Kesunyian yang memecahkan pagi
(Dayu)
Awal Maret rumah Kesiman, rumah putih serambi tua peninggalan ibunda. Embun pagi masih bermalasan di balkoni depan kamarku. Kicau burung telah bangunkan aku dari tidur yang singkat, dari balik jendela aku tengok langit masih berona sendu mega manja bergelayut. Dingin pagi masih tampak di langit jauh satu dua bintang bersinar malu. Dan sepertinya matahari pun masih enggan tersenyum, namun suara radio si bibi sudah memenuhi seluruh isi ruang rumah.
Uaakkhhemm… uhff, malas beranjak dari tempat tidur, batinku. Ingin kulelapkan diri dalam tidur lebih lama lagi, 5.45 kulirik quartz hitamku. Dalam tidurku yang singkat rasanya aku bermimpi tentang…
Suara hp tiba-tiba berbunyi nyaring, siapa lagi sepagi ini sudah maen telfon, kurang kerjaan banget ya?! Lagu `Hapus aku ` dari Nidji mengagetkanku, dengan malas kuraih hp di atas meja kecil di samping tempat tidurku.
Setengah hati kulihat nama pemanggil. Nana? Ada apa pagi begini sudah nelfon, bukannya puaskan diri tidur?! Kan semalaman pada lembur sampai jam satu pagi, ada apa lagi ya? Seharusnya pada istirahat, karena hari ini masih banyak lagi yang kudu dikerjakan. Alaaah paling juga mau curhat karena habis berantem dengan Ketut, pacarnya. Onde mande tusde, percintaan remaja memang menggelikan. Tapi sepagi inikah?
“ Yap, halo… om swastiastu. Da pa Na? Nga bisa tidur? Berantem lagi? Apa…““ Om swastiastu Ibu, bukan. Bukan itu, Na masih di toko sama anak-anak laennya. Kami …. Ibu bisa ke toko segera? Penting! “ Ada nada kesal dan takut dalam suaranya.
“ Ada apa Na? Penting apa? Ada apa di toko?“
“ Bukan masalah toko Ibu. Semua masalah toko masih aman terkendali. “
“ Lalu? Kenapa lagi saya musti cepat-cepat ke toko sepagi ini?! “ Ku hela nafas. Rasa ngantukku jadi hilang berganti rasa penasaran.
“ Bu, masih ingat bapak ……“
“ Hey…. !!!! Jadi pagi-pagi gini kamu telfon saya cuman mau ngingetin saya tentang bapak? Sudah berapa kali saya bilang jangan sebut-sebut dia lagi….“
“ Tuh kan Ibu, ini yang Na takutin, pasti bakalan naek darah. Tenang Ibu. Dengerin Na dulu. Di depan toko ada Iin anaknya bapak katanya mau ketemu Ibu. Penting sekali katanya.“
“ Ah so….? Sepagi ini? Mau apa dia?“ Kuubah nada suaraku dan berusaha tenangkan diri.
“ Dia nda mau bilang. Dia hanya mau bicara dengan Ibu saja.“ Nada kesal masih terdengar dari suara Nana.
Duhh. Pada Sebuah Hati apa lagi ini? Setelah sekian lama tidakkah cukup segala duka karena ia? Tidakkah cukup semua kesedihan yang melandaku tahun-tahun belakangan ini? Tidakkah cukup semua kegalauan hati yang menjajah hari-hari sepiku? Pada Sebuah Hati masih kurang tegarkah aku hingga Kau datangkan lagi masa lalu yang ingin kubuang jauh dari ingatanku?
“ Ibu ….?! “
“ Ibu baik-baik saja kan? Ibu….? “
“ Yach… saya nda pa-pa. Tolong suruh Iin tunggu sebentar, lima belas menit lagi saya sampai di toko. Makasih ya Na.“ Kekhawatiran Nana telah sadarkan aku dari lamunan.
“ Ok. Saya akan suruh dia tunggu di ruang kerja Ibu. Its ok?“
“ Ok. Nda masalah. See you.“
Hening sejenak. Tanpa kusadari tangan kananku menyentuh dada, dalam keheningan pagi di bilik mungilku, kudengar jelas detak jantungku. Iramanya tak tentu, kucoba atur nafas tapi itu juga tak membantu. Kuungkap selimut dan bergegas mengganti tank top dengan t`shirt dan jeans. Kusambar kunci motor, tas pinggang Gucci dan dengan sekali tarik kubuka pintu kamar, sambil lalu aku tinggalkan beberapa pesan kepada bibi dan bergegas kearah garase.
Bibi mengejarku sambil berteriak, “ Nayu, mau kemana pagi begini? Kok tumben, pake lari-lari segala. Dikejar setan atau habis mimpi buruk nggih? Tidak mandi dulu?“
“ Bi, tyang* ada penting di toko. Ntar minta tolong Tu Kakyang** untuk antar anak-anak sekolah nggih“
“ Tapi…“
Tanpa memanaskan mesin motor, aku berlalu. Kutinggalkan bibi tanpa sempat mendengarkan apa yang ingin ia ucapkan.
Dan aku pacu motorku sekencang aku bisa. Jalanan masih sepi melenggang. Denpasar di pagi hari, aroma rumput basah kesejukan yang menenangkan hatiku untuk sesaat. Tetap saja aku hindari jalan protokol dan memilih jalan tikus untuk menghemat waktu. Tetapi kumerasa waktu lamban berjalan.
Sepanjang jalan, hatiku penuh tanya. Kenapa tiba-tiba Iin ingin menemuiku. Bukankah sebelumnya ia pernah menolak untuk bertemu dan berkenalan denganku? Penolakan itu sekalipun halus tak akan terhapus dari ingatanku. Takan pernah. Kenangan kelam yang sesungguhnya tak ingin kuingat lagi. Lalu kenapa sekarang? Angin apa yang telah berhembus di Ketewel hingga ia sepagi ini berkeras hati ingin berjumpa denganku.
Dan Nayu betapa tololnya kamu, buat apa lagi berhubungan dengan keluarga ini. Apa pentingnya?
Bundaran Angin Renon, nyanyian pagi mengalun perlahan, seperti sebuah percakapan, serupa rintihan terkadang lalu sunyi tenggelam. Bunga Flamboyant telah lama berguguran. Seperti bunga-bunga dihatiku, enggan jatuh perlahan saat angin perpisahan bertiup menerbangkan segala keindahan akan cinta.
Lima belas menit , itu waktu yang kubutuhkan dari rumah menuju toko. Matahari masih tersenyum simpul di langit yang sendu. Tanah basah setelah hujan semalam, harum kembang kamboja depan toko segarkan pagi yang dingin ini.
Uhhfff … kutarik nafas panjang lalu lekas kuhembuskan. Pada Sebuah Hati, berilah aku kekuatan. Detak jantungku berpacu cepat. Tenang, jangan panik, jangan panik… berulang kali kukatakan di dalam hati. Kuparkir motor di tempat biasa aku parkir. Nana sudah menungguku di depan pintu, tidak ada senyum manjanya kali ini. Yang ada hanyalah senyum yang dipaksakan dan lelah.
“ Pagi Ibu. “ Sapanya lesu.
“ Pagi. Maaf sudah ganggu tidurmu. Jam berapa dia datang?“ Tanyaku sambil memeluk bahunya.
“ Sekitar jam lima`an telfon dikantor berdering terus. Tadinya mau Nana abaikan , tapi terus berdering. Nana takutnya itu dari ibu, jadi buru-buru aja Nana angkat. Eh, taunya dari Iin. Dia nelfon dari depan toko. Katanya sudah sejam dia parkir disana ,“ jawabnya sambil menunjuk kearah mobil Karimun yang terpakir persis di depan toko.
“ Kamu yakin itu Iin?“
“ Ya iyalah Ibu. Kan Nana pernah ketemu beberapa kali di rumahnya waktu antar makanan buat Bapak,“ jawabnya lagi.
“ Hmm…. ok, makasih ya. Apa yang lainnya masih tidur?“
“ Sudah pada bangun semua kok. Tuh pada di dalam bikin sarapan. Tapi Dian lagi temenin Iin di kantor Ibu.“
“ Oya? ok… let we see.“
Berbarengan kami masuk toko. Masih berantakan, peralatan listrik masih berserakan di lantai, kain-kain kebaya belum lagi dirapikan, batik-batik yang baru kering masih bergantungan disana-sini. Tetapi lemari-lemari antik dan kayu-kayu walhanging sudah pada tempatnya masing-masing.
Seminggu lagi aku akan adakan pameran batik hasil rancanganku yang pertama. Inilah proyek yang telah banyak menyita waktu dan fikiranku, tetapi juga telah bantu aku untuk bangkit dari keterpurukan hari yang menyakitkan.
Setelah membalas salam dari anak-anak didikku, aku menuju ruang kerjaku. Ada Dian di sana sedang menemani Iin. Perlahan kubuka pintu dan ucapkan salam, Dian membalasnya, juga Iin.
Sejenak aku tertegun memandang gadis yang sedang duduk di salah satu kursi dalam ruang kerjaku. Ini yang namanya Iin, baru kali ini aku berhadapan langsung dengannya, sebelumnya aku hanya mengenalnya lewat beberapa photo yang pernah ditunjukan ayahnya padaku.
Lama aku terdiam berdiri mematung tidak tahu apa yang harus kulakukan, bagai dinding beku aku membisu. Entah bagaimana harus kujelaskan tentang perasaanku kali ini. Tolonglah aku! Hanya satu yang kutahu pasti, hanya sebuah kata yang sibuk berseliweran di otakku; `kenapa`.
Entah kemana sukma bersembunyi. Seketika lorong-lorong dibenakku sesak dalam kesunyian, penuh oleh keingintahuan yang buta. Aku kehilangan akal, kurasa. Udara tertiup namun tetap terasa sesak di dada.
Kudengar Dian berbicara padaku tapi aku tak tahu pasti apa yang ia katakan. Yang jelas terdengar samar-samar sebelum ia keluar dan menutup pintu adalah , “ …. mungkin teh hangat bisa buat ibu merasa baikan.“
Aku masih berdiri tertegun menatap Iin. Wajahnya mirip dengan ayahnya, kulitnya putih seperti mendiang ibunya. Tidak terlalu tinggi, rambutnya sebahu sedikit acak-acakan, dan nampak begitu lusuh dan letih. Matanya sembab, pastinya habis menangis.
“ Maaf tante, Iin sudah ngganggu tante pagi-pagi begini. Iin tidak bermaksud… tapi…. Iin harus melakukan ini sebelum terlambat.“ Suaranya lirih tapi mengagetkanku. Ada nada sedih disana.
Tanganku terulur padanya dan dia menyambutnya. Bingung.
“ Nayu.“ Kataku memperkenalkan diri.
“ Indah.“ Balasnya.
“ Ee … Apa yang bisa saya bantu Iin? “ Tanyaku sambil mengambil duduk disampingnya. Dia tidak lekas menyahut tetapi malah diam tertunduk, ada air mata yang jatuh mengalir dipipinya.
“ Hey, ada apa? Mengapa menangis?“ Kusentuh ia lembut.
“ Apakah semua baik-baik saja?“ Tanyaku lagi.
Iin menjawab dengan gelengan kepala. Hmm… saat itu juga aku tahu sesuatu telah terjadi pada ayahnya. Pastinya…. “ Berapa lama sudah papa sakit, Iin?“
Iin menoleh kaget padaku.
“ Dari mana Tante tahu kalau papa sakit?“
“ Dari airmatamu. Dan lagi, apa yang bisa membawamu kesini kalau bukan karena papamu? Levernya kumat lagi ya?“`
“ Ya… sudah sebulan ini papa di rumah sakit. Dan seminggu belakangan ini yang papa omongin cuman tentang tante,“ balasnya.
“ Tentang saya? “ Tanyaku heran. “Kenapa?“
“ Maukah Tante menemui Papa?“ ***













bagus