BBmu Sayang, Diriku Malang
(fransyustiana)
Saya tidak punya BB. Bukan bau badan bukan pula bulu babi. Melainkan Blackberry. Hape canggih bin pintar dari negeri Kanada yang tidak pernah saya kunjungi. Yang bisa BBM-an, yang…apalagi ya…, fitur-fitur lainnya deh. “Kenapa sih lo ga mau beli BB?” tanya seorang sahabat suatu hari. “Emangnya punya BB itu suatu keharusan?” tanya saya balik. “Lo kan jadi ga bisa online terus kayak kita-kita.”
Kecanggihan Teknologi
Dunia gadget makin canggih. Setiap saat perkembangannya saya rasakan sangat cepat. Patokan kecepatannya apa? Yaaa, karena saya semata-mata tidak bisa mengikuti setiap saat perkembangan baru muncul. Bukan karena saya tidak mau tapi lebih karena saya tidak sanggup untuk mengikuti dan jelas ini menyangkut masalah uang, waktu, dan tenaga. “Mang lo dasarnya irit bin pelit aja.” protes lagi sahabat saya.
Yah, irit atau pelit, terserah penilaian masing-masing. Tapi yang lebih penting buat saya, apakah sungguh berguna, apakah sungguh bermanfaat buat kebaikan saya dan orang lain, apakah akan membebani saya di kemudian hari, apakah saya memang benar-benar memerlukannya, apakah yang lama masih layak digunakan, apakah saya punya uang, apakah saya sungguh dapat mengoptimalisasikan penggunaannya, dan apakah yang lainnya.
Norak? Mungkin. Tapi setiap orang menjalani hidupnya masing-masing. Dan terjebak dalam keinginan untuk mengikuti trend kecanggihan teknologi itupun adalah suatu pilihan. Resiko ditanggung sendiri. Sementara saya? Saya memilih berlalu tanpa ikut-ikutan.
“Autis”
Salah satu teman saya bercerita, “Gue kesel banget sama si Anu. Kemaren dia ngajak gue makan siang. Tapi gue nyesel berat. Sepanjang jalan dia autis sama BBnya.” Yang bingung saya, kok bisa autis disambungkan ke BB. Apa hubungannya?
Ternyata oh ternyata, maksudnya adalah terminologi untuk perilaku si Anu ketika dia berinteraksi dengan BBnya. Tidak peduli dengan sekitarnya. Bahkan sedang berjalanpun dia tidak memperhatikan jalannya, alhasil sering nabrak orang karena tidak bisa antisipasi menghindar. Tidak (sudi) mendengarkan lawan bicaranya. Dan ini terlihat dari seringnya lawan bicaranya selalu mengulang omongannya hanya untuk menjawab pertanyaan si Anu, “Lo ngomong apa tadi?”
Kadang terasa sangat mengecewakan ketika seseorang yang diajak bicara, diajak sharing, atau bahkan diajak jalan untuk mengusir kepenatan, tidak memperhatikan dan lebih peduli dengan BBnya. Seperti orang yang ditinggalkan dan tidak dipedulikan. “Berarti lo kalah saingan sama BB.” celetuk seorang lagi teman saya yang sama-sama tidak punya BB seperti saya.
Mau kalah saingan atau apapun, penghargaan yang diberikan kepada orang lain tetap lebih penting dari apapun. Jika kita menghargai orang lain, kita akan menerima kembali penghargaan itu. Jika punya BB membuat saya menjadi “autis” dan tidak mempedulikan sekitar saya dan orang lain, maka saya akan bilang, “No to BB.” Lagipula hidup itu pilihan. Punya BB atau tidak, juga pilihan. Ya to?













bener….makin banyak juga org2 yg fokus pada dunia maya dan tidak mau bersosialisasi…sibuk pada ** or permainan yg didalamnya.