“Nitip ya Pak”

(Ferni Yustiana)

Setiap pagi ada seorang teman seomprengan yang selalu diantar ayahnya ke titik penjemputan. Dan si ayah selalu mengatakan kepada si bapak omprengan, “Nitip ya Pak.” Dan si bapak omprengan hanya menjawab singkat, “Ya Pak.” Tidak seperti biasanya dimana saya tidak ambil pikiran tentang rutinitas omongan si bapak berdua dan lebih memilih tidur sepanjang perjalanan, tapi hari itu saya kepikiran dengan kalimat “Nitip ya Pak.” itu tadi.

Kepercayaan

Sebenarnya apa sih arti kata ‘nitip’ itu tadi? Nitip atau titip artinya memberikan sesuatu kepada seseorang yang akan diambil lagi jika waktunya sudah tiba. Tapi bukan cuma sekedar memberikan secara biasa. Ada unsur kepercayaan di dalam kata titip itu. Jika saya menitipkan barang belanjaan kepada teman saya, artinya saya yakin dan percaya bahwa teman saya itu akan menjaga belanjaan saya dan ketika saya mengambil titipan saya itu, semua masih ada dan sama. Jika yang terjadi justru belanjaan saya menghilang, maka otomatis saya akan sedih, kecewa, dan tidak akan pernah lagi menitipkan sesuatupun kepada dia. Ketika seorang ayah menitipkan anaknya kepada si bapak omprengan, si ayah menaruh kepercayaan kepada si bapak untuk sementara waktu menjaga si anak supaya tetap aman dan tak kurang suatu apapun, dan ketika si anak kembali kepada si ayah, si anak tetap dalam keadaan baik.

Maka ketika saya menitipkan sesuatu kepada orang lain dengan mudah tapi orang lain jarang menitipkan sesuatu kepada saya, patut menjadi pertanyaan. Apakah saya bukan orang yang bisa dipercaya? Apakah saya selalu bisa menjaga dengan baik apa yang dititipkan kepada saya? Apakah saya telah mengecewakan si penitip? Karena yang namanya kepercayaan hanya perlu satu kali dikhianati dan selanjutnya terserah anda, masih mau percaya dan siap kecewa lagi atau tidak mau percaya lagi.

Pengalihan Status

Jika saya dititipkan uang petty cash perusahaan oleh kasir karena ia harus tugas luar, maka saat saya menerima titipan itu, status saya berubah menjadi kasir, pejabat kasir sementara istilahnya. Ketika si ayah mengucapkan, “Nitip ya Pak.” ada pengalihan status juga disitu. Si ayah mengalihkan status ke-ayah-annya kepada si bapak. Untuk sementara waktu, status dan kewajiban si ayah sebagai orang tua dialihkan kepada si bapak. Pengalihan ini sifatnya hanya sementara karena istilahnya cuma titip. Mungkin jika perkataan si ayah, “Saya serahkan anak saya Pa.” akan berbeda pengalihan statusnya, sifatnya lebih permanent tanpa ada jangka waktu. Kini si bapak omprengan punya tanggung jawab sebagai orang tua si anak, salah satunya dengan memberi rasa aman, perlindungan, bimbingan, nasehat, dll kewajiban seorang ayah. Jadi si bapak tidak bisa berlaku sembarangan terhadap si anak.

Ketika orang tua menitipkan anaknya kepada guru di sekolah, berlaku hal yang sama. Mungkin ini yang dimaksud ketika ada kalimat, guru adalah orang tua di sekolah. Guru harus menjalankan peran dan fungsi sebagai orang tua ketika si anak ada pada mereka. Jadi ketika di koran ada berita “guru memukuli murid sampai tewas”, saya bingung, ko bisa? Apakah mereka tidak mengerti bahwa untuk sementara waktu status orang tua telah beralih kepada mereka. Eh tapi, kalau ada berita “orang tua membakar anaknya hidup-hidup”, nah loh, saya tambah bingung.

Seseorang yang dititipi sesuatu oleh orang lain sudah seharusnya mengerti bahwa tanggung jawab dan status si penitip juga ikut dititipi kepada dia. Si tertitip seharusnya menjalani status si penitip dengan sebaik-baiknya. Maka ketika tiba waktunya si penitip mengambil lagi yang dititip, si tertitip bisa bertanggung jawab tanpa keraguan dan tanpa rasa salah. (semoga saya tidak salah ketik karena banyak sekali kata titip titip yang diketik ^.^)

Amanah

Pernah suatu hari saya dititipkan keponakan karena sepupu saya harus pergi ke luar kota selama beberapa minggu. Dengan senang hati saya menerima walaupun sadar konsekuensinya sangat berat. Teman saya malah bertanya, “Kok mau sih dititipi anak kecil begitu? Anak kecil itu nyusahin.”

Tapi masa iya, menyusahkan? Saya coba berpikir. Sepupu saya menitipkan anaknya kepada saya karena dia percaya bahwa saya akan menjaga anaknya sebaik-baiknya. Memang, kepercayaan yang sangat berat untuk ditanggung. Menyusahkan? Masa sih? Bukannya harusnya saya senang karena saya masih diberikan kepercayaan sedemikian besar? Artinya saya adalah orang yang bisa dipercaya dan untuk bisa mendapatkan kepercayaan orang lain, sangat mahal, terlebih jika sudah ada pengkhianatan di dalamnya.

Saat dititipkan, saat itu juga saya berubah status menjadi orang tua sementara bagi keponakan saya. Saya harus berperilaku seperti orang tua sementara saya lajang. Menyusahkan? Bisa jadi menyusahkan. Tapi bukankan saya jadi punya kesempatan untuk belajar bagaimana menjadi orang tua? Saya jadi punya peluang dan tempat latihan sebelum saya punya anak-anak sendiri. Lagipula, keponakan saya menyadari peralihan status itu, sehingga ada kerjasama yang baik antara kami berdua.

Ternyata apa yang dibilang menyusahkan oleh teman saya belum tentu menyusahkan untuk saya. Tergantung dari mana dan bagaimana kita berpikir.

Jika ketitipan keponakan selama beberapa minggu saja sudah dibilang menyusahkan oleh teman saya, apa kabarnya para orang tua yang dititipi anak-anak oleh Si Empunya Kehidupan sepanjang usia mereka? Apakah para orang tua memang memandang anak-anaknya sebagai sesuatu yang menyusahkan? Apakah saya akan melabeli anak saya yang kelak akan dititipkanNya dengan label ‘menyusahkan’? Jika labelnya saja sudah menyusahkan, perjalanannya kelak pasti tidak sepenuh hati. Padahal yang namanya titipan harus dikembalikan dalam keadaan baik bahkan kalau bisa lebih baik. Suatu saat, Si Penitip akan meminta pertanggungjawaban dari yang tertitipi, apakah ia menjalani tugasnya dengan baik atau tidak.

Saya juga membatin, titipan itu erat kaitannya dengan amanah. Menerima titipan artinya menerima amanah – sesuatu yang harus dipegang, dipelihara, dijaga, dilindungi, dan dipertanggungjawabkan sebaik mungkin sampai waktunya titipan itu diambil. Harta, popularitas, pangkat, jabatan, kekuasaan, pengaruh, pasangan hidup, bahkan anak. Semuanya adalah titipan Yang Kuasa. Suatu saat harus dikembalikan dengan buah-buah manisnya.

Maka saya jadi merasa malu. Apakah selama ini saya sudah menjaga semua titipanNya dengan baik? Apakah saya menyelewengkan titipanNya? Apakah kamu melakukannya juga? Atau tidak? Mari mari mari, kita pikirkan sama-sama.

(renungan di pagi hari)

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (2)

fekhiFebruary 16th, 2010 at 5:31 pm

bagus ferni,
jadi inget kudu menyelesaikan tanggung jawab dengan baik :)

sardenFebruary 17th, 2010 at 1:09 pm

sayaa senang membaca ini, karena kembali ke diri masing-masing atas tanggung jawab terhadap titipanNya…semuanya tergantung perspektif kita yak…

Leave a comment

Your comment