Menulis, Menggiat, Menggondrongkan diri lalu botak lagi
(Eko Bimantara)
Terakhir kali saya aktif dan giat dikampus adalah ketika saya menjadi panitia di PERMASARU (Perkenalan Mahasiswa Baru) tahun 2008, OSPEK-nya Mahasiswa Seni Rupa UNJ (IKIP Jakarta kalau dulu).
Di kegiatan ini saya bertindak sebagai salah satu panitia yang memegang peranan pusing…. disini atau mungkin dimana-mana kalau jadi panitia kegiatan, konsekuensi yang harus siap dihadapi kalau tidak pusing ya capek, tinggal pilih, mudah-mudahan bisa memilih karena banyak teman yang kena imbas kedua-duanya… jadi beruntunglah saya karena saya hanya pusing saja, tidak secapek teman-teman panitia yang lain. Saya mem-PERMASARU-kan anak yang baru masuk dan terdaftar sebagai mahasiswa Seni Rupa angkatan 2008, dan sadar, kalau ternyata anak-anak baru itu memang benar-benar terlihat polos, lugu nan linglung, mungkin sama seperti saya dulu ketika ada di posisi mereka, selalu menjauhi kerumunan anak kampus gondrong seram yang nongkrong-nongkrong sambil melihat galak ka arah saya. Lalu posisi itu berganti, saya adalah anak kampus yang gondrong-gondrong nongkrong itu sekarang, tapi saya ragukan apakah saya ini galak atau tidak…
Budaya yang turun temurun di Seni Rupa UNJ/IKIP adalah bahwa proses pengenalan mahasiswa baru yang diadakan tiap tahun ini amatlah sakral, saya ulangi ‘SAKRAL’. Jadi saya selaku salah satu orang yang bertanggung jawab mengemban tugas sakral ini haruslah sangat serius untuk menjalaninya.
Kebetulan saya bertanggung jawab untuk mengelola acara, jadi saya harus menganggap diri saya adalah orang paling pertama yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi di PERMASARU ini , apa yang harus diselenggarakan, bagaimana semuanya bisa sukses, bahkan saya bekerja lebih dengan mencoba menjabarkan esensi dari ‘Perkenalan Mahasiswa Baru’ ini, dan mengolah pola acara terdahulu untuk di elaborasikan dengan baik, agar acara ini bukan hanya dianggap sukses dalam keberlangsungannya, namun juga sukses dalam proses mendekatkan anak-anak baru kedalam dunia Seni Rupa yang ajaib, bahkan lebih jauh dari itu saya juga berpikir bahwa saya disini adalah orang yang bertanggung jawab dalam membangun mental mereka sejak dini untuk benar-benar dengan serius memaksimalkan potensi besar yang mereka miliki agar bisa dikembangkan dengan baik ditempat ini.
Mungkin kalau ada dosen yang lihat tulisan saya yang satu ini saya bisa cepat lulus…
Maka dimulailah hari itu dengan saya yang kurang tidur, kuliah berantakan, mata merah, rambut bau, dan gigi kuning nikotin ini memaksakan diri untuk membuat coretan-coretan kecil tentang susunan acara PERMASARU 2008. Memang benar-benar pekerjaan yang bikin pusing dan menyita waktu….sialan…
Singkat sesingkat-singkatnya cerita, akhirnya PERMASARU 2008 ini berlangsung sukses! Saya senang! Anak-anak baru itu jadi botak-botak dan senang! Teman-teman panitia yang lain pun lusuh, sekarat, dan berkeringat tapi juga senang! Mudah-mudahan semuanya senang! Karena akhirnya semua kenal satu sama lain, semua ikut berpartisipasi, semua capek dan budaya sakral ini pun telah berhasil dijalankan.
Tapi saya masih memiliki satu tugas penting dari diri saya sendiri, tujuan khusus saya, yakni mengamati mental para anak OSPEK saya itu dalam mengembangkan potensinya dalam berkeseni-rupa-an. Saya harus peka terhadap apa yang sedang, akan dan telah mereka lakukan setelah selesai menjalankan ritual mereka untuk menjadi anak Seni Rupa baru, untuk melihat apakah yang telah saya lakukan ini sukses atau tidak.
Selang beberapa bulan, datanglah sebuah kejadian yang membuat saya bangga sekaligus kecewa…
Dua orang Mahasiswa baru Seni Rupa angkatan 2008 memberikan saya sebuah majalah gratis yang dia buat berdua…
Nama majalahnya Free Hardzine.
…setelah selesai membacanya, pada saat itu juga saya mulai berpikir…
lalu kembali membaca-baca lagi majalah itu…dan berpikir lagi….baca-baca lagi…
berpikir lagi…
Isi tulisan majalah ini bagus!!!!!
Pada saat itu juga saya langsung kaitkan kejadian itu kepada sebuah kesimpulan analisa dalam
tugas pengamatan saya terhadap anak baru… dan saya bangga luar biasa, karena saya bersama teman-teman panitia lain yang bekerja selaku fasilitator dan moderator penggemblengan di PERMASARU telah berhasil membuat mental seorang anak baru untuk berani unjuk potensi dengan kesadarannya sendiri! Itulah mental yang memang harus muncul dari Seni dan pelaku Seni, unjuk gigi!
Ya! Saya dengan egois berani berkata bahwa saya berhasil!!!!
….tapi…sepertinya ada yang aneh….saya coba berpikir lagi….
dan majalah yang saya pegang itu kembali saya buka…
dan kali ini saya lihat-lihat…
kembali berpikir…saya lihat-lihat lagi…berpikir…lihat-lihat…
Pada saat itu kebanggaan saya luntur menjadi luluhan kecewa…rasanya seperti ditegur malaikat karena telah sombong…
Saya kecewa karena sebuah alasan logis yang simpel,
desain majalah ini jelek…
Tiba-tiba ada dilema dalam pikiran saya, seperti ada dua sisi saya yang sedang berbincang:
“Loh…kok saya jadi pesimis gitu?”
“Iyalah! karena saya merasa dia adalah mahasiswa Seni Rupa, kalau mau berunjuk gigi pertama kali ya harusnya kemampuan seni rupa-nya dong…”
“Tapi kan tetaplah itu merupakan sebuah prestasi, anak baru udah berani bikin ‘gara-gara’! Dan ‘gara-gara’ itu juga inovasi! Bangga dong!”
“Ya tapi kan, kita disini belajar Seni Rupa, bukan tulis-menulis…inovasi itu hanya akan menjadi penghambat dia dalam mengembangkan potensi pilihannya…takut-takut malah nanti dia keluar dari jalur ini dan menekuni inovasi-nya itu…”
“Tapi kan…”
“Alah…sudahlah…saya sudah gagal…”
Ya..itulah yang saya rasakan….sedih sekali rasanya…perasaan atas kegagalan itu mambuat saya berhenti mengamati mereka, dan memproklamirkan bahwa tugas saya sudah usai…dengan kegagalan.
Sekarang lebih baik saya memikirkan diri saya sendiri… yang pada saat itu masih ingin santai nongkrong-nongkrong…gondrong…
Itulah masa-masa romansa saya sebagai aktivis kampus, dengan sepercik dilemanya. Sekarang saya bukanlah aktivis kampus lagi, walaupun masih banyak yang mengajak dan menyemangati, namun saya sudah merasa cukup untuk menjadi mahasiswa yang tidak aktif giat dikampus, untuk memberi kesempatan gemilang ini kepada teman-teman yang lain.
Sekarang saya botak, dan berada sedikit lebih jauh dari kampus. Giat menjadi individu yang bisa dibilang lebih egois dari saya yang dulu, karena saya sedang senang dengan apa yang sedang saya jalani untuk diri saya sendiri. Malah-malah sangking senangnya, saya jadi terlalu sombong karena berpikir saya sudah tidak membutuhkan ilmu lagi untuk mengembangkan dan mendalami potensi saya dari tempat awal saya menempa ilmu itu…ya ampun…
Setelah sekian lama berkemelut dengan kenyataan itu sembari bersenang-senang dengan diri sendiri, akhirnya baru saya sadari bahwa si anak baru yang membuat majalah itu ternyata memberikan sebuah inspirasi bagi saya, inspirasi yang membuat saya kembali berpikir bahwa kemampuan seseorang memang selalu akan ada dan terus berkembang tanpa perlu dipagari oleh paradigma benar dan salah. Apa yang akan seseorang lakukan terhadap kemampuannya itu bukanlah melulu berupa keputusan yang harus dia ambil dan menutup jalan untuk kemampuan lainnya, tetapi lebih tepatnya itu merupakan sebuah ‘peluang’ yang bisa dia jalani berbarengan seiring dengan kemampuan-kemampuannya yang lain.
Permasalahan bagaimana dia bisa muncul dengan potensinya bergantung kepada bagaimana ia berproses.
Saya merasa jadi seperti profesor dengan pemikiran ini, dan kian sulit untuk kembali kepada dunia tempa-menempa ilmu bernama kampus itu lagi….
Aduh!!!…saya jadi seperti ditampol sama malaikat kali ini…
Bukankah dulu saya yang berpikir bahwa potensi itu akan hanya hidup dan berkembang di tempat yang tepat?
Bukankah dulu saya yang berpikir bahwa potensi itu harus di maksimalkan dan jangan sampai munculnya potensi lain malah akan mengganggu?
Bukankah saya yang berpikir bahwa anak seni rupa ya harus muncul dengan seni rupa-nya?
Lalu sepertinya si malaikat seperti menggebuk saya dengan bangku besi seperti di acara gulat internasional ‘Smack Down’….karena tiba-tiba anak baru yang membuat majalah dulu itu muncul di hadapan saya dan menyapa, dia masih tetap menulis dan tulisannya semakin bagus, membuat majalah, kuliah, giat di kampus dan tidak sombong….saya langsung berkaca…
dan menyadari bahwa saya juga sedang menulis…
Haha, ya benar, seorang manusia memang akan berkembang…
Dari botak…gondrong lagi…botak lagi…gondrong lagi…botak lagi….gondrong lagi kali ya?
Eko S Bimantara
Mei 2010













