Where’s True Friend

(Dilla Maulina)

Malam itu gue sedang berusaha tidur. Udah seminggu ini penyakit insomnia gue kambuh. Tiba-tiba telepon di atas meja belajar gue berdering.
“Halo, Tarra! Besok jadi khan?” tanya Karin di telepon terdengar penuh semangat.
“Ngga janji ya, Kar?” jawab gue.
“Iiih!” pekik Karin nyaring. Bakalan tambah susah tidur nih gue. “Sejak kapan lo pake ngomong ngga janji segala. Kaya orang penting aja tau ngga!” sahutnya kesal lalu segera menutup teleponnya.
Gue Tarra. Ini awal semester dua gue kuliah. Dan sekarang gue baru merasa ada sesuatu yang kayanya ngga nyaman dalam hidup gue. Awalnya sih happy tapi makin ke sini gue makin merasakan kejanggalan itu.
Hari ini ada kuliah pagi. Tadi malam beneran gue ngga bisa tidur nyenyak. Padahal gue udah mencoba minum obat tidur. Tapi hasilnya nihil. Gue baru bisa tidur jam lima pagi. Entah ada kekuatan apa yang membuat gue bisa bangun jam enam.


Wah, kayanya gue kepagian nih datengnya. Pak Jun, dosen statistik, udah masuk kelas tapi mahasiswa yang lain belum banyak yang dateng. Baru ada Roby, Dian sama Anty. Sepuluh menit kemudian baru mulai banyak yang dateng. Tapi Karin, Vanes dan Mia ngga datang. Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran mereka. Mereka sahabat gue.
Ehm…tapi apa iya mereka sahabat gue? Kalau ternyata selama ini jalan pikiran kita ngga pernah sama. Mereka cenderung mengutamakan eksistensi mereka demi mendapat pujian, dan sanjungan dari temen-temen. Awalnya gue bangga dan menikmati jadi bagian dari mereka, yang bisa dibilang populer. Karena ngga semua orang bisa jadi bagian dari mereka.
Suatu malam, tiba-tiba gue merasa ada yang ngga beres, perasaan sangat ngga nyaman menghantui gue malam itu. Perasaan bahwa mereka sesungguhnya bukanlah sahabat yang seperti gue bilang selama ini.
Rasanya selama ini gue udah buta. Gue baru sadar kalo mereka ngga pernah sedikitpun mikirin orang lain. Karin, Vanes dan Mia kayanya bakal ngerusak hidup gue kalo gue terus sama mereka. Dimata orang, kita kelihatan sempurna, tapi… itu ngga bener!. Gue udah jarang kuliah, ngga pernah ikut praktikum wajib, jarang ngumpulin tugas, sering ngga ikut kuis, itu semua karena ajakan mereka.
Pergi ke tempat-tempat yang ngga penting dan ngabisin duit orang tua bareng mereka. Dan semua itu kita lakukan – gue rasa – hanya untuk cari kesenangan, cari pamor, dan jaga gengsi. Kaya hari ini, mereka ngga kuliah cuma mau belanja buat acara ulang tahunnya Angel, yang pastinya cewek populer juga. Penolakan gue untuk ‘cabut’ sama mereka hari ini menjadi ancaman buat gue. Gue bakal dicap ngga asik, ngga solid dan ngga kompak sama mereka. Whatever they say.
Gue pengen berubah rasanya. Berubah dalam arti, ngga menyia-nyiakan hidup gue cuma buat yang ngga penting dan ngga menyia-nyiakan kepercayaan orang tua gue. Semakin dewasa harusnya gue bisa cari temen yang bener-bener bisa bawa gue ke arah yang lebih baik. Ingin dapat perhatian, dapat pujian, atau jadi yang paling wah, ngga harus begini caranya.
“Tarra! Ngga keluar? mata kuliah pak Jun udah selesai, lho!” tegur Roby.
“Oh, nanti!” jawab gue.
“Mau ikut ke kantin?” ajaknya.
“Thanks! Gue mau ke perpus!”
“Perpus?!” tanya Roby heran.
“Iya? Kenapa?”
“Ah, ngga! Ganti tempat tongkrongan nih ceritanya?” katanya. Dari nada bicaranya seperti mengejek, tapi gue cuek. Kata-katanya ngga mempengaruhi gue koq.
Gue juga ngga tahu kenapa pengen ke perpus. Selama perjalanan menuju perpus banyak hal yang ngga pernah gue lihat selama ini, ternyata menarik juga. Ngeliat Suci, Zea dan Arun gue jadi ngiri. Pertemanan mereka kayanya adem ayem ngga ada masalah. Mereka temen sekelas gue yang bisa dibilang pinter. Mereka kelihatannya kompak banget deh. Mereka bisa membaur sama mahasiswa lainnya tanpa harus memandang status. Ngga kaya Karin, Vanes dan Mia, gengsi banget kalo harus gabung sama mereka yang bisa dibilang ‘rakyat kelas dua’ di kampus. Dan gue pun jadi ikut-ikutan begitu.
Saat Suci, Zea dan Arun lewat depan gue. Gue berusaha negor mereka, tapi kayanya mereka ngga mau gue sapa, sebab wajah mereka seakan bilang begitu. Cuma Suci yang sempet sekilas ngeliat gue.
Gue jalan ke perpus. Gue bingung sendiri, ngapain gue ke sini. Daripada BT gue iseng-iseng ngeliat buku-buku, kali aja ada yang menarik.
“Where’s True Friend?” judul buku yang baru aja gue liat.
Baru aja gue pengen ngambil buku itu, tapi tiba-tiba ada dua tangan lain yang megang buku itu.
“Suci? Alin?”
* * *
Aku Suci. Hari ini aku bangun kesiangan. Seingatku, baru kali ini aku kesiangan. Bagaimana mungkin aku bisa kesiangan, padahal aku ngga terlambat tidur.
Akhir-akhir semangat kuliahku sedang berada di bawah standar kemalasanku. Entah apa yang membuatku begitu berat melangkah masuk ke ruangan kuliah jam pertama ini. Bertemu dengan kedua teman akrabku.
Apa mungkin karena aku sedang merasa sedikit ngga sreg sama Arun dan Zea. Ngga tahu kenapa. Mungkin bagi sebagian orang masalah ini masalah sepele. Tapi bagiku itu merupakan sesuatu yang penting juga. Selama ini aku kenal banyak orang untuk aku jadikan teman, tapi yang benar-benar jadi teman sejati itu susah. Dan mungkin saat inipun aku belum menemukannya, meskipun aku, Arun dan Zea cukup dekat.
Hari ini kuliah pagi, tapi aku datang agak kesiangan. Di kelas, aku lihat ada Roby, Dian, Anty, dan Tarra. Satu pertanyaan terbesarku saat itu adalah, tumben banget Tarra sendirian? Ke mana teman-temannya?. Ternyata dia bisa ‘hidup’ juga tanpa teman-temannya yang heboh itu. Baru beberapa menit kemudian Arun dan Zea datang bersamaan. Tumben mereka juga kesiangan.
Sebelum pak Jun selesai mengajar, beliau memberi tugas pada kami. Belum apa-apa, sebagian mahasiswa sudah merubung bangkuku, Arun dan Zea. Bukannya sombong, tapi kadang asik juga jadi bahan contekkan. Itu berarti mereka masih menganggap bahwa kami ‘ada’. Tapi aku lihat Tarra malah cuek banget sama tugas itu, dia menyendiri menjauhi teman-temannya.
Mata kuliah kedua di mulai satu jam lagi. Satu jam kosong ini, biasanya kami gunakan untuk sarapan pagi, bagi mereka yang belum sarapan pagi. Atau sekedar duduk-duduk ngobrol di bangku taman.
“Arun! Zea! Ayo!” ajakku pada mereka untuk menemui teman-temanku yang kebetulan berasal satu SMA denganku dulu.
“Ngga ah, Ci! Gue mau k e warnet,” tolak Arun.
“Males, Ci!” begitu juga dengan Zea, “Ngapain sih?!”
Aku sering bingung dengan sikap mereka yang kadang terkesan sombong. Di kelaspun begitu, mungkin karena mereka itu lebih pandai dibanding mahasiswa seangkatannya, kadang mereka ngga mau berteman dengan orang yang bagi mereka bodoh, malas atau apalah. Aku sebenarnya ngga suka dengan sikap mereka yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat mereka jadi jauh dengan mahasiswa lainnya. Tadinya aku enjoy sama mereka tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa ngga suka dengan mereka, sekalipun aku sangat dekat dengan mereka.
Aku pikir orang jenius kaya mereka bakal mau menerima orang apa adanya. Tapi buktinya pola pikir mereka jauh dari apa yang aku kira selama ini. Aku serba salah. Aku butuh teman, tapi bukan teman yang menganggap dirinya paling hebat, Aku jadi ingat Tarra, pasti enak punya sahabat yang selalu sejalan, sepikiran dan sehati kaya mereka berempat.
Aku terus mencoba memaksa mereka agar mau ikut denganku paling tidak hanya menyapa teman-temanku itu. Akhirnya mereka setuju tapi dari wajahnya terpancar wajah ketidaksenangan. Mudah-mudahan aku salah mengartikan guratan di wajah mereka.
Sekilas aku melihat Tarra berjalan sendirian. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya juga kelihatan ngga bersemangat, apa dia sedang ada masalah dengan teman-temannya. Sangat jarang malah hampir tidak pernah aku melihat salah satu anggota geng heboh – kata Arun – itu jalan sendirian seperti Tarra saat ini.
Setelah itu aku, Arun dan Zea ke perpustakaan. Arun dan Zea segera berkutat di tempat buku-buku ekonomi. Aku malah menyusuri rak buku dari fakultas psikologi. Tak ada yang menuntunku ke tempat ini, namun tiba-tiba saja kakiku melangkah dengan santai ke deretan rak-rak yang belum pernah aku lewati.
Aku teringat dengan masalah yang aku pikirkan tadi malam. Masalah yang sedang aku pikirkan. Ehm, sebenarnya sih bukan masalah. Tapi apa ya namanya, sesuatu yang mengganjal di hati. Mengenai Arun dan Zea. Mereka memang teman terbaikku, tapi mengapa mereka belum bisa aku sebut sebagai sahabat yang sebenarnya.
“Where’s True Friend?” judul buku yang kelihatannya menarik. Ehm…mungkin dari buku itu aku bisa menemukan jawaban dari apa yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Baru saja aku hendak mengambilnya tiba-tiba ada 2 tangan lain yang ingin mengambilnya juga.
“Tarra? Alin?”
* * *
Gue Alin. Saat ini gue lagi menghadapi masalah yang bisa disebut dengan konflik batin, tapi masih dalam taraf yang biasa aja. Dan itu cukup membuat gue berpikir terus tentang ini.
Apa istimewanya menjadi gue. Hidup gue terlalu hampa untuk dimaknai. Ngga ada sesuatu yang berarti di hidup gue. Selama ini gue berusaha menjadi diri yang baik. Tapi kenapa gue selalu aja jadi yang terasingkan. Gue udah mencoba ‘muncul’, tapi tetap aja ngga ada yang mengerti dan ngga ada yang mencoba menganggap gue ada di dunia ini.
Apa gue lagi kena penyakit krisis percaya diri? Ngga juga. Gue cuma males menghadapi kenyataan bahwa diri gue ngga punya andil besar dalam mempengaruhi diri gue sendiri.
Gue males. Bener-bener males. Peristiwa dua tahun lalu membuat gue sulit percaya sama orang. Ingatan-ingatan tentang hancurnya persahabatan gue, retaknya keluarga gue. Itu semua membuat gue males menghadapi keadaan sekarang. Dunia kampus yang memuakkan. Dengan semua orang yang memakai topeng. Berpura-pura baik. Atau menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Entah kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul. Perasaan ingin mencoba dimengerti dan dianggap ada. Perasaan itu pernah hilang selama hampir dua tahun. Saat itu, selalu ada pikiran yang bikin gue ngga pengen hidup di dunia ini.
Gue merasa, apa gue terlalu buruk di mata orang-orang, sampai orang-orang menganggap diri gue ngga ada di sini. Gue kadang kesal sama orang yang rela melakukan apa aja supaya diakui, dianggap ‘ada’ dan diterima oleh orang-orang, sekalipun jalannya ngga bener.
Gue bukan pecundang, tapi kenapa kadang gue selalu menganggap diri gue begitu. Terus untuk apa gue hidup, kalau mereka ngga mau menganggap gue ‘ada’, dan membuat gue merasa terasingkan. Kenapa harus terjadi sama gue? Lo salah Alin! Lo ngga seharusnya berpikiran kaya gitu. Lo bukan pecundang! Yang bikin lo merasa terasingkan adalah diri lo sendiri yang ngga mau terbuka. Lo cuma butuh orang-orang yang sama-sama mencari jawaban kaya lo. Untuk menemukan jawabannya lo butuh sahabat!. Tiba-tiba ada suara yang sepertinya ke luar dari hati gue. Dan lo bakal mendapatkan apa yang ngga pernah lo dapatkan dari sebuah persahabatan.
Apa iya gue butuh teman. Siapa yang mau temenan sama gue apalagi bersahabat? Emangnya ada?.
“Lin? Mau gabung ngga?” tanya Suci saat mengerjakan tugas pak Jun.
Kenapa Suci nawarin gue? Ah! Mungkin cuma basa-basi aja. Karena gue tahu dia dan teman-temannya itu mana mau berteman dengan orang kaya gue yang biasa aja dan ngga bisa apa-apa ini.
Ehm, tumben Tarra sendirian. Ke mana temen-temen setianya itu?. Kasian banget sih! Tapi lebih kasihan gue khan, di saat gue lagi bingung kaya gini mana ada orang yang peduli sama gue. Sedangkan Suci atau Tarra pasti selalu dapet perhatian dari sahabat-sahabatnya. Enaknya jadi mereka.
Iiiih! Tumben Tarra senyum-senyum sama gue. Kenapa dia? Ah! Pasti dia cuma lagi sok ramah aja sama gue. Selama ini mana pernah dia begitu sama gue, apalagi teman-temannya itu. Gue khan bukan siapa-siapa. Sebenarnya dulu gue pernah gabung di antara mereka, tapi gue cukup tahu diri karena gue ngga sepadan dengan mereka, dan kayanya mereka juga ngga terlalu baik sama gue.
Siang itu gue jalan ke perpus sendirian. Niatnya sih mau pinjam buku buat tugas minggu depan, tapi males juga. Ya udah gue ngeliat-ngeliat buku Psikologi aja yang kelihatannya menarik.
“Where’s True Friend?” Wah, kayanya ini yang menarik.
“Tarra? Suci?”
“Lo dulu aja yang pinjam!” kata Tarra.
“Ngga usah kalian dulu aja!” sambung Suci.
“Gue belakangan aja!” kata gue sambil pergi ninggalin mereka berdua.
* * *
Ngga nyangka ternyata gue bisa sahabatan sama Suci dan Alin sampai sekarang. Dulu gue pikir, Karin, Vanes dan Mia adalah sahabat gue yang sebenarnya. Mereka sih baik sama gue, tapi kebaikan mereka semata-mata hanya karena materi yang gue punya, bukan apa-apa yang ada di hati gue.
Gue bener-bener berterima kasih banget sama sahabat-sahabat gue. Suci dan Alin. Orang tua gue bangga sama gue, akhirnya gue bisa lulus kuliah tepat waktu. Dulu mereka pikir gue bakal lulus dua tahun lebih lama dari waktu yang seharusnya. Karena pertemanan gue dengan Karin dan kawan-kawan. Ini emang udah jalan yang udah Tuhan kasih buat gue.
Dengan cara yang gue ngga pernah tahu, sampai akhirnya gue bertemu dengan Suci dan Alin. Awalnya sih mereka orang lain di mata gue. Walaupun mereka berada dalam ruangan yang sama dengan gue, tapi keberadaan mereka saat itu, sama sekali ngga mempengaruhi gue.
Tapi setelah kejadian di perpustakaan beberapa tahun lalu, semuanya jadi berbeda. Bener kata Suci “Your bestfriend is the one who bring out the best in you”, dari Suci dan Alin gue dapet ketulusan dari sebuah persahabatan.
* * *
Mencari teman itu mudah, tapi yang namanya mencari sahabat itu susah banget. Mudah—mudahan persahabatan aku, Tarra dan Alin yang sudah dibangun bertahun-tahun ngga akan mudah hancur begitu saja. Memang sih dari Arun dan Zea aku banyak belajar menjadi lebih baik, tapi aku sendiri belum mendapatkan suatu ikatan persahabatan dari mereka, sampai sekarangpun aku masih berteman baik dengan mereka. Meskipun aku, Tarra dan Alin kadang suka berbeda pendapat tapi kami bisa saling mengisi. Mudah-mudahan merekalah sesunguhnya sahabatku.
* * *
Sejak berteman dengan Tarra dan Suci gue jadi lebih baik lagi dalam memandang hidup. Suci bilang “Feel good about yor friend”. Iya sih selama ini gue terlalu berprasangka buruk dan terlalu menganggap diri gue ini ngga pantas hidup di dunia, dan menganggap ngga ada satupun orang yang benar-benar mau bersahabat sama gue. Padahal itu cuma pikiran yang sama sekali ngga benar. Ternyata perkataan Tarra sangat berpengaruh juga, “ A person who have no friend, lives only half way.”
Thanks may bestfriend you’ve change my life!!!
***
“Gimana, Tar? udah ketemu Karin?” tanya Suci.
“Belum!” jawab gue.
Gue, Suci dan Alin sedang menunggu pesanan makan siang kami di sebuah kafe di pinggiran Jakarta. Kebetulan, hari ini honor pertama Suci keluar, dia berjanji akan mengajak kami makan sepuasnya di kafe langganan kami sejak semester lima, waktu kami kuliah dulu, kira-kira dua setengah tahun lalu. Sekarang Suci bekerja sebagai seorang scriptwriter di sebuah program televisi di sebuah stasiun TV swasta.
Gue sendiri sekarang sedang bekerja sebagai marketing di sebuah provider laptop ternama di daerah Jakarta Barat. Sedangkan Alin sedang melanjutkan kuliah S2-nya di universitas yang berbeda. Awalnya gue ngga menyangka, kalau Alin lulus sarjana dengan predikat cumlaude. Sama sekali ngga ada yang menyangka hal itu. Gue bangga melihat Alin yang sekarang. Dia menjadi orang yang sangat percaya diri dan terbuka. Menjadi orang yang selalu positif dalam berfikir. Tidak seperti beberapa tahun lalu saat pertama kali gue mengenalnya.
“Jadi dia belum lulus kuliah juga?” tanya Alin.
Gue menggeleng ragu, “gue denger dari Vanes begitu.”
“Jangan-jangan dia malu ketemu sama lo, Tar?” ujar Suci.
Gue cuma mengangkat bahu. “Buat apa dia malu ketemu gue.”
“Ya, inget khan dulu gimana dia dan teman-temannya mencaci maki lo saat lo membelot dari Karin dan gengnya itu, dan ngga ngakuin lo lagi sebagai bagian dari mereka,“ ujar Suci sambil menyeruput segelas jus mangga.
Gue hanya menggeleng mendengar penuturan Suci sambil mendesah, “udahlah. Itu masa lalu. Hmm, padahal gue mau bantuin dia, gue denger dari Vanes dia lagi butuh pekerjaan untuk biaya kuliahnya. Kebetulan di kantor gue lagi butuh karyawan.”
“Maksud lo apa?” tanya Alin penasaran.
“Gue juga kurang tahu jelas, katanya kondisi ekonomi keluarganya lagi carut marut, makanya Karin lagi butuh banget pekerjaan.”
Tiba-tiba ponsel gue berbunyi.
“Halo Tarra! ini gue Karin!” suara yang berbeda dari yang gue dengar beberapa tahun lalu. Kali ini suara Karin terdengar begitu lembut dan bersahabat. Ngga nyaring dan ngga terdengar membentak-bentak seperti dulu.
“Iya Karin! gue ngga mungkin lupa sama lo, koq!”sahut gue. “Lo khan bestfriend gue!”
Ada sebuah kelegaan muncul saat gue menyebut Karin sebagai bestfriend gue. Ada satu pelajaran lagi yang gue baru pelajari. Walaupun Karin dulu sempat mengenyahkan gue dari daftar temannya, tapi saat ini justru gue lega bisa kembali komunikasi dengan Karin. Semoga ini akan menjadi awal yang baru bagi hubungan pertemanan gue dengan Karin yang sempat retak beberapa tahun lalu.

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Leave a comment

Your comment