Pelajaran dari lensa Nikkor AI 50mm F/1.4: Just because something has a special ability doesn’t mean that speciality should be exploited everytime
Seminggu yang lalu, gue baru aja beli lensa tua (baca: jadul) lewat salah satu forum fotografi. Spesifikasinya adalah: Nikkor AI 50mm dengan F/1.4. Membaca dari internet, lensa ini adalah keluaran / edisi tahun 1977, sebelum Nikkor mengeluarkan seri AI-s, dan kemudian jadi AF, AF-D, dan AF-S. Karena keluaran jadul, lensa ini beroperasi dengan fokus manual dan metering manual. Artinya, kita mesti putar apperture ring di lensa ke nomor yang diinginkan, kemudian, dengan mengoperasikan kamera di mode manual, kita tebak shutter speed yang sesuai dengan kondisi saat itu. Sesudah itu, kita mesti cari titik fokusnya dengan cara memutar lensa, sampai object yang dibidik terlihat tajam.
Susah? Sudah pasti, karena gue baru belajar fotografi. Main metering otomatis dan autofokus aja masih susah, apalagi mesti manual kayak begini.
Lalu, kenapa dibeli? Karena gue sangat senang coba-coba. Apalagi harganya murah, dan setelah melihat hasil foto lensa-lensa seangkatan ini, hasilnya tajam dan warna keluar. Ditambah, lensa ini bisa dibalik jadi lensa macro. Jadi, istilahnya, bisa membunuh beberapa burung dengan satu batu ini.
Alasan lainnya? Bukaan maksimumnya bisa sampai f/1.4! Melihat harganya, antara f/1.8 dengan f/1.4 ini (sama-sama lensa AI 50mm, tentunya) harganya paling beda 200ribuan. tetapi, kalau ngincer f/1.2nya, harganya bisa di atas 2 juta! So, disimpulkan, secara value for money, bolehlah beli lensa ini.
Setelah lensa datang, langsung dicoba dongg…. wahh… bener… sampai hari ini (udah seminggu) masih struggle. Awal-awal, selalu misfocus. Ternyata, gabungan manual fokus dengan f/1.4 yang punya DOF sempit itu benar-benar formula sukses untuk misfocus.
Keadaan mulai membaik setelah Dezig ngajarin liat indikator di viewfinder kalau fokus sudah dapet. Ini solve kalau gue moto mainan Felice, tapi gak solve problem pas moto orang, karena ternyata moto orang itu rumit. Selalu bergerak, dan wajah manusia itu gak datar. Dapet fokus di hidung gak menjamin mata tajem. Akhirnya, gue berdamai dengan setting f/2 untuk moto orang. Itupun masih sering meleset.
Selain ajaran itu, ada 2 peristiwa lain yang membuat gue makin kenal lensa ini.
Pertama, moto macro. Tadinya gue sangat bangga dengan f/1.4, sehingga, sebisa mungkin apperture ring gak digeser-geser lagi dari situ. Ternyata untuk macro, ini gak berlaku sama sekali. Meskipun sakit hati, untuk macro yang mengandalkan detail, f yang efektif adalah di sekitar f/8an. Berarti, beli lensa yang f paling lebar hanya f/3.5 pun sudah sangat cukup.
Kedua, saat makan-makan, oom Hanif pegang kamera gue, dan dia moto orang dengan f/4 dan f/2.8. Dipikir-pikir masuk akal, dengan f/2.8 atau bahkan f/4, keseluruhan kepala orang itu bisa masuk di DOF. Jadi seluruh kepala terlihat tajam. Sempet kecewa juga, berarti kalau beli lensa f/1.8, atau f/2, hasilnya sama aja toh….
But then, this phrase hits me: just because something has a special ability, doesn’t mean that speciality should be exploited everytime! Hanya karena David Beckham bisa menendang bola dengan lengkungan yang menakjubkan, gak berarti dia menendang dengan cara itu setiap kali. Kalau kita rata-ratakan dalam satu pertandingan, berapa persen dia menendang pisang, dibandingkan hal-hal lain yang dia lakukan? Berapa kali dia mencetak gol dengan cara itu? Itu tidak terjadi di setiap pertandingan, pastinya.
Dari situ gue sadar lagi. F/1.4, f/1.8, f/3.5, itu semua alat, statistik. Yang lebih penting adalah kapan menggunakannya dengan tepat. Punya lensa f/1.4 gak berarti harus nembak dengan f/1.4 setiap kali. Punya alat itu berarti kita punya pilihan jika kondisi membutuhkan begitu.
Sama dengan kita dan orang-orang sekitar kita. Semua pasti punya kelebihan. Semua punya skill. Tetapi, dengan punya kelebihan di suatu bidang dibanding orang lain, gak berarti harus selalu dieksploitasi di situ. It’s okay untuk dia mengerjakan hal-hal yang lebih remeh dan tidak memanfaatkan special ability nya. Kita tidak perlu berharap dia melakukan keajaiban setiap kali. Cukuplah dengan kelebihannya itu dia melakukan hal-hal biasa dengan lebih efektif. Dan jika kesempatan itu tiba, keajaiban yang ditunggu-tunggu bisa datang.
Anyway, keajaiban itu tidak ajaib kalau datangnya sering…












