Batas Kasih 3

(Felicia Yin)

21 Oktober 2005

Tari sudah tak sanggup lagi, berhari-hari menahan rasa penasaran.  Dikuatkan hatinya menemui Anita, yang dulu sudah pernah dikenalkan Rizky padanya saat Anita baru bekerja di kantor Rizky.  Tari masuk menghampiri meja kerja Anita.
“Hai, Anita aku mau bicara.  Di ruang tamu aja, ga enak di sini banyak orang.”
Tari melirik perut Anita yang sedikit membuncit.  Sambil menyentuh perut Anita, Tari bertanya, “Bayi Rizky ya?”.  Tak ada jawaban dari Anita.
“Gimana keluargamu, udah tau masalah ini?”
“Cuma ibu yang udah tau, yang lain belum.”


“Trus, kamu maunya gimana? Nerusin atau mau digugurin aja?”
“Aku ga mau bikin dosa lagi, aku ga mau gugurin kandunganku, anak ini ga bersalah…”
“Jadi?kamu maunya gimana?”
“Yang pasti, keluargaku akan minta pertanggungjawaban Rizky… Aku sebenarnya ga ingin menjadi orang ketiga di antara kalian…  Aku ga minta Rizky untuk bertanggung jawab…”
“Maksudnya kamu mau jadi single parent aja?”
“Iya, tapi keluargaku akan menuntut Rizky…”
“Kalo kamu maunya begitu kenapa ga jelasin ke keluargamu untuk tidak meminta pertanggungjawaban Rizky?”
“Ga bisa, mereka ga akan mau mengerti..”
“Hmmm….kamu mau jadi istri ke dua? Kamu kan udah kenal aku, kamu udah tau Rizky punya anak istri… Kenapa kamu mau berhubungan dengan dia?”
Tidak ada jawaban dari Anita.  Diam tak tahu hendak berkata apa, mungkin baru menyadari kesalahannya.
“Aku udah meminta Rizky untuk meninggalkan aku dan Viana tapi dia ga mau.  Rizky juga bukan orang yang ga bertanggung jawab.  Dia pasti menikahimu.  Tapi setelah itu, gimana? Kamu sanggup menghadapinya?  Punya suami tapi tak seperti yang seharusnya, harus berbagi dengan orang lain? Punya suami tapi seperti ga punya suami, ga bisa memilikinya seutuhnya.”
“Ga apa-apa… Aku yakin, Rizky bisa adil membagi waktunya…”
“Haahh??? Adil??? Maksudmu Rizky berpindah-pindah 3 hari di rumahku dan 3 hari di rumahmu?”
“Iya, aku akan menerima semua itu.. semua terserah Rizky…”
“Yah terserah kalo itu maumu.  Tapi aku lebih mengenal Rizky…”
Tari menyudahi pertemuan itu dan kembali ke butiknya.  Seluruh pembicaraan itu menguras energinya.  Lemas seluruh persendiannya, bahkan tak sanggup untuk menata baju di butiknya.  Tangannya bergetar setiap kali hendak mengambil sesuatu.  Kepalanya seperti melayang-layang, penglihatannya mengabur sekelilingnya makin gelap.  Akhirnya Tari menyerah, terduduk lemas di sofa, menarik napas dalam-dalam.  Pegawainya sedikit panik melihat kondisi Tari, segera menyodorkan teh manis hangat.  Setelah kondisinya pulih, Tari pulang untuk beristirahat, memikirkan janinnya yang bergantung padanya.  Berusaha membuang semua kenangan pahit, semua masalah, sakit hati yang dipendamnya demi janin yang dikandungnya.  Tujuh hari lagi jadwal kontrol ke dokter.

28 Oktober 2005

Dengan gelisah Tari bersiap mengantar Viana sekolah dan ke dokter kandungan, belum sempat mencari second opinion ke dokter lain.  Tari hanya bisa pasrah, berharap janinnya baik-baik saja.

Tapi harapan Tari tidak terkabul, diagnosa dokter tetap seperti semula, janinnya tidak bagus perkembangannya.  Harus dikeluarkan.  Membayangkan harus membuang nyawa janinnya membuat Tari bergidik apalagi harus menjalani prosesnya.  Meski sudah berusaha pasrah tapi kenyataan ini kembali membuat Tari down.

Disaat Tari sedang menumpahkan perasaannya, gelisah, takut, kecewa, semua bebannya, Rizky menelepon, “Tari, kamu lagi di mana?”
“Masih di dokter…”, jawab Tari disertai isak tangisnya.
“Ada apa Tari? Dokter bilang apa?”
“Yah, bayinya harus dikeluarin, harus dikuret.  Kata dokter, perkembangannya ga bagus…”
“Ya udah Tari, ikutin aja dokternya, dia pasti udah periksa teliti.  Mungkin memang lebih baik ga diterusin, dari pada nanti setelah lahir anaknya ga sempurna…”
“He eh…”, Tari tak mampu berdebat dengan Rizky, namun dalam hatinya Tari tetap berniat memeriksakan kandungannya ke dokter lain.

Meski sudah konsultasi ke dokter lain, tetap saja Tari harus kembali menerima kenyataan pahit.  Bayi yang dikandungnya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, detak jantungnya sudah tidak ada.  Mau tidak mau Tari harus menjalani proses yang dia takutkan, menghadapi peralatan rumah sakit yang ‘dingin’.
Lagi, Tari larut dalam kesedihannya.  Hanya kali ini sudah tidak sanggup ditutupi lagi.  Tari menghabiskan waktu dengan menangis di dalam kamar, meratapi nasibnya, mengeluarkan emosinya sepuas-puasnya.  Viana yang tidak mengerti sepenuhnya hanya bisa menghibur Tari.
“Mama….Mama kenapa nangis terus? Sakit ya? Mana Ma yang sakit? Perut Mama sakit? Kasi minyak telon yah Ma… sini Viana obatin…”
Tari makin tersedu dengan perhatian Viana.  Viana yang kebingungan akhirnya menelepon Rizky.  Namun Tari seakan tak peduli dengan sekelilingnya, terus mengurung diri di dalam kamar.

02 November 2005

Beberapa hari istirahat di rumah, terpuruk dengan kesedihannya, Tari mulai merasa bosan.  Dia ingin kembali melakukan rutinitasnya, mengantar jemput Viana yang sementara ini diambil alih Maminya Rizky, mengurus butiknya yang beberapa hari ini sedikit terlantar tanpa pengawasan darinya.
Saat melewati toko buku dan musik rohani, tanpa direncanakan tiba-tiba Tari menghentikan mobilnya dan parkir di depan toko tersebut.  Tari ingin mencari sesuatu untuk ketenangan batinnya.  Dia sudah terlalu lelah dengan semua bebannya.  Ingin mencari petunjuk jalan apa yang harus dipilihnya.  Masalahnya dengan Rizky masih mengambang belum ada kepastian, mengalir saja apa adanya, hambar.  Karena hampir tidak pernah membeli CD lagu rohani, terakhir Tari membeli CD lagu natal waktu kuliah dulu hampir sepuluh tahun lalu, Tari menurut saja pada pilihan pegawai toko tersebut.  Tari juga mengambil beberapa renungan harian dan matanya terpaku pada salah satu buku tipis.  Judul buku tersebut yang menarik perhatiannya, “Pertolongan Pertama pada Perkawinan”.  Setelah membaca sekilas isi buku itu, Tari memutuskan untuk membelinya juga.
Di dalam mobil Tari selalu mendengarkan CD yang baru dibelinya.  Lagu-lagu rohani tersebut selalu menyentuh hatinya, air matanya mengalir deras.  Tidak pernah Tari mempertanyakan pada Tuhan, kenapa? Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi padanya… Kenapa Tuhan membiarkan dia merasa sakit…. Tari hanya ingin ditunjukkan jalan yang benar, ke mana dia harus melangkah.  Sering sekali Tari mendengar kalimat-kalimat penghiburan seperti, ‘Tuhan akan berikan yang terindah pada waktunya’ atau ‘Dibalik setiap masalah pasti ada hikmahnya’.  “Tapi apa? Apa hikmah dibalik semua ini? Beritahu aku Tuhan, beri aku sedikit petunjuk biar aku lebih kuat menjalaninya.  Aku bisa melewati ini semua bila aku tahu apa yang menungguku di ujung sana…”, ratap Tari.
Sesampainya di rumah, Tari membaca buku yang menggugah rasa penasarannya.  Bukunya tipis, tidak sampai 50 halaman.  Tidak butuh waktu lama untuk membacanya sampai habis, dibacanya sekali lagi, dibolak-baliknya lagi halaman tertentu yang sekiranya penting.  Kemudian Tari menyimpan kembali buku tersebut ke dalam tasnya.  Tari tidak ingin Rizky melihatnya membaca buku-buku rohani maupun renungan harian.  Entah kenapa, mungkin sedikit malu karena Tari tidak pernah sereligius itu, takut dianggap hanya pelarian dari masalahnya saja.  Dan mungkin juga Tari tidak mau dipandang lemah oleh Rizky.
Menuruti petunjuk dari buku yang dibacanya, Tari mengambil buku janji pernikahannya dengan Rizky, membacanya ulang.  Air mata Tari mengalir deras diingatkan janjinya kepada Tuhan di depan altar, “…di dalam suka maupun duka, untung dan malang…mencintai dan menghormatinya seumur hidup…”.  “Cukup… cukup sepenggal kalimat itu saja.  Itu sudah menjelaskan semuanya, petunjuk untukku memilih jalan yang mana…”. Setidaknya untuk tetap setia pada janjinya, janjinya kepada Tuhan.
“Tapi gimana aku bisa, Tuhan… Banyak rintangan dihadapanku, mana sanggup aku melupakan sakit hatiku, gimana caranya mengampuni? Aku bukan malaikat, Tuhan… Jangan suruh aku berbuat lebih dari yang aku mampu…”, ratap Tari, mengungkapkan kepedihan hatinya.  Mencoba mencari pembenaran atas penolakannya pada petunjuk pertama, Tari mengambil alkitab.  Dibolak-balik halaman demi halaman alkitab tersebut, berusaha mencari dukungan pada pilihannya yang ingin lari dari bebannya.  Matanya mencari-cari penjelasan tentang perceraian.  Dibacanya dengan hati-hati, takut ada yang terlewati.  Ahh, di mana penjelasan tentang perceraian, kok semua isinya menentang perceraian?  “…sudah menjadi satu tubuh, tidak dapat diceraikan…. Apa yang Kupersatukan tidak dapat diceraikan manusia…”.
Kembali dibolak-balik lembaran alkitab tersebut.  Dan matanya terpaku tulisan kecil-kecil itu yang menjelaskan tentang kasih.  “Kasih itu sabar..murah hati..tidak cemburu..tidak pemarah..tidak menyimpan kesalahan orang lain..menutupi segala sesuatu..percaya segala sesuatu..mengharapkan segala sesuatu..sabar menanggung segala sesuatu…”.

“Yah, gampang emang ngejalani itu semua kalau lagi ga ada masalah…. Gimana bisa murah hati, mengampuni… Kalau hatiku hancur berantakan.  Gimana caranya melupakan perbuatan Rizky padaku? Ya…ya… Waktu yang akan menyembuhkan semuanya…  Tapi sampai kapan??? Mana mungkin bisa lupa, kecuali kalau amnesia…”, pikir Tari getir.

Tertarik dengan yang ini?

  • Behind the Scene: Thank God I Found You – The Series
  • Thank God I Found You Part 22- The End
  • Thank God I Found You Part 21
  • Thank God I Found You Part 20
  • Thank God I Found You Part 19
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II
  • merajai mimpi I
  • MIENEVIERE part 3 (tamat)
  • MIENEVIERE part 2

Leave a comment

Your comment