AKU LUPA KELAMINKU

(Fani Yunata)

Sebuah cerita, menyinggung bagaimana menyikapi perubahan penentuan yang menyimpang namun sejalan dengan hal yang akan diakui kebanyakan adalah hal yang apa adanya…

”Nama?”
”Hermawan Syahreza.”
“Tempat dan tanggal lahir?”
“Pontianak, 22 Oktober 1972.”
Dan beberapa pertanyaan lain disampaikan oleh Herman, seorang pegawai bagian administrasi sebuah bank swasta yang terbilang sederhana dalam segala bentuk pelayanannya. Herman sendiri hanyalah pegawai yang tampak sama seperti pegawai lain pada umumnya. Tapi satu hal yang berbeda, di tiap kali sebuah pertanyaan yang harusnya tidak perlu ditanyakan lantaran orang yang ia tanyakan berhadapan muka dengannya, tetap saja ditanyakan di tiap kali ia bekerja.

”Kelamin?”
”Apa anda tidak bisa memandang sampai-sampai anda perlu bertanya lagi seperti itu?”
”Kelamin?”
”Saya ulangi, apa anda tidak bisa memandang sampai-sampai anda perlu bertanya lagi seperti itu?” Suaranya naik satu tingkat.
”Kelamin?”
”Apa kau tuli wahai pegawai yang duduk berhadapan denganku? Apa kau tuli???” Suaranya naik dua tingkat.
”Kelamin?”
”Sampai kau tanyakan itu lagi…” Suaranya naik tiga tingkat lalu hilang ditelan sunyi yang tiba-tiba datang lantaran pegawai-pegawai lain dan juga orang-orang yang berada di sekitar terdiam mendengar di salah satu meja yang dimana seorang yang sedang dilayani oleh Herman berteriak di ambang ketidaknormalan.

”Kelamin?” Herman kukuh akan pertanyaannya.
Seorang yang duduk di hadapannya diam. Tak ada tanda dari mulutnya untuk bersuara.
”Kelamin?” Untuk yang keenam kalinya.
Lalu disambut perkataan lantang, ”Sampai kau tanyakan lagi kelaminku? Akan kubunuh kau!” Suara seorang tadi terbang menanjaki gunung. Semua orang, selain Herman dan seorang yang duduk di hadapannya, terperangah, kaku, heran dan ketakutan.
”Kelamin?”
Seorang yang duduk di hadapan Herman itu pun dengan segera berdiri dan naik ke atas kursinya, lalu melangkahi meja dan dengan sebuah sepakan yang mengenai kepala, Herman langsung saja terpelanting tak berdaya. Beberapa pegawai segera berlari untuk menolongnya. Suasana bank berubah mencekam, dipenuhi tanda tanya.

Insiden semacam itu bukanlah yang pertama, melainkan yang ketiga kalinya dan merupakan kejadian terparah yang mencoreng nama perbankan khususnya bank swasta sederhana itu sendiri. Dirut bank sebelum insiden ketiga terjadi, telah memanggil dan memperingati Herman akan tingkahnya dalam melayani calon nasabah. Hal itu berbuntut pada peringatan bahwa jika kejadian serupa terulang kembali, dirut bank takkan lagi berkompromi untuk memecat Herman sebagai pegawainya. Dan sekarang, peringatan itu ternyata tak jua diindahkan. Herman pun dipecat, beberapa waktu kemudian.

Herman sepeninggalannya menjadi pegawai belum mampu untuk menggenahi kehidupannya. Ia pun sementara bertahan dengan sisa uang dan tabungan yang ada di rumah mininya.

Herman ialah seorang duda tanpa anak sehingga rumah mininya hanya ia sendiri yang menempati. Terlebih, keberadaannya yang terpisah jauh oleh lautan dengan keluarga dan kerabatnya. Ia mengaku, lebih baik begini, walau usianya tak muda lagi.

Sampai di suatu hari, Herman sadar bahwa ekonominya telah kian tertekan. Ia lalu memutuskan untuk mencari pekerjaan. Berbagai surat lamaran kerja ia ajukan kepada berbagai perusahaan demi meraih pekerjaan. Namun, apa yang diharapkannya tak kunjung terjadi, terus saja ia menganggur setengah hati.

Dibalik itu, hingga Herman merasa surat lamaran kerja dan persyaratan yang disiapkannya sudah sangat dan teramat maksimal pun, apa yang dilakukannya tetap tak berbuah respon positif. Malah kritik yang ia dapatkan, tentang satu hal, lagi-lagi: kelamin. Permasalahannya, mengapa dari puluhan surat lamaran kerja yang Herman ajukan menjadi sia-sia adalah disebabkan kekosongan pada baris kelamin biodatanya. Ia mengaku lupa akan kelaminnya…

Tiga bulan berlalu, kabar yang menggemparkan hati Herman tiba-tiba datang di saat ia telah merasa bahwa hari-hari berikut dalam hidupnya bak perjudian yang sarat pertaruhan. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan mutu masyarakat menanggapi surat lamaran kerjanya. Perusahaan itu melalui surat balasan menyuruh Herman datang di hari dan waktu yang telah ditetapkan untuk mengikuti interview langsung dari si kepala perusahaan.

“Silahkan masuk!” Kata si kepala perusahaan saat Herman mengetuk pintu ruangannya.

Herman lekas memasuki ruangan dan si kepala perusahaan sigap mempersilahkan Herman duduk berhadapan dengannya.

“Terima kasih atas respon surat lamaran kerja saya, Pak.” Herman membuka perbincangan dengan santun.
“Sama-sama.”
Suasana hening seraya si kepala perusahaan membetulkan posisi duduknya, lalu berkata, “Saya sudah kenal anda jauh hari dari berita di surat kabar beberapa bulan yang lalu.”

Herman diam, dengan wajah yang berseri.

“Apa anda bangga dengan pemberitaan itu?”
“Tidak ada pengaruhnya kepada saya, Pak.”
“Sungguh?”
“Tentu saja. Apa artinya pemberitaan tanpa adanya kebenaran yang sebenar-benarnya?”
“Saya sempat berpikir anda gila selepas membaca pemberitaan itu.”
“Tidak apa. Manusia memang sudah biasa hidup dengan mengira-ngira, Pak.”
“Anda pribadi yang menarik di luar bakat dan skill anda. Saya cukup yakin dari data dan berita yang saya dapat, anda pantas masuk dalam jajaran administrasi perusahaan saya, bahkan saya berharap lebih. Tapi, dengan permasalahan anda yang sesimpel di pemberitaan itu, anda bisa saja takkan ada apa-apanya selepas ini.”
“Saya datang ke sini untuk memenuhi panggilan Bapak dan berharap mendapatkan pekerjaan, bukan yang lain, Pak.”
“Itu jelas sekali. Sekarang, bisakah kau lengkapi biodatamu ini?” Seraya menyerahkan secarik kertas biodata kepada Herman, beserta pulpen untuk menulisnya.
“Maaf, saya tidak bisa.”
“Mengapa?”
“Saya lupa.”
“Apa perlu saya kunci pintu ruangan ini dan menelanjangi anda untuk mengingatkan bahwa anda adalah pria?” Sahut si kepala perusahaan dengan nada penasaran.
“Jika setelah anda menelanjangi saya, anda mendapati bahwa saya bukan pria, melainkan wanita?”
“Itu masalahmu.” Si kepala perusahaan menarik nafas sebentar. “Begini saja, bagaimana jika anda saya akui sebagai pria?”
“Saya akan mendominasi kehidupan dengan kepemimpinan di atas panji-panji yang lebih menekankan ketegasan dan seni kekerasan.”
“Dan bagaimana jika anda saya akui sebagai wanita?”
“Saya akan mendominasi kehidupan untuk setia berpijak di belakang para pemimpin, berjalan seiring dengan dukungan beralas kelembutan dan kasih sayang.”
“Bagaimana jika pria menjadi wanita, dan wanita menjadi pria berdasarkan paparan anda itu?”
“Itu namanya menyalahi kodrat dari Sang Pencipta.”

Si kepala perusahaan berdiri dari kursinya dan hendak berjalan ke luar ruangan. “Silahkan pulang dan galang demonstrasi besar-besaran untuk menurunkan seluruh pemimpin perempuan di seantero negeri ini. Terima kasih!”
Herman yang belum beranjak dari kursinya lantas berujar, “Sebentar, Bapak yang saya hormati, perempuan tidak ada salahnya memimpin.” Langkah si kepala perusahaan terhenti.
“Anda ingin mengelabui saya dengan omongan anda yang barusan anda perdengarkan?”
“Anda tidak mengerti. Setia berpijak di belakang para pemimpin bukan berarti perempuan tidak boleh memimpin. Namun kita ingat, walau mereka telah menjadi pemimpin, mereka pada dasarnya juga dipimpin. Mulai dari sini saya harap anda bisa menelaahnya lebih dari apa yang saya katakan.”

Si kepala perusahaan tercenung. Ia sepintas terlihat berpikir begitu keras sementara Herman masih diam di kursinya. Tapi ada yang berbeda dan tak disangka, Herman menitikan air matanya. “Istri saya, ia meninggalkan saya lantaran jabatannya yang tinggi menjulang sampai ia lupa akan dirinya, terlebih kepada saya,” kata Herman dengan suara lemah.
Si kepala perusahaan bersuara, pelan dan perlahan sekali kata-katanya, “Sekarang, sungguh apa anda ingin mengubah kenyataan pahit itu?”
“Apa pun apabila saya bisa akan saya lakukan, Pak” jawab Herman. Ia menahan tangisnya.
“Mulailah untuk mengingat kembali bahwa anda adalah pria.”
Tanpa berkata lagi, Herman seketika mendekatkan secarik kertas biodatanya dan langsung menuliskan kata “PRIA” pada bagian yang kosong. Si kepala perusahaan pun setelah itu, menerimanya bekerja.

Kenyataan menyimpulkan, luka pahit yang didera Herman ternyata berdampak secara berlebih pada mindset-nya akan pria dan wanita. Hingga ia akhirnya kembali mengingat jati dirinya sebagai pria, ia turut berhasil menggoreskan tinta dalam lembaran hidupnya dengan akhir yang menarik. Bahwa ia kini dengan tekat pelurusan kodrat pria dan wanita telah ditempatkan oleh si kepala perusahaan sebagai asisten khusus motivator berskala nasional, bukan sebagai pegawai administrasi yang sebenarnya merupakan posisi yang ia incar. Melalui kesempatan itulah, ia kerap kali menyalurkan secara langsung atau pun tidak langsung akan pemikirannya yang semakin hari semakin laku didengar. Dengan harapan, semakin hari semakin banyak pula mereka-mereka yang sadar.

*Di balik pemimpin yang hebat berdiri wanita yang sangat kuat…

SEKIAN
Oleh: Fani Yunata
22-23 November 2009

Dirut:Direktur Utama
Interview:Wawancara
Skill:Kemampuan/Keahlian
Mindset:Cara berpikir
*Diilhami dari pepatah lama

Tertarik dengan yang ini?

  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Apologize
  • Elang
  • Egois
  • Roker Serak
  • Ketika keinginanku bukan kehendakNya
  • Petualangan Arktika
  • Cerpen : Hamil
  • Maya
  • Kemana Larinya Inspirasi?

Comments (3)

aniethaDecember 2nd, 2009 at 5:23 pm

wow…speechlesss but it so coollllll

GraceDecember 3rd, 2009 at 1:18 am

:D nice.. aku share di FB ku yah.

thanks
- G -

StefDecember 9th, 2009 at 12:07 pm

NICE:)

Leave a comment

Your comment