Sebuah Bis Kota (2007)

(Daesy Christina)

Sebuah bis kota.
Bukan hal biasa jika kita naik bis kota. Tanpa AC. Tidak adanya sofa empuk layaknya kendaraan pribadi.
Tapi justru pada hari ini, di tengahnya kesesakan bis kota. Aku mendapatkan sesuatu.

Siang ini, aku mulai berangkat ke tempat kursusku di kawasan kelapa gading. Setelah beberapa kali aku naik ojek dan 1 kali naik bis trans jakarta yang akhirnya harus diakhiri naik ojek pula, hari ini aku memutuskan naik angkutan umum biasa. Mikrolet, bis kota dan angkot berwarna merah.

Dari depan rumah, aku naik mikrolet biasa sampai pasar tanah abang.
Dari pasar tanah abang, aku sempat menunggu beberapa lama sampai tiba sebuah bis kota usang dengan nomor 507. Jurusan tanah abang – pulo gadung.
Begitu bis tiba. Mungkin karena sedikit jumlah bis kotanya, jadi langsung diserbu sama penumpang yang sudah terlebih dahulu menunggu di situ. Itu pun masih belum penuh penumpangnya. Tapii…lucunya..ada yang lucu lho.
Sepertinya yang naik itu terdiri dari beberapa rombongan yang terdiri dari beberapa ibu-ibu. Soalnya  mereka sempat mengatur-ngatur tempat duduk segala. Hihihi.

Lalu saat bis berangkat menuju bawah jembatan jati baru. Wuihhh.. langsung membludak penuh sampai tidak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan ada pengamen pun harus susah payah kalau mau lewat.
Panas! Gerah! Jangan bilang wangi. Tapi untung saja jendela-jendelanya terbuka lebar sehingga angin bisa masuk dan mendinginkan suasana di dalam bis kota.

Tapi aku sempat menyaksikan beberapa kebaikan penumpang di bis yang rela menyerahkan tempat duduknya untuk beberapa ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil dan bayi. Dan hal ini tidak hanya dilakukan oleh 1 ibu yang sama. Namun dilakukan oleh 3 – 4 orang ibu yang berbeda.
Lucu yah? Betapa sebuah kebaikan masih nyata ditengah-tengah kumuhnya bis kota dan suasana yang hiruk pikuk.

Padahal justru di saat seperti itulah sebuah kebaikan sering dipertanyakan.Di saat semua menjadi begitu egois mempertahankan zona kenyamanannya.

Pelajaran dari ibu guru jaman SD dahulu tentang budi pekerti pun kembali seakan di-rewind kembali di kepalaku. Pelajaran untuk saling memberi dan berbagi.
Pelajaran tentang kebaikan yang perlahan sudah mulai menghilang dari kota Jakarta ini.

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami masa-masa saat kota Jakarta terkenal dengan keramahan dan kebaikan hati penduduknya. Juga mungkin pernah mengalami masa-masa krisis dimana tidak ada lagi kepercayaan satu sama lain akibat adanya sebuah kerusuhan besar di Jakarta.

Lalu, lama kelamaan, seperti seakan ditelan oleh kecanggihan teknologi dan kemandirian masyarakat Indonesia, sebuah kebaikan hati seperti itu..seakan lenyap ditelan jaman.

Namun pada hari ini, aku kembali yakin.
Bahwa diluar sana masih banyak kebaikan hati yang setulus dan semurni itu.

Bahwa masih ada tunas-tunas harapan untuk bangsa kita yang menurut media massa sudah semakin terpuruk moral dan budi pekertinya.
Dan pada hari ini aku telah menyaksikan beberapa darinya.

Sebuah bis kota yang usang…telah mengajarkanku satu hal hari ini…
Sebuah bis kota yang pengap…dalam kekerdilan artimu…kau telah membuat hari menjadi lebih indah dan berwarna…

Sebuah bis kota…

20 Oktober 2007

Tertarik dengan yang ini?

  • AKU
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. (part 4)
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part 3 )
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part 2 )
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part I )
  • genERAsi KLIK!
  • surat untuk mama
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II
  • The Way Children See the World

Leave a comment

Your comment