Teman atau Sahabat
Sahabat ku bilang, dia hanya punya 3 orang teman, selebihnya adalah orang-orang yang datang ketika mereka ada perlu. Minta proyek, minta komisi, minta tolong bahkan ada yang mencoba menipunya. Dan semua itu adalah orang-orang yang dia kenal lama dan dia anggap teman.
Sambil mendesah sahabat ku itu berkata “semakin tua, kita akan semakin sedikit mempunyai teman, apalagi sahabat. Ada yang karena alasan kesibukan sehingga tak sempat berkumpul, ada yang karena memang tak memiliki keberanian untuk bertemu karena merasa gagal dan mau bertemu dan yang paling sedih adalah karena teman-teman sebaya mungkin sudah mulai banyak meninggalkan kita karena menghadap sang pencipta.
Alasan terakhirlah yang membuat kita merenung dan berpikir bahwa waktu kita tinggal sedikit. Pernah kutanyakan pada ibu ku, orang yang ku anggap sangat beruntung karena masih bisa menyaksikan anak dan cucunya berkembang bahkan hingga cicitnya tumbuh. Apa yang dia rasakan ketika satu persatu orang yang dia kenal bahkan dia kasihi meninggalkannya. Entah harus pergi karena pernikahan atau karena memang pergi untuk selamanya dan tidak pernah kembali. Kesedihan, kesepian dan kebahagiaan ternyata menyelimuti hati beliau ketika hal itu terjadi. Kesedihan yang beliau rasakan amat menyesakkan dada adalah ketika beliau harus kehilangan anak keduanya, anak yang telah menjadi teman dan sahabatnya di kala usia senja. Ibu ku tidak pernah menduga bahwa putrinya yang telah menjadi teman dan sahabatnya di kala usia senja telah lebih dulu meninggalkannya, pergi untuk selamanya.
Aku? …. biarlah semua berjalan sebagai mana mestinya, dan aku yakin aku punya banyak sahabat dan teman yang akan menemani sisa perjalanan ini.












