Dunia tanpa uang
Uang sudah dikenal di sepanjang peradaban manusia. Rasanya, di pelajaran sekolah, aku pernah dengar desas-desus bahwa jaman dulu kala, sebelum ada uang, dikenal sistem tukar menukar yg disebut barter. Kenapa aku sebut desas-desus? Karena tidak disebutkan kapan tepatnya sistem itu digantikan oleh uang, apalagi disebutkan siapa yg memperkenalkan uang untuk pertama kalinya.
Sekarang aku ingin mengajak berkhayal sebentar tentang apa jadinya kita jika uang tidak ada di dunia. Coba sama-sama bayangkan kondisi persis saat ini, hanya saja tanpa uang.
Bayangkan jika makanan ada di pasar, dan kita bebas untuk mengambil tanpa bayar. Pikiran yg pertama muncul adalah pasti akan terjadi kekacauan. Orang-orang akan berusaha mengambil sebanyak2nya, dan orang-orang lapar akan menyerbu pasar. Hmmm… Meskipun masuk akal, menurutku itu salah. Pola pikir gratisan semacam itu murni hasil didikan uang. Tanpa uang, gratisan itu biasa. Maka, kita tetap mengambil secukupnya, sebanyak yg bisa kita bawa, sesuai kebutuhan saja. Utk apa banyak-banyak? Toh besok bisa ambil lagi, dan masih gratis. Masuk akal, eh?
Mau dengar musik? Gratis. Tinggal ambil cd nya di toko, atau download aja. Mau nonton bola? Gratis. Memang agak rumit mengatur tempat duduk di stadion tanpa jualan karcis, tapi percaya deh, pasti ada jalan keluarnya. Yg pasti, ga perlu bayar TV berlangganan. Semua orang bisa makan enak, dengar musik, nonton bola. Gak perlu lagi ada lisensi, dan ga perlu lagi ribut2 soal pembajakan.
Analogi yg cukup dekat adalah dunia maya. Disana kita bisa dapat info, mengunduh file, hampir semuanya gratis. Tapi, semua kegratisan itu ga membuat orang jadi serakah. Jumlah giver masih sangat cukup untuk mengimbangi para taker. Orang-orang tetap ingin berkontribusi semampunya.
Hey, dunia tanpa uang ternyata menyenangkan.
Sekarang tiba di bagian yang sulit. Kalau musik gratis, siapa yangg nyanyi? Gampang, pasti orang yangg hobby nyanyi. Siapa yang main bola? Pasti yang hobby. Kalau makanan gratis, siapa yang menyediakan? Pasti yang senang masak. Bahan dasarnya? Dari yang senang nanam. Yang buat softwarenya? Yang hobby programming. Yang antar? Yang senang nyetir, pastinya.
Jadi, sistemnya akan mirip barter, tapi pertukarannya tidak satu barang utk yg lain. Kita kerja saja apa yg bisa kita kerjakan, beri yg bisa kita beri, dan ambil apa yg kita butuhkan. Ingat, tidak perlu berlebihan karena besok masih bisa ambil lagi.
Disini khayalan kita jadi rumit. Apakah ada cukup penanam padi untuk seluruh negara? Apakah ada cukup banyak pembuat mobil utk melayani dunia? Bagaimana dengan pengrajin barang-barang kesenian yang langka? Mana bisa melayani semua orang? Ada masalah supply dan demand.
Kalau begitu, jelaslah, mengapa kita perlu uang. Uang adalah alat utk mengukur, apakah kita sudah memberi cukup untuk menerima. Apakah kita sudah bekerja cukup berguna untuk dinikmati oleh orang lain. Maka, penyanyi yang lebih merdu dapat uang lebih banyak. Pemain yang lebih jago jg begitu. Pun programmer yang baik.
Setelah memberi cukup banyak dan cukup guna, kita mendapat (uang) lebih banyak. Nah, sekarang kita punya pilihan dan alat. Apakah mau mengambil lebih banyak (membelanjakan uang tsb), atau mau memberi lebih banyak lagi.
Maka, benarlah peribahasa: si kaya makin kaya. Kalau kita memberi banyak, kita bisa memberi lebih banyak lagi. Sedangkan, kalau kita memberi sedikit, ya hanya segitulah pemberian kita.
Jadi, meskipun dunia tanpa uang terlihat menyenangkan, dunia dengan uang itu jauh lebih adil. Asalkan kita menjadikan uang itu alat ukur dan sarana, bukan tujuan.













tulisan yang bagus…. so keep on writing