Sasi
Aku menarik napas sejenak dan memandang sekelilingku. Lingkungan perumahan yang sudah sepi karena semua penghuninya kebanyakan suami istri yang bekerja. Ku pandangi kolam renang yang jauh di depan ku, segar nya mandi di cuaca secerah ini. Tapi aku malas beranjak dari ruangan ku yang dingin ber ac ini….Tapi akhirnya ku rapikan juga meja dan komputer ku. Aku memutuskan untuk rehat sejenak dan meluruskan badan yang mulai terasa pegal karena duduk sepagian. Ku bawa cangkir kopi ke dapur, dan mulai mencari makanan kecil yang biasanya aku siapkan untuk anak-anak ku. Tidak terasa setahun sudah Gala melanjutkan sekolahnya di negeri sebrang, berkutat dengan materi penelitiannya. Sementara aku disini berkutat dengan segala permasalahan rumah tangga dan anak-anak yang makin besar dan makin luar biasa. Si sulung yang mulai berkelompok dengan terman-temannya dan si cantik yang mulai besar, sebentar lagi dia akan sibuk dengan dunianya di Play Group.”Kriiiing…..kriiing….” bunyi telepon mengejutkan, membuyarkan pikiran ku yang sedang terbang bebas. Ku angkat telepon dan berteriak kegirangan ketika aku sadar siapa di sana. Lita sahabat ku yang sudah lama tak berkabar, si single yang sibuk luar biasa. “Oke…boleh juga, kita ketemu disana aja ya, jam 12”. Kututup telepon dan meneruskan pikiran ku terbang bebas tapi kali ini berubah topik, aku memikirkan sahabat yang sudah lama tak berkabar. Hmmmm….. sudah seperti apa ya teman ku yang suka berpetualang itu dan keliatannya sangat menikmati kehidupannya melajang.
“ Aduuuhhh…Sasi, kemarin aku baru aja pulang dari Pontianak, duh capenya ni badan. Mana tempatnya panas dan kumuh lagi.” Seperti biasa, celoteh nyaringnya selalu menyambut pertemuan kami. Hari itu kami bertemu di tempat biasa, bercerita mulai dari masa lalu hingga kejadian-kejadian yang baru kemarin kami alami. “Kamu gimana Sas? Baik-baik aja kan?” Pertanyaan standar yang ditanyakan orang menjadi berbeda ketika Lita yang bertanya, karena selalu ada rasa kuatir di ujung kalimatnya .”Aku….seperti biasa, bangun tidur ku terus mandi, siap-siap bikin sarapan, menyiapkan sulung sekolah dan mengantarkannya kedepan rumah menunggu mobil jemputannya” (aku melantung seperti lagu anak-anak). Biasalah Lit…nothing special…”. Rasanya aku sedang malas menceritakan kehidupan ku yang kurasakan monoton, aku lebih tertarik mendengarkan cerita Lita yang selalu penuh dengan nuansa petualang. Terkadang aku tidak habis pikir kenapa aku menikah lebih dulu dari Lita padahal aku dulu tidak pernah membayangkan akan masuk dalam dunia pernikahan. Tidak seperti Lita yang sejak SMA sudah membayangkan pernikahan….Ahhhh…dunia memang aneh.”Ahhh… ayo dong Sasi cerita lagi soal si sulung dan si cantik yang selalu bikin ulah. Sudah bisa apa sekarang si cantik dan sudah kelas berapa si sulung.?”Hmmm… minggu ini boleh aku ajak mereka pergi? Sudah lama aku tidak ketemu mereka”.”Lita…kamu terlalu memanjakan mereka, aku izinkan mereka pergi tapi kamu tidak boleh berlebihan, bisa bangkrut aku kalo mengikuti cara mu membawa anak-anak”. Aku protes pada Lita yang selalu memanjakan anak-anak ku dengan berbelanja apa yang diminta anak-anak. Aku sadar, Lita merasa kesepian karena dia anak tunggal dan saudara-saudara dari pihak almarhum kedua orangtuanya lebih banyak tinggal di Pontianak.”Oke…oke…aku akan batasi mereka,tapi kalo sulung minta buku aku sulit menolak tu Sas, si sulung itu tidak bisa di rem kalo soal buku, boleh ya Sas…aku tidak royal, kan buku bagus bisa nambah ilmu…”. Lita dengan mimik di buat semelas mungkin membujuk ku. “Hmmm…aku juga rada kesulitan untuk membatasi sulung membeli buku, oke kamu boleh royal tapi tidak boleh berlebih, si sulung kalo dikasih alasan yang rasional dia nurut kok”. Jawab ku serba salah. Hari itu menjadi salah satu pertemuan terseru selama kami bersahabat, Lita dengan pengalamannya di Pontianak yang harus berhadapan dengan masyarakat desa yang masih keras dengan adat dan aku dengan segudang permasalahan anak-anak. Pertemuan hari itu kami akhiri dengan janji Lita akan kerumah ku menjemput anak-anak, ah..Lita betapa nyaman nya dirimu melakukan aktifitas tanpa merasa ada yang membelenggu kaki mu terbang tanpa ada beban berat di sayap mu. Aku kembali ke rumah dengan hati yang lebih ringan, si sulung yang sedang asyik membaca dengan seragam sekolah nya yang belum diganti dan si cantik yang sedang membuat pengasuhnya kalang kabut karena pergi kesana ke mari. Aku….? kembali pada komputer ku dan mengeluarkan apa yang aku rasakan. Ingin rasanya aku melepas kan sejenak beban yang menempel di bahu ku dan terbang bebas sebagai Sasi bukan sebagai bunda. Terkadang aku berpikir apakah aku menyesal menikah? Aku tak pernah tahu jawabannya.
Hari ini aku akan menemui calon nasabah, “hmm…mudah-mudahan presentasi ku beberapa waktu lalu bisa menyentuh hati nya untuk mau berinvestasi”.Pikir ku karena sudah hampir tiga bulan ini aku tidak melakukan closing yang berarti posisi ku gawat di kantor. Ku pandangi sekali lagi penampilan ku di kaca, dan rasanya sudah cukup oke untuk seorang Senior Financial Consultant. Setelah aku memberi instruksi pada para asisten ku (aku terbiasa menyebut para pembantu adalah asisten) di rumah aku berangkat.
“Terimakasih ya bu, sudah mau bergabung dengan perusahaan kami dan mempercayakan kami untuk berbagi resiko dengan Ibu”. Ku tutup pertemuan hari ini dengan klien yang luar biasa. Dia seorang ibu muda yang cantik, smart dan tampak sekali menikmati perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Dia dengan gembiranya menceritakan kegiatan hariannya yang padat dengan kesibukan mengurus rumah dan anak-anaknya. Begitu teratur, begitu rapih dan begitu nyaman. Ahhhh…ingin rasanya aku menikmati peran menjadi istri dan ibu seperti ibu Wida, klien ku itu.
Hhhh…akhirnya hari ini usai sudah, perjalanan panjang sepanjang hari ini membuat ku penat luar biasa. Setelah pertemuan ku yang cukup menggembirakan dengan ibu Wida, urusan sisa pekerjaan agency yang Gala tinggalkan pun ternyata tidak mengalami rapat yang rumit seperti yang aku bayangkan bahkan berakhir dengan menggembirakan. Rumah sudah sepi ketika asisten ku membukakan pintu untuk ku, aku terduduk di sofa ditemani teh manis hangat yang telah tersedia sambil mendengarkan laporan kedua asisten ku tentang rumah dan anak-anak hari ini. Beres! Tidak ada kejadian yang aneh dan luar biasa hari ini di rumah. Alangkah nyaman apabila setiap hari aku menghadapi hari yang teratur seperti ini. Ku bawa badan ku menuju lantai dua untuk mandi dan bersiap-siap tidur karena besok aku masih harus mengejar calon nasabah supaya semua target ku terpenuhi untuk akhir tahun ini.
“Bun…bangun bun.., aku mau berangkat sekolah ni….” kudengar teriakan si sulung tepat di telinga ku membuat ku terkejut. Ku pandangi wajah si sulung yang tampan dengan mimik yang jenaka dia balas memandang ku. “Ayo Bun…temani aku kebawah, mobilnya sudah datang tuh…” Teriaknya sambil menarik tangan ku untuk turun dari tempat tidur ku yang nyaman dan hangat. “Oke…oke…jagoan…tunggu dong…Bunda ambil sandal dulu” aku beranjak bangkit dari tempat tidur ku sambil kaki ku menjelajah di bawah tempat tidur mencari sandall bulu kesayanganku. “Bun tadi malam Abang tlp, katanya ujian nya bagus terus Abang bilang juga supaya aku rajin belajar jadi nilainya bisa bagus seperti Abang, terus dia bilang aku harus ngawasin cantik, bantuin bunda”. Celoteh sulung sambil turun menuju mobil jemputan.Anak-anak ku memanggil Abang pada ayahnya seperti aku memanggil nya “Wah…terus Abang titip pesen tidak buat bunda?” tiba-tiba aku sadar sudah beberapa hari ini kami tidak berhubungan, ah tapi abang pasti sedang sibuk dengan ujian-ujiannya.” Iya, abang bilang bunda jangan terlalu cape nanti bunda sakit. Jadi aku juga diminta ngawasin cantik sama abang, oke Bun aku pergi dulu ya. Bye bunda.” Sulung naik mobil jemputannya dan langsung berceloteh dengan teman-temannya di bus. Ku rapatkan jas tidurku dan menunggu hingga mobil keluar dari gerbang kompleks. Ku seret kaki ku menuju teras belakang mencari si cantik yang biasanya sarapan di belakang sambil melihat ikan di kolam kecil kami. Ah… cantik nya anak itu…begitu tenang dan asyik melihat ikan-ikan di kolam sambil sekali-sekali melemparkan remah rotinya ke kolam. “ Good morning cantik…” Dia mendongak dan berdiri memeluk kaki ku sambil berceloteh riang tentang ikan-ikan nya. Ku temani cantik bermain sambil sarapan dan tak lama aku bersiap mandi, hari ini aku masih mewakili abang untuk rapat rencana pembuatan film untuk tahun 2007.Mudah-mudahan hari ini bisa seperti kemarin yang berjalan mulus.
Hari-hari ku setelah abang berangkat adalah menjadi perwakilannya selama abang sekolah, paling tidak setahun pertama ini aku menjadi wakil penuh abang sampai dia bisa mengambil alih kembali tugas-tugas ini.
Setelah pertemuan ku dengan client aku mendapat pesan di handphone ku kalo Lita menunggu di tempat biasa, ada apa ya? Pikiran ku berkecamuk, tak seperti biasanya Lita berlaku seperti ini.
Kutemui Lita yang sedang duduk memandang kekolam di kafe langganan kami. Ku sentuh bahunya pelan dengan pikiran tak tentu aku melihat wajahnya begitu menderita, Lita terdiam, dan aku tidak mengerti mengapa kali ini aku sulit sekali membuatnya terbuka. “Ada apa Lita?”. Ku usap telapak tangannya yang dingin sambil aku menarik kursi duduk disebelahnya. Lita menggeleng, dan tiba-tiba air matanya menitik. Kutarik napas dan aku menunggu Lita bercerita kubiarkan dia menangis dan mengeluarkan keresahan hatinya. Ku elus tangannya mencoba menenangkan hatinya, memberikan kekuatan seperti yang biasa dia lakukan bila aku merasa sedih. Untung, café langganan kami siang itu terasa sepi jadi aku membiarkan Lita menangis. “Sas…aku sakit …sakit parah, dokter bilang umur ku tidak lama lagi, satu tahun,dua tahun, syukur-syukur aku bisa bertahan lama tapi itupun hanya lima tahun”. Aku tenangkan hati ku untuk tidak terkejut, karena aku yakin bukan ekspresi itu yang Lita harapkan dari aku, aku biarkan dia terus bercerita dan genggaman tangan kami semakin kuat, saling memberi kekuatan.” Diagnosis ini baru aku dapatkan ketika aku ke Pontianak kemarin”. Aku ingat, keluarga Lita dari pihak ayah adalah keluarga dokter. Bahkan rumah sakit di sana diberi nama Eyangnya Lita. “ Mereka menemukan aku pingsan di tempat tidur setelah sehari sebelumnya aku pergi ke perbatasan, mulanya aku pikir aku hanya cape Sas. Jadi waktu aku siuman dan mereka mengajak aku ke rumah sakit aku menolak. Karena hari itu aku masih harus kembali ke perbatasan mengurus para TKW yang terlantar. Tapi ternyata, begitu aku sampai di base camp lagi-lagi aku pingsan. Teman-teman ku panik dan langsung membawa ku ke rumah sakit”.Lita terus bercerita sambil sekali-sekali menyusut air matanya yang terus menetes. “Aku kena kanker Sas, stadium 4 dan kondisi ku terus menurun”. Ternyata ini jawaban dari pertanyaan ku sejak terakhir aku bertemu, aku memang heran melihat Lita yang semakin kurus dan pucat.Ku hela napas yang terasa berat dan aku tak sanggup berkata-kata. Ku hembuskan napas keras-keras untuk memberi kekuatan pada diri ku membuka mulut. “Lita…aku…hhh…aku percaya kita bisa melalui ini bersama-sama”. Pertemuan hari itu benar-benar pertemuan yang menguras emosi ku dan Lita.” Kita berdua selalu yakin apapun permasalahan yang muncul dan seberat apapun permasalahan itu kita berdua selalu yakin bisa menuntaskannya. Karena kita berdua yakin akan kekuatan Allah untuk menjaga kita”. Ku usap punggungnya mencoba menularkan semangat pada dirinya. Lita hanya tercenung, tapi aku yakin kata-kata itu pasti memberinya sedikit harapan karena kata-kata itu mempunyai arti yang kuat untuk kami berdua bila kami mendapat masalah.
Gala…ada persoalan lain yang ternyata sangat nyata dan harus dihadapi. Persoalan Lita dengan masa depannya yang sudah bisa dihitung oleh manusia. Sementara permasalahan yang ada dalam diri ku hanya sebatas permasalahan yang terkadang hanya muncul dalam diriku sendiri. Karena buat mu, melihat aku dan anak-anak bahagia sudah terasa lengkap hidup mu. Kamu tidak pernah melihat ke arah lain, tidak seperti aku yang masih suka melihat ke arah lain karena aku merasa tidak aman karena sikap mu. Baru belakangan aku sadari, begitu besarnya cinta mu pada ku sehingga kamu memberikan kebebasan yang luar biasa untuk ku bisa berkreatifitas, ber sosialisasi dan melakukan kegiatan yang memang senang aku lakukan. Karena kamu tahu, larangan tidak akan menghentikan langkah ku. Gala, banyak hal yang mulai aku sadari ketika permasalah Lita mulai aku ketahui. Ada dunia yang lebih tidak nyaman dan kenyataan yang begitu nyata tergambar mengenai kelangsungan hidup seseorang membuat aku sadar arti hidup yang tengah aku jalani sekarang. Kehidupan yang luar biasa indah dan nyaman, kehidupan yang luar biasa hangat. Maafin aku ya , kalo selama ini aku tidak bersyukur pada apa yang telah kamu berikan pada ku. Kesabaran mu menghadapi ku sangat luar biasa dan kasih mu yang tak pernah putus pada ku selama ini . Mudah-mudahan setelah ini kamu akan menemukan Sasi yang baru, Sasi yang lebih sabar,lebih baik dan lebih bersyukur.
Surat itu basah oleh derai air mata ku, tulisan itu makin kabur tak terlihat lagi. Kutatap gundukan tanah merah yang menutupi tubuh sahabat ku tercinta yang ternyata mendahului ku karena ulah sopir ugal-ugalan. Pertemuan waktu itu ternyata menjadi pertemuan terakhir kami. Keesokan harinya Sasi sahabat ku pergi.
“Terimakasih Lita, di hari terakhirnya kamu membuatnya menjadi orang yang lebih baik”. suara serak Gala masih terngiang ditelinga ku ketika dia menyerahkan surat ini.
Kupandangi tubuh Gala, sulung dan cantik menjauh.
Selamat jalan Sasi, Bunda dan sahabat terbaik ku. Tunggu aku.
Ciputat 1806












