Batas Kasih 4
Felicia Yin
4 November 2005
Dua hari mengobrak-abrik alkitab, bacaan renungan harian, tidak juga menemukan apa yang Tari cari. Semua seolah-olah hendak menunjukkan, tidak ada jalan lain, terima saja dan jalani kehidupan perkawinan ini selamanya, perbaiki semua kerusakan yang terjadi. Uh…Tari merasa terpojok. Hatinya terombang-ambing. Seharian Tari gundah, bimbang, tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya. Hingga tak terasa Rizky pulang dan menyodorkan sesuatu padanya. Sepucuk amplop kecil, kartu ucapan. Tapi terasa ada sesuatu di dalamnya. Ya, hari ini ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Tari sebenarnya ingat akan hal itu, tapi dia menolak untuk mengingatnya. Terasa sakit hatinya memikirkan hanya 5 tahun Rizky sanggup menjaga kesetiaannya. Baru seumur jagung, kalau diibaratkan dengan anak-anak, berarti baru kelas TK. Belum belajar banyak, masih senang bermain, belum mandiri. Mungkin itu sebabnya kalau banyak yang bilang 5 tahun pertama usia perkawinan masih rawan, mudah tercerai-berai, berantakan.
“Untuk Tari (istriku tercinta),
Tapi tidak kuperlihatkan ya?”. Tulisan tangan Rizky tertata rapi di muka amplop.
Tari mengambil kartu kecil yang terselip di dalamnya. Kartu berwarna putih dengan gambar buket bunga di tengahnya, tulisan ‘thank you’ ikut menghiasi kartu tersebut.
“Untuk : Istriku yang Istimewa
Terima kasih karena setia menemani dalam 5 tahun ini
Terima kasih atas semua pengertiannya
Terima kasih atas pengampunannya
Kesalahan telah aku perbuat
Aku berjanji, apa pun yang terjadi
Keluarga ini yang akan kuutamakan dan kupertahankan
Sampai aku meninggalkan dunia ini
Happy 5th wedding Anniversary!
Dari : suamimu yang tak tahu diri,
Rizky, 04 November 2005.”
Mata Tari memanas membacanya, mati-matian dia menahan air matanya supaya tidak bergulir. Tari tidak mau menangis di depan Rizky.
Masih ada sesuatu di dalam amplop. Tari membalikkan amplop dan sedikit mengguncangnya. Sebuah liontin meluncur dari dalam amplop. Liontin berbentuk dua hati yang saling bertautan. Tak sanggup Tari berlama-lama memandang pemberian Rizky, hatinya terasa perih. Tangannya bergetar saat menyimpan pemberian Rizky ke dalam lemari.
“Thanks, Ky…”, hanya itu yang terucap dari mulut Tari. Tidak berani memulai pembicaraan panjang lebar, karena tahu air matanya sudah hampir tak terbendung lagi. Tari menyibukkan dirinya dengan menemani Viana bermain. Meredakan emosinya.
“Yuk, kita makan ke luar,” Rizky menghampiri Tari dan Viana.
“Ayoo… Yeeyyy…mau makan di mana Pa?” Viana antusias menyambut ajakan Rizky.
“Hmmm… Enaknya di mana ya? Viana pengen makan apa? Hari ini mama papa ulang tahun lhoo…”, Rizky senang ada yang mendukungnya karena dilihatnya Tari kurang antusias dengan ajakannya.
“Waahhh….Viana lagi pengen makan spagheti nih Pa… Kan udah lama kita ga ke sana,” ucap Viana sambil menyebut restoran yang menyajikan masakan Italy kesukaannya. “Eh, tapi kok aneh, kenapa papa sama mama ulang tahunnya barengan sih? Bukannya mama barusan ulang tahun? Kok ulang tahun lagi…. Iihhh.. enak betul bisa ulang tahun sering-sering, bisa pesta ulang tahun terus, dapet hadiahnya banyak dong Ma….”.
“Hahaha….bukan gitu, Sayang…. Ulang tahun kelahiran kita yah cuma satu kali aja satu taonnya…. Hari ini, ulang tahun pernikahan mama dan papa… Jadi, tanggal 4 November tahun 2000 yang lalu, mama sama papa menikah, di depan altar gereja… Gitu ceritanya…” Rizky berusaha menjelaskan semampunya dengan bahasa yang bisa dimengerti Viana.
“Oohh…gitu… Jadi nanti kalo Viana udah sebesar mama dan papa, ulang tahunnya juga banyak kali yah Pa? Bisa sering-sering ulang tahun… Asyiiiikkk… Viana mau cepat besar ahhh… Biar bisa dapet kado ulang tahun terus…”, ternyata Viana belum terlalu mengerti penjelasan Rizky. ‘Yah, biarlah… Dia akan mengerti bila waktunya sudah tiba…’, batin Rizky.
“Ya udah yuk…. Siap-siap, nanti kita kemaleman…”, ucap Rizky sambil melirik Tari yang sedari tadi hanya diam.
Dalam perjalanan Tari masih berdiam diri. Suara Audy mengalun dari radio. Rizky ikut mendendangkan lagu tersebut. Hingga sampai pada bagian reffrain-nya…
tahukah kamu semalam tadi
aku menangis
mengingatmu mengenangmu
mungkin hatiku terluka dalam
atau selalu
terukirkan kenangan kita
kau telah hadirkan dia
untuk menggantikan aku
tanpa kau sadari
aku tak kan pernah terganti
kau ingin tinggalkan dia
dan menyandingku kembali
ini tak kan adil… .
Rizky tak kuasa menyelesaikan lagu tersebut. Suaranya terdengar makin parau dan tercekat. Dengan ujung matanya Tari melihat Rizky mengusap sudut matanya. Sedangkan Tari juga berusaha menahan air matanya yang sudah mengambang tidak sampai tumpah. Lagu tersebut memang dengan gamblang menggambarkan keadaan dirinya saat ini. Tak ada yang bersuara saat itu, hanya menahan gejolak perasaan masing-masing. Dalam diam, Rizky meraih tangan Tari dan menggenggamnya erat-erat seakan menyatakan hatinya pun ikut sakit melihat Tari terluka akibat perbuatannya.
13 November 2005
Intro lagu Brahms Lullaby mengalun lembut dari telpon genggam Tari. Hmmm… Viana…
“Ya… Sayang, ada apa?”.
“Hai Ma… Jangan lupa yah sama janji Mama kemaren…”.
Tari tidak lupa dengan janjinya pada Viana, janji membawa Viana ke gereja untuk ikut kebaktian Minggu sore. Entah kenapa masih berat hatinya untuk kembali ke gereja setelah sekian lama absen. Terlebih dengan masalah yang tengah dihadapinya, makin terasa berat untuk ke gereja. Malu rasanya menghadap Tuhan hanya pada saat hendak melepas beban hidup. Disaat hidup terasa nyaman, mengalir lancar tidak merasa perlu mencari-Nya. Hanya saja kejadian akhir-akhir ini seolah-olah mendorong Tari untuk beribadah kembali. Pertama, dari temannya Dian yang mengingatkan Tari untuk berdoa. Kedua, hari Jumat yang lalu Tari dipanggil oleh guru agama Viana, pak Aloysius, yang mengungkapkan kesulitan Viana dalam mengikuti pelajarannya. Sepertinya Viana tidak familiar dengan kisah dalam Alkitab, Tari diminta untuk lebih membimbing Viana, misalnya dengan mendaftarkan Viana untuk sekolah minggu di gereja dan mengikuti kebaktian di gereja.
“Maa…. Lupa ya?”. Suara Viana membangunkan Tari dari lamunannya.
“Eh, iya Sayang… Mama ga lupa kok. Bentar yah, Mama beresin kerjaan dulu. Bentar lagi Mama pulang.”.
“Iya Ma… Ma, nanti Papa ikut ga?”
“Hmm, nanti Mama tanya Papa dulu ya, soalnya kan Papa lagi kerja.”.
“Iya Ma, bye…”
Tari tidak ingin mengganggu Rizky yang memang setiap hari harus mengontrol salah satu pusat pertokoan di kota ini. Sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai manager building di sana, meski hari libur pun Rizky tetap menyempatkan diri untuk bekerja. Lagi pula Tari tidak siap bila Rizky ikut mendampingi mereka ke gereja.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, buru-buru Tari meninggalkan butiknya dan menjemput Viana.
Sepulang dari gereja, terngiang kembali sepenggal doa “…ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami…” yang membuat Tari menangis tadi di dalam gereja. Berusaha menahan agar isakannya tidak terdengar, berusaha tetap menangis dalam diam. Tari menyadari dia harus bisa mengampuni, tapi dia jg sadar bahwa sungguh berat untuk bisa benar-benar lepas mengampuni dan entah sampai kapan dia bisa mewujudkannya.
Beban berat terasa menghimpit dadanya, sungguh menyesakkan. Tangis Tari makin tak terbendung saat pastor mengakhiri kotbahnya dengan nyanyian, syair yang terasa pas dengan suasana hatinya saat ini.
Terkadang kita merasa
tak ada jalan terbuka
tak ada lagi waktu
terlambat sudah
Tuhan tak pernah berdusta
Dia slalu pegang janji-Nya
bagi orang percaya
mukjizat nyata
Reff:
Dia mengerti, Dia peduli
persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, Dia peduli
persoalan yang kita alami
Namun satu yang Dia minta
agar kita percaya
sampai mukjizat menjadi nyata…
Tuhan mengerti…
Beban berat masih terasa menyesakkan, kepala Tari terasa sakit memikirkannya tapi semua memang harus dijalani…
29 November 2005
Beberapa minggu ini Tari melalui proses pertentangan dan penenangan batin dengan membaca renungan-renungan rohani, mendengarkan lagu-lagu pujian dan syukur kepada-Nya. Tari juga meminta pendapat dan pandangan dari 2 sahabat karibnya semasa SMA dan kuliah. Tari tidak sanggup bertukar pikiran dengan keluarganya, bukan karena tidak percaya pada mereka. Tetapi Tari tidak bisa melihat mereka ikut merasakan kepedihan hatinya. Tari khawatir mereka tidak bisa memberikan pandangan yang obyektf karena mereka amat menyayanginya.
Sudah 1 bulan lebih sejak pengakuan Rizky, Tari merasa sudah waktunya menentukan sikap. Namun tak sanggup rasanya bila harus mengatakannya secara lisan pada Rizky, Tari pasti tak mampu menahan air matanya. Diambilnya selembar kertas dan bolpen. Merangkai kata untuk Rizky menumpahkan isi hatinya, perasaannya, sikap dan rencana masa depannya. Sambil sesekali mengambil tisu untuk menyeka air mata dan membersihkan hidungnya.
“….ga perlu aku ungkapin panjang lebar apa yang kurasakan karena aku tau kamu juga ikut merasakannya, sakitnya, pedihnya dan seberapa hancur hatiku…. Maaf yang kamu dan Anita pinta dariku, aku ga tau lagi apa artinya ‘maaf’. Sekedar bilang “iya aku maafin” itu gampang kulakukan dan sudah kuberikan pada kalian. Hanya bagiku ‘maaf’ sebenarnya lebih dari itu, ‘maaf’ menurutku seharusnya keluar dari hati yang rela, ikhlas menerima perbuatan salah seseorang. Dan kamu pasti tau, aku ga rela ada wanita lain dalam hidupmu, ga akan rela, ga ada wanita yang rela… Ya, hanya demi Viana, aku akan menemanimu sampai kamu menyelesaikan masalahmu dengan Anita. Aku akan berusaha semampuku, tapi aku ga bisa janji akan selamanya menemanimu… Bila kurasa hatiku tak kuat menanggung beban ini, aku akan mundur… Satu hal lagi Ky, aku ga mungkin selamanya hidup di kota ini. Suatu saat aku dan Viana pasti pindah dari sini. Terlalu sakit mengenangnya dan kita ga mungkin bisa menutupi hal itu selamanya dari Viana. Selain itu, supaya Viana mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi…”
Tari membaca ulang suratnya buat Rizky, berusaha agar air matanya tidak menetes mengotori surat itu. Melipat dan memasukkan suratnya dalam amplop untuk diserahkan pada Rizky nanti malam.
Yah… Tari sudah melipat dan menyimpan babak pertama dalam kehidupannya. Tari sudah menentukan sikapnya, menjalani babak baru dalam hidupnya, untuk tetap setia pada janjinya pada Tuhan. Walau dia tahu pasti akan berat menjalaninya, terlebih lagi sambil mengobati luka di hatinya. “…suka dan duka…untung dan malang… Akan kucoba semampuku Tuhan… Aku hanya minta, semoga kami baik-baik saja… Itu sudah cukup bagiku…”
*****













tambah seru, tambah tegar
Tiada yang mustahil bagiNya, Dia pasti membuka jalan untuk anak2Nya. Dia tidak akan mungkin memberi cobaan diluar kemampuan kita.
Setuju tuk ibu Yofi..!!
percaya akan kuasaNya ya, sampai mukjizat itu datang..Dia sudah menyiapkan ‘kado’ yang terindah pada waktunya nanti..banyak berdoa dan dengarkan suaraNya lewat hatimu..
Tulisan kamu ini bagus loh Da…
Untuk sebuah cerber yang ada pesan, ini cukup mengena
Dengan edit detil-detil, sebenarnya pesannya dalam. Yang aku tangkap si tokoh utama ini menyadari bahwa dalam sebuah janji pernikahan sebenarnya kita bukan berjanji kepada suami/istri kita, tetapi janji kepada Tuhan ya
Sip deh
@fekhi :
tq Fem… yup..tul banget… janji itu bukan sekedar janji maen-maen… sebisa mungkin ditepatin, kalo ga sanggup baru nego lagi ama Tuhan..hahaha… *minta bantuan Tuhan maksudnyaa… ;p
makasi udah setia ngikutin kisah ini… smoga bermanfaat yaa…
@Tiroi F :