Pelajaran dari Dragon Ball: Tujuan vs Alat

Aku sangat senang sama Dragon Ball. Menurutku, Dragon Ball itu satu serial yang kompleks, dan cowok banget. Maksudnya cowok banget, dari gambar-gambarnya kelihatan yang menggambarnya tuh cowok. Garis-garisnya sederhana, tapi efektif. Mungkin sama dengan Kungfu Boy. Beda dengan serial cantik, Candy-candy, dll, menurutku terlalu indah dan pusing dibacanya.

Terus terang awalnya aku agak malas baca Dragon Ball (DB). Aku tadinya menganggap DB ini mirip serial Denny manusia ikan. Aku menghabiskan hampir seluruh waktu SD ku membaca perjuangan Denny mencari orang tuanya. Pertemuan dengan orang tua Denny ini menjadi tujuan serial ini. Jadi aku sering gemas karena melihat beberapa kali Denny hampir bertemu, tapi selalu gagal. Penyebabnya sederhana. Begitu Denny bertemu orangtuanya, serial berakhir.

Setelah membaca beberapa jilid awal, ternyata benar-benar sama. Songoku mencari DB, dan DB ini menjadi rebutan si baik dan si jahat. Tetapi, aku terkejut dan senang saat DB akhirnya terkumpul oleh King Pilaf, tetapi kemudian dia keduluan Oolong si babi saat menyebutkan permintaannya. Akhirnya, alih-alih mendapat hidup abadi, mereka mendapatkan celana dalam wanita

Dari situ cerita bergulir. Menurutku, yang paling mengubah jalan cerita adalah saat Burma membuat alat pelacak DB. Dengan alat ini, keberadaan bola-bola bisa dideteksi, sehinga bisa dikumpulkan dengan mudah. Dari sini, untuk Songoku and friends, DB berubah dari tujuan menjadi alat. Alat untuk memperbaiki yang salah, menghidupkan yang mati, dan strategizing. Strategizing apa? Untuk mengalahkan lawan-lawan yang lebih kuat dari mereka.

Sejak saat ini, semuanya berubah. Peranan DB berubah, dari sebagai sentral cerita menjadi hanya salah satu aspek dari cerita. Inti cerita jadi berputar di sekitar Songoku yang tidak ingin menjadi yang terkuat, tapi hanya ingin bertemu dan bermain (baca: bertempur) dengan orang yang setara, bahkan lebih kuat dari dia. Songoku tidak ingin menang, membunuh, dan menghancurkan lawannya, hanya ingin tidak kalah dari orang tersebut.

Jadi, hati-hatilah menentukan, yang mana yang tujuan, yang mana alat. Contohnya, coba pikirkan apakah uang, karir, jabatan, itu tujuan hidup kita? Demikian juga dengan hal-hal lain. Apa yang nampak sebagai tujuan, meskipun penting, bisa jadi hanya dragon ball atau alat yang bisa kita gunakan.



Tertarik dengan yang ini?

  • Tidak ada tulisan terkait

Leave a comment

Your comment