Batas Kasih 1
(Felicia Yin)
Kisah ini idenya berdasarkan kisah nyata, diusahakan tidak menyimpang terlalu jauh, tapi tidak bisa persis sama semuanya karena hanya berdasarkan kisah dan curahan hati sepihak…
Mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini… Setidaknya yang baca bisa menikmatinya…. ![]()
Nama-nama tokoh adalah fiktif, mohon maaf bila ada kemiripan/kesamaan dengan pihak lain.
13 Oktober 2005
Tari terbangun dari tidurnya, dadanya berdegup kencang, punggungnya terasa lembap oleh keringat. Lagi-lagi mimpi itu datang menghantuinya, dilihatnya jam di samping tempat tidur… “Ahhh… Baru jam 4 subuh….” Belum saatnya bangun bersiap-siap mengantar putrinya ke sekolah. Tari kembali bergidik mengingat mimpinya tadi, dielusnya perutnya yang baru 1 bulan ini tumbuh calon bayi yang masih dirahasiakan untuk kejutan buat Rizky, suaminya. Buru-buru di peluknya suaminya yang masih tidur, menyelusupkan kepalanya ke dada Rizky yang bidang.
“Hmmm….” Rizky menggeliat, mungkin tidurnya sedikit terganggu.. “Jam berapa?”
Melihat suaminya terbangun juga, Tari spontan menceritakan mimpinya beberapa hari ini… Mimpi yang selalu sama… “Ky…berapa hari ini Tari mimpiin pak Tony dan Vina, temen kantormu yang meninggal kecelakaan minggu lalu… Rasanya udah 3 hari ini mimpiin mereka terus… Yang pertama mereka terlihat berdua lagi tersenyum ke Tari sambil ngelambaiin tangan…kayaknya mau ngucapin salam perpisahan gitu deh…. Trus yang kedua, entah gimana, ceritanya mereka tuh sebenernya ga meninggal tapi ke Hongkong nikah di sana… Karena beda agama, pak Tony kan Katolik udah berkeluarga lagi sedangkan Vina beragama Islam, dan di mimpi Tari tuh Vina lagi hamil… Trus barusan mimpiin mereka lagi, ceritanya sama dengan mimpi yang kedua….”. Belum selesai Tari bercerita, Rizky menangis terisak-isak. Belum pernah Tari melihat Rizky menangis, “Ky kamu kenapa???”. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam pikiran Tari…
“Kenapa, Ky??”.
“Maafin aku Tari….”.
“Iya…tapi kenapa???”. Tari makin panik melihat Rizky yang masih belum bisa menjawab pertanyaannya…. “Duuhhh…apa Rizky berbuat yang aneh-aneh ya selama ini, apa dia terjerat narkoba? Atau dia korupsi di kantornya trus ketahuan dan bakal di penjara??” Cepat-cepat diusirnya pikiran jelek dari kepalanya.
“Ky…..”
“Anita…hamil….”
Deg… Jantung Tari serasa berhenti sejenak mendengar pernyataan itu, lambat-lambat otaknya mencerna kalimat itu. Anita, gadis manis teman sekantor suaminya, hamil… Hamil… padahal Anita belum berkeluarga… Aaahhh… Tari merasa dejavu… Rasanya kalimat itu pernah terdengar di alam bawah sadarnya. Mendengar kalimat itu terucap dari mulut suaminya tidak terasa terlalu mengagetkan, hanya membuatnya terpana tak mampu berkata-kata. Isakan Rizky membuat Tari terbangun dari lamunannya.. Baru terasa ada rasa ngilu di hatinya…perih….
“Kenapa Ky?? Kenapa kamu tega berbuat seperti ini??? Aku lagi hamil Ky….. Aku ga kuaattt…. Mungkin akan terasa lebih ga menyakitkan kalau aku lagi ga hamil….”
Tari meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pelukan Rizky yang semakin erat memeluknya.
“Jangan Tari…jangan pergi…. Maafkan aku, tolong tenangkan dirimu…. Maafkan aku, jangan histeris seperti ini…. Maafkan aku….”
Air mata Tari tumpah tak terbendung lagi, hatinya tidak kuat menahannya, pikirannya kosong, hampa… Tubuhnya meringkuk makin dalam ingin menjauh dari pelukan suaminya. Setelah puas menangis dengan sekuat tenaga yang tersisa Tari berusaha bangkit, menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
Setelah mandi masih dengan pikiran kosong Tari bersiap-siap untuk mengantar putrinya ke sekolah. Diulasnya bedak tipis-tipis untuk menutupi mata sembapnya. Rizky bangkit dan memeluk Tari dari belakang dengan canggung, tidak pasti harus berbuat apa.
“Nanti biar Mami yang anter Viana sekolah, kamu di rumah aja..”
“Ga, biar aku aja, ga pa pa kok.. Lagian mau sekalian periksa ke dokter kandungan…”, jawab Tari datar.
“Maafkan aku Tari, tolong jangan seperti ini… Jangan diam seperti ini… Kita ubah selanjutnya supaya lebih baik…”
“Iya…. Memang semua telah berubah dan akan berubah, tidak akan sama seperti dulu lagi….”, jawab Tari sambil melepaskan tangan Rizky dari pinggangnya.
Selama perjalanan menuju sekolah Viana, Tari hanya diam berusaha tidak menunjukkan suasana hatinya yang sedang hancur. Seperti mengerti suasana hati mamanya, Viana pun duduk tenang di dalam mobil. Tidak seperti biasanya yang selalu berceloteh riang mengomentari segala sesuatu yang terlihat selama perjalanan, membahas aneka rupa bentuk awan yang kadang terlihat seperti boneka beruangnya, dilain waktu seperti lukisan pemandangan di pantai, sampai mengomentari penampilan mamanya yang menurutnya tidak fashionable.
Tari makin menikmati kesendiriannya, dengan pikiran kosong dia menyetir sampai di depan gerbang sekolah Viana.
“Hmmm… Udah sampai, Sayang…. Viana sekolah dulu yah yang pinter, mama mau ke dokter dulu abis itu baru jemput Viana. Main di dalem sekolah aja yah kalo mama belum jemput, tungguin mama di dalem aja yah…”, akhirnya Tari berkata sambil mengecup kening Viana…
“Iya, ma…”, jawab Viana singkat.
Masih dengan perasaan hampa Tari menuju dokter kandungan langganannya yang dulu menangani persalinan saat kelahiran Viana.
Dengan perasaan tak percaya, berusaha menahan tangis Tari menghambur keluar dari ruang praktek dokter, berlari menuju mobilnya. Ditumpahkannya semua kegalauan hatinya di dalam mobil, Tari menangis sejadi-jadinya. Kembali terngiang diagnosa dokter “Hmmm… Ini masih diagnosa awal, tapi kemungkinan janin ini tidak berkembang sesuai dengan umurnya. Kita coba lihat perkembangannya 2 minggu lagi, kalau masih seperti ini janinnya harus dikeluarkan”. Tangis Tari semakin tak terbendung meratapi nasibnya yang berubah 180 derajat dalam sekejap mata. Setelah lama menangis, Tari baru sempat sedikit berpikir, “apa yang harus kulakukan? Rasanya tak sanggup aku menanggung beban ini sendirian…. Oh Tuhan, aku harus gimana….tolong tunjukkan jalan-Mu….”. Puas menangis, Tari berusaha menenangkan dirinya, memencet nomor telpon kakaknya yang seorang psikolog, “Setidaknya kak Yana bisa diajak bertukar pikiran…aku butuh orang yang bisa berpikir jernih”.
Setelah deringan keempat terdengar suara dari seberang sana,
“Halo…, ya Dek, ada apa?”
“Hmmm…kak Yana lagi di kantor? Lagi sibuk ga?”. Jam segini biasanya kak Yana masih di kantor ngurusin keuangan perusahaan suaminya yang bergerak dibidang kontraktor.
“Ga kok, ga lagi sibuk…”, Tari, adiknya yang tinggal di lain kota ini jarang telpon, pasti lagi ada sesuatu yang penting, batin kak Yana.
“Oh… Kak Yana lagi sendirian nih? Ga ada tamu di kantor kan?”
“Oh ga, ga ada orang, ada apa Tari?”, desak kak Yana penasaran, sambil memberi kode ‘jangan berisik’ kepada Lia, adiknya yang ikut bekerja membantu bagian pembelian di kantornya.
“Uhmmm….”, Tari bingung hendak memulai darimana, apa yang harus dia ceritakan lebih dulu, sekaligus menahan tangis yang hampir jebol lagi.
“Tari, ada apa?”
“Tari hamil kak Yana”, sambil sedikit terisak Tari memulai ceritanya, “tapi ini barusan dari dokter, katanya janinnya ga bagus, harus kontrol lagi 2 minggu lagi. Kalo ga bagus perkembangannya harus di buang.”
“Hmm… Dokternya termasuk senior di kotamu? Mau cari second opinion?”
“Iya yah kak…mending ke dokter laen dulu yah…”
“Iya, jangan sedih dulu, kan belum tentu juga janinnya ga bagus, dokter juga bilangnya kan tunggu observasi 2 minggu ini…. Yang sabar ya dek….”
Isak tangis Tari makin menjadi mendengar suara kak Yana yang menyejukkan hati.
“Lhoo…kenapa dek? Udah jangan nangis aja, kasian janinnya, dia ikut ngerasa sedih nanti….”
“Rizky punya wanita lain…kak”.
Sekian detik tak terdengar suara apa pun dari kak Yana, “Kamu yakin, dek? Ada bukti?”.
“Tadi pagi dia baru bilang, ceweknya hamil..” Dengan sedikit histeris Tari berhasil mengeluarkan beban berat itu.
“Apa??! Ceweknya hamil???!!”
“Apa??? Rizky selingkuh yaa??” Terdengar sahutan lain yang bernada emosi dari sebrang sana.
Oh my God!!!! “Lho??? Ada kak Lia juga di sana??? Duuhhh nanti mama jadi tau masalah ini…. Kak Yana gimana dong? Pokoknya kak Lia ga boleh cerita ke mama… Kasian mama kak….mama sudah banyak beban pikiran… Aku ga mau mama ikut sedih… Kak Yana harus suruh kak Lia simpen rahasia ini, mama ga boleh tau…. Janji ya kak….”, tangis Tari makin tak terbendung.
“Sudah…sudah…tenang dulu Tari…iya kakak janji mama ga akan tau masalah ini sampai kamu cerita sendiri ke mama”.
“Apa-apaan sih Rizky itu, apa yang dia pikirin??? Apa dia udah gila??!! Udah Tari kamu ke sini aja, tinggalin aja si Rizky, dasar bajingan!!”, teriak kak Lia di ujung sana.
Tari tidak mampu berkata-kata hanya sedu sedannya yang terdengar.
“Tari…inget yah, jangan sedih terus, kamu harus bisa bangkit, kamu masih muda, cantik, ga ada yang salah dengan kamu. Kejadian ini banyak menimpa siapa saja, Rizky mungkin hanya khilaf, jangan salahkan dirimu kalo Rizky sampai jatuh ke wanita lain. Kamu harus tetap percaya diri, kamu harus bisa bangkit dari masalah ini demi Viana, demi janin yang kamu kandung. Pikirkan baik-baik, apa pun keputusan kamu, kami di sini pasti mendukung kamu. Kalo kamu ingin pergi dari sana, ninggalin semua, kami siap membantu kamu, inget jangan lupa bawa surat-surat penting seperti akte kelahiran, surat-surat tanah atau properti lain yang atas nama. kamu, surat kawin. Kabarin kakak, kalo perlu dijemput kakak kirim pak Amat ke sana…”
“Udah besok aja langsung dijemput sama pak Amat. Ngapain masih bertahan di sana?! Bawa Viana pergi, tinggalin aja Rizky, masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari dia!!”, sembur kak Lia dengan nada tinggi.
“Ya udah deh kak Yana…. Tari mau nenangin diri dulu yah… Tari cape…”.
“Iya, inget jaga emosi, ada perlu apa-apa telpon aja yah…bye…”.
Dengan lemas Tari merebahkan tubuhnya seluruh tenaganya terkuras habis, kepalanya terasa berat namun hatinya sedikit lebih tenang setelah mencurahkan masalahnya pada kak Yana. Meskipun emosi kak Lia sempat menambah sesak dadanya tapi Tari sudah bisa berpikir lebih jernih, dia harus bangkit, harus mulai memutuskan apa yang harus dilakukannya. Hanya berusaha melewati saat ini, detik demi detik, tidak memikirkan apa yang akan dihadapi nanti… esok… lusa…
Diarahkan kendaraannya menuju sekolah Viana. Belum banyak mobil di area parkir. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10.05, masih harus menunggu hampir satu jam lagi. Biasanya Tari bergabung dengan ibu-ibu lain yang menunggu di taman sekolah, menikmati obrolan topik khas ibu-ibu, masalah anak, suami, resep dapur, sinetron, gosip artis terkini, dll. Tapi kali ini Tari sedang ingin sendiri, tidak berselera bertemu orang lain apalagi dengan mata sembapnya setelah menerima berita mengejutkan yang datang bertubi-tubi. Teringat kembali dengan pengakuan suaminya, air mata Tari kembali mengalir. Sungguh tidak percaya Rizky dapat berbuat seperti itu. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya kalau Rizky akan berpaling pada wanita lain. Pikiran Tari terus berkelana mencoba memahami Rizky yang dulu dia kenal. ‘Aku sungguh mengerti Rizky, dia bukan orang yang suka bergenit-genit ria dengan wanita…mungkin dia orang yang humoris tapi biasanya hanya bercanda sebatas teman. Apalagi bila Rizky sampai bercinta dengan wanita lain, itu tak bisa dia lakukan sembarangan tanpa rasa cinta, rasa sayang… Rizky bukan laki-laki hidung belang yang suka mencari perempuan murahan, dia ga suka wanita penggoda… Ini pasti hubungan yang serius, Rizky pasti mencintai wanita ini…’. Mengingat hal ini, rasa nyeri kembali datang menyerang hatinya, terasa perih…
Tok..tok.. “Tarii…”
Ups…ternyata Dian, ibunya Gerald teman sekelas Viana. Buru-buru Tari menghapus air matanya sambil menurunkan kaca mobil.
“Lhoo?? Tari??kamu kenapa???”, Dian panik melihat wajah Tari yang kusut ditambah dengan mata sembapnya.
Belum sempat Tari menjawab, Dian sudah berlari menuju sisi mobil yang lain dan segera masuk duduk disebelah Tari. “Ada apa Tari? Mau cerita?”
Ahh, Tari tidak mau masalah rumah tangganya tersebar luas apalagi dia belum mendengar penjelasan lebih lanjut dari Rizky. Tapi Tari tidak mungkin mengelak dengan jawaban, ‘tidak ada apa-apa, nothing happens, no something wrong, dll…’. Dian tidak mungkin mau menerima jawaban basa-basi seperti itu.
“Aku hamil Di, tapi bermasalah. Kata dokter, perkembangan janinnya ga sesuai dengan usia kandungan. Mungkin harus dikeluarin, tapi liat 2 minggu lagi…”, Tari berusaha menjelaskan penyebab mata sembapnya.
“Ohh…aku turut berduka Tari… Tapi jangan cemas dulu, coba cari dokter lain, kita liat diagnosanya seperti apa…”.
“Iya Di, aku juga berpikir seperti itu, cuman sedih aja rasanya, udah susah-susah pengen kasih Viana adik, malah begini kejadiannya…kamu tau kan aku sudah lama pengen hamil lagi, pengen anak laki biar pas sepasang, ga penasaran lagi…”
“Jangan pesimis dulu, belum tentu diagnosa dokter itu bener… Kakak iparku juga pernah ngalamin kayak gini, dokter bilang janinnya jelek, ga berkembang, tapi tetep dipertahanin, buktinya anaknya sehat aja tuh sampe sekarang…udah dua taon…”, Dian mencoba menghibur Tari.
“Iya, kita liat aja yah Di dua minggu lagi… Mudah-mudahan janinnya kuat.”
“Nah sekarang ga boleh sedih lagi… Bentar lagi anak-anak udah mau keluar, nanti Viana bingung liat mamanya nangis.”
“He eh, thanks yah Di…”, Tari mencoba tersenyum.
“Jangan lupa berdoa yah, biar tenang…”, ucap Dian sambil keluar menjemput anak-anak yang sudah berhamburan keluar dari gerbang sekolah. “Kamu di sini aja, biar aku yang bawa Viana ke sini…”.
“Trims Di….”
“Ok, bye… Take care… Inget, berdoa minta yang terbaik..”.
Pikiran Tari tidak bisa lepas dari Dian yang mengingatkannya untuk berdoa. Yah, kapan terakhir aku berdoa. Secara khusus berdoa, menghadap-Nya. Aku selalu ingat Tuhan, sekali waktu berkomunikasi dengan-Nya. Tapi hanya spontan saja, tidak pernah sengaja meluangkan waktu menghadap-Nya. Tari sudah lupa kapan terakhir dia ke gereja. Mungkin ini teguran dari Tuhan, buat orang yang lupa akan Dia, buat orang yang sombong, terlalu percaya akan kemampuan diri. Terlalu percaya akan pengendalian diri Rizky hingga rasanya tidak mungkin Rizky bisa tergelincir. Dan baru terasa sekarang makna di balik pepatah abadi “tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”. Ternyata sungguh benar tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada manusia, terlalu percaya sepenuhnya pada kemampuan manusia, apapun bisa terjadi bila sudah memang kehendak Tuhan. ‘Ampuni aku Tuhan yang sudah terlalu sombong, terlalu percaya diri, percaya akan kemampuanku dan Rizky hingga melupakan-Mu’, bisik Tari dalam hati.











