Taman Sore

(Eko Bimantara)

Eko S Bimantara

Cinta itu tak terduga….

Ia dapat muncul dari balik layar penghias sepi…

Penerang dalam kabut selimut misteri…

Membuncah disela-sela hingar-bingar nuansa hati…

****

Willy berjalan sendiri di taman kota, tempat biasa ia meluangkan waktu untuk bernafas dalam liburan, melepas kepenatan hari-harinya. Taman itu hiburan untuknya, melihat orang-orang berwajah ceria lalu-lalang, tawa anak-anak kecil yang sedang berlarian, sapaan penjual pernak-pernik berwajah ramah, tempat minum teh dibawah teduh pohon rindang yang nyaman dan langit cerah dihiasi awan indah disertai sepoi angin sore yang melengkapi. Willy selalu ingin sendiri bila sesekali waktu seperti ini bisa menikmati semua itu.

Dengan kesendiriannya, ia serasa bebas untuk dihampiri semua kenikmatan tanpa terganggu…………….

Leandra gundah, untuk kesekian kalinya ia melirik nadi pergelangan tangannya, yang disitu melingkar jam tangan mungil, menunjukkan waktu sudah pukul empat, membuatnya tambah resah. Sudah hampir setengah jam sendirian ia berada didepan kafe di taman kota, dengan berganti-ganti gaya berdiri, sambil sesekali meregang dan memijit bagian tubuhnya yang pegal. Hari ini adalah penutup liburan panjang melelahkan yang tidak menyenangkan baginya. Leandra sudah jauh-jauh hari merencanakan pergi ke luar kota, dengan niatan memuaskan nafsu untuk menyapa dunia non-metropolis-nya, pergi jauh dari tempat yang selalu merajam ganas waktu, tenaga dan pikiran setiap individu yang mencoba bertahan hidup di kota. Namun apadaya, rencana itu gagal, karena alasan klise yang lagi-lagi seperti musuh bengis yang selalu menghadang….waktu.

Sekarang ia ada disitu, bergundah resah di sore yang riuh, sambil memijit bengkak di betis kakinya…………

Willy memutuskan untuk mengakhiri petualangan sorenya dengan teh hangat di tempat yang biasa ia singgahi. Jepret terakhir kameranya untuk mengabadikan anak-anak kecil yang berlarian menyudahi kegiatan liburan menyenangkan sore itu. Duduk ia disalah satu meja di pelataran kafe, menghela nafas, memasang tutup lensa kameranya sambil melepaskannya dari tempat mengalungnya dileher, mengusap mata yang lelah dan membalas senyum sapa hangat pelayan kafe…………

Lelah Leandra mencapai batas, ia harus istirahat, tempat duduk adalah yang pertama terbesit dipikirannya. Melihat sekeliling ia mencari dimana ia bisa memanjakan kakinya yang meronta. Tidak ia lihat satupun tempat duduk di taman ramai itu selain meja-meja berkursi milik kafe di pelataran depan tempat ia berdiri. Sedari tadi Leandra memang tergiur untuk melepas lelah, mungkin hanya dengan memesan segelas minuman dingin sambil meregangkan kaki dikursi yang nyaman itu, selesai perkara. Namun pikirannya hanya ia anggap godaan, seharusnya ia tidak punya waktu untuk itu, karena seharusnya ia memang tidak perlu berdiri menunggu.. Ia merogoh tas jinjingnya, menarik sebuah telepon seluler, dengan cepat memijit tombol-tombolnya, lalu menempelkannya disamping telinga. Wajahnya tetap mengernyit kesal, karena ia tidak berbicara apa-apa lewat telepon genggamnya…………….

“Pesan yang biasa pak?” tanya si pelayan kepada Willy, nada ramah si pelayan yang ia kenal itu makin membuat sorenya sempurna.

“Iya pak, tah hangat biasa ya” balas Willy lembut, bereaksi terhadap nada ramah si pelayan. Si Pelayanpun pergi meninggalkan Willy dengan seutas senyum. Sambil bersantai, Willy meraih kamera digital miliknya, menekan tombol ‘play’ pada bagian belakang kamera, lalu asik melihat hasil karya potretnya sambil tersenyum-senyum sendiri…….

Leandra mematikan ponselnya dengan kekuatan jempol yang bisa memecahkan batu. Itu lebih baik daripada membantingnya, seperti kisah ponsel malangnya dulu… Kesalnya menjadi-jadi, membuat sakit dikakinya menang dari kesetiaannya terhadap waktu. Ia akan duduk dan memesan minuman dingin!

Namun cobaan selanjutnya muncul merayap memukul batin Leandra, seluruh meja pelataran kafe sudah penuh, tidak ada tempat kosong untuknya, Leandra mengutuk angin………………

Willy terkekeh riang, melihat satu jepretannya berhasil menangkap momen seorang anak kecil sedang menggerecoki pedagang asongan. Terlihat disitu raut wajah si bapak pedagang yang manyun kesal karena dagangannya ditarik-tarik oleh tangan jail si anak kecil……………

Leandra sontak melihat ke arah seorang laki-laki yang terlihat disalah satu meja, heran melihat si laki-laki yang tertawa-tawa sendiri, sontak pula pikirannya melaju kepada ketiga kursi kosong di meja tempat si laki-laki tertawa, sambil melirik-lirik kursi-kursi di meja-meja lain yang sudah berisi, Leandra menarik nafas………………..

Tawa Willy memelan seiring pergantian tayangan foto yang ia simak dilayar penampil gambar pada kamera digitalnya. Namun tetap ia senyam-senyum sendiri melihat foto-fotonya yang lain.

Lalu senyumnya pudar, karena seorang wanita yang datang entah darimana duduk didepannya tiba-tiba.

Alis Willy mengangkat.

Si wanita menghela nafas panjang.

Willy terdiam.

Si wanita belum berkata apa-apa semenjak ia berada dikursi satu mejanya.

Beberapa saat Willy menunggu.

Sambil mengira-ngira kalau-kalau ia mengenal si wanita itu.

“Boleh duduk disini?” tanya si wanita akhirnya memulai.

Pertanyaan yang terlambat itu membuat Willy berkesimpulan bahwa mereka memang sama-sama tak saling kenal.

“Oh ya, silahkan…” balas Willy sebisanya…………….

Leandra lega… akhirnya! Walaupun dia harus mempermalukan diri dihadapan seorang lelaki yang tak dikenalnya.. ‘lebih baik daripada betis yang pecah’ pikirnya. Ia mengambil tissue dari dalam tas jinjingnya, mengusap keringat diwajahnya, lalu kembali pada si laki-laki yang terdiam setelah ucapan terakhirnya.

“Sore yang indah ya…” ucap Leandra…

Ia harus mengatakan sesuatu agar memancing pembicaraan, karena ia sedikit merasa bersalah melihat diamnya si lelaki.

“..oh…ya…iya..” jawab si lelaki terbata-bata, membuat Leandra menjadi merasa bodoh, karena ia merasa yang keluar dari mulutnya tadi itu salah dan ia telah membuat situasi menjadi makin kikuk…

Beruntung tiba-tiba pelayan kafe mendatangi mereka, membawa secangkir teh, lalu menaruhnya dimeja, sepertinya pesanan si lelaki.

“Pak, ‘Iced blended coffee’-nya satu..” ucap Leandra pada si pelayan, “jangan lama ya” lanjutnya. Setelah mencatat, si pelayan pergi lagi, dan kembalilah mereka berdua, dalam diam…………..

Willy jadi linglung, karena ia bingung bagaimana harus menanggapi situasi ini. Tak berhenti ia memikirkan maksud kata-kata si wanita tentang ungkapan ‘sore yang indah’ itu, tanpa berani menanyakannya kembali.

“Kamu fotografer ya?” tanya si wanita tiba-tiba, membuat Willy sadar bahwa ia telah melupakan kamera yang ia pegang.

“Oh iya…eh..enggak kok…ini cuma hobi saja” jawab Willy dangan kikuknya, diakhiri dengan senyum kaku menjawab pertanyaan kaget yang tiba-tiba itu, namun ia tersanjung dengan apresiasi si wanita yang perlahan membuatnya sedikit percaya diri.

“Aku memang senang memotret suasana disini, apalagi saat hari libur kayak gini” lanjut Willy.

“Aku juga suka motret” ucap Leandra menyambut perkataan Willy.

“Oh ya?” tanya Willy

“Iya dulu, waktu jaman kuliah, kalau sekarang sudah jarang, mmm…sudah ngga pernah malah, ga sempat”

Ucapan si wanita diakhiri dengan senyum dan tawa kecil, yang membuat suasana diantara mereka berdua akhirnya cair, walaupun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dibenak Willy……….

Leandra lega, akhirnya ia bisa membuat si lelaki tersenyum, pertanyaannya tepat, ia berhasil membuat si lelaki akhirnya melepas keraguannya untuk berbicara. Tak lama si pelayan kafe datang dan menyajikan pesanannya. Tanpa basa-basi, ia seruput pemuas dahaganya itu dengan rakus.

“Lelah sepertinya..?”

Tanya si lelaki, tak terduga oleh Leandra.

“Iya nih..” jawabnya setelah menghabiskan tiga per-empat isi gelasnya lalu tertawa kecil.

“…aku capek banget seharian ini keliling kota, tuntutan kerjaan, aduh memang kalau hari libur kita masih dituntut kerja begini, terasa banget capeknya…minta ampun…” lanjutnya. Rasa lega membuat Leandra dapat berpikir jernih dan merasa lebih lihai dalam bertutur kata.

“Oh iya, aku Leandra, panggil saja Lea”……….

Terjawab satu pertanyaan dibenak Willy sebelum harus ia utarakan secara langsung. Nama yang indah..pikirnya.

“Willy” jawabnya dengan senyum sambil menjabat tangan Lea.

“Free Willy?” ucap Lea renyah, disambut tawa.

Willy pun tertawa.

Ia semakin nyaman dan perasaan kikuk itu lenyap sudah.

“Oh iya, tadi aku lupa mau nanya, sebelumnya aku lihat kamu dari jauh tertawa-tawa sendiri, melihat-lihat isi kameramu itu, memang kamu memotret apa sih?” tanya Lea.

Willy tersenyum dan makin tersanjung karena merasa telah diperhatikan,

“Oh, ini..” jawabnya sambil memperlihatkan layar kamera digitalnya kepada Lea.

Kamera kesayangannya berpindah ke tangan Lea, sambil diam-diam memperhatikan ekspresi yang tersirat dari air wajahnya.

“Wah bagus loh!” ucapnya kepada Willy. “Kamu sepertinya memang fotografer handal ya?” ucap Lea penuh gairah melihat foto-foto itu, Willy hanya membalas dengan senyum, semakin senang rasanya ketika Lea tertawa saat sampai pada foto si anak kecil jail.

” …ini lucu! Sumpah! Lucu! Ahaha”

Willy tersenyum puas, mendapat apresiasi yang sebegitu hebat dari wanita asing seperti Lea, membuat sorenya makin luar biasa.

“Kamu hebat Wil, fotomu bagus, aku suka!” lanjut Lea setelah selesai dengan kamera Willy.

“Terima kasih” jawab Willy singkat, dengan senyum senang terlukis cerah diwajahnya……..

Leandra tidak main-main, ia memang kagum dengan karya Willy. Seperti kata-kata yang keluar dari bibirnya, ia menjadi lebih jujur dengan kenyamanannya sekarang.

“Aku pikir kamu tadi orang aneh loh, hihi, tapi ternyata aku juga pasti akan tertawa sendiri kalau melihat fotomu ini” ucapnya diakhiri senyuman lebar kepada Willy.

“Ahaha..ga apa-apa, sudah biasa kok dibilang begitu” ucap Willy, membuat Leandra kembali tertawa.

Akhir tawa Leandra menciptakan sunyi diantara mereka berdua.

Sesaat Leandra tertahan terpaku pada momen itu..

Saat pandangan mata mereka bertemu..

Dunia hening seketika..

Leandra bisu..

Ia bisa mendengar degup jantungnya berdetak seiring waktu..

Sedetik,

dua detik,

tiga detik,

empat…dan akhirnya ia terlepas karena seorang pejalan kaki menyenggol kursinya tidak sengaja. Mendadak Leandra salah tingkah, sesaat bola matanya gelincatan kemana-mana, lalu akhirnya ia memutuskan untuk kembali meminum ice coffee-nya, tanpa mengetahui rona merah yang muncul menggradasi dipipinya tak bisa bersembunyi……..

Willy merasakan sesuatu yang luar biasa, namun ia kini beruntung dapat menjadi pihak yang bisa menguasai diri. Sesaat saja tadi ia mendapat sebuah gempuran debar dahsyat melanda hatinya. Getar yang dulu ia pernah rasakan itu kini muncul kembali, setelah sekian lama ia lupa bagaimana rasanya..

Rasa itu menyeruak muncul dari dada, menyusup dan menggelora keseluruh aliran darah, membuatnya sesaat bahagia……..

Leandra tak tenang, batinnya tak karuan. Walaupun perhatiannya sudah teralihkan, namun tatapan Willy masih membayang dibenaknya..

Tanpa ia mengerti kenapa……

Willy membaranikan diri untuk memperhatikan Leandra, dan tersadar bahwa saja bukan hanya namanya yang indah………

Leandra canggung untuk mengangkat wajahnya, sesaat ia melihat Willy yang menatapnya, sesaat kemudian tatapannya berpaling ke arah lain, dengan batin yang makin menjadi tak karuan-nya…sekarang ia tidak hanya sekedar kagum, ada yang lain..

lebih dari itu…………

Willy mencoba tetap memperhatikan Lea, tanpa kata……..

Leandra terpesona dengan ketenangan itu, tak bisa bicara……..

Willy mengerti……..

Leandra berharap……..

Willy memulai………

Leandra siap………

“Kamu punya nomor handphone?” tanya Willy……..

“Mmm..ada…kenapa?” sambut Leandra dengan gugup, padahal kata-kata Willy sudah terdengar sesuai harapan…….

“Aku kira kita bisa membincangkan banyak hal…dilain waktu, karena aku sendiri tidak bisa lama disini” ucap Willy tenang, dengan senyum ramahnya……

“Ouh…oke….sebentar ya…” ucap Leandra, yang lalu kembali merogoh tasnya, dikeluarkannya secarik kartu nama……..

“Terima kasih” ucap Willy dengan senyuman yang tidak berubah, sambil menerima pemberian Lea……..

Leandra sebenarnya kecewa, kenyamanannya terganggu dengan ucapan Willy yang tidak bisa berlama dengannya, masih ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan disitu..

Rasa ingin tahunya belum terpuaskan..

Risau hatinya belum terobatkan..

Perpisahan malah akan memperparah, ia tahu itu……….

Teh Willy sudah dingin, sama sekali ia tak hiraukan semenjak beranjak dari nampan si pelayan dan menganggur di mejanya, tanpa pula ia sadari hingga sekarang saat ia siap beranjak pergi..

“Sampai ketemu” ucapnya sambil berdiri, lalu melangkah…berat…menjauh dari meja mereka………

Leandra terpecut senang dengan ucapan terakhir Willy..

“Iya, sampai ketemu” balasnya dengan senyum gembira……….

Willy pergi……….

Leandra sendiri……….

‘Sungguh sore yang sempurna’ pikir Willy……….

‘Ya ampun…rasa itu kenapa muncul tiba-tiba…?’ membatin Leandra………..

Willy merogoh kantung celananya………..

Leandra meraih ponselnya yang bergetar…………

Willy menarik keluar dompet………..

Leandra mengangkat telepon yang memanggilnya………..

Willy membuka dompetnya..

lalu menatap foto istri dan anak-anaknya………….

Leandra berbicara dengan suaminya..

Mengeluh karena telah menunggu lama………….

****

Langit sore itu kini merah berlembayung…

Riuh rendah keramaian taman semakin mereda…

Cinta memang tak terduga…

Eko S Bimantara
Jakarta, Juni 2010

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI
  • CINTAKU BERAWAL DAN BERAKHIR DI UJUNG KETAPEL

Leave a comment

Your comment