Metamorfosa Menjadi Penulis
(Oleh : Femikhirana)
Penulis, apa yang membuat seseorang dapat menganggap dirinya penulis?
Pertanyaan ini mungkin harus ditelaah oleh mereka yang ‘ngaku’ suka menulis, hobi menulis.
Saya sendiri terus terang tidak tahu apakah ada ukuran empiris tentang seseorang bila ingin disebut penulis. Beberapa orang yang bertanya kepada saya, apakah saya penulis, sering saya jawab dengan,
“Penulis di blog, karena media saya memang sekarang baru blog.”
Hanya saja belakangan di forum Yuk Nulis! yang saya ikuti, dan kebetulan saya juga adalah salah satu moderatornya, sering saya jumpai beberapa yang sudah membuat risalah seakan-akan mereka sudah menjadi penulis! Hal ini memang sedikit mencengangkan mengingat membaca karya mereka saja terus terang jarang sekali. Baru menulis beberapa paragraf di forum, sudah ingin membuat novel. Alamak! Terus terang, untuk saya yang setiap hari minimal menulis jurnal pun masih terasa sulit untuk konsisten menghasilkan tulisan berbentuk novel. Terbukti dari beberapa tulisan saya yang berseri masih pending dan belum tahu kapan tamatnya hehehe…
Bukan berarti saya merendahkan! Tidak! Hanya terbersit pemikiran apakah mereka yang terjun ke forum tulis-menulis langsung berasumsi bahwa mereka adalah calon penulis andal? Hanya terbersit pemikiran apakah mereka berasumsi bahwa mereka langsung memiliki kesempatan untuk menerbitkan buku tanpa proses.
Proses? Ya… proses dalam menulis. Seperti layaknya membuat pakaian. Pada awal kita belajar membuat pakaian, walaupun berbakat, tetap ada berapa langkah yang harus kita lalui untuk mengubah kain menjadi baju. Tentu kita harus mengenal pola, kita harus mengetahui ukuran, kita harus juga menguasai jahitan, latihan terus sampai akhirnya dapat membuat baju yang pas dan enak digunakan. Seseorang belum dapat dikatakan penjahit baju atau pembuat baju jika baju yang dihasilkan jelek, tidak enak dipakai, walaupun sudah berwujud pakaian! Seseorang dapat dikatakan penjahit bila memang sudah memiliki track record, bukan berarti bisa menjahit langsung diberi predikat ‘penjahit baju’ kan?
Sama halnya dengan menulis, walaupun berbakat, walaupun sudah menulis, tetapi bila hanya sekadar menulis, bukan berarti langsung menyandang profesi penulis. Frekuensi menulis yang on off dan blog yang terbengkalai otomatis tidak membuat orang yang menulis itu disebut penulis.
Memiliki atau fokus hanya ke satu buku yang sudah dibuat, tanpa menghasilkan karya-karya tulisan lain pun menjelaskan bahwa orang itu belum dapat disebut penulis. Masak penulis hanya mandek di satu buku tok dan tidak ada tulisan lain berupa puisi kek, narasi kek, friksi kek… Duh… bukankah istilah penulis ya berarti kegiatan sehari-harinya memang menulis? Justru sebenarnya mereka yang setiap hari posting di blog dengan tulisan lepasnya lebih layak disebut penulis tinimbang mereka yang hanya mengandalkan satu buku dan fokus untuk mengemis-ngemis setengah putus asa kepada penerbit untuk diterbitkan.
Seperti halnya dengan perumpamaan saya tentang orang bisa menjahit terus berlatih dan akhirnya layak disebut penjahit, maka untuk disebut penulis itu pun ada beberapa hal yang harus terus dilatih, diasah, agar menghasilkan tulisan yang pas dan enak dibaca.
Tulisan yang pas dan enak dibaca?
Ya, saya tidak mengatakan tulisan yang bagus. Karena bagus atau tidaknya sebuah karya tulis itu relatif. Ekspektasi tulisan yang baik ukurannya adalah tulisan yang dapat dibaca dengan baik dan dimengerti walaupun belum tentu isinya membuat orang bertepuk tangan atau menangis karena tulisan kita.
Ya, walaupun tulisan memang bersifat subjektif, tetapi buat apa kita menulis kalau tidak ada yang bisa mengerti tatkala dibaca? Kalau yang baca hanya diri kita sendiri ya itu sih bukan penulis, karena semua orang pun sudah melakukannya.
Tulisan yang dapat dimengerti sudah jelas ditunjang dengan kata-kata yang dipaparkan oleh penulis. Bila cara menuturkan saja sudah salah dan membingungkan, otomatis yang membacanya pun enggan meneruskan. Di sinilah peranan penggunakan kosa kata yang benar, penempatan tanda baca yang benar sehingga tidak terjadi multi tafsir dari suatu kalimat. Di sinilah fungsi dari tulisan yang berparagraf atau beralinea dengan inti kalimat di dalamnya. Perlu dicamkan agar kita menghindari penggunaan kalimat yang bertele-tele yang tidak ketahuan Subjek-Predikat-Objek. Itu adalah beberapa unsur yang menunjang agar pembaca mengerti maksud tulisan Anda.
Nah…, sekarang seberapa yakinkah kita bahwa tulisan kita memang enak dibaca dan dapat dimengerti?
Jangan salahkan pembaca bila ada komentar,
“Gak mudeng! Mana titik, mana koma, ndak ketahuan. Cerita kok ndak ada ujung pangkal, masak disuruh cari kesimpulan sendiri,”
atau
“Duh… bingung! Ini tulisan artinya apa ya? Kok disingkat-singkat?”
Semua itu terjadi karena banyak yang bablas saja menulis dengan spontan tanpa memperhatikan kaidah. Ada yang pernah bertanya kepada saya,
“Jadi penulis harus tahu EYD ya? Bahasa saya kacau tuh, gimana?”
Ya, itu berarti harus lebih banyak belajar agar memang klop jadi penulis.
Bagaimana menyampaikan maksud bila bahasa kacau? Bagaimana orang tahu maksud dari suatu bacaan bila tanda baca tidak ada? Tulisan sih mengalir, tapi ya jadi entah mengalir ke mana sampai ujung kertas hehehe…
Sayangnya adalah banyak yang menganggap bahwa susunan kalimat, penggunaan tanda baca, dan penerapan EYD yang benar adalah tugas seorang editor. Duh…! Bagaimana pun bila menulis tanpa struktur, maka editor atau penyunting tulisan pun tidak akan tahu maksud dari si penulis. Bagaimana harus disunting jika mengerti saja tidak. Alhasil penyunting tulisan harus kerja dua kali, membuat kalimat baru agar tidak terjadi salah tafsir dan sekaligus menyunting tulisan yang ada. Jika kasusnya begitu malah si editor dong yang jadi penulis sesungguhnya hehehe… Dan ingatlah editor bukanlah guru Bahasa. Editor adalah rekan penulis yang sama-sama mengelola tulisan yang sudah jadi menjadi lebih matang. Dalam hal ini penulis harus memiliki partner untuk memeriksa kembali apakah ada yang harus disempurnakan atau dikurangi, fungsi koreksi hanya sepersekian persen saja. Jadi penyunting tulisan bukan berfungsi untuk mengobrak-abrik tulisan yang masih mentah tanpa alur, tanpa makna, tanpa tanda dalam aksara menjadi tulisan jadi!
Bukan berarti kita langsung ciut dan berasumsi jika menulis betul-betul harus sempurna dengan segala kaidah. Jangan cemas, di sinilah fungsinya latihan. Seperti seorang penjahit yang latihan agar jahitannya rapih, sesuai dengan garis pola yang sudah dibuatnya, maka kita pun berlatih agar tulisan kita juga rapih sehingga makna yang hendak kita sampaikan dapat dipahami dengan benar.
Saya yakin banyak orang yang memiliki ide bagus untuk dipaparkan di tulisan. Tetapi bila dipaparkan dengan sekadarnya saja tanpa proses mengolah sana sini tentu menjadi hambar dan memusingkan. Akhirnya tujuan Anda untuk menyampaikan ide tersebut gagal. Jadi, janganlah lelah berlatih bila memang Anda suka menulis. Janganlah hanya mandek pada satu buku, satu puisi, satu tulisan di blog. Jujur, itu belum menunjukkan kapabilitas sebagai seorang penulis.
Dan di forum Yuk Nulis! inilah mereka yang senang menulis dapat belajar dan latihan terus sehingga pantas disebut penulis. Jangan bermimpi bila di forum Yuk Nulis! adalah ajang untuk berkompetisi mencari ketenaran. Jangan pula berharap dapat menerbitkan buku instan dari kumpulan ini. Bila memang bercita-cita menjadi penulis yang baik, mari kita belajar dan proses bersama.
Akhir kata, saya jabarkan beberapa kaidah mengenai format penulisan menurut aturan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kumpulan kaidah singkat tersebut pernah saya buat di status facebook saya pada Hari Aksara, 8 September 2009 yang lalu ini. Setidaknya beberapa format penulisan yang saya berikan di bawah ini adalah hal dasar yang harus Anda ketahui bila memang ingin disebut penulis.
Tanda baca dan struktur bahasa
Penggunaan huruf besar di setiap awal kalimat adalah mutlak!
Penggunaan titik di akhir kalimat hukumnya adalah wajib!
Untuk penulisan kata ganti ke-2 atau ke-3 untuk Tuhan (Mu, Nya), karena diawali huruf besar maka jika diikuti kata lainnya tidak boleh disambung, harus ada pemisah dengan tanda -, contoh yang benar : kepada-Mu, kepada-Nya, bukan kepadaMu, kepadaNya
Penggunaan bahasa gaul, daerah dan Inggris dapat digunakan jika maknanya esensi dalam sebuah tulisan. Format penulisannya adalah dengan cetak miring atau memberi tanda kutip kata tersebut. Misalnya ‘lebay’, ‘piye kabare’, ‘facebook’ atau lebay, piye kabare, facebook
Penulisan untuk kata tingkatan yang benar adalah : ke-1, ke-2, ke-20, pertama, kedua, ketiga. Bukan ke 1, ke 2, ke dua, ke tiga, ke seratus.
Kata ‘di’ dan ‘ke’ jika diikuti kata tempat maka penulisannya harus dipisah. Contoh yang benar : di sana, di dunia, ke mana, ke atas. Contoh yang salah : disana, didunia, kemana, keatas.
Awalan di dan ke harus disambung bila digunakan bersamaan dengan kata kerja. Contoh yang benar : dimakan, ketendang. Contoh yang salah : di makan, ke tendang.
Ke luar dan keluar memiliki arti yang berbeda. Ke luar ialah awalan ke diikuti kata tempat, sedangkan keluar adalah kata kerja. Contoh :
Ia bermain sampai ke luar rumah. (Sebagai kata tempat)
Ia sedang keluar dan baru pulang nanti sore. (Sebagai kata kerja)
Ia harus ke luar kantor karena kantor akan dikunci. (Sebagai kata tempat)
Ia harus keluar dari pekerjaannya sekarang. (Sebagai kata kerja)
Penulisan judul tulisan, setiap awal kata menggunakan huruf besar, KECUALI kata hubung seperti yang, di, ke, dari, dan kata pengulangan tetap menggunakan huruf kecil. Contoh : Cinta yang Hilang, Engkau Ada di Mana, Perjalanan ke Tanah Suci, Kupu-kupu dari Kertas Putih
Bila kata kerja yang berasal dari bahasa asing diberi awalan, maka penulisan yang benar adalah : me-manage, di-email, di-posting, di-pending
Untuk kata dasar ‘ubah’, penggabungan dengan awalan di- dan me- yang benar adalah : diubah, mengubah, bukan dirubah atau merubah.
Dalam penulisan resmi untuk ekspresi tawa, marah, hanya boleh menggunakan pengulangan huruf dan tanda baca sebanyak 3 kali untuk masing-masing karakter. Misalnya hahaha… atau ha … ha … ha … (bukan hahahahahaha……. atau ha1000x) plaaakkk!!…! (bukan plaaaaakkkkk!!!) apaaa??? (bukan appppaaaa???!!). Boleh kurang atau lebih dari 3, tetapi biasanya diberi cetak miring bila mengetik di komputer.
Penggalan alinea atau paragraf bila menurut ilmu mengetik manual zaman dulu jaraknya minimal 5 huruf masuk ke dalam. Di zaman komputerisasi sudah mengenal tombol tab, yang dapat digunakan sebagai jarak masuk alinea.
Alinea yang benar harus memiliki inti maksud kalimat dari sebuah alinea. Ingat zaman sekolahan dulu, kalau kita diberikan soal bacaan, maka sering ditanya, apa inti kalimat alinea pertama, kedua dan seterusnya. Jadi bila menulis cerita memang alinea itu penting.
Perhatikan kalimat Anda bila sudah terdiri dari tiga koma. Bila ada cara penulisan yang lebih efektif, hindari kalimat penjelasan yang terlalu panjang sehingga inti kalimat jadi kabur. Terkadang tiga kalimat pendek lebih baik daripada menyatukan tiga kalimat menjadi satu baris kalimat dan akhirnya membingungkan.
Penulisan kalimat langsung yang benar,
“Saya sudah makan,” ujar Siti.
“Saya malas makan.” (penggunaan titik bila tidak ada lanjutan kalimat).
Mari Anda lihat penggunaan kosa kata yang Anda gunakan selama ini. Kalau sering salah, marilah mulai sekarang dikoreksi.
Apotek atau apotik? Apotek.
Praktik atau praktek? Praktik.
Sistim atau sistem? Sistem.
Kwitansi atau kuitansi? Kuitansi.
Sekedar atau sekadar? Sekadar.
Standar atau standard ? Standar.
Silahkan atau silakan? Silakan.
Februari atau Pebruari? Februari
Dirgahayu HUT Indonesia atau Dirgahayu Indonesia? Dirgahayu Indonesia.
Karir atau karier? Karier.
Takwa atau taqwa? Takwa.
Ijin atau izin? Izin.
Nasehat atau nasihat? Nasihat.
Hakikat atau hakekat? Hakikat.
Rp 1000 atau Rp. 1000? Rp 1000
Susi, S.E. atau Susi, SE.? Susi, S.E.
Budi, S.Kom. atau Budi, S.Kom (tanpa titik)? Budi, S. Kom.
dll. atau d.l.l? dll.
Berharap darinya. Berharap padanya. Berharap daripadanya.? Yang salah ‘Berharap daripadanya’.
Beranakpinak atau beranak pinak? Beranak pinak.
Pertanggung jawaban atau pertanggungjawaban? Pertanggungjawaban. Penjelasan : Bila dia buah kata kerja digabung dengan imbuhan dan akhiran maka tulisannya harus disambung. Begitu juga teorinya untuk kata : Menganakemaskan, ditindaklanjuti.
Ekspor, export, eksport? Ekspor.
PT Sukamaju, P.T. Sukamaju, PT. Sukamaju? PT Sukamaju
Selebritis atau selebritas? Selebritas.
Karisma atau kharisma? Karisma.
Teknik, tehnik, atau tekhnik? Teknik.
Wasalam atau wassalam? Wasalam.
Foto atau poto? Foto.
Magnet atau magnit? Magnet.
Konkret, kongkret, atau konkrit? Konkret.
Hierarki atau hirarki? Hierarki.
Aktifitas atau aktivitas? Aktivitas.
Miliar, milyar, atau milyard? Milyar.
Pikir atau fikir? Pikir.
Salat atau sholat? Salat.
Gunakanlah kosa kata bahasa Indonesia bila memungkinkan.
Disain untuk design.
Piranti lunak untuk software.
Daring atau dalam jaringan untuk online.
Unduh untuk download.
Unggah untuk upload.
Sunting untuk edit.
Berkas untuk file.
Tautan untuk link.
Lampiran untuk attachment.















terima kasih…mantap dan jelas..!!! saya juga mendapat pelajaran untuk bisa menjadi
penulis…
Mbak Shinta, moga-moga artikel ini berguna untuk mereka yang memang berniat terus berlatih menulis karena ingin pantas disebut penulis
Wah, berarti banget pelajarannya… kita memang harus concern pada bahasa kita.. (loh aku kok pake kata: concern…:p)
Semoga saya bisa secepatnya menjadi penulis…
Terimakasih untuk hal ini, Mbak Fekhi…. Mengungkapkan ide dengan menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar akan memudahkan pembaca memahami apa yang hendak dikatakan penulis lewat tulisannya.
@DV : Don, gak masalah dengan ‘concern’-nya :p Masalahnya hanya cara menulisnya hihihi… ‘Concern’ atau concern.
Duh… kalau sudah ngomong kaidah, gini dehhh… Maaf kalau terkesan ’sotoy’ alias sok tahu tempe wkwkwkwk…
Ngomong-ngomong, buat aku, kamu sudah penulis, karena kamu konsisten menulis
@Sebastian Ranla : Terima kasih kembali
Betul penulisan yang benar dan baik sudah jelas mudah diterima oleh mereka yang membaca
sumber referensi lainnya:
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
http://id.wikipedia.org/wiki/Bantuan:Penulisan_tanda_baca
http://polisieyd.blogsome.com
http://ibahasa.blogspot.com
Wah thank’s berat mbak.
Hehehe
Jadi semakin pintar nih.
Meskipun keinginan buat nulis belum tercapai sama sekali, tapi ini pelajaran berharga banget. Lagi-2 thank’s buat Femi ‘and’ Lini buat referensi yang lainnya.
bagus banget nih mbak…
ak emang mesti belajar banyak biar tulisanku bisa dimengerti oleh orang yang baca…
jd makin semangat deh ak..
selama ini kan aku emang rada gak pede sama hasil tulisanku. bicara aja kadang cuma aku dan Tuhan yang tahu… hehehe
^_^
Ayo semangat! Pasti bisa hehehe…
Mba Femi, nanti aku coba aku buat tulisan lain lagi yg lebih baik. Thanks buat infonya…..hehehe maklum, masih minim nih pengetahuannya. Dan u wel OK. Tot Straks in de andere schriven……
Rgds Bianca