Filosofi Pak Man

(Frans Yustiana)

Pagi ini aku terbangun cukup pagi sehingga tidak perlu terburu-buru mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.

“Wah asyik juga pagi ini tidak harus buru-buru ke kantor. Aku masih punya banyak waktu.” batinku. Sambil terus beres-beres dan mempersiapkan diri aku berpikir apakah hari ini akan mendatangkan sesuatu yang baik untukku. Adakah sesuatu yang bisa kupelajari dan kuambil hikmahnya. Seorang bijak pernah aku baca tulisannya, bahwa jika kita mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi pada kita dan kita meyakininya, maka mungkin saja sesuatu yang baik itu akan terjadi. Karena itulah setiap pagi aku selalu berusaha men-sugesti diriku sendiri untuk bisa mendapatkan sesuatu yang baik.

Well, sudah siap sekarang.” kataku sendiri masih sambil mematut-matut diri di depan cermin. “Ayo berangkat. Semangat!”

Belum lagi aku berjalan terlalu jauh dari pintu rumah, aku melihat Pa Man, tetangga yang bekerja sebagai penggali lobang kubur . “Selamat pagi Pa Man.”

“Wah, pagi juga Mba. Tumben berangkatnya pagi sekali. Sekarang kan baru jam 6. Bangunnya kepagian ya?”

“Iya Pa. Hari ini kepagian karena semalam tidurnya dari jam 8.” kataku tersipu malu karena memang setiap harinya aku selalu kesiangan dan jarang sekali bertemu Pa Man kecuali malam hari, itupun di atas jam 10 malam saat aku pulang kerja dan dia masih nongkrong di teras rumahnya yang sempit itu.

“Bagus deh sekali-kali pulang sore supaya bisa istirahat lebih banyak. Jangan kebanyakan kerja Mba, ga bagus juga buat kesehatan dan kehidupan sosial.”

“Iya Pa. Makasih diingatkan Pa. Bapak mau kemana pagi-pagi begini juga sudah siap berangkat?”

“Ya melakukan pekerjaan Bapak. Menggali rumah masa depan seseorang.”

“O iya, pastinya ya Pa.”

“Yah tapi sebelum berangkat saya mau ngopi dulu sambil makan talas goreng. Mba mau ga? Belum sarapan juga kan?”

“Belum sih Pa. Sarapan di kantor saja Pa. Terima kasih tawarannya.”

“Ga apa-apa ko. Masih pagi juga kan? Masih sempet ngobrol-ngobrol. Atau memang tidak mau makan talas goreng?”

Waduh, jika pertanyaannya sudah begini akhirnya, mau menolak sudah mati kata. “Bukan begitu Pa. Oke deh, kalau memang ditawarkan ya…saya nebeng sarapan sama Bapak.”

“Nah begitu dong. Minumnya mau apa? Kopi seperti saya atau teh saja?”

“Teh saja Pa. Terima kasih sebelumnya.”

“Tunggu sebentar ya.” Kemudian Pa Man masuk kembali ke dalam rumahnya.

Tak berapa lama kemudian Pa Man kembali membawa mug mengepul yang pastinya berisi air teh. “Silakan diminum. Hati-hati masih panas. Sambil dimakan juga talasnya.”

“Makasih Pa.” kataku sambil mengambil mug itu dari tangannya.

“Bapak sudah berapa lama menjadi penggali lobang kubur?” tanyaku memulai percakapan.

“Sudah lama sekali Mba. Dari umur 20 tahunan, sejak sama lulus SMA. Waktu itu orang tua tidak bisa membiayai lagi dan karena cuma lulusan SMA, cari kerjaan yang baik susah. Jadi terpaksa saya bekerja sebagai tukang gali lobang kubur.” katanya dengan nada ringan.

“Terpaksa? Jadi Bapak menyesali pekerjaan Bapak yang sudah dijalani sekian lama?” tanyaku agak bingung dengan pilihan kata ‘terpaksa’nya yang diucapkan dengan nada ringan.

“Wah, sama sekali tidak. Saya tidak menyesali pekerjaan saya ini. Mungkin waktu pertama kali mulai, saya sangat kesal, marah, tidak terima dengan pekerjaan ini, kecewa dengan orang tua dan keadaan kami yang miskin. Saya selalu menggerutu ketika bekerja. Tapi sekarang tidak pernah lagi menggerutu apalagi sampai merasa menyesal.”

“Pasti karena rasa syukur.” tebakku sok tahu.

“Hahahaha…sudah ketebak rupanya. Memang benar iya, karena pengaruh rasa terima kasih sama Yang Diatas. Tapi sebenarnya bukan karena itu saja.” Badan ringkihnya ikut bergoyang-goyang seiring suara tawanya.

“Selain itu apa Pa?”

“Kesadaran bahwa manusia itu sungguh tidak berkuasa apa-apa.”

“Bukankah itu sudah jelas Pa?” tanyaku bingung sambil menyeruput teh dan mengambil sepotong talas.

“Yaah, mungkin hal itu sudah jelas tapi tidak semua manusia memahaminya dengan baik.”

“Maaf Pa Man, saya kurang mengerti.”

“Mba tau berapa ukuran lobang kubur?”

“Mungkin sekitar 2×3 meter ya pa?” tanyaku ragu-ragu karena merasa tidak yakin.

“Yaah, sekitar segitu deh. Dan apakah Mba tahu untuk siapa lobang kubur yang akan saya gali pagi ini?”

Tentu saja aku tidak tahu. “Tidak tahu Pa.”

“Untuk Pa Xavier yang tinggal di komplek seberang.”

Sebenarnya aku malas bertanya karena akan kelihatan bahwa hubungan sosialku dengan tetangga sangat jelek, tapi, “Pa Xavier yang mana ya Pa?” keluar juga pertanyaanku.

“Hehehehe…tuh akibat pulang malam terus jadi ga tau kan?” sindirnya.

Benar kan. Memang ada pertanyaan yang kadang tidak perlu ditanyakan supaya tidak mendatangkan malu pada diri sendiri. “Hehe…iya Pa.”

“Pa Xavier itu yang rumahnya besar warna putih itu, yang di komplek seberang. Yang punya beberapa perusahaan itu.”

“Rumah putih besar di komplek seberang?” tanyaku mencoba mengingat-ingat rumah mana yang dimaksud. “Maaf Pa, saya tidak tahu.” aku mengakuinya.

“Ya sudahlah. Weekend nanti coba jalan-jalan pagi ke komplek seberang sambil olahraga. Pasti nanti juga tahu rumah mana yang saya maksud. Saya cuma mau memberikan gambaran bahwa rumah sebesar dan semegah itu hanya digantikan oleh sebuah lobang berukuran 2×3 meter. Rumah masa kininya digantikan dengan rumah masa depannya yang imut dan mini yang bahkan tak bisa menyimpan apapun.”

“Ya Pa.” hanya itu yang bisa aku jawab.

“Sebenarnya untuk apa sih kita ini bekerja sedemikian berat?” tanyanya.

“Untuk makan dan bertahan hidup Pa.” jawabku singkat.

“Memang benar untuk itu. Tapi kebanyakan manusia bekerja juga untuk mengumpulkan harta di dunia.”

“Bukankah itu wajar Pa. Setiap orang yang bekerja pasti ingin memiliki sesuatu yang kita sebut saja harta, untuk kebaikannya dan keluarganya.” Entah kenapa aku mengatakannya dengan sedikit perasaan defensif.

“Betul. Betul. Jangan salah mengira. Saya tidak mengatakan mengumpulkan harta itu salah atau dosa besar. Tapi terkadang manusia menjadi ‘kebangetan’ dalam usahanya mengumpulkan harta. Dia menjadi tidak perduli pada orang lain meskipun sebenarnya dia tahu bahwa tindakannya itu menyakiti dan merugikan orang lain. Atau mengeksploitasi alam segila-gilanya sampai benar-benar rusak dan mengakibatkan kerugian pihak lain. Atau saking ‘semangatnya’ mengumpulkan harta dunia, dia lupa sama yang menyediakan dan memberikan harta itu, Si Empunya Kehidupan.”

Aku mendengarkan semua yang dikatakan Pa Man dan berusaha mencernanya dengan baik.

“Sebenarnya untuk apa sih Mba kita mengumpulkan harta sedemikian banyak bahkan sampai harus melakukan dosa untuk mengumpulkan harta itu, sambil menyakiti orang lain, sambil menentang Tuhan? Apakah semuanya itu bisa dibawa dan dimasukkan ke dalam lobang 2×3 meter itu? Apakah Pa Xavier yang pastinya hartanya sangat berlimpah bisa membawa itu semua saat ini? Akan bagus sekali jika dia telah mengumpulkan juga harta surgawi, tapi apakah dia memang telah melakukan itu?”

Aku diam saja mendengarnya, tak bisa menjawab semua pertanyaan itu.

“Manusia itu sangat kecil Mba. Ibaratnya cuma seukuran 2×3 meter. Buat apa terlalu terobsesi untuk mempunyai harta berlimpah? Tapi jika memang punya harta berlimpah dan digunakan untuk membantu yang kesusahan, dia pasti akan punya rumah besar di Surga. Dan ketika dia tidur di lobang 2×3 meter itu, dia cuma transit untuk pulang ke rumah lainnya di atas. Tujuannya sudah jelas. Ya kan?”

“Iya Pa.” jawabku masih sambil merenungi semua ucapannya.

“Karena itu saya tetap ngotot bekerja sebagai tukang gali lobang kubur sampai sekarang. Mau tahu alasannya sekarang?”

“Apa alasannya Pa?” tanyaku cukup penasaran.

“Pertama, profesi – jika saya boleh menyebutnya profesi, hahahaha – …”

“Ya boleh dong Pa disebut profesi. Tidak salah kok.” kataku ikut tersenyum.

“Iya. Profesi saya ini tidak ada matinya karena setiap manusia membutuhkan tukang gali lobang kubur pada akhirnya. Kedua, pekerjaannya ringan, dikerjakan sendiri juga bisa. Ketiga, hasilnya meskipun kecil tapi cukup karena saya sekeluarga tidak aneh-aneh keinginannya. Keempat, dengan melakukan pekerjaan ini saya selalu diingatkan bahwa manusia itu cuma debu. Sebesar dan sejaya apapun hidupnya di dunia, tetap berakhir di lobang 2×3 meter. Perihal selamanya dia disitu atau cuma transit, ditentukan oleh amal sepanjang hidupnya.”

“Begitu ya Pa? Benar juga sih.”

“Yaah, begitulah saya Mba.”

Untuk beberapa saat aku cuma bisa diam sambil meminum teh yang sudah mulai dingin. Sampai akhirnya aku kaget sendiri karena diingatkan Pa Man, “Mba, kok bengong. Sudah mulai siang nih. Nanti kesiangan lagi kerjanya.”

“Oh iya. Aduh kenapa jadi bengong begini. Ya sudah terima kasih untuk teh dan talasnya ya Pa. Saya kenyang. Maaf merepotkan. Saya berangkat sekarang deh. Kita berangkat sama-sama Pa?”

“Tidak usah. Saya masih nanti berangkatnya. Mba duluan saja.”

“Baik kalau begitu. Sekali lagi terima kasih banyak Pa. Saya permisi.”

“Mari Mba. Hati-hati. Kapan-kapan main lagi ke rumah jelek saya ini ya?”

Aku tidak menjawab tapi berusaha memberikan senyuman yang tulus sambil menjauh.

Sepanjang perjalanan ke kantor aku terus merenungi semua perkataan Pa Man. Memang benar terkadang manusia mengumpulkan harta sedemikian banyak baik dengan cara-cara yang jujur dan terpuji maupun melalui cara-cara jahat. Lalu jika harta sudah terkumpul, ketika meninggal, tak ada satupun yang bisa dibawa. Kalaupun misalnya bisa dibawa, apakah harta duniawi yang fana itu dapat dibanggakan di hadapanNya? Apakah harta duniawinya dapat menolong dia untuk membukakan pintu surga? Lalu apa sebenarnya fungsi harta yang kita punya?

Hmmm…berarti harta duniawi kita akan benar-benar membawa kebaikan buat kita jika harta itu membawa kebaikan pula untuk orang lain. Selain cara mendapatkannya harus benar dan jujur, penggunaan harta itu pula harus sebaik-baiknya untuk kebaikan orang lain. Setelah itu mungkin saja rumah masa depan kita yang berukuran 2×3 meter itu bisa dirasakan cukup lebar dan hanya menjadi tempat transit sebentar.

“Fiuh…kalau begitu aku harus merubah cara pandangku mulai saat ini.” niatku dalam hati berkata. “Semoga aku bisa ingat terus akan rumah lobang 2×3 meterku biar aku selalu berusaha bijak dalam kehidupan ini. Alangkah bagusnya jika semua orang mendapatkan pengalaman seperti yang aku dapatkan pagi ini.”

Yah, syukurlah hari ini aku sudah mendapatkan suatu pembelajaran.



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment