“Lowongan Pekerjaan : Dicari Wanita, berpenampilan menarik, sarjana, untuk diposisikan sebagai Ibu Rumah Tangga”
(Dewi R. Amalyah)
…Hehe…itu adalah gurauan tadi sore saat sekelompok wanita berusia 30 tahunan kumpul bersama di sebuah cafe. Mereka adalah para wanita terpilih yang saat ini sebagian besar waktunya dicurahkan untuk mengurusi keluarga yakni suami dan anak-anak mereka.
Penampilan mereka cukup menarik, modis, dan sangat jauh dari kata ‘ketinggalan zaman’. Sebagian berkerudung, sebagian lagi menguraikan rambut mereka yang tampak terawat dengan baik.
Obrolan mereka pun bukan hanya masalah rumah tangga, masalah kebutuhan suami/anak, urusan dapur ataupun gosip infotainment yang sedang ngetren, namun lebih dari itu. Masalah pemilu, ekonomi negara, indeks saham gabungan dow jones yang mulai menguat, harga saham harian telkom, bumi, antm, harga reksadana trimegah, schroeder, fortis yang mulai stabil, perkembangan psikologis anak di usianya masing-masing dari yang normal sampai autis/ADHD, biaya pendidikan anak yang relatif mahal di sekolah nasional plus / internasional, jenis laptop/netbook yang berspesifikasi intel sampai intel core 2 duo, kaskuser, modem dan servernya, virus H5N1 / H1N1, jenis asuransi pilihan, investasi, usaha sampingan dan sebagainya.
Hampir mirip dengan para wanita lainnya yang sibuk bekerja ‘kantoran’. Bedanya adalah pakaian mereka yang mungkin bukan pakaian resmi seperti blazer ataupun ‘seragam’ perusahaan/bank tertentu, namun lebih ke arah casual trendy yang tetap menarik untuk dipandang.
Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata latar belakang pendidikan mereka tak kalah menariknya, ada yang lulusan S1 fakultas favorit sebuah universitas ternama di Jakarta dan Bandung, ada juga S1+profesi seperti psikolog, dokter, dan akuntan. Bahkan ada juga yang bergelar S2 lulusan luar negeri. Sehingga tidak mengherankan jika bahasa inggris mereka tidak diragukan karena pengalamannya tinggal di luar negeri entah karena mengikuti suami atau karena mengambil pendidikan. Diantaranya bahkan menguasai bahasa asing lainnya seperti Perancis, Jepang, Belanda, bahkan Jerman.
Luaaarrr Biasaaa……
Pengalaman kerja??? Gak kalah serunya!!! ada yang eks guru bahasa Inggris, marketing sebuah bank ternama, kepala personalia perusahaan multinasional, dokter sebuah rumah sakit besar, penulis, editor, pemilik sekolah, auditor KAP beken, public relation sebuah NGO, dan lainnya.
Lalu apa pekerjaan mereka sekarang?? Saat ini mereka tidak bekerja di sektor formal. Mereka memutuskan untuk berhenti dari gemerlapnya ‘kerja kantoran’, memilih untuk memberi sebagian besar waktu mereka pada ‘pendampingan anak’.
“Anak adalah amanah” itu kata mereka, “Amanah langsung dari yang kuasa, yang tidak boleh disia-siakan dan akan diminta pertanggungjawabannya”. Mereka tidak ingin kesempatan itu hilang, kesempatan untuk memberikan pendampingan terbaik, menguatkan ‘bounding’ antara ibu dan anak. Mudah-mudahan membuat anak mereka lebih baik dari generasi sebelumnya.
Zaman sudah bergeser, kalau dulu kita melihat pendidikan anak-anak diserahkan sepenuhnya pada sekolah, di era ini para orang tua, ibu khususnya sudah mulai siap turun tangan. Bukan hanya mengantar jemput anak, mengantar les piano, bahasa, bela diri ataupun menyiapkan bekal sekolah, tapi juga mengetahui “keadaan sesungguhnya anak-anak mereka di sekolah”, bagaimana peringai mereka terhadap temannya, bagaimana proses adaptasi mereka di sekolah, apa kelebihan dan kekurangan anak-anak mereka, hingga bagaimana mengatasi masalah yang ada pada anak-anak, tampaknya itulah salah satu jobdesc mereka.
Di rumah?? tak kalah detailnya, mulai dari menyusun menu makanan, jenis makanan apa yang harus dihindari karena menyebabkan anak-anaknya alergi, kapan saatnya imunisasi, kapan saatnya ke dokter gigi, hingga menjadi direktur keuangan keluarga yang harus mem’balance’ pemasukan dan pengeluaran, termasuk posting investasi. Sebagian bahkan mengelola bisnis kecil-kecilan dan menjadi partner bisnis yang handal untuk para suaminya, yang hasilnya tentu saja dapat menopang perekonomian keluarga.
Sudah tidak zamannya kita merendahkan mereka yang memposisikan dirinya sebagai “fulltimer mother” atau ibu rumah tangga. Beberapa waktu lalu ada teman saya yang berkata, “Anak-anak perempuanku tidak perlu aku sekolahkan tinggi-tinggi nantinya, toh akhirnya mereka akan menjadi ibu”. Hmm…sebentar, jika kita telaah lebih lanjut “kualitas ibu” seperti apakah yang kita inginkan untuk cucu-cucu kita kelak? Memang sarjana bukan jaminan, tapi mereka yang peduli pada perkembangan anak, mereka yang terus ‘mengupdate’ ilmu parenting mereka, mereka yang selalu “open mind” terhadap perubahan yang ada lah yang akan menjadi ibu-ibu pembentuk generasi akan datang yang lebih baik.
Sudah tidak zamannya para pria mencari “calon isteri yang cantik”, mungkin lebih tepatnya mencari “calon ibu yang cantik dan cerdas bagi anak-anaknya”…(hehe teteup cantik..)
Mudah-mudahan di era sekarang semakin banyak para ‘ibu berpendidikan’, entah sarjana atau bukan, yang peduli dalam pendidikan anak-anak bangsa, peduli dalam pembentukan karakter mereka, sehingga mereka bisa menjadi generasi mendatang yang berakhlak baik, cerdas, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Aamiin.
“Don’t Worry Moms, your knowledge is the most precious thing for your kids”…as you know…”Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu”
So…ada lowongan pekerjaan nih: “Dicari Wanita, berpenampilan menarik, sarjana, untuk diposisikan sebagai Ibu Rumah Tangga”-, BERMINAT??
-30 Juli 2009-













Setuju dech..
ibu” jaman skrng hrz pinter dlm sgala hal….:-)
Salut buat para wanita pemberani…
Salam