MALAM-MALAM TERAKHIR PENANTIAN
(Farchad Poeradisastra)
* Cerita Mini
Malam itu dilaluinya dengan gemuruh. Mata bathinnya lelah. Ia sangat ingin beristirahat, namun pikirannya masih menjalar ke dunia nyata yang menuntutnya harus bertindak cepat.
Kamar itunya terasa dingin sekali, membuatnya menggigil dan giginya berderit-derit. Akankah dia datang malam ini, sambil membawa testamen terakhirnya. Kepak sayap terdengar sayup-sayup. Lengkingan monyet di pohon-pohon mahoni ditingkahi lolongan serigala.
Bulan tidak muncul, menambah kegelapan dan rasa kantuk yang menekan syaraf-syaraf. Aku harus tetap terjaga, dia akan datang malam ini. Dia akan datang dan malam ini.
Tepat pukul 1 malam, ada suara langkah perlahan mendekat. Makin lama makin kentara. Ada suara ranting patah terinjak. Dan akhirnya ketukan perlahan di pintu depan. Rumahku tidak mempunyai pagar halaman, sehingga tidak perlu membuka pintu pagar untuk mencapai pintu rumah. Adik bungsuku datang tapi tidak sendiri. Ada seseorang menemaninya, lelaki tinggi besar, namun wajahnya sungguh asing bagiku. Ada segores senyum tipis muncul di bibirnya yang agak tebal dan gelap. Tidak ada cakap, hanya saling mengangguk.
Apakah kamu rindu? Adikku mengangguk. Namun tetes air mata mengalir ke pipinya. Kurengkuh dia, tanpa memperdulikan pengawalnya. Sudah seratus hari engkau pergi, jangan menangis cantik! Nanti wajahmu tak terlihat, disapu air matamu. Tiba-tiba aku sadar, teman yang mengantarnya bukan orang sembarang. Begitu banyak cahaya memancar dari tubuhnya. Aku memandanginya, dan ketika ia menoleh kuanggukkan kepalaku. Engkaukah, utusan Tuhanku? Bisikku dalam hati. Dia menjawab dengan kerdip matanya. Waw, cahaya surga yang menyilaukan mataku.
Aku tahu, dinda kau akan datang. Di hari ke seratus, untuk pamitan selamanya. Di dunia ini amanatmu sudah kami jalankan! Kembalilah kepada Tuhanmu. Anakmu Insya Allah akan kami rawat dengan baik. Sembah sujud untuk ayah dan ibu di alam barzah, tempatmu yang baru. Juga aku titip jaga anakku sulung, si ahli surga. Menanti pengadilan terakhir. Bersama. Juga para leluhur kita.
Assalamu alaikum. ‘Kau tiba-tiba melayang dan berpendar – tak terlihat lagi. Pengawalnya mengatupkan kedua tangannya ke depan, mengangguk pelan dan berputar badan. Seketika tak terlihat. Raib.
Salam sejahtera penuh damai. Akhir penantian pun tiba. Ke sana, aku pun akan menuju. Malam-malam. Sepi dan dingin.
Batam, Nagoya Plasa, 15 Oktober 2009.












