Papa, Terima Kasih
(Felicia Yin)
Tiba-tiba teringat dengan Papa… dengan masa kecil yang kulalui bersama Papa, dengan ajaran tentang kehidupan melalui contoh-contoh tindakannya. Jadi membandingkan dengan ‘papa-papa’ jaman sekarang. Dan aku bersyukur (sekali) punya ‘papa’ seperti Papa-ku. Waktu itu (yang terpatri dalam ingatanku) Papa selalu ada untuk kami, keluarganya. Papa punya usaha ekspedisi yang dijalankan di rumah, jadi otomatis sehari-hari ya menghabiskan waktu di rumah. Rasanya dulu biasa saja punya Papa yang senantiasa berada di rumah. Tapi sekarang rasanya itu semua suatu berkah yang luar biasa, aku merasa beruntung sekali. Apalagi kalau dibandingkan dengan anakku sekarang, ketemu papanya hanya sekitar 4 jam sehari. Memang katanya sih jaman sekarang yang penting kualitas dibanding kuantitas. Tapi tidak seimbang juga kalau kuantitasnya terlalu minim.
Papa yang terkadang keras kepada kami, anak-anaknya. Terutama saat kami ribut memperebutkan sesuatu…dulu, kami pikir Papa jahat, membela anak kesayangannya, pilih kasih. Sekarang baru disadari, Papa mengajarkan kami untuk berbagi, Papa mengajarkan kami untuk membela yang lemah, Papa mengajarkan kami untuk saling mengasihi, saling menguatkan. Hmmm… terima kasih Papa… Ajaranmu dulu tidak sia-sia. Kami, anak-anakmu, tetap solid sampai sekarang, saling mengasihi, saling menguatkan, saling membantu disaat ada yang membutuhkan.
Papa yang dulu teguh memegang prinsipnya, melarang keras anak-anaknya telibat dalam pergaulan yang salah. Aku ingat dulu, Papa marah besar saat Koko ketahuan mengisap rokok dengan teman-temannya. Koko dimarahin habis-habisan sama Papa. Dulu kita kasihan sama Koko… Ternyata Papa berhasil menjauhkan kita dari pengaruh pergaulan yang tidak baik. Terima kasih Papa, semoga kami bisa tetap mempertahankannya dan menularkannya kepada anak-anak kami.
Papa yang dulu pernah jatuh, usaha ekspedisinya akhirnya berakhir…habis…nol. Babak ini yang memberikan pelajaran paling berharga buat kami, anak-anaknya. Papa mengajarkan kami untuk menghadapinya, tidak lari dari kenyataan, tidak berpura-pura, tidak membohongi diri sendiri/orang lain. Papa mengajarkan kami untuk berusaha, tidak putus asa, berusaha terus sampai bangkit kembali. Terima kasih Papa…
Dan… semua itu juga berkat dukungan, kasih dari sang istri, Mama tercinta..
Terima kasih Papa…
Terima kasih Mama…
Terima kasih Tuhan untuk orang tua yang Kau pilihkan untuk kami….













jadi kangen ma papaku >.<
TOP dah buat orang tua kita masing2…