Elang
(Dede AM Setiadi)
Ide cerita : Kisah seorang laki-laki yang ingin berbuat banyak dalam hidupnya tapi takut mengikatkan diri pada seorang wanita. Laki-laki itu takut menikah!
Pekerjaan ku hari ini benar-benar menguras energi dan emosi, peraturan mengenai perhutanan dan rapat-rapat dengan pemerintah dan calon investor terasa tak berujung. Ku amati peserta rapat yang mulai kelihatan lelah, semua dahi mengerut berpikir keras ditengah energi yang tersisa.
Tepat pukul 21.00 wib rapat akhirnya di bubarkan dengan hasil yang jauh dari memuaskan. Beberapa orang yang mewakili perusahaan pemegang hak guna hutan dengan gontai melangkah pergi.
“Lang… minum dulu yuk di bawah, pusing nih gue hasilnya gak asyik, apa yang mesti gue laporin besok?” tiba-tiba Rangga duduk di sebelah ku yang tengah asyik memasukan semua berkas kedalam ransel ku. Aku hanya tersenyum tak tahu harus bilang apa, hal yang sama aku rasakan juga. Tapi untuk minum di café, rasanya bukan pilihan yang tepat. Aku sudah membayangkan tempat tidur ku yang hangat di iringi musik lembut rasanya lebih tepat untuk menghilangkan penat. Ku lihat Rangga yang setengah memejamkan mata, aku duduk di sampingnya sambil menghembuskan napas kuat-kuat. “ Sorry brur… gue capek banget jiwa dan raga, jadi gue mendingan balik mandi air anget dan tidur tak lupa minum susu.” Sambil terkekeh aku tepuk pundaknya.
Rangga membuka matanya dan duduk menegakkan punggungnya, “brur, gue perhatikan beberapa bulan belakangan ini kehidupan lu membosankan banget, bangun pagi berangkat kerja terus kerja sampai malem. Setelah selesai kerja lu pulang dan tidur”. Ku hela napas dan menatap wajahnya… “hmmm… gue juga gak tau Rang…rasanya hidup gue lagi monoton mungkin kelamaan di Jakarta kali ya…?” Kehidupan Jakarta yang makin lama gue rasakan kok makin palsu ya, penuh basa basi, gak tulus dan gak berhenti dari masalah!”. “Wo…wo…wo…wo…. Tenang brur, rasanya emang lu kelamaan di Jakarta, lu mesti secepetnya ke hutan lagi”. Ku lihat Rangga tersenyum simpul dan bersiap bangkit. “ Ayo.. kita keluar, mungkin lu ada benernya juga malam ini sebaiknya kita pulang dan berendem air anget”.Akhirnya Rangga meng – amini apa yang akan aku lakukan menghabiskan sisa malam ini. Kami perlahan bangkit meninggalkan ruangan rapat yang mulai sepi hanya tinggal penjaga kebersihan membersihkan ruangan.
Tidur ku yang lelap tadi malam membuat pagi ku lebih bertenaga, laporan hasil rapat yang seada-adanya sudah siap. Apapun yang terjadi pada reaksi si boss hari ini terjadi – terjadilah. Sesampainya di kantor aku melihat sekilas ruang kerja si boss, tepat saat yang bersamaan dia melihat ke arah dan melambaikan tangannya menyuruh ku mendekat. Waduh..sudah gak sabar dia denger laporan ku.
Hmmm… keliatannya semangat ku hari ini menular pada si boss karena reaksinya tidak seseram yang aku kira, dia hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Wah alamat bisa izin tugas luar untuk kabur ke hutan ni, pikir ku. “ Pak… mengingat hasil rapat tadi malam, saya berpikir ada baiknya saya cek lapangan, barangkali ada hal yang terlewat agar rapat berikut bisa dapat hasil memuaskan”. Aku memberanikan diri memberikan ide sekaligus cara aku kabur dari rutinitas Jakarta. Tiba-tiba dahi boss berkerenyit sangat dalam sambil tetap membaca laporan ku. Oups…! Jangan-jangan aku salah baca sikap si boss ni, bisa gawat deh, aku menunggu komentarnya dengan hati berdebar. ”Hmmm…. boleh juga ide kamu itu tapi asal kamu tahu ya jangan kamu kira saya gak tahu ada apa lagi di balik ide kamu itu….” Tiba-tiba dia berkata sambil menahan senyum. Mati aku, ketahuan dasar si boss! Kemudian dia melanjutkan lagi kata-katanya.”…. selama aku dapat hasil memuaskan kenapa tidak…tapi ingat, jangan kelamaan ya?!” si boss masih sempat-sempatnya dia menggoda.
Laporan sudah, surat tugas sudah ditandatangani,uang saku sudah keluar, semua dokumen yang diperlukan sudah siap, hmmm… apalagi ya…begini nih enaknya kalo punya boss penuh pengertian. Semua persiapan perjalanan selesai satu hari. Aku duduk melemas kan otot sambil menekan tombol tlp. Gak enak rasanya kalo aku pergi ke hutan gak ngopi dulu bareng sahabat ku. Setelah beberapa saat akhirnya aku dengar juga suara jenaka dari seberang sana. “Siap komandan, kita ketemu ditempat biasa dan jam biasa…”. Ah… Respati… perempuan yang sudah lama dekat dengan ku tapi hanya sebatas sahabat, perempuan yang selama ini selalu membuat ku nyaman bicara apa saja, perempuan yang selama ini mengerti siapa aku. Tanpa ba bi bu… Respati menjawab telephone ku, pasti dia lagi dikejar target. Dasar produk lama, senengnya kerja akhir bulan. “ Thank Resapati…..sampai ketemu ya…”.
Ketika aku tiba di tempat biasa, aku lihat Respati sudah duduk sambil menghirup coklat hangat kesukaannya dengan cake yang juga coklat, heran…orang bilang penggemar coklat itu orangnya monoton gak kreatif tapi kenapa Respati jauh dari itu ya…dia perempuan yang energik, dunianya selalu penuh warna. “Hi … dah lama…? Tegur ku sambil duduk disebelahnya. “Lang… coba lihat arah pukul 2, oke gak dari tadi aku lihat dia kayaknya gelisah, mudah-mudahan dia lagi nunggu ceweknya trus ceweknya itu mau diputusin jadi….” Tanpa menghiraukan keheranan ku dia terus nyerocos melihat pria itu sambil menghirup coklatnya. “Terimakasih sudah setia menunggu”.Tanpa menjawab pertanyaannya aku duduk disebelahnya. Respati tersenyum simpul… “Sorry…sorry… it’s realy nice if that man available”. “WOI…! Gile lu, orang gelisah disangka nunggu cewek yang mau diputusin, lu tuh sadis apa cari kesempatan sih!” sentak ku. Dasar Respati, dikalangan lingkungan kami dia memang sering dianggap “pos palsu” artinya cewek yg ada di lingkungan cowok tapi gak bisa dipacarin. Dia hanya meringis sambil tersenyum. “Kamu tuh Lang… boleh dong berimajinasi kali aja bener.” Respati melambaikan tangannya pada pelayan café dan minta cake kedua, aku memesan black coffe dengan strawbery cake. “Kamu mau berangkat kemana Lang…berapa lama…tugas sekaligus minggat ya…?” Respati memang perempuan yang spesial dia gak pernah basa basi selalu bersikap apa adanya. “Ke Kalimantan, kira-kira dua bulanlah aku sih maunya lama, tapi izin sementara dapet nya dua bulan, kita liat aja nanti”. Rasanya aku gak perlu menjawab pertanyaan terakhir Respati, persahabatan kami yang sudah cukup lama membuat kami saling mengerti. Sesaat kami terdiam menikmati minuman dan makanan yang ada di hadapan kami, tanpa berbicara pun aku selalu merasa nyaman di samping Respati. Ketenangannya dan kesahajaannya terkadang membuat prang tidak perlu berpura-pura disampingnya, aku bisa bercerita apa saja tanpa beban. Hhhhh…… Respati…..
“Lang… kamu gak bisa begini terus-terusan, kamu harus menata hidup kamu dan menjadikan ketenangan bagian dari hidup mu, gak bisa dong kalau terus-terusan minggat begini…”. Suara yang biasa jenaka berubah menjadi serius walau terkadang kata-katanya cukup tajam tapi aku tidak pernah tersinggung. Kusandarkan tubuh ku dan kupandangi wajahnya yang tidak banyak berubah sejak pertama kali aku bertemu. “Entahlah, terkadang aku senang dan bahagia dengan hidup ku yang seperti ini tapi terkadang aku jenuh dengan kehidupan ku.” Ku hempaskan napas ku kuat-kuat. Dengan senyum kecil Respati meraih tangan ku. “Duh lu tu ye…. Ya iya lah… namanya juga hidup pasti ada dua sisi, everybody know…”. Hmmm…mulai deh Respati kembali pada sifat aslinya. “Elang ku sayang, bahagia, sedih, sakit,sehat,optimis,pesimis, apa aja deh rasa yang lu mau, itu kita yang buat, kita yang bikin, kita yang menghadirkan, jadi bagaimana kita bisa mengatasi semua rasa yang ada hanya kita yang tahu”. Aku terdiam mendengar suara jenaka Respati, suara yang selalu membuat ku rindu dan ingin terus ngobrol dengannya. Malam makin larut kami masih terus ngobrol tentang apa saja tetapi selalu kembali ke masalah ku.
Ketika malam menjelang larut kami berpisah dengan saling memeluk memberi kekuatan satu sama lain. Kupandangi punggungnya yang perlahan menjauh, Respati terlalu mandiri untuk mau diantarkan pulang bila tidak benar-benar perlu. Kadang aku berpikir, apakah Respati bahagia dengan semua kehidupan singlenya?
Segar rasanya pagi ini, aku siap-siap berangkat sebentar lagi mobil jemputan kantor akan datang dan membawa ku ke bandara. Tiba-tiba tlp ku berbunyi, hmmm ada apa ya Respati tlp pagi-pagi? ”Lang… jangan lama-lama ya di sana secepatnya kamu bisa balik ke Jakarta, kamu balik ya.” Suaranya ringan saja tapi tak biasanya dia minta seperti ini. “Sip aku usaha kan.” Balas ku tanpa bertanya kenapa, walaupun keheranan sempat terlintas dikepala ku.
Perjalanan panjang dan sedikit melelahkan terbayar ketika aku merasakan udara segar hutan yang masuk ke dalam paru-paru ku. Setelah beristirahat sejenak aku mulai melakukan pekerjaan ku, menganalisa dan meneliti keadaan hutan yang di usahakan oleh kantor tempat ku bekerja. Kesibukan di hutan membuat ku lupa akan pesan Respati dan pesan bos ku untuk kembali secepatnya ke Jakarta, kalau tidak ada fax dari kantor pusat rasanya aku masih ingin berlama-lama di hutan tak terasa aku sudah 3 bulan di hutan, rencana 2 bulan terpaksa aku perpanjang karena permasalahan yang aku temukan di lapangan sangat rumit dan perlu ekstra penanganan. Aku harus berangkat besok pagi karena ada rapat mendadak yang akan di lakukan oleh pihak pemerintah dan pengusaha hutan. Ku amati sekali lagi berkas dan peralatan ku jangan sampai ada yang tertinggal, aku harap hasil kunjungan ku ini bisa membantu menemukan keputusan yang tepat dalam rapat. Ku dengar suara ban berdecit di luar, pasti jemputan ku sudah datang. Ku angkat barang-barang ku dan aku beranjak ke luar. Hm… perjalanan panjang kembali pada rutinitas menanti ku, tiba-tiba aku teringat akan pesan Respati untuk pulang secepatnya, ada apa ya? Aku langsung ambil hp ku dan ku kirimkan sms untuk mengabarkan kepulangan ku ke Jakarta. Biasanya Respati akan langsung membalas sms ku tapi tidak kali ini hingga aku tiba di Jakarta, sms ku tidak berbalas. Aku mulai kuatir, apa yang terjadi pada Respati. Rasanya aku tidak akan memaafkan diri ku apabila ada yang terjadi terhadap diri Respati.
Pesawat mendarat dengan cukup halus, menenangkan seluruh penumpangnya. Aku turun perlahan sambil terus memikirkan Respati, apa yang terjadi ya kenapa dia tidak membalas sms ku? Ketika aku menunggu bagasi ku sekali lagi aku coba hubungi handphonenya tetapi tidak aktif, ah Respati… dimana kamu dan ada apa dengan kamu…. Tidak biasanya kamu seperti ini. Pertanyaan itu terpaksa aku hentikan karena aku harus tiba secepatnya di kantor dan menyerahkan laporan lapangan ku. Rasanya pulang kantor aku harus ke rumahnya.
AAAAARRHHH…. Ingin rasanya aku berteriak sekuat-kuatnya, ketika aku tahu tidak bisa pulang cepat hari ini, aku harus langsung rapat internal mendadak karena persoalan hutan yang semakin kritis. Tapi pikiran ku terganggu dengan Respati… baru kali ini aku gelisah karena wanita…
“Elang…Lang…tunggu…, what’s happen bro…?…muka lu pucat dan lu gelisah luar biasa…..” tiba-tiba Rangga mengejar dan menahan langkah lari ku. Ku hela napas dan berhenti tepat di depan Rangga, kami berhadap-hadapan dan aku tahu aku tak bisa berbohong. “Respati…Rang… Respati… tidak biasanya dia seperti ini, meminta ku untuk tidak berlama-lama di hutan, dan sekarang dia tidak bisa aku hubungi, aku takut terjadi sesuatu pada Respati Rang…?. Ku lihat, Rangga mengerutkan dahinya bingung, dirabanya dahi ku dengan mulut ternganga…tak mampu bersuara. “ Oke…oke… it’s weird rigth… honestly…I’m not sure what happen to me..?.tukas ku sambil menyingkirkan tangannya dari dahi ku.
“Bwhaaa..ha…ha…ha…ha….ha…Elang…Elang…my man…” Tiba-tiba Rangga tertawa keras mengejutkan ku, membuat semua orang melihat ke arah kami. Anjrit!… ku seret tangannya membawanya pergi, kami duduk di coffe shop dekat kantor. Dengan muka merah padam, aku tatap Rangga yang masih berusaha menahan tawanya. “Sorry…sorry Lang, gue gak bermaksud kasar, really”. “Elang yang selama ini gue kenal, tiba-tiba panik dan bingung luar biasa hanya karena seorang wanita, Elang yang selama ini gue kenal takut terikat sama seorang wanita bisa kebingungan karena gak denger kabar dari wanita….”. masih dengan wajah keheranan Rangga terus ngoceh… tetapi juga sekaligus seperti menjatuhkan bom di atas kepala ku… aku tarik napas perlahan sambil berpikir…yup, what happen to me…?. “Tenang Lang, itu manusiawi…maafin gue kalo reaksi gue terlalu berlebihan, I’m happy my man akhirnya sadar juga”. Ku dengar lagi suara Rangga menenangkan aku, aku hempaskan punggung ku ke sandaran kursi dibelakang ku, ku hembuskan napas ku keras-keras. Ku gelengkan kepala ku kuat-kuat. Bukan! Ini bukan perasaan itu, ini hanya ke kuatiran belaka, biar bagaimanapun Respati adalah satu-satunya sahabat ku. “ Bukan Rang… ini bukan perasaan seperti itu”. Aku berusaha mengungkapkan pikiran ku ke Rangga. “Gue yakin gue masih gak berubah, gue masih takut berkomitmen, gue gak yakin gue gak akan nyakitin perasaan perempuan kalau gue berhubungan, cukup nyokap gue aja yang pernah menderita karena laki-laki”. Rangga menatap ku bingung, Rangga adalah sobat ku sejak kuliah dan kami terus bersahabat hingga bertekad untuk bekerja di kantor yang sama. “Elang, setinggi-tinggi burung Elang terbang, dia tidak akan pernah bisa mengingkari kodratnya, dia pasti akan hinggap”. Ku tatap Rangga sambil berusaha menyangkal. “ Sayap burung Elang itu akan lelah karena terus menerus terbang”. Rangga melanjutkan bicaranya tanpa sempat ku sela. Respati adalah wanita yang cocok dan mengerti benar diri mu, jangan biarkan dia pergi, jangan sangkal perasaan mu Lang, jangan kau lawan tapi nikmati dan berbahagialah, bahagiakan Respati sebelum terlambat Lang.” Ucapan Rangga kali ini tak ku sanggah, aku hanya bisa terdiam dan merenung.Tapi aku tidak bisa, aku takut menyakiti Respati bila aku membiarkan perasaan ku ini. “ Tidak Rang, aku terlalu sayang pada Respati dan rasa ini tidak boleh merusak nya”. Ku lihat Rangga menghela napas berat “ Listen my man, trust me lu gak bakal nyakitin Respati, dia juga sayang sama lu, dia nunggu lu bertahun-tahun”. Ke gelengkan kepala ku dan ku tinggalkan Rangga yang tampak masih berusaha meyakinkan perasaan ku dan keadaan ku. “She’s dying my man..” Masih ku dengar suara lirih Rangga dibelakang ku. Aku terpaku bagai disiram air es, aku terpaku dan tak bisa bergerak. Kubalikkan badan ku dan ku cengkram bahu Rangga, ku goyang-goyang badannya dengan keras nyaris ku pukul bila tidak ditahan oleh seorang bapak yang tiba-tiba muncul. Dengan wajah merah padam ku tatap Rangga. “Dia di diagnosis kanker otak stadium 3, saat ini kondisinya melemah, kau pikir kenapa kau dipanggil pulang. Aku minta pak Bondan memanggil mu pulang karena aku tak yakin kamu akan pulang bila aku yang minta”. Sekarang kamu pulang dan segera cari Respati.”
Tubuh ku terasa tak bertulang ketikan ku paksakan pulang, aku harus bertemu ibu dulu memastikan perasaan ku. Perlahan ku buka pintu rumah ku yang selalu sepi, hanya ada aku, ibu, si mbok dan suaminya. Ibu ku menoleh melihat ku masuk dan tersenyum. Aku duduk disampingnya dan merebahkan kepala ku di pangkuannya. Diam… dan diam… menenangkan pikiran ku dengan aroma kain batik ibu yang khas. Seolah mengerti persaan ku, Ibu hanya mengusap kepala ku dan turut diam, walaupun sesekali ku dengar helaan napasnya panjang dan berat. Tak tahan dengan keadaan demikian aku bangkit dan memegang tangganya “ Bu, apakah mungkin aku tidak akan seperti bapak bila aku menikah?”. Dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya dia usap kepala ku sambil menggelengkan kepalanya. “Elang, anak ibu yang luar biasa, sikap dan perilaku ayah bukan lah milik mu, Ibu yakin kau akan jadi ayah dan suami yang menghargai wanita”. Masih tampak bekas luka menggores wajah cantik ibu. Kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan dan juga alasan ku membawa ibu pergi dari sisi ayah. Ku usap bekas luka itu. Ibu tersenyum dan meraih tangan ku. “ Elang, luka di wajah ibu memang berbekas tapi tidak di hati ibu, semua luka yang pernah ayah buat telah kau hapus dengan segala perhatian dan kasih sayang mu pada ibu, sekarang waktunya kamu memberikan kasih sayang mu pada wanita yang akan jadi istri mu”. Sambil terus mengusap tangan ku ibu bicara. “ Sekarang yang ingin ibu nikmati adalah merawat anak mu, cucu ibu, berikan kesempatan itu pada ibu”. Ku peluk ibu dengan erat, badannya yang kurus tenggelam dalam tangan ku yang gemetar bahagia dan lega. Ah… ibu kau memang wanita luar biasa yang bisa dengan mudah memaafkan semua kelakuan ayah yang memalukan bahkan untuk ukuran semua laki-laki di dunia.
“ Tapi bu, wanita yang ingin kujadikan ibu dari anak-anak ku, cucu ibu, sekarang sedang berjuang melawan sakitnya, apakah tidak terlambat bila aku menemaninya dan dia tidak akan bisa memberi ibu cucu”. Isak ku tanpa bisa kutahan, ah seandainya kami lebih berani mungkin saat ini kami sudah memiliki anak-anak yang lucu dan cerdas. Yang bisa menemani ibu ku di rumah, menghiburnya. “ Elang, tidak pernah ada kata terlambat, berangkat lah cari dan temani Respati, ibu sudah berharap sejak dulu kalian menjadi pasangan yang akan menemani ibu.” Dengan lembut ibu mendorong ku pergi.
Malam ini aku harus mencari Respati, aku harus tahu dan bicara dengannya. Rasa ketakutan ku beralasan, aku merasa takut kehilangan Respati bukan sebagai seorang sahabat tetapi sebagai kekasih, orang yang akan menemani hidup ku dan memberikan ibu cucu. Pembicaraan ku dengan ibu dan Rangga seolah memberikan aku tenaga baru untuk menghadapi Respati, wanita yang telah menjadi sahabat ku sejak kami SMA. Aaaah…. Respati, dimana kamu dan apa rekasi mu bila mendengar ucapan ku nanti. Respati yang sangat mengerti akan semua ketakutan ku pada wanita dan pada masa lalu ku. Dia tidak pernah mendesak apa pun dari ku, tidak berusaha berbuat hanya ingin menyenangkan hati ku, seperti teman-teman perempuan ku yang lain. Yang penasaran ingin mendekati dan menaklukan ku hanya karena aku selalu bersikap dingin dan tidak peduli pada wanita. Aku terlalu takut menyakiti wanita bila aku mendekati mereka dan menjadi pasangan mereka. Bayangan siksaan, cercaan dan perilaku ayah pada ibu membuat ku miris dan ngeri.
Respati selalu bersikap apa adanya, tidak berusaha mengorek cerita pribadi dan tidak mengejar aku, membuat ku nyaman berada didekatnya. Kami bisa bercerita apa saja hingga akhirnya aku berani bercerita siapa aku sebenarnya dan alasan aku bersikap dingin pada wanita. Respatipun berani bercerita kenapa dia takut berhubungan dengan pria, penyakit kanker rahim yang merenggut ibunya adalah ketakutan sendiri untuk membina hubungan dengan pria. Dia takut pengalaman ayahnya di tinggal istri dengan dua anak sangat membekas di hatinya. Persamaan perasaan itulah yang membuat kami bersahabat tanpa takut jatuh cinta. Tak terasa hubungan kami sebagai sahabat sudah berjalan 20 tahun. Bagi teman-teman, kami adalah pasangan abadi tanpa ikatan dan mereka bisa menerima kami tanpa usil ingin tahu. Aaah.. masa-masa menyenangkan bagi kami.
Ingin rasanya aku kebut kendaraan ku untuk segera tiba di rumah Respati, untuk segera tahu apa yang terjadi. Selama aku 20 tahun bersahabat dengan nya baru kali ini perasaan ku cemas luar biasa. Ya Tuhan… mudah-mudahan Respati ku tidak apa-apa. Perjalanan yang hanya 1 jam kali ini terasa sangat lama, akhirnya tiba juga aku di depan rumahnya. Rumah yang sangat sederhana tapi memberikan rasa nyaman yang luar biasa, pohon rindang yang selama ini menemani kami ngobrol hingga pagi masih berdiri tegak dalam kegelapan malam. Tetapi rumah itu keliatan sepi dan tidak kelihatan ada kegiatan yang berarti. Lampu yang menyala di ruang tengah menandakan bahwa ada penghuni di dalamnya.
Ku ketuk pintu rumahnya dengan hati yang terus berdebar-debar, duh kenapa lama sekali mereka membuka pintu. Kegelisahan ku memuncak membuat ku hilir mudik di depan pintu rumah Respati, ku coba telepon rumahnya tidak juga ada yang mengangkat. Tuhan… ada gerangan? Samar-samar ku dengar suara langkah terseret-seret cepat menuju pintu. Itu pasti si mbok, pembantu yang mengasuh Respati sejak kecil, sejak ibunya meninggal karena kanker. Suara gerendel pintu dan kunci terdengar, perlahan-lahan pintu terbuka. Si mbok mematung berdiri, dengan raut muka yang sulit untuk ke artikan. Lebih tepatnya raut muka kami berdua pasti kelihatan aneh dan membingungkan. Si mbok tidak berkata apa-apa hanya membuka pintu lebih lebar seolah-olah mempersilahkan aku masuk dan membalikkan badan dengan jalan tertatih-tatih kembali ke arah dalam. “Aden tunggu ya, si mbok panggil non Al”. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkata-kata, Al adalah kakak Respati mereka hanya dua bersaudara. Kedekatan mereka sebagai saudara sangat luar biasa, tak pernah sekalipun aku mendengar mereka bertengkar atau mendengar cerita negatif dari Respati tentang kakaknya. Jantung ku makin berdebar tak karuan, mengapa semua penuh misteri, si mbok yang biasanya genit kini menjadi pendiam dan rumah ini terasa dingin dan sepi sekali. Tak lama si mbok datang membawa segelas teh hangat dan aku melihat Al jalan perlahan di belakang si mbok dengan wajah yang juga pucat sambil menggenggam erat mug Respati.
“Hi Lang… apa kabar?”, suara Al terdengar serak dan lesu. “ Baik, kamu kenapa Al, sakit?” aku berdiri membantu Al duduk, sejak dulu Al memang selalu sakit-sakitan beda dengan Respati yang sehat dan selalu riang. “Minum Lang, mumpung masih hangat teh nya.” Aku tatap lama wajah Al berusaha mencari jawabannya. “Al… ada apa, aku merasa ada yang tidak benar, kenapa rumah ini terasa asing dan dingin, wajah mu pucat dan si mbok…si mbok tidak seperti biasanya”. “Minum lah dulu, kamu perlu itu”. Lagi-lagi Al meminta ku minum. Aku ambil mug yang biasa aku pakai bila aku kerumah Respati, mug yang kami beli berdua ketika kami sedang senang-senangnya hang out di café yang menyediakan kopi kesukaan kami. Teh hangat dan manis turun ketenggorokan ku seolah-olah memberi tenaga untuk badan ku. Ku lihat Al juga meminum minumannya yang sejak tadi dia pegang. “Lang… perasaan mu tidak salah dan tidak berbohong, Cuma…” tiba-tiba suara Al terhenti oleh isakan tangisnya. Ku hampiri Al dengan jantung yang berdebar semakin kuat, ya Tuhan jangan benarkan firasat ku tolong Tuhan berikan aku kesempatan… pinta ku ber ulang-ulang dalam hati. Dengan terbata-bata Al bercerita, baru setengah dari ceritanya aku sudah tidak mendengar lagi, dunia disekeliling ku tiba-tiba gelap dan aku tak bisa bernapas. Aku terus berjuang naik ke atas dan berusaha bernapas, dengan tersengal-sengal akhirnya aku melihat sedikit cahaya di ujung sebelah sana, jaaauuuh sekali cahaya itu. Ku dengar sayup-sayup suara seorang wanita memanggil nama ku. Dengan susah payah aku mencoba membuka mata dan melihat orang-orang yang berkerumun di sekeliling ku. Ada ibu, Rangga, Al, si mbok dan… Ah… lagi-lagi Respati tidak ada. “Bu… “ dengan sekuat tenaga aku membuka mulut memanggil ibuku. “Respati kok gak ada? Apakah dia sedang ke luar kota?” Aku ada di mana, kenapa kepala ku pusing sekali dan badan kok lemas ya bu?” Ibu ku mendekat dan meraih tangan ku, tersenyum menenangkan hati ku. “ Kamu di rumah sakit Lang, kamu pingsan waktu sedang bicara dengan Al.” Perlahan aku mulai ingat, dimana aku sebelumnya. “Sekarang hari apa bu?” tanya ku bingung karena ku lihat Rangga rapih dengan kemejanya. “Sekarang hari senin, ya… kamu tertidur hampir 2 hari Lang, ibu sampai takut, kamu jangan seperti itu lagi ya nak.” Astaga! Dua hari, bukannya baru tadi malam aku bicara dengan AL. Semua orang hanya meminta ku beristirahat hingga hari ketiga barulah mereka semua bicara mengenai Respati.
“Saat ini Respati sedang berada di Singapura untuk pengobatan kankernya, Kami semua berharap ada pilihan pengobatan yang bisa menyembuhkannya atau paling tidak membuatnya bisa bertahan beberapa tahun lagi”. Suara Al terdengar lesu, tergambar kesedihan yang luar biasa. “Kami pun sama terkejutnya seperti mu Lang, dia yang selama ini bergerak lincah, sehat dan tak pernah sedikit pun mengeluh sakit sekarang tiba-tiba seperti ini.” Tangis Al pun pecah tak tertahan. Kami diam sibuk dengan pikiran kami dan memandang kerlap kerlip lampu mobil di kejauhan dari atas kamar rumah sakit. “Al… aku harus berangkat ke Singapura secepatnya, aku harus menemani Respati”. Al mendongak dengan mata terkejut dan tersenyum. “Berangkat lah Lang, Respati memang menunggu mu tapi dia tak bisa meminta mu untuk datang.” Ku peluk Al, ku tumpahkan semua emosi yang berkecamuk di pikiran ku selama ini. “Terimakasih Al.”
Pagi ini terasa lebih segar dan perasaan ku pun lebih semangat, yup! Aku akan berangkat ke Singapura, menemui dan menemani Respati sampai dia sembuh dan setelah itu akan ku bawa dia ke tempat yang paling indah. Mudah-mudahan semua lancar dan kami bisa mendapat kesempatan untuk bisa hidup bersama. Amin. Doa ku tak terputus sejak kemarin, hanya meminta untuk dapat kesempatan kedua memulai hubungan dengan lebih baik bersama Respati. Tiba-tiba pintu terbuka, aku lihat Rangga masuk ,loh kok Ibu dan Al ikut? “Wah..wah..wah… kok semua ikut jemput aku, aku kuat kok berangkat ke bandara sama Rangga, setelah itu aku akan kembali bersama Respati.” Teriak ku gembira melihat mereka datang. Tetapi mereka semua diam tidak menanggapi teriakan ku. Aku langsung panik dan pikiran ku kalut, aku tahu telah terjadi sesuatu terhadap Respati. “Tenang Al, tenang dulu tarik napas kamu masih lemah”. Ibu memelukku dengan erat tapi aku tahu ibu juga sedang menahan tangis untuk tidak meledak di depan ku. Ku panggil-pangil nama Respati, aku melolong seperti srigala luka aku tidak akan pernah bisa menerima kepergian Respati. Aku berontak, aku ingin berlari aku ingin menghancurkan semua yang ada di sekitar ku. Aku tidak kuat menerima kenyataan ini… ya Tuhan kenapa tidak kau kabulkan permintaan ku, aku hanya minta sebentar saja waktu untuk bisa bertemu Respati, aku tidak minta 20 tahun pengganti waktu yang telah kami lalui, aku hanya minta sebentar saja. Tuhan… saat ini aku merasa sendiri. “ Elang….Elang… sabar nak,sabar Istigfhar”. Sayup-sayup aku mendengar suara ibu ditelinga ku,terasa sejuk mendinginkan hati ku. Aku bersimpuh, tak kuasa berdiri. Terlalu sakit dan terlalu berat beban ini.
“Respati,kamu cantik sekali aku yakin kamu adalah wanita tercantik yang pernah ku lihat”. Respati tampak tenang mendengar ucapan ku, bibirnya sedikit tertarik seolah membentuk senyuman. Aku tak sanggup beranjak dari sisi Respati, sejak kedatangannya tadi malam hingga pagi ini tak pernah sekalipun aku meninggalkannya, aku mencoba bertahan disampingnya karena aku tak mau kehilangan waktu bersama Respati. Kami berbicara banyak mengenai apa yang telah kami lalui dan apa yang akan kami rencanakan. “Lang, ayo siap-siap kita harus shalat dulu setelah itu kita berangkat”. Suara ibu selalu menenangkan aku kala aku cemas dan sedih. Suara yang sama selalu aku dengar dari mulut Respati. Respati selalu berhasil meredam amarah dan kecewa ku ketika teman-teman sekolah dan kuliah mulai mengusik kehidupan pribadi ku. Aku beranjak perlahan, sangat perlahan… aku tak sanggup berdiri meninggalkan Respati. Rangga membantu ku berdiri untuk bersiap-siap shalat terakhir buat Respati.
Kini semua sudah pergi hanya tinggal Rangga dan Al di sebelah ku. Ku lihat dari kejauhan beberapa orang masih sibuk membereskan peralatan makan dan minum serta kursi-kursi bekas tamu. Karangan bunga yang banyak pun sedang mereka sisihkan karena tak semua bisa terbawa ke makam. “ Elang, 5 bulan yang lalu Respati sedikit mengeluh pada ku, dia merasa ada yang tidak beres di bagian kepalanya, dia selalu mengeluh pusing dan sakit sekali, tapi karena kesibukannya membuat dia lupa memeriksakannya, padahal sudah berulang kali aku mengingatkan. Tapi kamu kan tahu seperti apa Respati.” Al dengan perlahan menceritakan kejadian beberapa waktu yang lalu setelah aku mendesak dan meyakinkannya bahwa aku perlu tahu. “Respati baru sadar bahwa dia menderita penyakit yang serius ketika dia mengalami pingsan mendadak beberapa kali. Kondisi itu yang akhirnya membuatnya harus berangkat ke rumah sakit itupun setelah papa dengan khusus mengantarnya periksa”. Berkali-kali Al berusaha menarik napas untuk bisa melanjutkan ceritanya. “ Awalnya kami tak mau bercerita apa sebenarnya yang dideritanya. Terus terang kami masih terlalu sibuk menata hati kami dan berusaha menerima kenyataan yang sangat pahit ketika dokter mengatakan kesempatan hidup Respati sangat kecil”. Wajah itu terlihat sangat menderita, sangat sakit dan aku tak kuasa melihatnya. Ku sentuh tangan Al perlahan ku coba memberikan kekuatan pada dirinya. Sekaligus ku cari kekuatan untuk diriku. “Al… sudah lah… nanti saja kau ceritakan, sekarang kau istirahat dulu, makan dulu biar tidak sakit”. Rangga menarik tangan Al untuk berdiri dan mengajaknya masuk untuk beristirahat. “Hanya ini titipan Respati untuk mu Lang.” Tiba-tiba Al mengulurkan amplop berwarna merah kearah ku, lalu Al berbalik dengan langkah gontai.
Dengan gemetar ku dekap amplop merah Respati, warna merah adalah warna kesukaannya. Berani dan penuh semangat dia bilang. Sekarang kemana semangat itu Respati?. Ku robek dengan penuh hati-hati amplop itu, aku sadar hanya ini lah peninggalan terakhir Respati untuk ku. Ah… tulisan itu begitu rapi, tulisan yang dulu selalu mengisi buku-buku ku. Ku baca perlahan tulisan itu, sedikit mengobati kangen ku pada Respati.
“Dear Elang,
Kamu pasti di cari-cari Rangga untuk disuruh pulang ya, maaf ya karena aku membuat mu kembali ke belantara gedung yang penuh asap. Elang, ketika kamu membaca surat ini, pasti aku sudah tidak di sisi mu… (aku yakin karena aku pesan sama Al, surat ini hanya boleh kamu baca bila aku pergi…. Hehehehehe…baru kali ini ramalan ku tepat ya…)”. Respati dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa bercanda…?. Ku hembuskan napas ku kuat-kuat dan kulanjutkan lagi membaca surat tu. “Oups maaf Lang, aku terlalu sedih untuk bisa bersedih, aku sadar aku tidak akan sempat lagi bercanda dan mengganggu mu. Tapi masa 20 tahun aku bersama mu adalah masa yang paling membahagiakan. Tak perlu ikatan tapi kita tahu masing-masing kita telah terikat, tanpa ucapan tapi kita tahu masing-masing kita saling menyayangi. Aku hanya ingin kamu tahu, aku bahagia Lang. Pernah mengenal dan dekat dengan mu, aku tak pernah menyesal selama ini aku tidak pernah punya laki-laki lain selain dirimu. Karena aku tahu kamu tidak akan menyakiti dan meninggalkan ku ketika aku memerlukan mu. Aku tahu kamu akan selalu ada untuk ku. Itu lebih dari pada seorang kekasih. Lang… jangan menyesal, bahwa kita tidak sempat bertemu. 20 tahun adalah karunia terindah yang pernah kita miliki. I Love You So Much”.
Respati.
Ya Tuhan, jadi itu sebabnya dia selalu menolak ungkapan cinta dari setiap pria bahkan ketika Rangga berjuang mendapatkan hati mu kamu malah menjodohkannya dengan Al. Dan kami tampak bahagia ketika Rangga akhirnya memiliki Al. Maaf kan aku Respati, aku juga sangat berbahagia selama berdekatan dengan mu, 20 tahun yang penuh karunia karena aku diberikan kesempatan bersama mu. I Love You Too Respati.
Ciputat, 2608












