Pusing Delima
(Dayu Pidada)
“Tidak ada salahnya ketemu dia, Nay. Kenalan dulu, orangnya cool kok. Umurnya baru empat pulu lima, mapan, duda mati, anaknya dua udah gede-gede lagi. Jadi pas deh buat kamu yang `jamu`,“ kata Ari Diahari berpromosi menggebu-gebu.
“ Please deh … memang kamu fikir aku ini apa`an? Males akh Ar! Kayak orang kurang kerjaan aja.“ Kataku menolak.
“ Nay, kapan lagi? Umurmu sudah kepala tiga, sudah enam tahun kamu jadi single parent. Cukup rasanya. Panji dan Rara sudah besar kan? Sudah saatnya kamu having fun sedikit. Cuman kenalan aja kok, kalo nda cocok, its ok, kalian bisa berteman. Kalau Tuhan menghendaki, jalan aja terus. Lagian kata orang-orang tua kita, kalau duda ama janda ketemu, itu hokinya bagus lho dan pasangan ideal pula,“ katanya berusaha meyakinkan aku.
“ Nih nomor hp-nya. Kamu yang telfon buat janji atau aku?“ Tanyanya mendesak.
Ari Diahari, teman yang sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Tak pernah letih ia mencari peluang untuk carikan aku teman kencan. Padahal dia sendiri tak beda jauh denganku. Type perempuan yang lebih memilih hidup sendiri daripada sibuk direcoki oleh urusan dengan laki-laki.
“ Aku nih beda dengan kamu, Nay.“ Begitu kilahnya disaat aku mendebatnya satu hari, “Usia dan situasiku saat ini tak memerlukan kehadiran laki-laki lagi. Tetapi kamu, dengan kecantikan ini, dengan usia beliamu ini, lebih baik kamu memiliki seseorang tempat kamu bersandar. Lebih baik begitu, mengertikah kamu maksudku?“
Kali ini aku mengalah. Tidak hanya kali ini dia berusaha mengenalkan aku pada teman-temannya, sering kali. Dan sering kali pula aku menolaknya.
Apa salahnya kufikir, dan seperti katanya `just having fun`.
“ Katakanlah Ar, seperti apa dia?“ tanyaku
“ Yang jelas dia tajir. Ukuran laki-laki seusianya dia tergolong mapan. Tak ada yang perlu dikwatirkan tentang status ekonominya.“ Jawab Ari Diahari.
“ Wow… Ari kakakku sayang. Bukan itu maksudku! Ok, soal status ekonomi itu tentu penting, tapi bukan segalanya bagiku. Kamu tahu betul itu, kan?“ bantahku, “ tentu hidup perlu uang, tapi yang terpenting buatku adalah apakah dia sesuai dengan kriteria yang kuinginkan? Apakah dia type laki-laki `atm` ataukah type `deposito`? Kamu tahu persis kan kalau aku lebih memilih laki-laki type `deposito` ketimbang satunya.“
“ Onde mande tusde fraide, hari gini Nay?! Bisa nga seh kamu nda idealis sedikit?“ katanya berengut.
“ Aku pernah gagal sekali, Ar. Aku tak mau gagal kedua kalinya. Apapun itu, semua harus kuperhitungkan masak-masak. Karena aku tak sendiri lagi, aku punya anak-anak yang harus kujaga sebaik aku bisa.“
“ Nayu, dialah laki-laki yang kamu cari selama ini. Dia type `deposito`. Dan dia sedang benar-benar cari calon istri.“ ujarnya meyakinkan.
“ Bagaimana kau bisa tahu?“ tanyaku.
“ Percayalah. Temui dia.“ Pintanya
Hai bintang pelangi, desiran nafasmu membelai lembut pipiku. Hangat segenap rasa. Kuturuti engkau darah mudaku. Engkau yang bergejolak dalam rayu…. kegombalan lembut. Kecup-kecup delima sayang di dalam setiap debaran rindu memberiku kehangat birahi dalam dunia baru mengelitik pinggang mengubah suara. Sekuat aku menghindarimu sedalam hati kau menusuk jantungku. Hingga luruh lumpuh sendi-sendi jiwaku terjerat dalam pusing-pusing delimamu. Adakah cinta adalah kepedihan dan bara hati yang tak bertepi?
Pada Sebuah Hati, semoga ini bukan keputusan yang salah. Tuntunlah aku! ***













bagus
Nay…ikutlah kata hatimu…
Salam