BUNTU

(Dede AM Setiadi)

Buntu, mampet,stuck, no  way out, can’t breath,bumpet,macet,berhenti,stop,tak ada ide, mati angin dan masih banyak lagi istilah yang bisa kita pakai dan kita ungkapkan. Tetapi ketika rasa itu datang dan datang dan datang dan datang tak ada satu pun yang dapat membantu memberikan jalan keluar.

Sudah hampir 3 minggu perasaan itu sangat mengganggu, membuat ku kehilangan semangat dan ide untuk bekerja, beraktifitas bahkan kegiatan yang aku sukai (jalan-jalan) pun tak mampu mengusir rasa gundah dan gulana yang menyerang. Rasa yang ada hanya rasa ingin menghilang, ingin keluar, ingin pergi dan bahkan ingin bersembunyi dari semua orang. Tak merasakan nyaman lagi hang out bersama teman-teman, berkumpul sekedar untuk merayakan ulang tahun bersama, berbagi cerita karena lama tak bertemu. Kebosanan ini sangat berat melanda dan terasa sulit untuk menghilang dan menguap seperti biasa.

Aku tahu harus mengadu pada siapa, aku tahu harus membaca apa, aku tahu siapa yang dapat membantu ku memecahkan masalah dan mengangkat semua rasa dan gundah di dada. Tapi itupun sulit aku lakukan, berat rasanya.

Setiap orang tahu, di dunia ini tak ada yang sempurna tapi paling tidak mendekati sempurna. Ku pejamkan  mata, ku nikmati kegelapan, kesunyian dan keheningan yang ada dalam otak ku. Sementara aku tahu di luar sana banyak suara-suara yang datang dan berteriak padaku untuk terus berjalan. Seperti aku yang mereka kenal, aku yang sibuk dan aku yang selalu tertawa disetiap kesempatan.

Aku sadar, ini bukan waktu yang tepat buat ku menghindar atau sekedar istirahat dari semua kejenuhan yang melanda. Aku memiliki seseorang yang justru sangat memerlukan dukungan dan doa serta pendampingan dari ku. Masalah yang dia hadapi pun tidak lah mudah, bahkan dia mempunya tenggat waktu yang harus dipenuhi, harus ditepati, harus  dan segudang  keharusan .. harus dia penuhi. Sementara aku? Hanya karena masalah rasa yang tidak bisa dilawan, karena kemanjaan ku, karena ketidak mampuan ku membuat semua orang di sekelilingku seolah harus ikut berduka dan bertanggung jawab atas rasa yang terjadi pada diriku. Rasanya benar-benar tidak adil buatnya…TIDAK ADIL!

Kembali ku pejamkan mata sejenak, nikmat rasanya…. Keheningan dan kekosongan yang ada membuat ketenangan yang tak terhingga… tapi juga aku belum mau tertidur untuk waktu yang lama, aku masih ingin menikmati kelucuan dan kenakalan kakak. Melihat mereka tumbuh dewasa dan menggapai impian dan cita-citanya. Namun ketika mata ku kembali terbuka, kembali pula hal yang tak ingin aku lihat, muncul pula rasa yang tak ingin ku rasa, terdengar pula suara yang tak ingin aku dengar….  Pertanda apakah ini?

Hmmmm… aku harus mencari sesuatu yang menarik dan dapat mengalihkan pikiran ku dari kejenuhan dan kebosanan yang melanda ini. Jangan belanja….jangan menghamburkan uang jangan melakukan hal-hal yang bisa aku sesali nantinya…dan segudang jangan pula berkecamuk di kepala ku. AAAAARRRGGGHHHH…. Setan dalam tubuh ku ini benar-benar kuat dan dahsyat… semakin ku lawan semakin kuat dia juga melawan… aku perlu seseorang yang faham dan bisa mengerti aku, faham bagaimana berdialog dengan sang pencipta, faham bagaimana membaca kitabnya sebagai obat penenang dan faham berdoa memohon padaNYA untuk dapat membantu ku tanpa menyalahkan ku tapi justru memberi dukungan padaku untuk bisa berjalan bersamaNYA dan berdamai dengan musuh terbesar ku.

Setiap hari aku mencoba mencari jawaban atas apa yang terjadi padaku, atas apa yang menimpa ku dan atas apa yang kurasakan. Tak mudah untuk mendapatkan jawaban, tetapi harus terus aku cari tak boleh patah semangat untuk mendapatkan jawaban bila aku masih ingin mendampingi orang-orang terkasih ku mencapai cita-citanya.

Hari pertama, aku ke toko buku. Tempat dimana aku bisa menjadi orang lain melalui buku yang aku lihat dan baca,perhatian ku terpusat ke buku, segala macam buku. Tetapi satu buku akhirnya menarik ku untuk memiliki dan mempelajari, beribu harapan ku tumpahkan pada buku itu, harapan akan kesembuhan dan membangkitkan kembali semangat ku yang pernah hilang entah kemana.

Hari kedua , mulai aku buka buku itu dan membacanya perlahan-lahan, ku praktekan semua yang ada dalam buku itu dan terus berharap.

Hari demi hari itu terus aku lakukan, sambil terus membuka diri dan tetap berhubungan dengan semua teman,sahabat dan keluarga. Hingga akhirnya pada suatu hari aku pergi ke Bandung menemani seorang  sahabat berlibur sejenak dari kegundahan hatinya.

Perlahan dan sangat perlahan, kegundahan hati yang selama ini setia menemani ku pergi, dan meninggalkan sedikit semangat yang makin lama makin membesar untuk memberi ku tenaga kembali beraktifitas. Belum sepenuhnya kembali tapi aku mulai memiliki semangat baru untuk kembali sepert sedia kala, sibuk dalam kegiatan sosial dan bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup

Terima kasih sahabat, tanpa kau sadari kau mempercepat mengembalikan semangat yang hampir padam. Terimakasih Allah kau kirimkan sahabat untuk membantu ku .

Tertarik dengan yang ini?

  • A Tribute to Fredy Widjaja
  • I lost  my friend a week before christmas…
  • 4 Sekawan part.2 (The Reunion)
  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?

Comments (3)

Clementina DewiNovember 10th, 2009 at 3:08 pm

Persis, Tepat, Exactly, apa yang aku rasakan. Sulit dipercaya tulisan ini datang disaat yang tepat juga. Sulit dipercaya juga tulisan ini datang dari orang yang belum aku kenal. Setiap kalimat persis apa yang aku rasakan. Dan tulisan ini seperti meluluhkan lidahku yang selama ini kelu. Apa artinya aku memang terlalu manja? Ternyata bukan cuma aku yang merasa buntu seperti ini. Rasanya pantas kalau aku bagi tulisan ini bersama sahabatku yang telah dikirim Tuhan padaku. Thank you so much for sharing this.

DedeDecember 25th, 2009 at 11:06 am

Hi Dewi…. terimakasih untuk kebersamaan ini. Thank to you too.

HennyMay 14th, 2010 at 11:33 pm

Sahabat adalah pelabuhan terdekat tuk bersandar,
Sahabat adalah oase di padang gurun kehidupan,
Sahabat…
Sahabat…

Salam

Leave a comment

Your comment