Ketika matahari terbenam
“Non…non…non…bangun non, sudah jam 7.” Tiba-tiba suara pengasuh ku sejak kecil yang ikut hingga sekarang mengejutkan aku. Membangunkan sisi aku yang tegar untuk bangkit dan bersiap-siap. “Iya…mbok, aku sudah bangun”. Aku segera masuk ke kamar mandi mengguyur badan ku dengan air dingin, membangunkan seluruh energi dalam tubuh ku untuk menghadapi hari ini. Tetesan air yang jatuh menimpa tubuh ku bagaikan jarum yang menusuk kulit ku dan mengingatkan aku bagaimana rasa sakit itu membesarkan aku dan menjadi seperti sekarang ini. Ya… hidup ku sejak kecil hingga sekarang tidak dengan mudah aku lalui. Berawal dari meninggalnya ibu ku membuat aku hidup diasuh oleh pengasuh ku sementara ayah ku sibuk entah di mana. Hidup ku memang berkecukupan, berlebih bahkan. Ayah ku walaupun sibuk dia tidak lupa untuk memberikan bekal yang lebih dari cukup bagi ku untuk sekolah. Dia siapkan banyak uang, dia siapkan kendaraan bahkan pengasuh ku diberikan daftar sekolah mana yang harus aku masuki sejak aku TK hingga aku masuk perguruan tinggi. Dan selalu pengasuhku yang datang kesekolah untuk mengurus segala keperluan ku bahkan ketika aku berulah dan harus menghadap kepala sekolah pun pengasuh ku yang menghadapi. Ayah ku…? aku tak pernah tahu ada di mana.
“Aku berangkat mbok dan pulang agak malam, gak usah ditunggu aku akan bawa kunci rumah.” Tetapi aku yakin, si mbok tidak akan pernah tertidur apabila aku belum tiba di rumah, dia selalu dengan setia menunggu ku pulang dan menyiapkan bak mandi ku terisi air hangat, kemudian mengurut kaki ku hingga aku jatuh tertidur. “Iya…non, hati-hati di jalan.” Begitu setiap pagi. Si mbok rela tidak menikah lagi setelah dia diceraikan suaminya karena mandul, dengan setia dia menemani aku sejak kecil hingga usia ku masuk 30 tahun ini. Ayah ku…? terakhir aku dengar dia ada di Belanda dengan istri dan 3 orang anaknya.
Perlahan ku jalankan mobil ku masuk dalam keramaian kendaraan yang tiap pagi menghiasi jalan depan rumah ku. Itulah resiko tinggal di jalan yang ternyata menjadi jalan pintas orang-orang untuk masuk ke jalan protokol. Begitu aku keluar rumah, langsung berhenti, masih sempat aku lihat si mbok menutup pintu pagar.
Setelah perjalanan yang lumayan rame – hmmm… aku lupa ini hari jumat pantes macet banget…aku sampai dikantor dan langsung masuk keruang produksi. “Gimana Nu, udah siapkan semua bahan presentasi?” Sobat ku sejak SMA yang menjadi partner kerja ku sekarang. “Tenang dong Bi, aku gak akan pernah membuat sahabat cantik dan kurus seperti kamu bingung karena urusan bahan presentasi, nih udah siap tinggal kita bawa ke klien”. Aaah…senangnya memiliki partner dan sahabat yang seperti ini, mungkin itu sebabnya aku tak pernah bisa punya sahabat perempuan, Lea adalah sahabat perempuan terakhir ku setelah kejadian tadi malam.
“Bi, mau berangkat kapan? Kok malah bengong….? Suara Banu mengingatkan aku pada kehidupan kerja saat ini. “Mana kunci mobil, biar gue aja deh yang bawa, bisa-bisa kita gak nyampe ke kantor klien karena lu bengong terus”. Kuraih tas dan kunci mobil lalu ku serahkan pada Banu. “Ya ampun Bi… kenapa sih lu pagi ini, yang gue minta cuma kunci mobil, tas elu sih bawa sendiri aja dong, emangnya gue cowok apaan….” Banu menyeringai sambil mengambil kunci dari tangan ku. “Sorry Nu… biasanya si mbok suka bawain tas gue dan masukin kunci ke mobil gue, gue pikir lu asistennya si mbok….makanya gue rada bingung, sejak kapan si mbok punya asisten”. Ku coba membalas godaan nya. “Aaaah…basi!… gue tahu hati lu nangis bombai kan….gak usah pura-pura deh….huahaahaha….” Banu terbahak sambil berlari kecil menuju mobil. “Anjrit!!! Udah ah, ayo berangkat, ntar gue nangis bombai beneran lagi”.
Selesai sudah laporan kegiatan ku hari ini, jadi aku bisa pulang dan mandi air hangat, kemudian si mbok akan memijit kaki ku sampai aku tidur, aaaah… nikmatnya, setelah sesiangan tadi aku berjuang untuk konsentrasi pada pekerjaan ku. Syukur presentasi ku berjalan mulus dan klien ku suka. Alhamdulillah. Meja sudah aku bersihkan, tinggal ambil tas dan ….pul….
“Bi….” kalimat ku terputus ketika ku dengar suara Banu. “Kenapa Nu…sekarang lu yang amburadul, pusing ya…kebanyakan kerjaan? Udah lu cari pegawai lagi deh buat bantuin lu. Kayaknya keuangan kita rada longgar ni jadi lu bisa tambah orang”. Langsung aku berondong Banu dengan kata-kata waktu aku lihat wajahnya yang kusut. “Lu tuh selalu nuduh, dengerin dulu dong gue mau ngomong apa…”. Gerutu Banu sebal. “Oups…sorry pak, I kira lu bete karena over loaded, oke saya akan duduk manis mendengarkan. Silahkan duduk pak Banu…”. Aku berusaha menahan gejolak yang ada, sisi tegar ku muncul untuk membiarkan Banu bercerita sementara hati ku sendiri masih terkoyak. “Rasanya gue gak kuat ni Bi, untuk nerusin hubungan gue sama Lita, tapi gue gak tahu gimana caranya buat mutusin, gue beda banget sama Lita Bi”. “Hmmm… gampangnya nih Nu, lu tinggal bilang apa adanya tanpa cari-cari alasan yang gak jelas, itu cara gampang.” Cara susah…. ya lu cari alasan aja!” Jawab ku enteng. “ Ya ampun Bi…lu tuh perempuan apa bukan sih, kok jawaban lu kayaknya ngentengin masalah banget sih!” Teriak Banu dengan mata membelalak dan suara yang gak kalah kenceng. Ah seandainya semua permasalahan yang aku hadapi bisa aku perlakukan seperti itu, batin ku. “Gimana Nu….?, Terkadang kita memang harus bisa seperti itu, udah lah sekarang kita pulang dan istirahat, mungkin setelah itu lu bisa mikir lagi lebih tenang, apa iya lu mau putus dari Lita, apa lu gak takut akan lebih sulit lu bikin hubungan baru daripada memelihara yang udah ada,gak gampang itu. Percaya deh Nu”. “Mungkin lu bener juga, kita pulang aja dulu, hari ini bukan hari yang gampang”. Banu akhirnya mengalah dan kami berdua beranjak dari ruangan ku dan bersiap pulang.
Ku lihat jam tangan ku …Ah… masih jam 9 malam si mbok pasti masih nonton tv. Ku masukan mobil ke garasi dan kudengar suara kunci diputar, eh tapi seperti ada bayangan orang di ruang tamu rumah ku? Siapa ya malam-malam bertamu ke rumah ku?
“Eh non sudah pulang, maaf non ada tamu dari tadi sore nungguin. Mbok udah larang untuk nunggu karena mbok gak tahu non bakal pulang jam berapa tapi non Lea maksa mau nunggu non”. Astaga….! tidak akan pernah berakhir kah malam ini, kenapa aku gak bisa langsung tidur dan mengistirahatkan seluruh badan dan pikiran ku” Aku tarik langkah ku dengan berat menuju ruang tamu, sementara mbok mengambil semua barang bawaan ku dari mobil. Lea adalah orang terakhir di dunia ini yang ingin aku temui kenapa sekarang dia datang ke rumah ku?
“Hi Le, ada apa lagi? Dan untuk apa kamu datang lagi kesini !?” Lea tersentak kaget mendengar suara ku, kulihat dia berusaha mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ku. “Anu Bi, aku mau menjelaskan persoalan tadi malam. Aku gak mau kamu jadi salah paham”.” Oh common Le, apa yang sudah terjadi tadi malam cukup jelas, penjelasan apa lagi yang mau kamu jelasin?. “ Hari ini aku cape banget Le, aku ingin istirahat bahkan aku belum mencerna kejadian tadi malam,aku cape Le. Jadi kalo kamu tidak keberatan dengan amat sangat tolong tinggal kan rumah ini Le, pleasee…” “Tapi Bi….”. “Udahlah saat ini gak tepat waktunya, selamat malam Le”. Aku tinggalkan Lea, dan masih sempat aku berpapasan dengan mbok yang sedianya akan memberikan minuman untuk Lea. Masih kudengar suara mbok menenangkan Lea dan mengantarkannya keluar rumah. Hhhhh… cukup sudah rasanya, apa yang aku lakukan barusan memberikan pelajaran untuk Lea.
Segar rasanya badan ku ketika aku keluar dari kamar mandi, sudah bersih dan wangi membuat perasaan ku menjadi nyaman ditambah dengan pijatan halus tangan mbok di kaki ku pasti membuat ku tidak sampai 5 menit sudah tertidur dengan lelap. Besok hari sabtu, jadi aku bisa istirahat seharian di rumah. Kudengar langkah kaki mbok tertatih tatih masuk ke kamar dengan wangi minyak kayu putih bercampur lotion, “Non… “. Masih ku dengar suara mbok memanggil ku. “apa sikap non tadi tidak terlalu berlebihan sama non Lea?” ku hela napas mendengar uacpan mbok, hati ku kecil ku pun berkata demikian tapi kejadian tadi malam terlalu amat menyakitkan. “Non kan tau… non Lea sahabat non sejak non kecil, susah dan senang, menangis dan tertawa selalu dilakukan bareng non Lea, bahkan kalo non marah sama mbok, non pasti cari non Lea”. Ucapan dan usapan tangan mbok sama lembutnya. Tapi justru karena persahabatan sekian tahun itu yang membuat ku sakit karena dihianati, tapi kelelahan hati dan badan membuat ku malas buka suara. Ku biarkan si mbok memijit ku dan berbicara tentang Lea hingga aku terlelap kelelahan dalam tangis perlahan.
“Non…bangun non, sudah siang. Sarapannya sudah mbok siapkan di ruang makan ya, mbok mau kepasar dulu”. Kudengar suara mbok dari balik pintu…hhh…sudah pagi? Rasanya baru sebentar mbok memijat kaki ku kok sudah pagi lagi?….”Non….non…sudah bangun belum…?”. Teriakan si mbok terdengar makin keras. “ Iya mbok, aku sudah bangun, kalo mau kepasar berangkat aja mbok”. Balas ku dengan suara yang masih sengau akibat kantuk yang masih mendera. “Ya sudah, mbok kepasar dulu ya non”. Teriakan si mbok mulai menjauh.
Nikmatnya hari sabtu, kalo gak ada deadline aku bisa leyeh-leyeh di rumah.Baca buku di teras belakang sambil merendam kaki ku di kolam dan membiarkan ikan-ikan Koi peliharaan ku bermain-main menggelitik kaki ku. Dengan lompatan kecil aku bangkit dari tempat tidur dan sempat aku dengar ada suara orang bercakap-cakap di luar. “Hmmm… si mbok pasti lagi ngobrol sama si Supri, tukang kebun ku yang datang seminggu sekali.Setelah mencuci muka aku keluar untuk sarapan di teras belakang”. “Selamat pagi non, mau saya bawakan sarapan nya ke belakang?”. Ternyata suara Banu mengagetkan ku, untuk apa orang ini pagi-pagi udah ke rumah. “Anjrit!! Lu beneran mau jadi asistennya si mbok, pagi-pagi udah di sini atau lu mau nebeng sarapan ama gue?”. “Sabar non,lu marah apa kaget? Gue ke sini emang mau bantuin si mbok yang udah lu jajah bertahun-tahun sekalian numpang sarapan, kayaknya si mbok bikin nasi gorengnya banyak tuh jadi gak salah dong gue kalo gue bisa sarapan di sini”. Dengan gaya ala pesilat, si banu mengambil piring disebelah ku. “Huuu…dasar…ogir alias ogah rugi!”. Akhirnya pagi itu aku sarapan berdua Banu,eh enak juga ternyata sarapan di rumah ada yang nemenin. “Lu gak apa-apa kan Bi…?” Ah… akhirnya Banu merasakan juga perubahan sikap ku, padahal aku sudah sedemikian rapat menutupi gejolak yang ada di hati ku. “Gue tahu pasti ada yang gak beres, ada kejadian apa Bi?”. “Ah sok tau luh, gak ada apa-apa Nu, gue bae-bae aja,bener.” Aku masih coba mengelak yang aku tahu pasti gak berhasil, Banu terlalu tahu siapa aku sebernarnya. Persahabatan kami yang sudah terhitung belasan tahun membuat kami berdua bisa merasakan apa yang terjadi pada salah satu dari kami. Banu hanya memandang ku sambil terdiam menunggu jawaban jujur dari ku. “Aku gak bisa cerita sekarang Nu, waktunya belum tepat. Bisa-bisa gue pagi-pagi udah banjir, gue coba mengendapkan dulu yah supaya gue bisa cerita ke lu.” Sekali lagi aku coba menghindar dan kulihat mulut Banu komat kamit menirukan ucapan ku. Alasan yang sama yang selalu aku gunakan kalo aku lagi gak mau cerita. “Oke Bi…seperti biasa…kapan aja lu perlu gue, lu tahu gue ada di mana…”.”Terus karena gue udah ke sini dan gue udah mandi udah gaya kayak nya sayang kalo gue gak kemana-mana…gimana kalo hari ini kita jalan-jalan, ke dufan,ke toko elektronik,hmmm…atau kita ke pasar seni”. Banu bediri dengan sigap sambil membawa piring-piring bekas sarapan kami berdua sambil berusaha menarik tangan ku untuk bangun. Huuu… padahal aku hari ini maunya tidur seharian dengan daster ku ini tapi rasanya ide yang oke juga tuh biar masalah yang aku hadapi cepat mengendap. “5 menit…yaaaa…eh 10 menit deh paling lama gue siap-siap sementara itu lu cuci piring dulu kasihan si mbok udah tua, kalo sering-sering kena air reumathiknya kumat”. Kutinggalkan Banu yang sudah bersiap melemparkan serbet ke arah ku.
Hari itu kami habiskan dengan berkeliling kota Jakarta, mall to mall melihat anak-anak remaja sekarang dengan gaya yang beraneka ragam. Puiiih…untung aku sudah melewati masa-masa itu, masa yang aku rasakan cukup sulit, untung aku punya si mbok yang bisa menjaga ku dengan baik, memberikan aku pengertian dan memberi nasehat lewat tembang-tembang jawa nya yang sarat nasehat yang selalu disenandungkan nya menemani ku tidur. Tanpa aku sadari nasehat-nasehat itu meresap dalam benak ku dan menjadi pegangan ku hidup yang tanpa orang tua.
Setelah puas keliling mall akhirnya kami menghabiskan sore hari itu di tepi pantai, tempat yang otomatis kami kunjungi untuk menutup hari bila kami keluar menghilangkan segala rasa di dada. Tempat yang paling aku suka bila aku ingin melarikan diri dari kepenatan dan masalah yang menghimpit.
“Hhhhh…..” tanpa sadar ku keluarkan helaan nafas yang terasa berat membebani aku tepat ketika Banu mematikan mobilnya. Kami berdua sama-sama terdiam menikmati malam merambat turun, suasana yang akan rusak apabila kami bersuara. Cukup lama kami berdua terdiam, ketika hari sudah benar-benar gelap barulah kami beranjak keluar mencari makan. Kami tetap masih sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kami memilih sebuah restoran yang dekat dengan pantai, angin yang sejuk dan pemandangan lampu-lampu di seberang pantai benar-benar suasana yang membuat ku nyaman. Tanpa banyak cakap kami menghabiskan makan malam kami, ritual yang tanpa sadar telah kami jalani bertahun-tahun dan selalu terjadi bila salah satu atau bahkan ketika kami berdua gundah. Ketika kami sedang menghabiskan kopi, sambil terus memandangi hamparan air yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Banu mulai memecah kesunyian dengan menyambung ceritanya di kantor kemarin. “Bi…aku gak main-main dan rasanya keputusan ku sudah bulat kalo aku mesti pisah, aku yakin Lita juga menghendaki hal yang sama. Cuma selama ini kita berdua sama-sama takut untuk membuat keputusan ini”. Kuraih tangan Banu, “Apapun keputusan lu aku mendukung mu 100 % karena aku yakin itu yang terbaik buat lu….”Dengan jenaka aku ganggu Banu yang raut wajahnya menunjukan betapa beratnya keputusan yang diambil. “…..dan buat gue , itu artinya sekarang lu selalu tersedia 100 % buat gue….huahahaha….” . Betapa lepasnya aku tertawa, tertawa lepas yang selalu aku dapatkan bila aku berada di sebelahnya. “Huuu… dasar perempuan jadi-jadian, gak tahu orang lagi sedih malah dimanfa’atin”. “Jadi lu dukung gue ya, artinya sekarang lu yang kudu ngurusin gue gantiin Lita, soalnya tu cewek rajin banget ngingetin gue makan,mandi plus cemas kalo gue sakit….heheheh”. Banu terkekeh dengan tampangnya yang tak kalah jail dibandingkan tampang ku tadi. Aaah… sejak pertama kali kami bertemu, saat aku masuk SMA dulu Banu adalah kakak kelas setingkat di atas ku, kami sudah merasa cocok dan nyaman. Tapi kami tak pernah berani untuk melangkah lebih jauh lagi dari hubungan yang telah kami lalui belasan tahun ini. Kami berdua terlalu takut apa yang telah kami bangun selama ini akan rusak karena ego masing-masing yang biasanya muncul setelah hubungan berlanjut ke jenjang berikut. “Sekarang lu yang harus cerita, ada apa Bi….?” Hhhhaaaah….anak itu masih aja mencoba mengorek apa yang sebenarnya ingin aku lupakan. Ku pandangi wajah yang tampak penasaran dan cemas. “ Aku tahu sedikit kejadiannya Bi, jadi lu gak usah bohong. Dari mana gue tahu bukan urusan lu, sekarang urusan gue adalah gue mau pasti kalo lu gak apa-apa”. Ketika Banu terus bicara sambil memandang laut lepas tanpa aku sadari air mata ku menetes mengingat kejadian yang aku lihat beberapa malam yang lalu, kejadian yang pasti sulit aku lupakan dan teramat sakit. “Lea sama Dino,sahabat,teman dan laki-laki yang gue harapkan jadi sandaran gue, juga sahabat lu”. Dengan emosi aku mulai menceritakan peristiwa terpahit yang aku alami dibandingkan waktu ibuku meninggal dan membuat hidup papa dan aku bagaikan layangan putus dan mulai mencari kesibukan masing-masing. Lea,Dino,lu adalah orang luar yang selama ini mendukung gue. Ngejagain gue supaya gue gak frustasi dan jadi anak gak bener akibat gak ada orang tua di hidup gue. “Entah apa yang merasuki mereka berdua untuk menghianati gue”. “Lea adalah perempuan satu-satunya yang gue anggap sebagai sahabat gue, ngerti gue,tahu gue luar dalam”. “Tapi ternyata dia juga yang tega nyakitin gue, Dino….? ternyata laki-laki itu pengecut, sampai detik ini dia gak berani hubungin gue, dia gak nyari gue Nu? Cewek yang udah dia pacarin sekian tahun!” Aku sadar makin lama aku makin histeris, aku coba meredam perasaan ku tapi sulit, amarah itu terlalu besar, kecewa itu terlalu dalam untuk bisa aku tahan, kurasakan genggaman tangan Banu makin kuat, ku benamkan muka ku di dada Banu untuk menumpahkan semua rasa yang ada di hati yang selama ini membuatku sulit bernapas, seperti biasa Banu membiarkan aku melepas kan tangis ku hingga aku menarik napas mengatur napas ku baik-baik. “Udah lama Bi…lu gak bikin banjir baju gue…..” “Huuu…dendam deh lu ama gue, karena tadi lu yang gue jailin”. Sungut ku sambil menyusut hidung ku yang basah “Hehehe….iya dong, kalo sama lu setiap ada kesempatan jangan dilewatkan….nah sekarang apa yang mau lu kakukan…?” “Gue juga akan dukung lu 100% untuk semua keputusan yang lu ambil”. Kami berdua memang sulit untuk berlama-lama berada dalam suasana yang “melow”. Hhhhh…ku tarik napas dalam dan kuhembuskan keras-keras. “Apa lagi Nu, selain membatalkan pertunangan ku dan menyerahkan Dino pada Lea, aku sebenarnya bahagia melihat sahabat ku bahagia tapi yang membuat ku sedih adalah mereka gak percaya aku, sehingga mereka melakukannya dibelakang ku. Aku akan dengan lapang dada- walaupun sakit tak terhingga- melepas kan Dino untuk Lea. Karena pada dasarnya aku dan Dino sangat bertolak belakang dan kami berdua tidak pernah mau mengalah, sementara Lea….?”. “Dia sangat sabar dan perhatian dan yang penting Lea mau ngalah…” Rasanya lega aku bisa mengeluarkan perasaan yang berkecamuk di dada ku beberapa hari . “Besok akan ku mulai dengan memberikan restu pada Lea dan Dino, biar bagaimanapun Lea banyak berkorban untuk ku selama ini”. Tanpa sepengetahuan Bia, Banu tersenyum miris dan sedikit penyesalan, Banu yakin malam ini Lea ada di rumah Dino mengobati luka-luka Dino akibat pukulannya kemarin malam. Dino membiarkan aku memukul dan mencacinya ketika ku tahu dia dan Lea menghianati Bia. Ah Bia… hidup mu benar-benar unik dan berbeda dari manusia kebanyakan, tanpa saudara dan orang tua hanya pengasuh setia yang menemaninya hingga kini, mungkinkah aku bisa terus menjaga mu?. Helaan berat nafas Banu terasa begitu janggal di rasakan Bia. Malam semakin larut, udara mulai terasa dingin tapi kehangatan mengalir dari genggaman tangan Banu yang semakin kuat seolah memberikan Bia kekuatan untuk terus berdiri menghadapi kenyataan hidup. Banu yang dengan setia menjadi sandaran hidup sejak Bia mengenalnya dulu hingga mereka berdua memutuskan untuk membuka usaha bersama. Rasanya kebersamaan ini akan terus berlanjut sampai mereka berdua berani memutuskan bersama dalam perbedaan agama atau Banu mau mengalah untuk Bia….?
Matahari sudah benar-benar hilang…mereka berdua beranjak pulang dengan membawa harapan yang belum berani mereka ungkap kan…
Perjalanan masih panjang, biarlah waktu yang akan memutuskan….
Dam,291105












