TEMAN SEBANGKU (sebuah cerita pendek)

(Fani Yunata)

Pagi itu mendung, gelap membahana memenuhi langit. Aku berdiri bertopang pada salah satu tiang kayu di teras gubukku yang usang termakan zaman. Aku bimbang antara ingin dan tak ingin pergi ke sekolah. Seragam SMA seadanya yang kukenakan telah rapi menurutku, dari ujung ke ujung. Sedangkan tanganku mantap menjinjing sebuah tas sederhana buatan Ibuku. Sedemikian rupa bentuknya, dari karung beras bekas bahannya.

Ada yang berbeda hari ini karena kakiku terlihat mengenakan sepatu baru pemberian Ayah. Ia mendapatkannya dari salah satu tempat sampah perumahan orang-orang elit. Walau begitu, aku senang, senang bukan kepalang. Sepatu bekas, biar dipungut dari tong sampah paling jorok sekali pun, apabila bisa dibersihkan dan layak dipakai, tak masalah. Setidaknya setelah kubanding-bandingkan, ternyata jauh lebih layak kukenakan ketimbang sepatu yang sebelumnya kupakai, yang mana ada banyak mulut menganga kelaparan.

Dan kulihat langit semakin gelap, seakan menyuruhku untuk memendam hasrat bersekolah yang berkobar dalam hatiku hari ini. Terlalu enteng bagiku bila hanya karena ini aku tidak pergi ke sekolah. Terlebih, aku tak ingin mengecewakan seseorang yang sedang menungguku disana.

Aku harus pergi!

Hatiku terus melantunkan kalimat tersebut berulang kali. Aku ingin meyakinkan diriku sendiri dengan sejuta alasan yang kuat untuk tetap pergi ke sekolah hari ini. Meski cuaca, tampak, benar-benar, kelihatan seperti takkan bersahabat pagi ini. Namun tiba-tiba telingaku mendengar derap kaki melangkah pelan dari belakang. Derap kaki yang membawa kesejukan batin. Derap kaki itu terus bergerak mendekatiku dan akhirnya berhenti tepat disampingku: derap kaki Ibuku.

“Pergilah! Bila cepat, mungkin masih bisa sampai sebelum hujan turun,” kata Ibu dengan nada tenang.

Aku memandangnya, memandang wajahnya yang memandang wajahku dengan tatapan kasih sayang.

“Ini,” ucapnya dengan nada lebih tenang dari sebelumnya sambil menyodorkan sebuah kantong kresek hitam kepadaku.

Tanpa berpikir, aku tahu maksudnya. Dengan kantong itu, Ibu bermaksud agar aku memasukkan tas, sepatu serta seragam sekolahku ke dalamnya agar tidak basah apabila dalam perjalanan hujan turun. Aku tak membuang tempo, langsung saja seluruhnya kulepaskan dari tubuhku lalu kumasukkan ke dalam kantong dengan sigap. Lalu kuikat kuat.

Aku siap untuk pergi. Aku mencium tangan kanan Ibuku dan mengucapkan salam padanya, lalu berbalik, dengan sigap dan langsung berlari secepat kilat sampai-sampai tak terdengar olehku balasan salam dari Ibu.

Tak sadar aku telah meninggalkan begitu jauh gubukku. Aku memandang ke langit, sungguh gelap adanya. Dalam pikiranku hanya terlintas bagaimana aku harus cepat, cepat, dan cepat karena langit tampaknya tak kuasa lagi berlama-lama menahan air hujan. 5 km harus ku tempuh secepat-cepatnya agar kemungkinan aku akan sampai di sekolah dalam keadaan basah kuyup berkurang.

Aku berlari, benar-benar kencang. Saking kencangnya kakiku yang tak beralas tak merasakan apapun padahal jalan yang kulalui berbatu-batu. Pandanganku lurus ke depan, terus dan tetap saja ke depan, namun sekolahku belum juga kelihatan dan belum juga hujan.

Sekiranya satu menit kemudian, tubuhku mulai merasakan percikan bulir-bulir air yang sejuk menyentuh tubuhku yang basah duluan akibat keringat yang bercucuran. Kupandang lagi langit, kelabu, secara tidak langsung seperti mengusir seluruh makhluk untuk segera mencari tempat berteduh, karena hujan akan runtuh hanya dalam hitungan detik.

Dinamo di dalam kakiku berputar 2 kali lebih cepat. Aku berlari lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. Pandanganku semakin tegak lurus ke depan tanpa sekalipun berpaling ke kiri-kanan. Rintik-rintik hujan semakin banyak menghujam ke seluruh tubuhku.

Walau masih sekitar puluhan meter jaraknya, mulai tampak olehku sebuah rumah kecil yang kekokohannya diragukan, tempat dimana otak-otak disulap dari tidak tahu menjadi tahu. Bila ada yang bilang sekolah adalah rumah kedua, itu tepat sekali bagiku dan kawan-kawan yang bersekolah disini. Sekolah kami bukanlah bangunan sekolah sejati, tapi sebuah rumah yang difungsikan sebagai sekolah. Itulah sekolahku!

Semakin terlihat, lariku semakin cepat, sekolah semakin dekat, dan rintik-rintik hujan semakin lebat. Karena itu, hanya butuh satu setengah menit bagiku untuk melahap jarak antara aku dan sekolahku. Aku memasuki pagar yang memisahkan jalan dan sekolah. Tiada gapura, tiada plang nama sekolah. Satu-satunya yang menandakan bahwa itu sekolah hanyalah tulisan pada sebuah triplek yang dipakukan pada dinding dekat pintu masuk. Disitu tertulis:

SMA Harapan Besar
Rintisan Sekolah Negeri

Kulewati pagar dengan pasti, dan dengan perasaan bangga bahwa aku telah mengalahkan hujan. Aku membuka pintu dan langsung berada di koridor utama. Hanya ada 4 ruangan di sekolahku (3 ruang kelas dan 1 ruang Guru berikut Kepala Sekolah) ditambah empat bilik toilet (masing-masing untuk: Siswa laki-laki, siswa perempuan, Guru laki-laki dan Guru perempuan) yang letaknya terpisah dengan sekolah. 4 ruang berukuran sama, hanya 5×8,5 m. Kelasku, kelas X tepat berada di sisi paling kiri ujung koridor utama.

Sekolah sepi. Aku pikir aku pasti terlambat.

Aku telah bercokol di depan pintu kelasku, tertunduk lelah dengan tangan menenteng kantong kresek hitam. Hanya singlet lusuh dan celana pendek robek yang kukenankan. Sekilas dari dalam kelas tak terdengar apa pun kecuali suara Pak Imran yang meredam ke segala sisi ruangan. Aku menegakkan tubuh, membuka pintu dan selang beberapa detik kemudian seluruh tubuhku telah berada di dalam ruang kelas. Pandanganku tertuju pada seseorang, yaitu Ayahku. Ia melempar senyum simpul padaku yang mengisyaratkan agar aku cepat melapor pada Pak Imran. Tak buang waktu, aku pun langsung menghampiri Pak Imran.

“Maaf, Pak. Saya terlambat,” ucapku pelan dengan gigi bergeretak tak tenang.

“Mengapa terlambat?” tanya Pak Imran santun, penuh budi pekerti.

“Cuaca, Pak,” jawabku ragu.

“Hujan?” tanyanya kurang yakin.

“Hampir,” jawabku cepat-cepat.

Pak Imran memandang wajahku. Matanya masuk ke mataku, ke hatiku, ke relung jiwaku. Lalu bertanya tanpa suara, “Apa itu benar?” Dan aku menjawabnya dengan masuk ke matanya, ke hatinya, ke relung jiwanya. Lalu berkata juga tanpa suara, “Ya.”

Begitulah cara Pak Imran menyimpulkan apakah seseorang berbohong atau tidak padanya. Biasanya jika ia yakin orang itu telah berkata jujur, ia akan mengganggap segala sesuatu sebelumnya seperti tak pernah terjadi. Namun, jika dalam hatinya digoyang olah bumbu keraguan, tak lelah ia berhari-hari, berbulan-bulan, terus mencari jawaban, akan sebuah kejujuran.

“Segera ganti pakaianmu di “belakang”! Lalu kembali untuk mengikuti pelajaran.” Perintah Pak Imran padaku. “Dan kerjakan hukuman menulis 100 kali ‘Aku berjanji tidak akan lagi masuk kelas tanpa memberi ‘salam’ sepulang sekolah!”

Aku lega karena telah lolos dari ujian kejujuran Pak Imran walau tetap saja harus menerima hukuman karena salam yang terlupakan. Sedetik kemudian aku berbalik dan berjalan meninggalkan ruang kelas untuk mengganti pakaian. Tak lupa, aku menilik Ayahku yang melempar senyum simpul padaku yang kali ini berarti: Cepat ganti pakaianmu itu. Ayah menunggumu!

Setelah rapi dengan seragam SMA, tas selempang, serta sepatu baru, aku pun kembali ke kelas. Aku masuk dengan tak mengulang kesalahanku sebelumnya. “Assalamualaikum.”

Setelah dibalas salamku, aku langsung setengah berlari menuju bangku di samping tempat duduk Ayahku. Dengan girangnya hatiku kembali duduk disana dan karena mungkin hanya aku, di kota ini, di negeri ini, di dunia ini yang bersekolah dimana teman sebangkuku adalah Ayahku sendiri.

Tas selempang langsung kulepaskan seraya duduk di samping Ayah. Ia memandang wajahku sejenak, lalu berpindah memandang kedua kaki yang telah diselimuti oleh sepatu baru pemberiannya. Tampak dari raut wajahnya betapa senangnya ia.

Ayah dari tadi belum berkata sepatah kata pun padaku. Aku yakin karena Pak Imran masih dalam proses pemberian materi. Ayah adalah murid yang giat, rajin, patuh pada perintah Guru meski yang memerintah sepantaran dengannya, bahkan beberapa tahun lebih muda daripadanya pun ada. Hampir dalam setiap pelajaran ia lebih pintar dariku. Tiada pernah aku mendapat nilai ulangan, tugas atau PR sekalipun yang bahkan biasanya kami kerjakan malam-malam bersama, yang lebih tinggi daripada nilainya. Bukan karena Ayah tidak mau terlihat rendah daripadaku di depan teman-teman sebayaku sekelas, namun karena begitulah ia, sosok cerdas yang rupawan, berbeda sekali denganku.

Sayang, seribu kali sayang bahwa Ayahku baru bisa menjejali pendidikan lagi di saat sekarang, di saat usianya tak muda lagi. Saat di mana pendidikan sebenarnya bukanlah hal yang harus diutamakan baginya yang telah beristri dan memiliki seorang anak, yaitu aku. Ayah putus sekolah saat tamat Sekolah Menengah Pertama. Sewaktu itu kakekku, seorang PNS yang membesarkannya sebatang kara karena ditinggal terlebih dahulu oleh istrinya meninggal dunia tepat beberapa hari sebelum pendaftaran murid baru untuk SMA dibuka. Ayah jadi sendirian pasca kepergian kakek.

Karena tinggal di pinggiran kota yang jauh dari sanak keluarga dan ditengah-tengah kumpulan masyarakat kelas ekonomi menjulang ke bawah, tiada yang bisa membantunya atau yang bisa ia mintai bantuan. Sisa-sisa uang kakek seluruhnya mungkin (karena Ayahku tidak tahu apa-apa waktu itu) dipakai untuk mengurus kepergian kakek. Cita-citanya sebagai nahkoda pun amblas. Sejak saat itu hidup Ayah berubah, berbalik arah, pontang-panting ke sana kemari. Air mataku terjun bebas selepas mendengar ceritanya kala itu.

Dan hari terang benderang bagi Ayahku pun tiba sekitar awal bulan Juli tahun lalu. Ayah mendengar kabar SMA Harapan Besar yang baru saja selesai diresmikan secara sederhana membuka pendaftaran untuk 30 orang siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama. Yang menghebohkan Ayahku yang kebetulan sedang dalam masa paceklik rezeki ialah bahwasanya bersekolah disana tak akan dipungut biaya sepeserpun, termasuk pendaftarannya pun tak dipungut biaya. Terhembus kabar mulanya, yang menyebabkan gratis tersebut adalah buah kerja sama pendiri sekolah dengan seorang konglomerat yang sejak lama berniat menyalurkan bantuan. Sampai kapan gratis? Tiada yang tahu. Setidaknya sesuai dengan paham yang lazim dianut rakyat kecil: Sekarang ya sekarang, masalah nanti, nanti saja kita pikirkan.

Ayahku segera mengabariku bahwa ia akan mendaftarkanku esok hari ke SMA Harapan Besar. Aku senang bukan kepalang di malam itu, terlebih aku, entah datang dari mana terbayang sebuah ide cemerlang yang sangat menembus logika orang-orang kebanyakan. Aku ingin Ayah turut mendaftar sekolah bersamaku besok, bukan sebagai pendamping, tapi sebagai calon murid SMA Harapan Besar, sama sepertiku. Hatiku bergetar saat mengucapkannya karena kuteringat kembali betapa sedihnya cerita Ayah tentang sekolahnya yang patah tak tumbuh-tumbuh lagi. Mungkin baginya ini ide gila, sungguh teramat gila.

Setelah aku menyampaikan maksudku itu, ia tercengang, kaku, seakan jiwa dan nalurinya berada di alam yang berbeda. Sunyi beberapa menit kemudian. Lalu Ayah berulang kali memandangku, meyakinkan dirinya bahwa apa yang kuucapkan bukanlah sekedar omong kosong penuh kekonyolan. Berulang kali Ayah diam, berulang kali ia memandang, berulang kali ia meyakinkan, tapi tak ada titik temu antara jiwa dan nalurinya. Jiwanya berkata: Pendidikan! Luar biasa!. Tapi nalurinya berkata: Cari makan! Ingat keluarga!

Malam itu tiada jawaban dari Ayahku. Ayah memandang wajahku sekali, penuh ragu, lalu melangkah menuju sebuah kamar yang hanya dipisahkan oleh sekat triplek bekas dari tempatku berada, yang di dalamnya Ibuku telah tidur berjam-jam yang lalu lantaran terlalu lelah seharian berkeliling menjual gorengan.

Dari tatapan Ayahku sebelum masuk ke kamarnya, aku tahu bongkahan keraguan sedang bergejolak di dalam dirinya. Sedikit kumenyesal karena ide itu terlanjur keluar dari mulutku.

Keesokan harinya, aku telah mendapati Ayah duduk di beranda depan gubuk kami. Pakaiannya rapi seperti ingin melamar kerja di perkantoran. Di sampingnya telah ia letakkan sebuah map usang yang di dalamnya tanpa kutanyakan pun pastinya adalah surat menyurat untukku mendaftar sekolah.

“Pergi sekarang, Yah?” tanyaku.

“O, iiiiiiiyyyyaaa,” ucapnya terbata-bata.

Ada yang salah. Ayah tak pernah segugup ini sebelumnya setahuku. Tapi Ayah tak membuka celah waktu itu untuk aku mempertanyakan tingkahnya yang berbeda. Kami pun segera pergi, berjalan kaki hampir 5 km menuju SMA Harapan Besar.

Sesampainya di sana, orang-orang sudah mengantri di tempat duduk yang telah disediakan. Ayah segera mengambil formulir dari salah satu panitia penerimaan murid baru dan segera mengisinya di salah satu meja dan tempat duduk yang juga telah disediakan. Dari jauh aku masih melihat wajahnya yang dihinggapi perasaan gugup. Terlepas dari itu, ia terlihat begitu sungguh-sungguh.

Setelah menulis formulir ia kembali duduk disampingku yang dari tadi memperhatikannya. Seperti biasa ia selalu menyapaku dengan senyum simpulnya yang khas, antara ingin dan tak ingin tersenyum, namun tetap berunsurkan keikhlasan. Kami berdua pun menunggu untuk dipanggil oleh panitia. Bila sudah saatnya, panitia akan membacakan nama calon murid baru yang tertera di formulir dengan lantang menggunakan pengeras suara. Aku deg-degkan menunggu namaku dipanggil!

Lama kami menunggu dan keluarlah suara keras dari pengeras suara yang meneganggangkan seluruh otot-otot tubuhku, darahku seperti berhenti mengalir sesaat, gigi atas dan bawahku beradu kuat hingga menimbulkan bunyi tek tek tek ngilu, yang kudengar adalah nama Ayahku: Muhammad Piatu.
Ayahku lalu berdiri, sementara aku masih duduk terpaku, yang bisa kugerakkan hanyalah kepalaku untuk melihatnya maju ke depan, tegap, gagah, perkasa. Dari tempat kududuk sekarang aku memerhatikan Ayahku dan seorang panitia yang memanggil namanya tadi berbicara dengan mimik meyakinkan. Satu sama lain seperti sedang beradu pendapat agar pendapatnya berdiri di atas pendapat lainnya. Dan jelas sekali, Ayahku tak mau kalah, terlihat dari lekuk wajahnya yang mengisyaratkan: Teruslah mulutmu bicara, sampai berbusa sekali pun pendapatku lebih jitu.

Berangsur-angsur lamanya perbincangan itu berjalan. Wajah Ayah dan panitia itu tampak sama-sama telah surut. Ketegangan telah berakhir. Ayah lalu menyalami panitia itu lalu berjalan kembali ke tempatku menunggu. Tapi, langkahnya hanya berhenti tak jauh dari tempat panitia yang sejurus kemudian langsung memanggil namaku dengan lantang, membuat dadaku sesak sebagian.
Aku berjalan menuju panitia dan memandang Ayah yang senyum simpulnya kembali ia pancarkan padaku. Aku lumrah dengan itu, pertanda hatinya sedang senang.

Lalu telah kududuki bangku yang panitia telah siapkan yang berhadap-hadapan dengannya. Ayah berdiri sekitar 1 langkah di samping kananku. Panitia tadi memandangnya keheranan. Lalu berkata pada Ayah, “Pak, Bapak tunggu saja di tempat duduk disana,” sambil menunjuk bangku-bangku yang disediakan, “Saya kan tadi sudah bilang, Bapak sebenarnya karena adanya peraturan, sulit untuk masuk sekolah ini. Tapi, bila saja yang mendaftar kurang dari 30 orang, Bapak akan kami terima. Yang muda mesti diutamakan, Bapak setuju, kan?”

Ayahku hanya mengangguk tapi tetap tak beranjak dari tempatnya berdiri. Panitia itu pun habis akal untuk mengusir Ayahku yang entah mengapa seperti menganggu pandangannya.
Panitia itu lalu memutuskan bahwa yang seharusnya ia urus sekarang ialah aku, bukan Ayahku. Ia beralih memandangku, lalu bertanya, “Dek, orangtuamu mana?”
Aku termangu. Kualihkan pandangku ke samping kanan yang disana Ayah berdiri tegap, gagah, perkasa. Panitia itu lalu melongo memandang Ayahku, ia takjub setengah mati. Wajahnya memerah, namun ada raut muka heran yang luar biasa timbul di parasnya.

Ayah lalu menyapanya, “Saya Ayahnya.”

Panitia tadi sekarang seperti sedang hilang kesadaran. Seakan ingin menyadarkan dirinya yang sedang tidak sadar. Hanya sepatah kata yang bisa ia ucapkan, mengarah padaku, “Benar?”

Aku mengangguk pasti penuh gairah.

Melihat ekspresi, tingkah, raut dan bahasa tubuh panitia itu makin lama makin aneh, Ayah berinisiatif menjelaskan kepadanya tentang semua ini, semua yang ia pikir mungkin sedang kacau balau. Akhirnya, panitia itu dapat sedikit lebih mengerti, berpura-pura mengerti pun tak apalah bagiku.

Hari itu benar-benar bersejarah dalam hidupku karena pihak sekolah memutuskan menerima Ayah karena pendaftarnya hanya 28 siswa, di luar Ayahku. Tidak pernah aku membayangkannya. Tidak pernah aku berpikir bahwa omongan spontanitas yang meluncur deras dari mulutku bisa menjadi nyata. Aku tak percaya aku bisa membuat Ayahku, yang salah satu dari dua orang yang paling kusayangi di dunia di bawah Tuhanku gembira bukan main walau itu tidaklah langsung ia curahkan mentah-mentah dari perkataan dan perbuataannya. Perasaan Ayahku abstrak, hanya yang berikatan batin berlandaskan cinta yang dapat membaca raut wajah yang mewakili perasaan terdalamnya.

Dua minggu berlalu, aku dan Ayah telah masuk ke sekolah. Masa Orientasi Siswa bersama Ayah terasa begitu spesial. Kebetulan juga kami ditempatkan di satu kelas yang sama. Teman-teman sekelasku mulanya berpikir bahwa aku adalah anak super ingusan dan super manja karena meski sudah SMA, sekolah masih harus ditemani oleh orangtua, bahkan yang tak habis pikir orangtua itu bukannya menunggu di luar ruang kelas, melainkan masuk ke dalamnya, lebih-lebih duduk disampingku, dan turut memperhatikan Guru.

Ayah bekerja ekstra keras untuk menjelaskan semua itu. Perlu berhari-hari bagi Ayah untuk menjelajah masuk dalam pikiran anak-anak seusiaku, itu pun masih dibantu oleh hampir seluruh Guru yang mengajar di kelas.

Ayah sendiri tak menuntut untuk diperlakukan berbeda dengan siswa-siswi lainnya. Tapi apa boleh buat, pada dasarnya memang berbeda, jadi berbedalah perlakuannya. Pertama, Ayahku, oleh pihak sekolah dibebaskan untuk tidak menggunakan seragam sekolah. Maka dari itu setiap hari yang dipakainya adalah sebuah kemeja lengan panjang putih polos dengan celana kain hitam ketinggalan jaman peninggalan kakekku. Kedua, Ayahku, oleh guru-guru yang mengajar di kelasku dipanggil dengan sapaan Mas, dan beberapa yang lebih muda dari Ayah bahkan memanggil Pak. Maka Ayah hanya bisa tersipu-sipu malu mendengarnya. Ketiga, Ayahku, oleh hampir seluruh teman sekelas, bahkan mayoritas murid di sekolah, karena dari pakaian dan sapaan guru-guru padanya jadi dianggap layaknya seorang guru PPL utusan perguruan tinggi. Maka hampir setiap hari Ayahku tak lepas dari pertanyaan seputar materi pelajaran yang mereka terima hari itu. Selain itu banyak lagi, tak mampu kupapari.

Memang, cukup sulit Ayah menyesuaikan diri dengan keadaan seperti itu. Tapi, Ayah, sosok tegap, gagah, perkasa yang kuidolakan itu dikaruniakan sifat sabar dan senyum simpul yang dahsyatnya berupa-rupa. Ia lalui dengan kesabaran, dihadapinya dengan senyuman, maka selesailah masalah segala cobaan.

Selain penyesuaian dengan segala hal yang berada atau setidaknya berhubungan dengan sekolah, ada hal lain yang ikut-ikutan harus ia sesuaikan, pekerjaannya. Betapa pun Ayahku cinta dengan yang namanya pendidikan, ia juga tak lupa, sangat-sangat sadar akan kodratnya yang merupakan ujung tombak keluarga. Tugas utama sekarang tetaplah menafkahi keluarga, memberi makan Ibuku dan aku sendiri sebagai anaknya.

Maka sejak masuk SMA, Ayah membagi waktu untuk bekerja dan bersekolah. Pekerjaan Ayah memanglah tidak menentu, tapi berbulan-bulan sebelum menjadi murid SMA Harapan Besar, Ayahku adalah seorang pekerja yang tak jauh dari hewan yang bernama ikan. Setiap pukul 4-6 pagi hari ia adalah petugas kebersihan sebuah pasar ikan di tengah kota. Sementara pada pukul 2-3 sore hari ia adalah tukang angkut ikan hasil tangkapan nelayan dari kapal ke mobil-mobil pengangkut. Memang tidak banyak uang yang ia dapatkan dari kedua pekerjaan itu. Keluarga kami memang pada dasarnya adalah rakyat kecil, keluarga kecil, hidup di gubuk kecil, pendapatan kecil, pengeluaran kecil, dan terbiasa dengan hal-hal yang kecil-kecil. Ayah dan Ibuku tidak pernah mengeluhkan kehidupan kami yang tiada satu pun orang pernah mengidamkannya. Kami bahagia dan sejahtera dari sudut pandang kami sekeluarga.

Enam bulan berlalu. Rapor hasil belajar untuk semester pertama dibagikan. Raporku diambilkan oleh Ayahku. Sementara rapor Ayahku cukup ia sendiri yang mengambilnya.

Ibuku kebetulan hadir waktu itu. Ia tersenyum melihat kami yang sama-sama tegang menunggu hasil belajar kami selama satu semester ini dibagikan. Apakah baik? Atau burukkah?

Namaku dipanggil sebelum nama Ayah karena absenku satu tingkat diatasnya. Ayahku yang berada di dalam kelas sementara aku menunggu di luar lantas menemui wali kelas kami di mejanya. Terlihat, wali kelasku sedang bercakap-cakap dengan Ayah. Seperti banyak sekali yang dicakapkannya. Mungkin tentang nilaiku yang buruk atau perilakuku yang terkadang menjengkelkan menurutnya. Lama sekali, sampai hampir habis masa tegang di dalam tubuhku menunggunya.

Akhirnya Ayah pun berdiri dari tempat duduk dan lekas mendatangiku usai bersalaman dengan wali kelas. Ada yang aneh, sesuatu yang mengejutkan bahwa wali kelas bukannya memanggil nama Ayahku karena di absent setelah namaku adalah namanya tapi malah memanggil temanku yang bernama Nia Saraswati.

Saat masih berada dalam jarak beberapa langkah denganku dan Ibu yang berdiri di depan pintu, ia telah membaca pikiranku yang bingung denga berkata, “Rapor Ayah sudah Ayah ambil.”

Hatiku lega sesaat, hanya sesaat karena tanda tanya tentang bagaimana hasil rapor Ayah dan utamanya raporku sendiri meledak-ledak dalam jiwaku.

Dengan lantunan kata-kata santun, ramah, dan memukau tanda tanya di dalam jiwaku lenyap seketika, “Amin, rata-rata nilaimu 7. Ke depan agar ditingkatkan.”

Aku yang belum sempat mensyukuri nilaiku sontak bertanya, “Ayah?”

“Delapan koma sembilan,” ucap Ayah merendah.

Dadaku bergetar, suasana kegiraangan yang tidak bisa kuungkapkan menggelora di dalam tubuhku. Aku senang. Aku gembira. Aku luar biasa senangnya. Aku luar biasa gembiranya.

Di akhir, wali kelas mengumumkan peringkat kelas. Menurutku mungkin lebih baik diumumkan di awal karena masing-masing orangtua pasti setelah menerima rapor anaknya pasti langsung membandingkan nilai anaknya dengan nilai yang lain. Siapa yang lebih tinggi, ia lah yang akan tersenyum lepas, seakan ingin mengatakan: Anakku lebih cerdas, lebih banyak ilmu yang nempel di otaknya!
Wali kelasku pun menulis:
1. Muhammad Piatu
2. Dedi Priyo Handoko
3. Nirwana Eka Sari

Ibu dan Ayah melonjak girang dalam bahasa tubuh yang tenang. Sementara aku, dadaku meletus sejadi-jadinya. Perasaan bangga mencakupi setiap aliran darahku! Walau menjadi peringkat pertama dari 29 siswa yang ada, tetaplah itu sebuah kebanggaan. Itu Ayahku!

Hari-hari berlalu setelah itu, tidak terasa tinggal tiga bulan lagi ulangan umum semester dua yang juga merupakan salah satu faktor penentu kenaikan kelas akan digelar. Namun, saat-saat tersebut, saat-saat dimana semua murid, termasuk aku dan Ayahku sedang giat-giatnya belajar, sebuah perkara muncul.

Suatu hari aku yang sengaja datang sedikit lebih awal dari biasanya tak menemukan Ayah di dalam kelas. Setahuku, Ayah tidak pernah datang kurang dari 30 menit sebelum jam masuk sekolah. Tapi, saat itu sudah pukul 7 kurang 15 menit. Dimana Ayah?

Aku pun mencari ke seluruh penjuru sekolah dan lingkungan sekitarnya. Semua siswa yang sudah datang ke sekolah pagi itu kutanyai satu persatu. Beberapa guru kutanyai, termasuk pegawai tata usaha sekalipun kutanyai. Yang terakhir adalah petugas keamanan sekolah kutanyai, dan hasilnya sama. Mereka dengan yakin menjawab bahwa mereka tak melihat Ayah. Kesimpulanku: Ayah tidak masuk hari ini. Imbasnya, pelajaran demi pelajaran hari itu kulalui tanpa sekelumit kegairahan pun di dalam dada. Aku lalu, sungguh-sungguh layu tanpa Ayahku.

Sepulang sekolah aku berlari menuju pelabuhan tempat Ayah biasa mengangkut ikan dari kapal ke mobil-mobil pengangkut. Kuberjalan hilir mudik mencari Ayahku yang mungkin saja adalah satu dari sekian banyak tukang angkut ikan yang berseliwuran. Berpuluh-puluh menit aku mencari, tapi tiada kutemukan Ayah di sana. Aku pun pulang, dengan hati luruh berjatuhan.

Dalam perjalanan, aku berdoa agar Ayah berada di rumah, agar aku dapat melihat senyum simpulnya untuk pertama kali untuk hari ini. Sesampainya di rumah, Ayah juga tiada. Gubukku kosong tak berpenghuni, Ibuku belum pulang dari menjajakkan gorengan.

Senja turun begitu cepat. Aku duduk diam di beranda gubukku dengan mata memandang tajam ke depan. Hanya menunggu yang bisa kulakukan sekarang. Berharap Ayah segera datang atau Ibu yang bisa menjelaskan padaku dimana Ayah sekarang.

Beberapa saat sebelum cahaya matahari hilang seutuhnya, tampak dari jauh Ibuku sedang berjalan membawa sebuah nampan besar yang ia pegang dengan kedua tangannya. Lantas aku berlari menghampirinya dan mengambil alih nampan itu. Aku ingin bertanya saat itu juga perihal keberadaan Ayah, tapi saat kupandang wajah Ibu, aku tak sampai hati menanyainya yang jelas-jelas sedang kelelahan.

Malam hari, yang entah mengapa terasa sangat jauh berbeda dibanding dengan malam-malam sebelumnya dimana Ayah berada di tengah-tengah aku dan Ibu. Perasaanku yang tak bisa kutahan-tahan lagi akhirnya membuatku memberanikan diri untuk menghampiri Ibu yang sedang duduk tenang di dalam kamarnya.

“Ibu…Ibu…” sapaku dari balik triplek yang memisahkan kamar dan tempatku berada.

Tak lama Ibu keluar dari kamarnya. Masih tampak rona kelelahan dari wajahnya, tapi semangatku untuk mengetahui dimana Ayah sekarang berada sudah tak dapat membedakan kapan waktu yang tepat dan kapan waktu yang tidak tepat untuk bertanya. Mulutku pun berkata, “Ayah, Bu,” gelagat Ibu biasa-biasa saja. Aku menyambung perkataan, “Bu, dimana Ayah? Ayah tidak ke sekolah hari ini.”
“Ibu tahu.” Darahku berangsur-angsur mulai mengalr tenang. “Mungkin mulai hari ini takkan lagi ke sekolah.” Darahku bersemburan tak tentu arah.

Aku diam. Terpaku tanpa sedikit asa di dalam tubuhku. Lalu dari mulutku keluar kata-kata dengan sendirinya, “Apa? Mengapa, Bu?”

“Begitulah. Ayahmu pergi melaut dibawa temannya. Mungkin berbulan-bulan baru akan kembali,” ucap Ibu dengan terangnya padaku.

Melaut? Berbulan-bulan?

“Untuk makan kita,” Ibuku menambahkan.

Aku diam seribu satu bahasa. Kegelisahanku telah terjawab sudah. Ayah, telah kembali memutar haluan dalam perjalanan hidupnya. Mulai hari ini tak akan lagi ada Ayah di sekolah. Tak akan ada lagi Ayah yang duduk sebangku denganku itu. Tiada lagi senyum simpulnya yang dapat menghiburku saat pikiranku pusing belajar di sekolah. Tak seorang pun kini bisa mengganti Ayah di sekolah. Aku benci ini, bukan benci pilihan Ayah. Ia telah memilih jalan lain, jalan yang tak pernah kucicipi sedikit pun dalam hidupku, jalan seorang Ayah.

“Min,” sapa Ibuku lembut. “Ayahmu berpesan, jikalau nilaimu turun semester ini, jangan harap ia kembali ke sekolah,” sambung Ibu dengan wajah penuh keseriusan.

“Kembali ke sekolah? Maksud Ibu?” tanyaku tak sabaran, hatiku sedikit riang dalam pembatasan.

“Hanya itu yang Ayahmu pesankan. Tidak ada penjelasan. Belajar saja intinya!” Jawabnya sambil meninggalkanku menuju kamarnya.

Aku ingin bertanya-tanya lagi padanya. Tapi, semangatku bagaimana pun telah menciut. Kuasa dalam diriku sepertinya telah luntur.

Keesokaan harinya Aku kembali bersekolah, tanpa Ayah di sebelahku. Aku menerima pelajaran semaksimal mungkin yang bisa aku serap karena teringat pesan Ayahku yang Ibu katakan. Walau berbeda, walau rasanya tiada sensasi yang membuatku bersemangat, mati-matian menerima pelajaran, aku tetap memaksa diriku untuk tidak terus berkecimpung dalam lingkarang kesedihan. Begitu pun aku menyesali keadaan yang terjadi sekarang. Keputusan Ayah untuk meninggalkan sekolah tetap harus kuhormati. Pilihan yang dibuatnya karena ia sadar tanggung jawab yang sesungguhnya ia emban, sekaligus yang utama yang harus ia dahulukan.

Berbulan-bulan kemudian.

Momen pengambilan rapor kenaikan kelas tiba. Kali ini, Ibu yang akan mengambilkan raporku. Masih terngiang-ngiang dalam benakku bagaimana Ayah duduk berhadapan dengan wali kelas, berbincang-bincang dan setelah itu menghampiriku yang tak sabaran. Sedang Ibu, tampaknya senang mengambilkan raporku. Ia maju setelah namaku dipanggil dengan menawannya. Tempat duduk yang behadapan dengan wali kelas langsung saja ia duduki. Lalu mulailah Ibu dan wali kelasku berbincang, tak lama, tak sampai 3 menit. Ibu lalu menghampiriku dengan raut wajah yang meriah.

“Nilaimu sedikit lebih baik semester ini. Rata-rata 7,3,” ucap Ibu dengan senang hati.

Aku mengambil tangan kanannya, lalu menciumnya lembut.

“Selamat,” kata seseorang dibelakangku.

Aku mengenal suara itu. Dadaku telak kembali bergetar. Suara seseorang yang kurindukan. Aku berbalik, dan di belakangku itulah, tepat di belakangku itulah Ayahku berdiri tegap, gagah, perkasa. Kuhenyakkan tubuhku sangat kuat pada tubuhnya. Tiada yang bisa kurasakan saat itu kecuali perasaan senang yang menjulang tinggi, tinggi sekali! Aku merangkul tubuhnya dengan kedua tanganku, pelukan yang berbulan-bulan kusandarkan dalam pekatnya kerinduan.

Ayah kembali ke sekolah.

SEKIAN
Oleh: Fani Yunata

kejarlah pendidikan sebelum pendidikan tak ingin dikejar oleh olehmu…

Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment


three + = 8