Batas Kasih 2

(Felicia Yin)

16 oktober 2005

Tiga hari berlalu sudah sejak pengakuan Rizky, membuat hubungan Tari dan Rizky menjadi dingin dan kaku.  Di depan mertua yang tinggal serumah dengan mereka, di depan orang lain, relasi dan teman-teman, mereka berusaha tampil rileks seperti sedang tidak ada masalah.  Bila sedang berdua, seperti ada jarak, lembaran kaca tak terlihat yang membatasi mereka.  Komunikasi seperlunya, sebatas tentang kebutuhan Viana, tak pernah ada yang berani memulai ‘topik’ yang sensitif tersebut.  Begitu pula Tari, menjaga perasaannya serapat mungkin terutama di hadapan Viana.  Tari tidak ingin Viana merasakan ada masalah di antara kedua orang tuanya.  Tari tidak ingin hati Viana ikut terluka.  Hanya sedikit waktu Tari untuk menikmati kesendirian, bebas mengeluarkan emosi, gejolak hatinya tanpa gangguan.  Biasanya pada saat menyetir menjemput Viana di sekolah dan tempat kursus atau saat menuju ke butik pakaian anak milik Tari yang baru dibuka 1 bulan yang lalu.
Seperti pagi ini, air mata Tari kembali turun membanjiri pipinya tak mampu dicegahnya saat meresapi syair lagu lewat suara bening Siti Nurhaliza.  Lagu dari CD pemberian Rizky saat ulang tahunnya sekitar bulan lalu.

Takkan mungkin kita bertahan
Hidup dalam bersendirian
Panas terik hujan badai
Kita lalui bersama

Sepenggal syair tersebut seakan menguatkan Tari agar dia bertahan menemani Rizky menghadapi semua ini meski menyakitkan, menguras energi, pikiran dan emosi.  Jauh di lubuk hatinya Tari ingin bertahan, namun masih ada ego dalam dirinya yang membuatnya merasa sakit bila mengingat perbuatan Rizky.  ‘Berarti aku sempat tersisih dari hatinya… Rizky pernah berniat meninggalkanku meski sekarang dia mengakui kesalahannya, meminta maaf.  Perhatiannya… rasa sayangnya padaku sempat dialihkan pada wanita lain meski aku tidak meyadarinya sebab tak pernah terpikirkan sebelumnya.  Aku mungkin masih bisa bertahan kalau Rizky memang ingin mempertahankan keluarga ini.  Masih banyak yang harus dibicarakan dengan Rizky.  Sudah saatnya memutuskan kelanjutan pernikahan ini.’.
Tari mengusap matanya, membersihkan sisa-sisa air mata di pipinya.  Dia harus siap menghadapi pengunjung butiknya, melayani pelanggannya, mengajak mereka mengobrol, bercerita, tertawa bersama.  Meski hatinya sedang terluka, rasanya ingin menangis, terpuruk, menghilang dari dunia ini selamanya.  Tapi ego-nya yang memaksa Tari untuk bangkit.  ‘Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari Rizky.  Bahkan aku juga bisa sendiri tanpa laki-laki.  Aku bisa merawat dan menghidupi Viana sendiri.  Aku hanya tak sanggup melihat Viana tumbuh tanpa figur ayahnya.  Ahhh…sudahlah…cukup sudah perang batin ini’.  Tari menghela napas dalam-dalam, melangkah ke luar dari mobilnya bersiap menghadapi rutinitas hari ini menyibukkan diri mengurus butiknya dan Viana tentu saja, tempat Tari mencurahkan seluruh kasih sayangnya.

Saat hilang arah tujuan
Kau tahu ke mana berjalan
Meski terang meski gelap
Kita lalui bersama

Sudah hampir larut malam, Viana sudah terlelap.
“Ky, kita harus bicara…”. Tari memulai percakapan, membuat Rizky mengalihkan tatapannya dari layar televisi.  Wajahnya terlihat kuyu, murung, tatapannya kosong, tidak ada tanda bahwa dia menikmati tayangan televisi tadi.
“Iya, aku tau aku yang salah Tari…”
“Sekarang gimana selanjutnya? Apa yang kamu mau?”
“Aku ga tau Tari, aku ga ada keinginan apa-apa, aku di pihak yang salah, mana bisa aku meminta lagi darimu…”
“Pernikahan kita…keluarga kita, kamu ingin terus atau cukup sampai disini? Pernikahan, ga akan bisa jalan terus kalau cuma satu pihak yang mengarunginya.  Kamu ingin aku tetap bertahan atau pergi dari kehidupanmu?”. Akhirnya keluar juga pertanyaan terberat dalam hidup Tari, yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya, selalu mengganggunya karena Tari sendiri tidak sanggup memutuskan pilihan itu.
“Kamu pasti mengerti diriku sepenuhnya, aku ga mungkin ninggalin kamu dan Viana, Tari… Kalian yang utama dalam hidupku….”
“Tadinya aku merasa sungguh mengerti dirimu, Ky…tapi mungkin sekarang sudah berubah, kamu seperti orang asing bagiku…”
“Ga Tari, aku percaya, kita adalah satu…kau tau sifatku, isi hatiku, pikiranku seperti apa… Kau tau kalau aku berbuat salah pasti aku akan perbaiki…  Aku cuma bisa mengaku salah, aku bahkan ga sanggup memohon maaf darimu… karena perbuatanku ini adalah kesalahan terbesar,  yang tidak layak menerima maaf darimu…”
“Jadi…. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Tari miris, hatinya terasa perih teringat kesalahan Rizky.
“Aku ga bisa memintamu terus menemaniku…tidak setelah apa yang kulakukan padamu…  Yang jelas aku pasti menyelesaikan masalahku sendiri, aku ga ingin ini semua jadi bebanmu juga…”
“Kamu ingin aku pergi, Ky?”
“Ga…jangan salah sangka… Bukan begitu maksudku…  Semua ini terserah padamu Tari, aku ga berhak memintamu bertahan…kamu ngerti? Dengan kesalahan yang telah kuperbuat, aku ga bisa memaksamu tinggal kalau kamu ingin pergi… Semua kesalahan ada harganya…  Mungkin itulah harga yang harus aku bayar…  Kehilangan kamu dan Viana…sungguh harga yang tak ternilai…tapi tetap harus aku jalani…”

Tari melewatkan malam itu dengan gelisah.  Pikirannya terus dipenuhi dengan pertanyaan itu, pilihan yang sungguh sulit untuk diputuskan.  Rizky sudah menyatakan sikapnya kalau dia akan menyelesaikan masalahnya dengan Anita, tapi sanggupkah aku terus bertahan seperti ini.  Apalagi ada calon anak Rizky dan Anita, inilah masalah utama yang sudah pasti akan terus menghantui hidupku.

17 Oktober 2005

Besok, 18 Oktober, Viana ulang tahun yang ke-4.  Tidak ada perayaan pesta ulang tahun, Tari tidak berniat merayakannya.  Hatinya kacau, semua rasa sedih, kecewa, cemas bercampur aduk.  Namun Tari juga tidak ingin mengecewakan Viana yang ingin merayakan ulang tahunnya.  Setelah berkompromi dengan Viana akhirnya disepakati merayakannya dengan tiup lilin di sekolah Viana.
Tari sedang bersiap pergi ke toko kue langganannya untuk memesan kue ulang tahun Viana, ketika telpon genggamnya berbunyi.  Andre, adiknya semata wayang yang menelpon.  Pasti Andre sudah mendengar kabar dari kak Yana.
“Ya, Dre… ”
“Gimana kabarmu, Tari?? Aku udah denger dari kak Yana…”
“Yaahh…gini ajaa…. “, Tari bingung menjawabnya, hatinya terasa hangat mendapat perhatian penuh dari saudara-saudaranya.  Matanya mulai berkaca-kaca, ingin berbagi kesedihan hatinya tapi dia tak kuasa berkata-kata.  Tidak ingin adiknya ikut merasa sedih, sakit hati.
“Tari…menurutku kamu perlu menyendiri untuk memikirkan masalahmu,  menentukan sikap.  Ini hidupmu, jangan sampe salah langkah, salah pilih, jangan terpengaruh orang lain.  Baik itu keluarga, teman bahkan Rizky sendiri.  Kamu yang akan menjalaninya, bukan orang laen.  Setiap manusia, terlebih laki-laki, kalau udah buat salah pasti minta maaf.  Laki-laki paling pinter bermulut manis, kasih janji-janji, mohon ampun, kalo perlu sujud untuk mendapatkan maaf darimu.  Dan laki-laki juga paling mudah tergoda untuk berbuat salah.  Ikuti kata hatimu, pilih jalan yang terbaik buat kamu dan Viana.  Kita semua ngedukung apapun keputusanmu, jangan takut, kamu ga sendiri… Kalo perlu menjauhlah dari sana untuk sementara waktu, misalnya bawa Viana berlibur ke Bali.  Hanya kalian berdua, renungkan semuanya di sana.  Ok, sist? God bless you…”
Tari hanya diam mendengar Andre, air matanya mengalir deras.  Adiknya, yang paling dekat dengannya, tempat curahan hatinya, yang selama ini selalu dianggap anak bawang karena paling kecil di antara mereka, ternyata telah dewasa.  Berusaha memberikan pandangannya, dukungannya membuat air mata Tari mengalir makin deras.
“Thanks Dre…”, cuma itu yang terucap dari bibir Tari.

Seharian hati Tari gundah.  Ya, sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh bersama Viana meninggalkan semuanya.  Memulai hidup baru berdua di tempat lain.  Memang Bali rasanya pilihan yang asyik juga, tempat wisata yang menggairahkan, jauh dari orang yang dikenalnya.  Tapi, apa aku sanggup jauh juga dari orang tua, kakak, adik, saudara semuanya?  Usaha apa yang akan aku jalani untuk menghidupi Viana di sana? Aku harus mulai dari nol, sedangkan ga ada orang yang aku kenal di sana.
Pilihan kedua, pindah ke Bandung.  Sekarang jarak Bandung – Jakarta makin singkat, ga masalah tiap akhir pekan berkunjung ke rumah orang tua.  Bisa tetap dekat dengan saudara yang mendukungku.  Pendidikan Viana juga terjamin, di sana banyak sekolah bermutu.  Tapi, tetap saja aku harus memulai usaha dari nol di sana.  Dan kalau pindah, mama pasti curiga, mama akan tau masalahku dengan Rizky.  Berarti nyusahin mama juga.  Hmmm…kasian Viana juga yang akan hidup jauh dari papanya.  Bisa aja aku jelasin ke Viana kalau papanya bekerja jadi ga bisa ikut pindah.  Tapi, tetap pasti ada yang hilang dalam hati Viana.  Dia pasti akan merindukan Rizky yang memang dekat dengan Viana.
Ah, biarlah Tuhan yang tunjukkan jalan-Nya.  Kalau memang harus berakhir seperti ini, aku akan berusaha semampuku untuk mandiri.

Tari menunggu hingga Viana tidur untuk memulai percakapan dengan Rizky.  Tari tidak ingin Viana merasakan perubahan di antara Rizky dan Tari.  Tari juga menjaga agar Viana tidak mendengar dan melihat pertengkaran mereka.  Meski hingga saat ini belum pernah terjadi, Tari takut sewaktu-waktu emosinya dan Rizky bisa tak terkendali.

“Ky…aku mau tanya…”
“Ya, tanya apa?”
“Gimana tanggapan Anita tentang masalah ini..”
“Yang jelas dia merasa bersalah juga, dia ketakutan, malu kalau ketahuan tetangga, temannya kalau dia hamil.”
“Trus, emang dia mau tetap mempertahankan kehamilannya? Kenapa ga digugurkan aja? Kan masalah selesai…”
“Dia ga mau melakukan itu Tari, udah pernah aku saranin juga ke dia…”
“Jadi… Dia maunya apa?”
“Dia minta tanggung jawabku…”
“Maksud kamu dia pengen dikawinin?? Aku ga rela Ky, aku ga mau, kasi dia uang berapa pun yang dia minta, kasi dia rumah, asal jangan kamu kawinin!!!  Pantesan dia ga mau gugurin, dia takut kamu ninggalin dia.  Jadi dia pake anak itu buat jaminannya”, badan Tari bergetar menahan emosinya, tangisnya meledak tak terkendali.
“Aku ga tau harus gimana Tari… Aku bener-bener ga tau…”, dengan kalut Rizky menghambur ke luar kamar, tak sanggup menghadapi kepedihan Tari.  Rizky tau dia ga akan bisa memenuhi permintaan Tari.  Dia juga ga mungkin lari dari tanggung jawabnya terhadap Anita.
Setelah emosi mereka berdua mereda, Rizky kembali menghadapi Tari.  Dipeluknya Tari yang sudah lemas, kehabisan daya, putus asa, seakan tak ada jalan keluar atas masalah ini.
“Tari, aku ga bisa apa-apa, aku harus bertanggung jawab.  Kesalahan ini harus aku perbaiki.  Sekarang, yang terutama, kesalahan dengan Anita harus aku selesaikan terlebih dahulu.  Aku janji, semua akan aku selesaikan.  Beri aku waktu 1-2 tahun untuk perbaiki semua.  Aku butuh kebesaran hatimu, tetap kamu dan Viana yang utama dalam hidupku, sekarang, akan datang, selamanya…  Aku ga mungkin lupa itu…  Maafkan aku Tari…”, dengan tersendat Rizky berusaha menenangkan Tari, sungguh berat hatinya membicarakan hal ini.  Tidak tega Rizky meminta Tari untuk berbesar hati menerima semua ini, semua kesalahan yang dia perbuat.

Tertarik dengan yang ini?

Comments (2)

TIROI FLORENTINAJanuary 25th, 2010 at 8:49 am

Gila…gila…!! salut tuk tokoh di cerita ini, gw aja mingkin gak sanggup kl jadi si tokoh utama..hebat..hebat..!! itu mungkin yang namanya the power of love ;p
mau menerima keadaan pasangan kita apa ada nya n kesalahan nya yang paling besar sekalipun..
di tunggu kelanjutan nya ya..

Felicia YinJanuary 26th, 2010 at 6:48 pm

@TF… :) yaahhh… itulah hidup….proses belajar untuk jadi lebih baik… Thnx…

Leave a comment

Your comment