Cukupkanlah Dirimu dengan Gajimu
(Fransyustiana)
Proses kenaikan gaji biasanya selalu dimulai dengan proposal angka kenaikan yang besar. Angka besar itu diajukan karena sadar bahwa angka itu akan ditawar oleh pihak manajemen perusahaan. Dan tentu saja dasar kenaikan tersebut adalah penilaian kerja sepanjang tahun yang sudah berlalu. Perundingan angka kenaikan tersebut biasanya pula menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Meeting dengan manajemen sampai jam 12.00 malam. Bekerja full di depan komputer dan kalkulator. Berkali-kali mencetak rekapitulasi gaji tapi berkali-kali pula itu harus dihancurkan dan dicetak lagi…dan lagi…dan lagi… Tidak termasuk beban fisik dan mental.
Namun ketika hasilnya keluar, yang ada adalah keluhan dan rasa tidak puas. “Mengapa kenaikannya hanya segini?” adalah kalimat yang kerap terdengar ketika angka sudah nyata di buku bank. “Mengapa kenaikan dia lebih besar dari aku?” adalah kalimat kedua yang sering terucap ketika mengetahui angka kenaikan rekan kerja. “Kamu sih kalah nego sama manajemen. Kurang alot!” adalah kalimat tuduhan yang sungguh menyakitkan hati.
Sebenarnya adalah suatu kesedihan melihat dan mendengar keluh kesah itu. Mengapa tidak cukup dengan kata “Syukur alhamdulillah.” atau “Terima kasih Tuhan.”?
Bukankah seberapapun angka kenaikan gaji yang kau dapat, adalah semata karena kemurahanNya?
Bukankah angka yang kita dapat adalah hasil penilaian kerja selama tahun yang lalu?
Bukankah angka untuk kita dilihat pula dari kontribusi kita dalam perusahaan?
Bukankah wajar jika orang yang berkontribusi besar diberikan juga kenaikan yang besar?
Jadi, untuk apa cemburu dan berkeluh kesah?
Mencukupkan dan Memuaskan
Suatu buku pernah berujar, bahwa rasa syukur dan terima kasih itu mencukupkan segala hal dalam hidup. Mau kecil ataupun besar. Mau tinggi maupun rendah. Mau banyak maupun sedikit. Mau cakep maupun jelek. Syukur yang dirasakan mencukupkan itu semua.
Dan ketika rasa syukur mencukupkan, ia akan membuat kita puas akan apa yang telah kita peroleh. Jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita – dan ini sering terjadi dalam hidup – dan kita bisa bersyukur tanpa keluh kesah dan cemburu, kita akan merasa puas. Tentu saja, kepuasan yang dimaksud bukan dalam arti mandek di tempat. Tetap melangkah maju sambil menggandeng terus rasa syukur itu.
It’s easier said than done. Pastinya begitu. Mengucap rasa syukur itu butuh keikhlasan. Jadi jika tidak ikhlas, ya pastinya, lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Tapi bukan berarti tidak mungkin, jika kita mengingat apa akibat yang bisa dibawa oleh rasa syukur itu. Berkeluh kesah dan merasa cemburu akan nasib orang lain di atas kita, menguras energi batin dan fisik. Terus menerus mendongak ke atas, membuat leher pegal dan bisa-bisa kita terantuk pada batu di jalan. Ambil waktu sejenak untuk melihat ke bawah, dan nikmatilah rasa syukur itu.
Jadi berapapun gaji yang kita terima kini, cukupkanlah itu. Sisanya serahkan kepada Yang Diatas.












