Kisah Disuatu Sore…
(Felicia Yin)
Sebenernya mau angkat kisah ini Desember kemaren pas moment Hari Ibu… tapi ga sempet ( alesan, tepatnya males…
), harus mencurahkan pikiran, perasaan dan waktu ( lebaayyy…. ), moodnya belom keluar jadi takutnya ‘pesan’nya nanti ga nyampe… ^^ Kebetulan, ada PeEr dari bu kost untuk nulis bertema perempuan dalam rangka Hari Kartini, jadi dipaksain bikin tulisan ini… Moga-moga moodnya udah nongol, moga-moga ‘pesan’nya juga nyampe, moga-moga ga sampe mendiskreditkan gender tertentu, moga-moga tulisan ini bisa bermanfaat… ![]()
Jam makan siang sudah lewat, sebagian besar meja kursi mulai ditinggalkan pengunjung. Masih ada satu dua kelompok orang yang baru akan menikmati makan siang yang terlambat. Siska mulai membereskan counternya yang beberapa waktu lalu dikerumuni pengunjung, memesan minuman menemani menu makan siang mereka. Ditemani Eka dan Yati, pegawainya, dengan sigap Siska mengumpulkan tutup-tutup soft drink yang berserakan, membereskan potongan kulit buah yang jatuh di lantai, merapikan sisa-sisa bukti usaha mereka memenuhi pesanan pengunjung.
Kala siang menjelang sore terlebih di hari kerja seperti ini adalah waktu mereka bersantai sejenak, pengunjung mall tidak terlalu ramai seperti di akhir minggu. Siska mengeluarkan notebook, memanfaatkan kesempatan dengan browsing menggunakan fasilitas wifi yang tersedia di area foodcourt. Pegawainya, Eka dan Yati biasanya bercengkerama dengan sesama pegawai counter yang lain atau bersenda gurau dengan pegawai cleaning service yang melayani area foodcourt. Terkadang mereka juga menghabiskan waktu dengan menumpang baca di kios majalah yang berada di seberang counter mereka. Jadi setiap saat dibutuhkan mereka bisa dengan segera menjalani tugas mereka.
Namun sore itu tak seceria biasanya…
“Ekaa… kamu kenapa, Ka?”, seru Yati sambil mengejar Eka yang melempar tabloid yang dibacanya sambil menghambur kembali ke counter.
Eka hanya bisa sesenggukan sambil membenamkan wajah ke pangkuannya, tak mampu menahan kesedihannya.
“Kamu kenapa sih Ka, abis baca apa sih? Kok tiba-tiba nangis?? Iiihh…kamu ini Ka, kenapa sih? Sedih banget kayak yang abis ditinggal suami aja… .”
Siska yang baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres, mengalihkan perhatiannya dari layar notebook. Menatap kebingungan ke arah mereka.
“Ga apa-apa Mbak, cuman inget sama suami aja…”
“Haahhh???!! Suamiiii???”, seru Yati dan Siska bersamaan.
Ya, terkejut luar biasa, pasti. Tak pernah terbersit sedikit pun di benak mereka kalau Eka ternyata telah menikah. Perawakannya yang kecil, paling sekitar 42-44 kg dengan tinggi tak sampai 150 cm setelah memakai sepatu dengan hak sekitar 5 cm, Eka tampak seperti gadis yang baru lulus SMU. Ditambah dengan wajah tirus kekanakan, mata bulat yang senantiasa berbinar ceria, tidak disangka memendam kepedihan di hatinya. Siska belum mampu menghalau rasa terkejutnya, rasanya masih tak percaya Eka berhasil menyembunyikan statusnya sekian lama. Bukan karena merasa telah dibohongi saat melamar pekerjaan padanya Eka tidak jujur akan statusnya, terlebih tak menyangka dibalik kepolosan wajah seseorang tersimpan juga luka di hatinya meskipun Siska belum paham masalah yang dihadapi Eka.
“Iya mbak, Eka sudah menikah, suami Eka pergi waktu anak Eka lahir…”, sedikit penjelasan keluar dari mulut Eka.
“Apa?? Kamu sudah punya anak??”, Yati semakin kaget dengan berita baru ini, langsung dari Eka, bukan gosip murahan sesama pegawai foodcourt.
“Sekarang anak kamu berapa taon Ka?”, tanya Siska yang mulai memahami penyebab luka di hati Eka, kepedihan yang tak kuasa dibendungnya saat ini hingga semua kisah hidupnya terkuak.
“Dua taon lebih Mbak, maaf yah Mbak, Eka ga terbuka soal status Eka dari pertama ngelamar di sini…”
“Ga pa pa Ka, lagian bukan salah kamu juga kok… Mbak juga ga nanya kan… soalnya emang ga nyangka sih…”, jelas Siska berusaha menenangkan Eka.
“Trus, emang suami kamu ga ada kabarnya sama sekali Ka? Ga ngasih biaya juga buat anaknya?”, Yati masih penasaran rupanya dengan kelanjutan kisah Eka. Mungkin juga karena merasa senasib, mengalami kisah yang sama. Yati memang ibu dari seorang putri berumur 8 tahun, yang ditinggal suami tanpa kabar berita 5 tahun yang lalu. Sejak pertama melamar pekerjaan di sini, Yati sudah berterus terang akan statusnya dan sedikit membeberkan kisah hidupnya. Dia tak perduli dengan omongan miring teman-temannya, lingkungannya yang sebagian besar melecehkan statusnya. Banyak cap jelek yang menempel pada dirinya seperti, (maaf..) Janda Gatel, Cewe Gampangan, Cewe Nakal. Siska hanya melihat semangat juang dalam diri Yati, niat tulus berusaha memenuhi kebutuhan anaknya dan dirinya, membuat Siska yakin menerima Yati bekerja sama dengannya.
“…Eka juga ga tau Mbak gimana kabarnya…dia seperti menghilang…”, cerita Eka membuyarkan lamunan Siska.
“Trus sekarang, anak kamu sama siapa?”, Siska ingin menyelami masalah yang dihadapi pegawainya.
“Hmm…Eka tinggal sama orang tua Eka, jadi anak Eka diasuh sama neneknya. Eka ga pengen nyusahin orang tua lagi…makanya Eka kerja aja buat bantu-bantu orang tua, buat nambahin biaya sekolah adek Eka, buat pengeluaran anak Eka jangan sampai minta lagi sama orang tua…”
Waahhh, makin miris hati Siska mendengar cerita Eka disaat harus membiayai anaknya namun ikut tergerak membantu menanggung beban keluarganya juga. Memang banyak cerita seperti ini di luaran sana, bahkan dengan beban yang lebih berat tapi baru kali ini Siska berhadapan langsung dengan kisah itu dan merasa terlibat di dalamnya karena dia ikut bertanggung jawab dengan kelangsungan hidup mereka meski hanya di balik layar.
Sore itu mereka habiskan dengan berbagi kisah sesama perempuan, suka duka menjadi seorang ibu dengan masalah yang berbeda, saling menguatkan satu sama lain. Banyak masalah dalam hidup ini, resiko atas pilihan hidup yang tanpa diinginkan tersandung pada sesuatu yang tidak mereka kehendaki. Namun niat untuk bangkit, proses kebangkitan dari keterpurukan itulah nilai lebih yang bisa diambil dari hidup ini. Perempuan yang terlahir dengan stigma “emosi yang lebih menyertai mereka” adakalanya harus bangkit menghadapi realita hidup, harus mampu berpikir rasional menapaki langkah selanjutnya.
Sore sudah hampir habis, pengunjung yang sebagian besar keluarga kembali meramaikan foodcourt menikmati makan malam mereka. Sudah cukup berbagi kisah dan tangis, sudah waktunya bangkit untuk hari esok. Lega berbagi beban, hati kembali ringan menghadapi hidup. Tak perduli masalah apapun yang dihadapi, tak soal masalah siapa yang lebih berat atau ringan asalkan masih bisa saling berbagi, saling menguatkan, mereka optimis mampu menghadapi hari dengan tersenyum.












