Ibu kucing

(Eko Bimantara)

eko s bimantara

Saya baru, baru saja, ngga ada lima belas menit tadi, diceritakan sebuah cerita singkat tentang kucing yang…. sulit dipercaya… tapi karena saya menganggap bahwa ini sangat menyentuh, saya akan ceritakan ulang disini.

Terima kasih sebelumnya kepada Sidik yang telah menceritakan kisah singkat ini pada saya.

Sore hari, tempatnya dipinggiran jalan, tempat para pedagang makanan berjualan. Salah satu diantara deretan tenda, terdapat pedagang pecel lele. Panggil saja pedagangnya ‘Mawar’ (bukan nama sebenarnya…), sore itu ia telah selesai berdagang, setelah seharian berjualan dan sudah waktunya tutup, Mawar bersiap untuk membereskan tendanya, dan pulang untuk membagikan hasil pencahariannya untuk keluarga.

Mawar memiliki, atau lebih tepatnya mempunyai seorang teman yang selalu mendampinginya ketika berjualan, yaitu seekor kucing, kita panggil saja ‘Melati’ (juga bukan nama sebenarnya….)

Melati adalah kucing betina yang selalu ada ditenda Mawar ketika sedang berjualan, mungkin karena Mawar selalu memberikan rizkinya pada Melati, berupa makanan gratis, sisa makanan pelanggan atau sisa hasil masakan Mawar. Mawar senang mendapat teman seperti Melati.

Pada sore itu, Melati si kucing betina sedang dalam masa senang-senangnya. Karena ia baru dianugrahi tiga ekor anak, yang dibapaki oleh kucing jantan berwarna kuning. Seperti layaknya kucing jantan, melawan takdir apabila mereka bersama mengurus keluarga, jadi pergilah si bapak entah kemana, tinggalah Melati bersenang-senang dengan ketiga anaknya sendiri.

Ketiga anaknya sudah beranjak dari bayi merem menjadi anak-anak kucing bandel yang sedang belajar berlari. Kegiatan mereka seharian penuh adalah: Lari, cakar-cakaran, menyusu, tidur, bangun dan lari lagi. Warna bulu mereka bagus, satu diantaranya memiliki bulu berwarna abu-abu dengan totol kuning dan hitam, kedua yang lain meniru bapaknya yang berwarna kuning loreng.

Mawar si pedagang kadang selalu direpotkan oleh mereka. Tapi ia bukanlah orang membenci kucing, malah Mawar senang memiliki teman, apalagi yang lucu-lucu seperti mereka bertiga. Ia hanya kadang dibuat susah ketika tendanya sedang ramai pelanggan, dan ketiga cilik ini tidak bisa berhenti bermain. Selalu membuat resah pelanggannya.

Melati tampak bahagia dengan ketiga anaknya, tapi selalu tampak khawatir dengan tingkah mereka bertiga yang selalu berlarian kesana-kemari. Kekhawatiran itu membuatnya selalu menunggui anak-anaknya tidak jauh dari tempat mereka bermain. Karena rasa ingin tahu ketiga anaknya memang sedang memuncak pada saat ini, dan itu berbahaya…

Benar saja…

Sore itu ramai lalu lalang kendaraan didepan tenda-tenda para pedagang. Mawar sedang berkemas untuk pulang, ia tidak melihat ketiga anak Melati yang sedang bermain di atap tenda terpalnya, dengan diawasi oleh si ibu di pagar bagian belakang tenda, dekat mereka bertiga.

Mawar yang selalu mengerjakan apa-apa dengan cepat tidak menyadari keberadaan mereka di atas sana…

Sampai ia membongkar penyanggah tenda terpalnya…

Terpal miring…

Ketiga anak Melati kaget dan merosot dari atas sana…

Jatuh serempak ke jalan raya…

Secepat kilat kejadian tragis itu terjadi…

Sebuah sepeda motor yang berlaju cepat…

melindas mereka bertiga…

……..

Mawar sontak terkejut…

……..

sesaat tak tahu apa yang harus ia lakukan…

……..

beberapa saat ia melamun karena masih shock…

lalu sadar terhadap keributan lain dari atap terpalnya…

ia lihat diatas sana….

dan sontak lebih kaget lagi…

Melati si ibu ketiga kucing naas itu…

mengeong-ngeong keras sekali…

sambil mencakar-cakar tenda Mawar…

hingga robek…

seperti kucing gila ia mengeong-ngeong ganas…

Mawar buru-buru membereskan tendanya…

dengan tetap memikirkan untuk menguburkan ketiga anak kucing tadi…

setelah selesai dengan tendanya ia lalu mengambil jenazah ketiga anak kucing Melati dan menjauhkannya dari jalanan…

tiba-tiba Melati sudah ada disampingnya, mengeong-ngeong marah…

……..

Saya yang sudah kaget dan tidak percaya mendengar cerita ini, lebih kaget dan tambah tidak percaya lagi mendengar bahwa:

………

Dari mata seekor kucing, menetes air mata…

………..

Sambil mengeong-ngeong keras kepada ketiga jenazah anaknya….

seekor kucing menangis…..

……..

… sosok ibu….

menangis….

Eko S Bimantara

Juli 2010

Tertarik dengan yang ini?

  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya #8_Piring Makan Jingga
  • Petualangan Jonah

Leave a comment

Your comment