Lidah yang Jahat

(Frans Yustiana)

Kenapa sulit sekali mengontrol lidah? Kenapa sulit sekali mengendalikan perkataan? Padahal katanya perkataan itu adalah perlambang isi hati. Apakah jika perkataannya melulu hanya bisa menyakiti seseorang, itu artinya hatinyapun jahat?

Mengapa ada orang yang begitu mudahnya mengeluarkan makian dan perkataan yang membuat hati berdarah-darah?

Hari ini saya kehilangan seseorang yang biasanya selalu hadir mengayomi dan mengajarkan sesuatu kepada saya. Seseorang yang sabar dan fair dalam menjalani kehidupan dan pekerjaannya, siapapun yang dia hadapi. Jika salah, dia akan dengan jiwa dan hati besar meminta maaf kepada bawahannya. Seorang purnawirawan jenderal yang dekat dengan semua bawahannya.

Tapi, walaupun semasa hidup mudanya dia berada di jalur militer yang harus tahan uji, ternyata menghadapi lidah yang jahat, dia harus kalah juga. Mungkin kalah bukan kata yang tepat. Mungkin menjaga harga diri, itu lebih tepat. Ternyata sekuat apapun dia baik fisik maupun mental, tak akan pernah kuat menghadapi lidah yang jahat.

Apa yang ada di hati dan pikiran akan kelihatan oleh orang lain melalui perkataan. Dari perkataan pula bisa diliat kepribadian seseorang. Didikan keluarga, tinggi rendahnya pendidikan formal yang dijalani, tingkat keimanan, juga bisa dilihat dari perkataan seseorang. Mungkin tidak secara langsung ato tidak kelihatan secara instant atau pada saat itu juga. Mungkin juga tidak akan bisa dilihat hanya dari periode hubungan yang singkat. Semuanya itu diperoleh seiring dengan perjalanan waktu karena pada umumnya semua orang memakai topeng untuk saat-saat awal. Makin lama waktu yang dijalani topeng itu akan makin tersingkap dan akhirnya melalui apa yang dikatakannya, semua akan kelihatan, apakah sungguh baik atau jahat.

Tidak bisakah kita sedikit mengontrol lidah kita agar tidak menyakiti sesama dan membuat keadaan menjadi tidak terkendali? Terlebih jika apa yang sudah dikeluarkan oleh lidah kita, jarang sekali yang bisa kita tarik kembali…akhirnya hanya menimbulkan penyesalan. Bagaimanakah caranya?

Well, saya sendiripun ingin tau bagaimana cara paling efektif untuk mengendalikan lidah. Yang saya tau dengan pasti adalah bahwa lidah akan mengeluarkan perkataan-perkataan yang jahat jika si pemilik lidah memiliki emosi-emosi yang tak bisa dikendalikan. Maka saya berpikir bahwa seseorang harus berusaha sedapat mungkin untuk mampu mengontrol diri, termasuk hati, pikiran, perasaan, emosi-emosi, dan nafsu-nafsu.

Sungguh, hati yang terluka sangat sulit untuk diobati. Permintaan maaf pun kadang tak berguna. Penyesalan juga tak berguna banyak.

Mengucapkan sesuatu sangat mudah…terlebih sesuatu yang menyakiti sesama karena pada dasarnya manusia senang berkuasa. Jika ia telah menyakiti sesamanya dengan perkataannya yang jahat, nafsu dan hasrat menguasai sesamanya telah terpenuhi dan ia menjadi puas. Karena itu, menyakiti lewat perkataan amat sangat mudah. Maka si lidah kadang menjadi amat sangat jahat.

Semoga makin hari makin banyak orang yang bisa mengontrol lidahnya agar tidak ada lagi amarah, rasa dendam, dan penyesalan.

(catatan sedih sebuah anak ayam yang kehilangan induknya)

Tertarik dengan yang ini?

  • Untuk Terakhir Kalinya…
  • Do I Know You?
  • Training Ulang Si Ego
  • Nothing has Changed
  • Na, Jaga Diri Lu (2)
  • Akupun Memilih (Sebuah Pisau dengan Ukiran yang Indah)
  • Menunggu Maaf…
  • Artikel Patah Hati
  • Anak-anak
  • Apologize

Comments (1)

dealer pulsaApril 20th, 2011 at 7:56 pm

pilihan celaka n selamat bisa dari memilih kata2 yang berasal dari lidah kita

Leave a comment

Your comment