nama aslimereka yang telah diberikan oleh kedua orang tua mereka dengan susah payah.
****
Dan seharisebelum perpisahan kami dengan Capung itulah, kami membuat pesta kecil dirumahUdang. Bermain bersama dikamar Udang yang cukup besar. Membuat beberapa taruhankecil yang sangat seru dan gak akan pernah aku lupakan.
“Kasih kitabukntinya, kalo lo bisa pacarin bule disana dihari ke tiga puluh loe disana!!!”kata Buluk mencoba menyakinkan Capung.
“Siapin aja Jamtangan yang gue minta.”
“Sebulan??Kelamaaan, Luk. Itu sama aja kita beliin dia jam gratis. Tanpa usaha yangberarti.” Cetus Kambing dengan santainya sambil melahap pizza ditangannyahingga memenuhi mulutnya.
“Gue setuju samalo, Bing.” Balas Ubur yang masih asyik dengan laptop miliknya. Yaa.. buat orangyang hobby maen game seperti Ubur. Games adalah kkasih sejatinya.
“Seminggu!!!”kataku singkat tapi jelas. Jelas untuk membuktikan sampai dimana kemampuanCapung dalam menahlukkan hati seorang bule.
“Foto, video deklarasidan juga sedikit kiss full love.”Seru Udang yang terus saja membaca buku filsafat kuno. Seorang penggila bacasepertinya. Mungkin tak akan pernah melepaskan buku dari tangannya. Bahkan,saat kami sedang asyik berebut makanan ataupun menonton film bersama didalamkamar. Dia malah asyik dengan dunia khayalannya. Buku adalah no.1 baginya. Danentah aku yang nomor keberapa. Aku justru, lebih bingung memikirkan, kalauternyata coiwok kutu buku itu adalah pacarku. Dan aku enggak pernah bisamengatakan kata putus padanya. Gak pernah ada alas an untuk mengatakan putusdengannya. Terkadang itu membuatku frustasi.
“Ngapa lo, Bo?”Tanya Buluk sambil merangkulku.
“Loe liattuh!!!” kataku sambil menunjuk kearah Udang yang lagi asyik membaca buku yangbaru dibelinya itu.
“HAhaa…” tawaCacing dan Kambing yang malah mentertawaiku.
“Anggep aja lolagi pacaran sama buku aja, Bo” Teriak Ubur sambil berjalan pergi keluar. Entahdia mau mengambil apa lagi dari dapur. Aku yakin saat dia kembali kekamar,pasti akan ada setumpuk makanan.
“Gue rasa jugagitu. Padahal gue benci banget sama buku. I’mnot woman smart or genius, but why he’s like me?”
“Because you’e very cute, hunny!!!”balas Buluk yang malah memeluku. “I loveyou so much, hunny.” Tambah Buluk yang memelukku makin kuat.
“I love you too…” seru Cacing yangdatang dan memelukku diikuti oleh Capung dan juga Kambing. Dan membuatku sesakdan sulit bernafas.
“Aww…..Awww…Aww…Aww…”teriak mereka berempat kesakitan karena dilempari buku-buku tebal oleh Udangdari ranjangnya.
“Berani meluk,Batue sekali lagi. Gue bikin loe semua masuk kuburan dalam hitungan detik!!!”teriak Udang yang udah beranjank dari tempat tidur dan menyeretku keatas tempattidur.
Jadilah akutahanan Udang. Karena dia memegang tanganku dengan begitu eratnya. Sehinggamembuatku tidak dapat beranjak pergi dari sisinya. Kau tahu, saat melihat orangcemburu dengan cara yang aneh. Itulah Udang. Dan hal yang paling membuatmukesal adalah. Saat kamu ada disisinya tapi seolah kamu ini hanyalah patung.Karena dia kembali pada kegiatan awalnya. Membaca buku yang tebalnya setebalbantal ini.
“Jangan harapkamu bisa pergi dan bermesraan dengan mereka!!!” katanya ketus karena aku terusberusaha melepaskan cengkaramannya yang kuat.
“I’don’t care,” balasku singkat. Sambilmenjulurkan lidah padanya. 
Ich liebe dich, aber du kannst es nicht sehen. Ich weiß auch nicht derrichtige Weg, seine Zuneigung zuzeigen. And i’dont care too.“  Balas Udang dan menutup bukunya danmeletakkannya disebelahnya.
Tanpa kompromi padaku Udang malah memelukku dengansangat kencang. Aku tidak bisa melepaskan pelukannya karena kakinya menindihkakiku. Sungguh menjadi usaha yang sia-sia rasanya. Jadi aku memutuskan untukmenerimanya memelukku. Dan membuat kami tidur diatas ranjang sambil berpelukkan.Entah kenapa aku merasa, aku sangat nyaman saat berada didekatnya. Saat diamemelukku seperti ini. Seolah aku telah lupa dengan kata-kata kasar yang seringdia ucapkan padaku.  Orang yang selalumengatakan kalau aku ini bodoh, jelek, jorok dan lain sebagainya. Mengataikukapan saja, dimana saja.
Terkadang aku senang saat jalan bersamanya. Diagak pernah punya rasa malu saat jalan bersamaku. Orang yang seharusnya punyapacar yang jauh lebih cantik, pintar dan dari tempat yang sama dengannya. Tapiitu tidak dia lakukan. Dia terus saja memilihku. Walaupun aku mengatakan akutidak mencintainya. Bahkan sedikit rasa kagum pun tidak. Tapi dia selalubilang,  “Aku enggak akan pernah bilang’Putus‘, walaupun  kamu memintanya ribuankali. Tolong tepati janjimu. Karna aku akan membuatmu mencintaiku. Melebihi cintakupadamu!!!“ 
Yaaa.. sebuah perjanjian, perjanjian yang akuucapkan,“Oke, kita pacaran. Jangan pernah mengatakan kata ’PUTUS‘ karna akuenggak akan pernah ingin ada kata ’kembali‘ kesempatan kedua gak pernah adadalam kamusku.“
“Waahh…Wahh…Curang kali ini orang!!! Siapabilang, Kebo milik loe seorang!!!“ teriak Ubur yang langsung menjatuhkandirinya ke tempat tidur dan tidur disebelah kiriku. Kemudian memelukku.
“Sebelum loe berdua nikah!! Kebo tetep milik kitabersama.“ Seru Buluk yang menarik Ubur hingga terjatuh dari tempat tidur danmenempati posisi Ubur untuk memelukku. 
Aku benci hal ini, kenapa? Ketika mereka semuamenganggap aku milik mereka bersama. Seolah sebuah barang yang bisa dipinjam-pinjamkanuntuk dipakai bersama. Dan membuatku kesal ketika,Cacing, Kambing dan jugaCapung ikutan berebut untuk tidur bersamaku diatas rangang yang sama. Merekasaling tarik – menarik. Dorong – mendorong hanya untuk berada didekatku.Sungguh konyol perbuatan mereka. Bahkan mereka begitu kompak saat mengangkatUdang agar menjauh dariku. 
Dan akhirnya aku memutuskan untuk membagi satutempat tidur ini untuk mereka mereka berenam. Dengan tubuh mereka yang tidakkecil lagi. Postur tubuh mereka sangatlah besar. Dan itu membuatku terasadijepit oleh puluhan kayu dan aku tidak dapat menghindari mereka. 
*****
Hari itu, adalah hari pertama aku dan mereka tidurdisatu ranjang. Mengingat hal itu membuatku bahagia. Aku punya sahabat danpacar yang sangat luar biasa. Persahabatan yang mulai berkembang menjadi sebuahpersaudaraan. Makin lama menjadi makin kuat hingga sekarang. Walaupun terkadangada sesuatu yang berubah, tapi kami mampu melewatinya. Hubunganku dengan Udangjuga sama. Ada kalanya sesuatu yang besar hingga membuat hubungan kami memburukpun terjadi. Akan tetapi kami berdua tahu jalan untuk kembali. 
Entah kenapa aku begitu merindukan saat-saat itukembali. Saat yang dulu kami sering lakukan. Tapi tidak bisa lagi kami lakukansekarang. Karena apa? Cacing udah punya Vita yang siap berbagi ranjang setiaphari. Bahkan mereka memiliki seorang jagoan kecil bernama Louse. Seorang anakyang menjadi pacar kecilku yang pintar dan lucu. Kambing yang udah punya Aprildan baru saja menjadi seorang ayah. Dia juga tinggal jauh dari kami. Ubur yangmemilih untuk kerja dan tinggal bersama Papa. Sebulan setelah kepergian Udang.Sementara Capung yang sibuk dengan pekerjaannya. 
Hanya tinggal Buluk yang masih selalu punya waktubanyak untukku. Walaupun tak jarang kita pergi bertiga bersama dengan Capung.Tapi kami sudah gak mungkin lagi bisa mewujudkan saat-saat seperti sembilantahun yang lalu.

By. Yunie Batue

Posted in Yunie Batue

Terpilih,Memilih atau Keinginan??

No Comments »

December 8th, 2011 Posted 9:33 am

Saat sebuah pilihan telah dibuat. Walaupun itu bukanlahkeinginannya. Akan tetap melakukan apa yang sudah dia pilih. Pilihan takselamanya buruk. Keinginan juga tak selamanya baik. Ketenangan dan kesabarandalam menentukannya lah yang mampu membuat keduanya itu menjadi baik. 
Bagaimana jika bukan memilih, pilihan ataupun juga keinginan.Akan tetapi seseorang yang terpilih. Apa yang bisa dilakukan jika itu sudahmenjadi yang terpilih. Ketika sebuah keinginan, pemberontakan, ketidakpedulian,dan ketidakinginan telah terkalahkan dengan kata terpilih ini?
Apa akan menerima walaupun tidak dapat menikmatinya. Atau bahkanmerasakan bahagia saat menjalaninya. Mungkin dengan berpikir positif dan tenangbisa sedikit membuat hati terbuka. Menyadari kalau memang mungkin menjadi yangterpilih juga baik. Bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan ataubahkan bisa mencintai hal tersebut jika mulai membuka hati untuk menerima. Waktuakan membantu. Karena waktu adalah jawaban yang tepat.
Menjadi, yang terpilih, dipilih, memilih, dan juga keinginanhati. Semua itu merupakan hal yang baik. Tak ada yang buruk jika menganggapnyahal baik. Karena sesuatu yang baik akan menghasilkan yang baik pula. Dan sebuahkeegoisan belum tentu bisa menghasilkan sesuatiu yang menjadi keinginan apalagimenjadi hal baik bahkan yang terbaik untuk kita.
Membuat semuanya menyenangkan dan menjalaninya dengansungguh-sungguh maka akan tahu jawabannya. :D :D buat hidupmu menyenangkan walau kadang terasa menyakitkan dan melelahkan.

Posted in Yunie Batue

Sorry Mom ?

No Comments »

December 6th, 2011 Posted 4:13 pm

Tak pernah terbayangkan olehku akan bertemu dengan Mamasebelum dua tahun berlalu dariku. Selama ini aku selalu menghindari semua orangyang berhubungan dekat dengannya. Bukan, bukan semua sahabatnya melainkanseluruh keluarga besarnya. Rasanya aku belum sanggup untuk bisa bertemu merekasemua dan memberikan sebuha senyuman yang tulus dari diriku. Begitu sulit untukmelakukan hal itu. Orang yang selama sebelas tahun terakhir ini bersamaku. Memberikansebuah keluarga baru padaku. Membuatku begitu diterima di seluruh keluargabesarnya.
Setiap kali mengingat saat dimana aku bersama keluarganya dandirinya. Itu membuatku bahagia. Akan tetapi aku tak pernah menampik. Kalau dirikujuga terluka. Luka yang tak dapat disembuhkan oleh obat apapun itu.
Saat ini, aku begitu merindukan Mama. Walaupun Mama bukanlahorang yang melahirkanku. Akan tetapi Mama telah melahirkan seorang anak lelakiyang begitu mencintaiku hingga akhir hayatnya. Aku merindukannya sama sepertiaku merindukan anaknya. Tapi aku tidak dapat menemuinya karna aku berjani padadiriku sendiri. Aku butuh waktu untuk dapat tersenyum tulus pada mereka. Orang-orangyang sudah aku anggap keluarga kedua bagiku.
“Kenapa mesti dua tahun?” Tanya Mama ketika itu saat akumengutarakan niatku untuk menghindari keluarganya.
“Karna aku tidak akan pernah sanggup melihat Mama, Papa,Wikie, Om Tito dan yang lainnya sebelum dua tahun telah berlalu dariku. Aku butuhwaktu untuk menenangkan hati dan pikiranku yang penuh dengannya. Jika akumelihat kalian. Maka luka itu akan terus terbuka. Karna aku sudah mencintainyadengan cara yang salah. Aku telah menyerahkan seluruh cintaku untuknya dankalian.” Airmataku pun jatuh saat mengatakan semua itu pada Mama. Bahkan akusudah tidak sanggup lagi mengatakan apa yang ingin ndan belum aku katakana padaMama.
Dengan sabar, Mama memelukku sambil berkata, “Kami akanmenunggumu. Karna kami juga mencintaimu dengan seluruh cinta yang kami punya. Because You’re My Princess.” Pelukan danperkataan Mama membuatku bahagia. Punya dua orang ibu yang memiliki sifat dancara yang berbada dalam hal mengutarakan rasa sanyangnya padaku. Membuatku sangatbahagia.
Lima bulan telah berlalu, tapi aku masih terus berdiriditempat yang sama. Tempat dimana lima bulan yang lalu aku berdiri. Aku selalubilang pada diriku. Aku akan melanjutkan hidupku, bangkit dan berusahamelupakannya. Ternyata, aku salah. Aku tidak pernah bisa melupakannya. Orang yangselama sebelas tahun ini bersamaku. Mencintaiku. Orang yang mampu membuatkumenangis, tertawa, kecewa, marah, benci, sakit hati,cemburu, gak pernah inginmenyerah, berjuang untuk mewujudkan segala keinginan dan mimpiku  dan lain sebagainya. Semua perasaan itu pernahmuncul dalam diriku.
Tiga hari sebelum hari ulang tahunku, aku sudah berencanaingin pergi menemuinya. Merayakannya bersama dengannya walaupun dialam yangberbeda. Terlihat seperti wanita sinting memang. Tapi aku hanya inginmerayakannya bersamanya. Selama ini dialah orang pertama yang memberiku selamatulangtahun. Memberikanku kejutan yang tak pernah bisa aku duga. Membuatku terusbertanya, “Kejutan apa lagi kali ini yangakan kamu berikan dihari ulang tahunku?” pertanyaan itu selalu hadirdibenakku setiap saat.Dan aku akan dengan tidak sabar menantinya danmendapatkan jawabannya dihari ulang tahunku.
“Luk, gue mau ke makamnya buat Ziarah.” Kataku saat bersamadengan Buluk.
“Kapan?” balas Buluk santai sambil melahap makanan yang barusaja selesai aku masak untuknya.
“Jum’at ini.”
“Kenapa mesti hari itu, apa loe mau terlihat bersamanyadihari ulang tahun loe?” balas Buluk yang sudah menduga sedikit keinginanku. “Gueikut yaa??” tambahnya sekali lagi dengan mulut yang masih dipenuhi denganmakanan.
“Bleh, gue juga baru mau pesen tiketnya besok,”
“Kenapa loe milih disana?”
“Gue Cuma mau merayakan hari ulang tahun gue yang terakhirdisana. Bareng dia. Karna mungkin tahun ini adalah tahun terakhir gue bisamerayakannya bareng dia walaupun kita berada dialam yang berbeda.”
“Orang gila!!! Gimana caranya,Bo? Orang yang mungkin udah surgaatau di neraka bisa datang ke alam kita buat ngerayain ulang tahun loe. Sakitjiwa nih loe lama-lama!!!”
Gerutu Buluk sambil mterus menggelengkan kepalanya danmenatapku dengan tatapan sedikit menjijikan mungkin diriku saat inidihadapannya. Antara naïf atau bodoh sudah tak bisa dibedakan.
“Apa kata loe deh. Yang jelas gue bakal pergi kesana. Karan gueyakin w akan merasakan keberadaannya disana. Dia pasti dateng.”
 “Waahh…Wahh..Wahh..”seru Buluk dengan penuh sarkaktis, “beneran bentar lagi masuk grogol nih anak.Sadar dong Yang, buka mat aloe. Hidup loe itu mesti terus jalan. Masih banyakcowok didunia ini. Yakin aja aka nada cowok yang bakal gantiin posisi diadihati loe nanti. Buka hati loe lagi buat orang lain yang ingin masuk kehatiloe. Dan kalo loe, udah putus asa. Tawaran gue masih berlaku. Hehehe…”
“Loe??? Never…” balasku singkat sambil memincingkan matakukearah Buluk. Memandangnya dari atas sampai lutut kaki kemudian menggelengkankepalaku sambil menyilangkan kedua tanganku membentuk huruf X.
“Jiaahh… dia nolak rejeki. Hahaha..” balas BUluk sambiltertawa dan merangkulku meninggakan dapur. “Jadi kita pergi nih!!”
Aku hanya membalas pertanyaan Buluk dengan anggukan sertasenyum sumringah. Aku pun pulang kerumah dengan diantarkan oleh Buluk. Belakanganini aku sudah sering sekali pulang larut malam.
****
Aku terus membolak-balikkan badanku diatas kasur. Menutup matakuditambah dengan menindihnya dengan guling kecil kesanyanganku. Aku hany ingintidur dengan nyenyak. Akan tetapi, lagi, lagi dan lagi. Aku tidak bisamemejamkan mataku. Rasanya dia masih begitu enggan untuk memejamkan matanya. Padahalaku sudah memerintahkannya untuk terpejam dan mulai tertidur.
Segala hal sudah aku lakukan agar aku bisa tidur. Tapi dikepalakumasih terus di penuhi dengan suasana kamar miliknya. Tempat tidur yang biasadia gunakan untuk istirahat. Foto – foto kenangan kita berdua yang terpasang hamperdiseluruh dinding rumah dan kamarnya. Poo-Poo juga ada disana.
Tanpa pikir panjang lagi akhirnya aku pun keluar dari rumahdi jam yang seharusnya semua orang sudah tertidur pulas. Yaa.. pukul satu malamaku keluar rumah. Berjalan ke luar mencari taksi untuk pergi kerumahnya.
Cukup membutuhkan waktu setengah jam aku sudah smapai dirumahUdang. Tanpa menunggu lagi aku pun menekan beberapa kode untuk dapat masukkedalam. Yaa.. karena kode rumah ini juga masih sama dan tidak ada yangmerubahnya. Berjalan masuk kedalam sambil mencari saklar lampu untukmenyalakannya.
Aku pun memasuki kamarnya. Kamar yang selalu aku rindukan. Kamaryang sampai sekarang masih menyimpan aroma tubuhnya, suaranya, tawanya, danlain sebagainya. Aku melihat foto kam berdua. Foto yang berukuran paling besaryang dipajang tepat diatas ranjangnya. Foto saat dimana kami berdua sedangtersenyum bahagia sambil memegangi pasta gigi dan sikat gigi. Dan saat akumelihat Poo aku pun langsung meraihnya dan memeluknya ndengan erat. Mencoba untukberbaring diranjang dan memejamkan mataku.
****
Seperti biasa, aku pun bangun dijam yang sama setiap harinya.Karena hari ini bukanlah hari libur. Jadi aku harus pergi untuk kerja. Aku punmandi dan membersihkan tubuhku. Kemudian berangkat kekantor. Namun saat akusampai dilobby. Aku terpaku atas apa yang aku lihat. Aku melihat sosok yangselama ini aku rindukan tapi aku tak ingin dan tak akan melihatnya atau bahkanmenghubunginya untuk bertemu.
Dia adalah Mama. Mama yang baru saja masuk dari lobby utamadan berjalan menuju lift. Mama yang mengenakan pakaian training berwarna cream.Membuatku tak mampu menggerakkan kakiku. Perlahan aku mencoba untuk menghindariMama. Aku pun bersembunyi di belakang meja resepsionis.
Aku senang namun sekaligus merasa sedih. Aku sangatmerindukan Mama tapi aku tidak bisa menemuinya dan memeluknya karena janjikusendiri. Aku pun hanya bisa memukul dadaku pelan – pelan. Berusaha menyakinkandiriku kalau aku mampu melewatinya.
Yaaa… aku yakin pasti bisa. Sesaat setelah aku berada di busmenuju kantorku. Sebuah sms masuk ke hpku.
“Kamu memang keraskepala, sampai sarapan yang sudah mama buatin pun gak dimakan.”
Membaca sms itu, membuat hatiku tersentak. Aku yakin kalauMama tahu aku dating semalam bahkan tidur dikamar Udang. Aku tidak melihatkearah dapur sampai aku tidak tahu kalau Mama telah membuatkanku sarapan. KapanMama dating ke Jakarta, aku pun tidak tahu.
Aku terus berpikir kenapa Mama bisa pulang ke Jakarta. Hinggaakhirnya sampailah aku kepemikiran kalau semua ini pasti ada hubungannya denganhari ulang tahunku.
“Maaf, Ma. Tapi akutidak bisa bertemu dengan Mama sekarang. Melihat Mama pagi ini saja sudahmembuatku teringat akan kepergiannya. Aku masih belum sanggup melupakandirinya. Aku takut. Walaupun aku tahu, aku tidak harus melupakannya dan cukupmengingatnya sebagai kenangan yang indah. Tapi aku belum bisa melakukannya.” Kataku dalam hati sambil menatapjalanan Jakarta dipagi hari yang terasa panas pagi ini.
****
Mungkin memang sudah seharusnya aku tidak pergi untukmerayakan bersama dengan Udang. Langkah kakiku malah berjaln menuju arah yangberlawanan dengan tujuanku semula. Walaupun penuh dengan kebimbangan tapi akutelah membuat pilihan. Aku akan pergi bersama teman-temanku yang sudah pastiatau belum tentu ingat akan hari ulang tahunku. Hpku sengaja aku matikan. Aku hanyaingin sedikit menenangkan kekalutan hatiku. Karena ini adalah tahun pertama akumerayakan hari ulangtahunku tanpa dia. Tanpa ada sebuha kejutan dan pestakecil. Juga tanpa ada dirinya disampingku.
Bukan lagi sebuha kejutan atau pesta kecil yang dibuatnyasetiap hari ini dating. Tapi kehadiran dirinya lah yang sekarang aku butuhkan. Detikdemi detik aku menunggu jam 12 malam. Dan saat ini aku sedang berada diperjalanan bersama teman-temanku menuju puncak. aku terus memejamkan matakusambil berharap dia akan muncul walaupun dalam anganku saja. Memberiku ucapanselamat ulang tahun dengan senyuman khas miliknya. Aku mengabaikan Mama yangsudah jauh-jauh dating untuk menemuiku dan memilih pergi bersama teman-temanku.Maaf, maaf Ma. Aku tidak bisa menarik kata-kataku, aku juga tidak mampumembatalkan janji yang telah aku ucapkan. Aku pasti akan menemuimu disaat janjiitu telah berakhir.
I always love you Mom. You’erthe best for me. J
****

Posted in Yunie Batue

*Dependence*

No Comments »

November 7th, 2011 Posted 3:27 pm

Gambar diambil dari Google image

“Entah berapa banyak lagi yang harusaku rasakan. Mengapa mereka selalu menggangguku? Apa yang mereka inginkandariku? Bahkan, aku tidak tahu dari mana asal mereka. Menyedihkan bukan?” SeruVayla dari balik telpon.
“Seharusnya kamu mulai mengerti akanapa yang ada didalam dirimu.” Balas seorang lelaki dari balik telpon padaVayla.
“Bica memang mudah!! Coba kamu yangmerasakannya sendiri.”
“Mungkin aku belum pernahmengalaminya, tapi dari yang aku tahu selama ini. Setelah mendengarkan setiapceritamu. Hamper disetiap malam. Aku mengerti, kalau kamu merasa amat tidaknyaman dengan keberadaan mereka yang selalu mengganggumu. Tapi apa kamu tidakpernah ingin tahu kenapa mereka selalu melakukan hal itu padamu. Cobalah untukmencari tahu jawabannya. Karna selama ini, kamu hanya terus berlari danmenghindari mereka.” Balas lelaki itu panjang lebar yang mencoba mengutarakanpemikirannya pada Vyla.
“Putraaaa…” teriak Vayla pada lelakiitu, hingga membuat Putra menjauhkan telpon genggam miliknya dari telinganya.
“Inilah kamu, hobby berteriak.” Balsnyasetelah mendekatkan kembali telpon genggamnya.
“Itu karena kamu tidak pernahberpihak padaku.” Balas Vayla dengan penuh kekecewaan.
“Sejak kapan aku bilang, aku berpihakpada mereka. Aku juga tidak menyukai mereka. Bahkan sangat membenci mereka yangselalu saja mengganggumu tiap malam. Membuatmu tidak bisa tidur dengan tenang. Dankalo, kamu tidak bisa tidur. Maka, aku juga tidak akan bisa tidur. Karna apa? Karnakamu pasti menggangguku juga. Menemanimu tiap malam, walaupun hanya lewattelpon. Aku juga sama lelahnya dengan dirimu. Aku sangat tahu perasaanmu saatini. Karna apa? Karna kamu juga membuatku merasakannya.” Balas Putra denganpanjang lebar. Dan dengan nada suara yang sedikit keras. Membuat Vayla harusmenjauhkan sedikit telpon genggam miliknya dari telinganya.
“Maafkan aku,” balas Vayla yang mulaisadar kalo yang merasa lelah bukan hanya dirinya.
“Seharusnya bukan kata maaf yangkeluar dari mulutmu.”
“Lalu apa?”
“Terimakasih, aku lebih menyukai kataini. Ketimbang kata maaf.”
“haha..” tawa Vayla dengan ringan. MendengarPutra yang tidak pernah membuatnya merasa sedih. Walaupun terkadang dia harusmendengar kata-kata Putra yang keras dan terdengar sedikit memerintah. Tapi semuaitu dilakukan Putra demi kebaikan Vayla.
“Apa kamu sudah merasa tenangsekarang?” tanya Putra pada akhirnya.
“Sedikit lebih tenang, dan itu semuakarna kamu.” Balas Vayla dengan senyum mengembang disetiap garis bibirnya.
Dia mulai membayangkan, saat-saatbersama dengan Putra. Empat tahun berpacaran dengan Putra membuatnya sangatnyaman dan bahagia. Kadang mereka bertengkar dengan hebatnya. Kadang merekamenangis bersama, makan dan bepergian bersama. Bahkan mereka mampu salingberbagi dalam setiap hal. Saat Putra membutuhkan Vayla, makan Vayla akan selaluada disamping Putra. Begitu juga dengan Putra. Saat Vayla membutuhkannya makaPutra akan selalu berada disamping Vayla.
“Kamu boleh tidur sekarang,” balasVayla yang langsung mematikan telponnya.
Kemudian dia memandang kearah lemaripakaian yang tepat berada didepannya. Menoleh kekanan dan kekiri. Kemudian diamencoba menarik napas dengan panjang dan dalam. Kemudian menghembuskannyadengan berat dan perlahan. Seolah dia mulai mengumpulkan keberanian yang telahlama hilang dalam dirinya.
“Aku tidak akan pernah kalah dengankalian, karna aku lebih mulai dari pada kalian.” Seru Vayla sambil menunjuktelunjuknya seolah dia berbicara pada seseorang. Atau mungkin banyak orang. Karanadia menunjukkan jari telunjuknya berkali-kali. Mulai dari depan dirinya,samping kanan dan kirinya.
“Aku tidak akan takut lagi denganancaman kalian. Aku juga tidak akan membuat lelah orang yang baradadisampingku, mempercayaiku, menyanyangiku dan tidak pernah sekalipun menganggapaku gila. Karena mampu melihat kalian. Bicara pada kalian yang selalumengganggu hidupku.”
“Kami tidak akan mengganggumu, jika kamu mau membantu kami.” Balas sebuah bayangan hitam yang adadihadapan Vayla.
“Menolong?? Dengan mencekik leherkusaat aku mulai memejamkan mataku. Tidak pernah sedetikpun kalian biarkan akutidur dengan tenang. Membiarkan mimpi indahku berjalan dengan baik. Kalian selalumenghancurkannya. Itu kalian bilang tidak mengganggu??” balas Vayla dengankesal. Dia sudah merasa sangat bosan dengan apa yang telah dialaminya selamaini.
“Kami melakukan itu semua, agar kamu mau mendengarkan kami. Karna kamubisa membantu kami?”
“Membantu kalian? Jika aku bisa. Sudahaku lakukan sejak dulu. Tapi aku hanya seorang manusia biasa. Yang punyasedikit aura berbeda, sehingga kalian bisa merasakannya. Dan seolah-olahmerasakan kalau aku mampu membantu kalian. Aku hanya ingin menjadi wanitabiasa. Wanita yang tidak pernah bicara dengan makhluk tak telihat. Selalu tidurditemani oleh kalian. Aku juga punya rasa takut. Bahkan, saat kalian mencobamencekikku, bila aku tidak menuruti keinginan kalian. Aku bukanlah jembatan kalianuntuk memperoleh keinginan  kalian. Jika keinginankalian aku penuhi, maka kalian akan pergi. Dan akan datang lagi mahkluk sepertikalian yang lainnya yang akan menggantikan posisi kalian saat ini. Hufftt…. Akubenar-benar merasa lelah. Kau tahu, aku punya pacar. Dan pacarku punyapekerjaan dipagi hari. Dia tidak hanya mengurusi kehidupanku. Karena dia jugapunya kehidupannya sendiri. Negitu juga denganku. Jadi,”
Vayla berhenti sejenak. Dia mencobamengumpulkan kembali tenaganya. Karena dia terus berbicara tanpa henti. Mengutarakansemua unek-unek yang ada dikepalanya pada semua mahkluk yang sedang mengepungdirinya.
“Jadi, aku mohon carilah orang lainuntuk membantu kalian. Orang yang memang sudah punya kemampuan untuk membantukalian. Orang yang menerima dengan senang hati atas kemampuan yang merekamiliki. Atau orang yang sengaja belajar agar bisa melihat atau berhubunganlangsung dengan kalian. Tapi jangan pergi mencariku. Karena apa? Karena akutidak ingin berhubungan lagi dengan kalian!!!”
****
Walaupun Vayla telah mencoba untukmengusir semua mahkluk yang terus mengganggunya hingga keingina merekaterpenuhi. Tapi semua itu diak berhasil. Mereka sama sekali tidak mendengarkanapa yang dikatakan oleh Vayla.
Dengan rasa kesal, Vayla akhirnyaberanjak dari tempat tidurnya sambil membawa selimut besar miliknya. Berjalan menujulemari es dan mengambil sebotol air mineral. Meminumnya hingga habis. Menghela nafasdengan panjang. Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa lari dari kehidupannyayang memang sudah ditakdirkan untuk berhubungan dengan makhluk tak terlihat.
Tidak lama kemudian pintu apartemen Vaylaterbuka. Dan Putra berjalan masuk kedalam. Tanpa melihat keah dapur yang gelap.Dia langsung menuju kamar Vayla. Langkahnya yang begitu cepat dan penuh dengankekhawatiran jelas terlihat. Bahkan, raut wajah penuh dengan guratan kecemasanpun jelas terlihat diwajahnya.
Melihat Putra yang berjalan tanpamelihatnya. Vayla pun mencoba mengikuti Putra berjalan dibelakang Putra.
Putra membuka pintu kamar Vayla,kemudian menyalakan lampu kamar. Melihat kesekeliling kamar namun Vayla tidakterlihat disana. Wajah Putra makin terlihat sangat panic.
“Pergi kemana kamu? Tengah malambegini.” Seru Putra yang merasa sedikit prustasi. Dia tahu, kalo Vayla sudahmerasa prustasi. Maka dia akan pergi keluar sendirian ditengah malam. Demi untukmenghilangkan rasa kantuknya.
“Aku ada dibelakangmu,” Balas Vaylasambil memegang sebotol air mineral yang masih terisi penuh. Membukakan tutupnyakemudian memberikannya pada Putra.
“HUfftt…” Putra yang mencoba untukmenarik nafas panjang saat melihat Vayla. Tanpa berpikir panjang, Putra punlangsung memeluk Vayla dengan erat. “Aku pikir kamu akan pergi lagi.”
“Apa kemampuanku hanya bisa lari danmenghindar seperti yang kamu katakan?” balas Vayla dengan membalas pelukan yangsarat dengan ketakutan dalam diri Putra.
“Maafkan aku, aku hanya merasasedikit aneh. Karena kamu mematikan telpon begitu saja. Aku pikir kamu marahpadaku.”
“Marah??” balas Vayla yang mulaimelepaskan pelukan Putra. “Bagaimana bisa aku marah padamu? Bukankah seharusnyaaku berterima kasih padamu?”
“haha..” balas Putra dengan senyummengembang dibibirnya. Dia senang karena Vayla bisa menghiburnya.
****
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Vaylasaat mereka berdua sudah duduk disofa ruang tengah.
“Kenapa kamu begitu to the point?”balas Putra sambil memandang kearah Vayla dengan lembut.
“Haha.. karena aku tahu siapa kamu.” BalasVayla dengan senyuman. “Mau makan mie instan?” tawar Vayla pada Putra.
“Aku rasa mie instan juga lumayan,”balas Putra mengiyakan tawaran Vayla.
Vayla beranjak dari kursi menujudapur. Mengambil sebuah panci kecil didalam laci perabotan. Mengisinya denganair, kemudian meletakkannya diatas kompor dan menyalakan komor tersebut agarairnya mendidih.
Sedangkan Putra datang menghampiriVayla yang sedang sibuk membuka bungkus mie instan. membantunya mencucibeberapa potongan sawi hijau yang sudah dipotong-potong oleh Vayla.
“Rumahmu bertambah dingin saja,walaupun tak ada AC,” Seru Putra sembari memasukkan potongan sawi hijau yangsudah dicuci kedalam panci kecil yang sudah berisi air mendidih dan telorrebus. “Kali ini ada berapa banyak?”
“Ehmm….” Gumam Vayla sambil melihatkesekeliling ruangan didalam rumahnya. Melihat kearah setiap makhluk yang terusmemandang kearahnya. “Aku rasa lebih dari lima,” balas Vayla enteng.”
“Apa yang mereka semua inginkan kaliini?”
“Banyak..”
“Apa kamu akan menurutinya lagi kaliini? Seperti sebelum-sebelumnya,”
“Jika, aku bisa mengatakan tidak. Dan,mereka semua mendengarkan kata-kataku!!!” balas Vayla sambil melirik kearahmakhluk-makhluk yang sedang melihat dirinya.
“Aku rasa, kamu memang harus menerimasemuanya dengan lapang.” Balas Putra sembari memeluk Vayla dari belakang.
“Akan aku pikirkan setelah kitamemakan semua ini hingga habis.” Balas Vayla sambil mematikan kompor. Membawa pancikecil berisikan mie instan yang sudah siap santap ke meja makan.
Dan mereka berdua pun akhirnya makandengan lahap. Vayla yang sibuk dengan pikirannya. Bagaimana dia harusmemecahkan masalahnya sendiri tanpa harus membuat Putra cemas. Sedangkan Putrayang terus memandang Vayla dengan tatapan penuh kebimbangan. Apa kali ini adalahsaat yang tepat untuk memberitahukan semua masalahnya. Masalah yang selalu diasimpan sendiri beberapa bulan belakangan ini. Dia tidak ingin membuat Vaylasedih atau bahkan terjadi hal yang lebih buruk lagi.
“Katakan saja padaku? Apa kamu masihingin terus menyembunyikannya dariku?” seru Vayla setelah dia selesai menelanmie instan yang ada didalam mulutnya.
“Apa kamu sudah tahu?”
“Belum, Aku hanya tahu, aku jugahanya merasakan. Kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku belakangan ini.Kamu tidak usah mengkhawatirkanku. Aku akan menyelsesaikan masalahku sedikitdemi sedikit. Walaupun aku masih belum tahu, langkah apa yang harus aku ambil. Jadi,katakan saja…”
“Aku tidak tahu, apa yang akan aku katakanini tepat atau tidak. Tapi aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikannya darimulebih lama lagi!!!”  
“Aku tahu, jadi katakana sekarang!! Apapunitu, menyakitkan atau menyenangkan? Aku akan mendengarkan semuanya hingga kamuselesai mengatakannya. Dan kita akan mulai memecahkannya satu persatu.”
“Ini tak semudah kita membuat sebuahparcel. Atau bermain rubik. Ini… lebih rumit dari mereka.”
“Aku sudah bisa menebaknya. Karena kamusudah menyembunyikannya dariku.”
“HUfftt…..baiklah. aku akanmengatakannya.” Seru Putra sambil menarik nafas dalam-dalam. Memandang Vaylalekat-lekat. Menggenggam tangan Vayla dengan lembut. Sementara Vayla jugamembalas pandangan Putra yang penuh dengan kecemasan, ketakutan dankegelisahan.
Vayla terus memandang Putra denganlembut, matanya terus memancarkan kekuatan untuk Putra. Dia ingin Putra percayapadanya dan dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Sebaiknya kita pergi dari kota ini!!”Putra mulai bicara.
“Pergi?kenapa??” Vayla mulai bingungdengan keinginan Putra.
Vayla sudah tinggal di kota ini Selama24th. Dan sekarang Putra ingin dia meninggalkan kota ini. Apa yangmembuat Putra membuat keputusan seperti ini. Saat ini Vayla hanya bisamendengarkan penjelasan yang akan diungkapkan oleh Putra. Karena bagi Vayla,bukan hanya dia telah berdaa dikota ini selama puluhan tahun. Akan tetapi,disinilah dia dilahirkan. Disini pula dia punya keluarga, disini dia belajardan bertemu dengan Putra. Bahkan di kota ini pula dia harus kehilangan keduaorang tuanya. Terlalu banyak kenangan di kota ini. Dan, rumah ini. Hanya rumahinilah yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Dia tidak akan bisa dengan mudahpergi dari kota ini. Kalau alas an Putra tidak cukup kuat untuk membuatnyapergi.
***
NB: hehehe.. sekali lagi bersambungdan gak tahu kapan aka nada lanjutannya cerita ini. But.. have nice readingfriends… JJJ :D

By. Yunie Batue

Posted in Yunie Batue

←Older