MERDEKA!!kan HATImu yuuuks…
(Dewi Rahmah Amalyah)
Setiap Agustus datang, kata-kata MERDEKA lebih sering terdengar di sekitar kita. Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan seolah berlomba-lomba untuk mengucapkannya. Yaa..sebuah kata yang sangat sederhana “merdeka!!” namun memiliki makna yang sangat mendalam.
Kata “Merdeka” bagi suatu bangsa mempunyai arti yang sangat penting untuk kedaulatannya dan eksistensinya di mata dunia internasional.
Saya bukanlah seorang politikus handal, diplomat ternama, ataupun ekonom tersohor. Saya hanyalah sesosok pribadi yang mengartikan kata ‘merdeka’ dengan sangat sederhana. Kemerdekaan bagi saya berarti ‘membiarkan hati saya bicara’, bisa mengikuti apa kata hati saya dan menuangkannya dalam perbuatan yang bermanfaat bagi sekitar. Perbuatan yang “dilakukan dengan hati”, bukan perbuatan yang dilakukan dengan paksaan ataupun keterpaksaan.
Beberapa saat yang lalu, salah seorang sahabat saya menulis sebuah ‘note’, sebutlah tentang “Tirani Kehidupan”. Adanya ketidakmampuan orang-orang baik untuk “berbuat baik”, yang akhirnya menyeret mereka berbuat buruk. Tidak sedikit orang yang berada pada posisi tidak bisa melawan keadaan, tidak bisa mengekspresikan ilmu dan pemahaman yang mereka pelajari.
Beberapa teman sejawat bahkan pengalaman hidup saya sendiripun mengatakan demikian. Lebih dari 5 tahun bekerja di beberapa rumah sakit membuat saya berpikir, Apakah ini ‘pelayanan kesehatan’ yang saya ingin berikan? Pantaskah mereka mendapatkannya? Bagi saya pribadi, alangkah tidak nyamannya jika seorang pasien berkonsultasi dengan dokternya hanya dalam waktu 5 menit!! Itupun sudah termasuk anamnesa dan pemeriksaan fisik. Hal ini bukan semata-mata keinginan dokter ybs, namun “keadaan”lah yang membuatnya demikian. Anggaplah jadwal poliklinik pagi sebuah RS adalah 5 jam, dengan jumlah pasien rata-rata seharinya mencapai 100 orang (bahkan lebih), berarti 3 menit untuk tiap pasien, 6 menit jika terdapat 2 orang dokter, 9 menit jika terdapat 3 dokter. Belum lagi dipotong jadwal dokter yang harus visite bangsal perawatan, operasi, diskusi, laporan pagi, meeting dsb… Huuuiiih…
Tidak heran jika RS banyak menghadapi komplain, seharusnya seorang dokterpun dapat mengajukan komplain atas keadaan yang dialaminya, namun pada siapa?? apa ada realisasinya?? “SISTEM”, itu yang lebih berkuasa dan menentukan saat ini.
“Tirani” lainnya dirasakan pula oleh rekan profesi guru. Sebutlah seorang kawan, guru SD Nasional Plus pernah bercerita tentang dilema yang dialaminya. Ketika tuntutan ‘target’ kurikulum yang harus dicapai oleh 20 muridnya, ditambah dengan keharusan penguasaan 1-2 bahasa asing sang murid. Sedangkan seperti diketahui 20 murid dengan latar belakang berbeda, gaya belajar berbeda, tingkat kecerdasan dan proses penyerapan yang berbeda pula, menjadi tantangan yang tidaklah mudah. Ditambah lagi adanya tuntutan dari kepala sekolah / pihak manajemen sekolah yang seolah-olah “membatasi ruang gerak”nya, “membatasi” kreatifitas dan ekspresi guru dengan puluhan aturan yang ada. Belum lagi komplain dari orang tua yang merasa sudah membayar mahal dan anaknya tidak diperlakukan dengan ‘benar’…hehe.. Hal ini yang akhirnya membuat tidak sedikit guru yang mendidik dengan apa adanya, ‘tidak dengan hati’, hanya rutinitas, terkungkung dalam sebuah tirani yang ada.
Lain lagi dengan cerita temanku yang pernah bekerja di salah satu Bank berbasis syariah. Bertahun-tahun dia nyaman dengan posisinya sebagai seorang teller, sehingga membuat dia tidak bersedia dipromosikan ke bagian lain yang lebih menjanjikan. Marketing misalnya. Menurutnya lebih baik dia berhenti bekerja daripada dia dipindahposisikan ke bagian marketing. Di bagian marketing tentu saja dituntut keahlian persuasif, keahlian menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan beberapa teknik kata-kata manis dan ‘rayuan’ sehingga calon nasabah terpikat. Apa yang terjadi setelahnya, karena tidak ada debt collector di tempatnya bekerja, tidak banyak yang tahu setelah menjadi nasabah dan adanya tunggakan yang tak terbayarkan oleh sang nasabah, kata-kata manis itu berubah menjadi kata-kata kasar, disertai ancaman dan intonasi tajam yang dilontarkan dari mulut yang sama.
Alhamdulillah temanku termasuk salah satu dari sedikit orang yang berani beda. “Posisi teller cukup bagiku daripada harus bekerja tidak sesuai dengan kata hatiku”, demikian katanya.
Kata “Merdeka” juga kadang jarang dirasakan oleh teman-teman wanitaku yang memilih bekerja kantoran dengan kata lain menjadi wanita karir. Dengan jam kantor yang sudah tidak bisa ditawar, ditambah dengan overtime yang kadang tidak dapat diduga waktunya, sebuah tirani pun terbentuk. Ketika mereka sudah memiliki rencana bersama anak, misalnya menghadiri lomba / kegiatan anak kesayangannya di sekolah, atau rencana bersama suami entah walau hanya makan malam bersama atau janjian pulang bersama, tiba-tiba ‘titah Bos’ atau tugas kantor yang tidak dapat ditunda dan dianggap amat sangat penting mengalahkan rencana keluarga yang sudah dibuat. Anak dan suami menjadi nomor 2!! Benarkah hal ini?? Alangkah indahnya jika mereka sanggup untuk mengatakan “TIDAK” pada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, bertentangan dengan kaidah-kaidah agama, dan pada hal-hal yang hanya mementingkan profit duniawi semata.
Yang kini menjadi pertanyaan adalah :
” ADAKAH KEBERANIAN UNTUK MEMERDEKAKAN HATIMU??” Yess.!!! ADA.
Kemerdekaan hati itu bisa kita rasakan tumbuh jika kita mengembalikan semuanya pd Yang Maha Kuasa.
Jika kita yakin bahwa tiap detik yang terjadi atas diri kita adalah atas izinNya.
Apapun yang kita rasakan dan dapatkan di dunia ini adalah atas kehendakNya.
Dan hendaknya apapun yang kita lakukan di dunia ini adalah untuk mendapatkan ridhoNya.
Semoga Hati kita akan lebih Merdeka dan makna “MERDEKA” itu akan menjadi lebih indah dirasa.
Yuuks…MERDEKA kan hatimu..
DIRGAHAYU INDONESIAKU
Semoga tiap individu di negara ini merasakan indahnya kemerdekaan hati
Jakarta, 17 Agustus 2009













Dewi,
jangan lupa untuk memerdekakan pendapat orang lain juga
MERDEKA!!