Minder
(fransyustiana)
“Mam, aku minder deh.”
“Minder kenapa?”
“Kerja di Kuningan.”
“Kok tiba-tiba ngomong begitu? Memangnya ada apa?”
“Semua teman kerja di sana keren-keren. Mereka cantik-cantik. Mereka gaya. Bajunya semuanya bagus Mam.”
“Terus?”
“Ah Mam gimana sih? Masa Mam ga ngerti.”
“Loh intinya saja kamu belum ngomong. Daripada Mam menyimpulkannya salah kan lebih baik Mam tanya dulu.”
“Gini loh Mam. Aku kan sudah bekerja hampir satu tahun nih di daerah Mega Kuningan. Mam pasti tahu kan daerah bisnis itu daerah yang elit. Semua orang kerja di sana keren Mam. Ya cewek, ya cowoknya. Semuanya necis dan aku yakin semuanya mahal. Sementara aku biasa-biasa aja.”
“Jadi ceritanya kamu minder?”
“Iiih, Mam gimana sih? Kan tadi aku sudah ngomong kalau aku minder.”
Dalam hati aku tertawa mendengar nada emosi dan kesal pada intonasi bicara anakku perempuan. “Terus kenapa kalau mereka semua necis, keren, cantik, gagah, dan kelihatan kaya?”
“Yah. Gak apa-apa sih Mam. Cuma rasanya minder aja. Setiap pagi aku sudah berusaha untuk tampil lebih baik, lebih rapi, bersih dan manis, tapi begitu sampai kantor, rasanya semua usahaku sia-sia. Sekian menit yang dipakai untuk bingung setiap pagi karena harus memilih baju menjadi percuma. Aku pikir baju yang aku pilih sudah baik tapi ternyata rasanya sia-sia.”
“Memangnya mereka segitu kerennya ya?” pancingku lagi.
“Ah Mam kan tidak pernah lihat mereka jadi Mam bisa bicara seperti itu. Baju mereka bagus-bagus dan kelihatan mahal. Rambut mereka rapi dan teratur. Mereka naik turun mobil. Sepatu mereka bagus semua, setahu aku sih bermerk.”
“Lalu kenapa itu semua jadi masalah buat kamu? Kamu iri?”
“Bukan Mam. Bukan iri. Aku tidak pernah iri sama orang Mam, kan Mam sendiri yang ajarin itu. Cuma minder aja Mam.”
“Berarti yang jadi sumber permasalahan adalah rasa minder kamu itu yang menyebabkan kamu tidak percaya diri. Kenapa juga kamu harus memikirkan orang lain dan sangat concern pada penampilan mereka? Apakah penampilan mereka merugikan kamu? Apakah dandanan mereka menghilangkan kelebihan kamu yang mungkin belum tentu mereka miliki?”
“Nggak Mam.” suara anakku menjadi pelan. Kelihatannya kekesalannya sudah berkurang sedikit.
“Sekarang boleh Mam tanya sesuatu?”
“Apa Mam?”
“Apakah kamu mau ke salon setiap hari dan meluangkan banyak waktu di sana?”
“Tidak.”
“Apakah kamu mau setiap pagi harus menata rambut selama stengah sampai satu jam? Atau maukah kamu ke salon setiap pagi sebelum berangkat ke kantor?”
“Pastinya tidak Mam.”
“Apakah kamu mau membelanjakan semua gajimu hanya untuk membeli pakaian yang bagus dan bermerk agar kamu bisa ganti tiap hari tanpa bingung-bingung?”
“Tidak mungkin Mam. Sayang uangnya dong.”
“Apakah bau badanmu tidak enak?”
“No way.”
“Apakah kamu suka parfum?”
“Yeah suka dan tidak suka. Mam kan tahu juga aku jarang pakai parfum karena aku yakin pada kebersihan badanku.”
“Kamu suka high heels?”
“Tidak, capek pakainya. Lagipula betis dan tumitku selalu sakit setiap pakai high heels. Bisa-bisa kena varises nanti.”
“Pernah tidak kamu mengenal seseorang yang pribadinya sama sekali berbeda dengan tampilan luarnya?”
“Memangnya Mam lupa sama Zikka, temen aku yang munafik itu?”
“Kamu mau menyetir mobil sendiri kemanapun kamu pergi?”
“Tidak mau Mam. Capek lagipula macet dimana-mana. Naik mobil malah lama dan lebih sering terlambatnya. Enak seperti sekarang naik motor saja.”
“Well, lalu mengapa kamu harus merasa minder?”
Anakku terdiam mendengar pertanyaan terakhirku dan ia tidak langsung menjawab dengan keyakinan seperti jawaban-jawaban sebelumnya.
“Sayang, kamu tidak perlu minder atau tidak percaya diri melihat teman-temanmu. Kamu kan memang tidak seperti itu dan memilih untuk tidak seperti itu karena kamu punya pertimbangan dan pemikiran sendiri, punya keberatan-keberatanmu sendiri. Jadi buat apa menguras energi hanya untuk merasa minder? Lagipula kamu pasti tahu kalau setiap orang punya kelebihannya sendiri-sendiri, termasuk kamu. Mungkin apa yang ada di dirimu tidak ada di diri teman-temanmu, begitu juga sebaliknya.”
“Iya Mam.”
“Lagipula kamu juga pasti tahu karena kamupun sudah mengalaminya sendiri, bahwa apa yang kelihatan dari luar belum tentu mencerminkan apa yang di dalam. Bisa saja mereka pakai parfum mahal karena badan mereka bau. Bisa saja mereka pakai baju yang keren untuk menutupi kekurangan fisiknya. Bisa saja justru mereka yang tidak percaya diri kan?”
“Iya Mam. Tapi mungkin juga karena mereka mampu dan mau ya Mam?”
“Tuh kamu bisa bilang begitu. Kamupun mampu sayang jika kamu mau, tapi masalahnya kan kamu tidak mau begitu.”
“Iya, it’s just … not me.”
“Jadi buat apa kamu minder? Jadilah dirimu sendiri sayang. Tidak perlu terprovokasi oleh kondisi dan situasi orang lain. They’re just not you. You with your own beauty. Meskipun rambutmu berantakan, bajumu kurang bagus, kurang berbau harum parfum mahal, flat shoes and even sandals, yang penting kerjamu benar, jujur, fair, mandiri, rendah hati, ramah, dan selalu berusaha sebaik mungkin.”
“Iya Mam.”
“Kamu mengerti sayang?”
“Iya Mam. Makasih ya Mam. Maafin aku sudah marah-marah tidak jelas juntrungannya.” katanya sambil memelukku.
“Tidak apa-apa baby.”
“Aku belum dewasa ya Mam?” tanyanya malu.
“Proses pendewasaan seseorang itu melalui banyak waktu dan pengalaman. Orang dewasa dalam fisiknya saja belum tentu dewasa kepribadian dan pemikirannya loh. Tapi Mama senang karena sedikit banyak kamu sudah memulai proses pendewasaan pemikiran dan sikapmu. Yang penting kamu harus berusaha untuk mencari tahu mana yang baik dan benar dan melakukannya. Ya?”
“Ok Mam. I love you Mam”
“I love you too honey. Sudah sana mandi dan istirahat. Siap-siap makan.”
“Mau berenang dulu Mam.”
“Ok sayang.”
“Papa sudah telpon Mam? Sekarang dimana Papa?”
“Tadi siang Papa sudah sampai di Inggris. Kamu telponlah Papa! Kasian Papa sendirian disana!”
“Mam sih tidak mau ikut Papa.”
Kuamati anak perempuanku yang beranjak dari duduknya dan berjalan santai ke arah kolam renang olympic size keluarga kami di halaman belakang. Ia mulai dewasa tapi kerap masih seperti anak kecil yang butuh bimbingan dan pencerahan. Sungguh, ia mampu menyamai semua temannya kalau saja ia mau. Tapi begitulah anakku, sederhana dan apa adanya.













hmm. thnx 4 the lesson!
Hmm..
Thnx 4 the lesson