Menilai sebuah buku, menilai sebuah situasi
Di jaman sekarang ini, di jaman marketing sudah begitu maju dan pentingnya, sampul buku dan penampilah buku rasanya sudah menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya dengan isi bukunya itu sendiri. Akibatnya, bagaimana sesuatu itu dikemas bisa jadi lebih penting dari sesuatunya itu sendiri.
Kalau dilihat di hal-hal lain selain buku, rasanya ini juga berlaku benar adanya. Sering banget gue denger orang bilang: “IYA SIH…. dia bener… tapi…. CARA-NYA jangan gitu dong…”. Memang, di banyak peristiwa, cara itu jadi lebih penting dari apa yang bener / esensinya itu sendiri. Gue juga sering lihat orang dirugikan dan jadi setuju hanya karena lawan bicaranya itu menyenangkan, meminta dengan CARA yang baik.
Kayaknya, ini disebabkan kita keseringan nonton film. Di film, selalu gampang. Yang menyebalkan dan jelek, bertampang ganas, selalu jahat. Yang baik selalu menyenangkan, cakep, dllsb. Sampe pada waktu asterix nanya, “Yang mesti dipukul yang mana?”, dijawab: “Gampang, hajar aja yang jelek-jelek” haha…
Karena itu, kita sering menganggap menyebalkan itu ekuivalen dengan salah. Baik itu ekuivalen dengan benar. Saat argumen, orang yang nyolot selalu salah. Yang mengalah adalah yang benar. Yang bertutur kata halus pasti benar. Makanya, kalau ada maunya (meskipun salah), pakailah gaya yang halus, akomodatif, ngomong baik-baik. Maka lebih besar kemungkinan kemauan itu diterima (meskipun salah). Sebaliknya, meskipun benar, pendekatan konfrontatif itu biasanya akan gagal.
Padahal, film-film jaman sekarang aja udah gak pake formula itu. Banyak tokoh protagonis yang menyebalkan.
Maka dari itu hati-hati. Jangan terjebak sama sampulnya, caranya, dan orangnya. Mesti tetap melihat esensinya dan inti permasalahannya. Ada seorang teman yang pernah bilang, mutiara yang keluar dari mulut hewan pun tetap mutiara. Sedangkan kotoran yang dibungkus kertas kado, tetap bau…













izin mau pake yaaa
aku masukan sumber kok.. karena ini pas banget sama tugasku.
makasih ,,