Negeriku (k e m b a l i) Berduka
(Frans Yustiana)
“Chie, ada apa? Ko mau nangis?”
“Iya nih. Gue bingung banget. Barusan gue dapet kabar dari saudara di Pekanbaru. Katanya Padang kena gempa besar dan sampai sekarang gue gak bisa menghubungi ibu gue yang di sana. Saudara-saudara gue yang lain yang tinggal di Padang juga gak ada yang bisa dihubungi. Gue bingung nih. Gue gak tau keadaan ibu gue disana.” katanya dengan mata yang berkaca-kac.
Bencana datang lagi. Dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan, terjadi lagi gempa besar di tanah air. Kali ini Padang Pariaman. Tanah elok dengan kebudayaan yang luar biasa. Tanah tempat salah satu prinsip hidup yang baik – “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” – muncul.
Tak tanggung-tanggung. 7,6SR menghajar bumi Minang. Banyak bangunan tak kuat menanggung goncangan. Aliran listrik padam, menggulitakan. Jaringan telepon putus, menambah keputus-asaan. Kebakaran yang tak mau kalah mengambil bagian dalam derita masyarakat. Hujan deras yang seperti menyetujui bencana itu, menambah kalut dan kehancuran yang luar biasa.
Miris dan sedih melihat kenyataan itu, sementara di sebagian tempat manusia yang lain masih hidup dalam kenikmatan dunia. Salah siapakah ini?
Seorang kakek pernah berkata kepada saya, “Bumi kita sudah tua, amat sangat tua. Tak ada satupun manusia yang bisa memperkirakan dengan pasti usia bumi kita. Sudah lama bumi ini vakum dari pergeseran-pergeseran. Maka mungkin sekarang inilah waktu yang dirasakan Bumi tepat untuk melakukan pergeseran-pergeseran itu. Dan dengan banyaknya manusia yang berada di atas bumi, maka mau tidak mau, manusia akan ikut merasakan pergeseran dan geliat bumi. Lalu siapakah yang salah?”
Yah, tak ada yang bisa disalahkan. Jika sesuatu yang buruk melanda, manusia selalu punya kecenderungan untuk mencari si kambing hitam, seseorang atau sesuatu yang bisa disalahkan. Bahkan manusia sampai berani menyalahkan Si Empunya Kehidupan. Tapi benarkah Si Empunya Kehidupan dapat dipersalahkan? Toh, Dia yang memang berhak mengendalikan. Menyalahkan pun percuma karena tidak akan pernah membawa kemajuan apapun.
Menolong. Mungkin itulah yang paling tepat. Dalam hal sekecil apapun, menolong akan mempunya arti. Tidak perlu pakai harta jika tidak punya. Tidak perlu pakai tenaga jika memang tidak kuat. Tidak perlu pakai waktu jika memang sibuk.
Berdoa dan mendoakan pun adalah suatu perbuatan menolong, meskipun ia yang paling kecil dan paling tidak tampak. Doa yang tulus mampu menjadikan sebotol air yang biasa saja dapat memiliki energi yang luar biasa bahkan untuk mendorong seorang manusia. Namun, maukah kita meluangkan waktu sedikit saja untuk secara tulus mendoakan mereka yang terkena bencana, agar setidaknya diberikan kekuatan untuk melampauinya?
Semoga waktu kembali bergulir di tanah Minang. Ketika kemarin ia sempat berhenti semoga kini waktu kembali bergerak maju, membawa kebaikannya tersendiri.
Membuat manusia lupa akan penderitaannya saat ini dan menjadikannya sebagai memori yang berharga, dan mungkin suatu saat manusia itu akan tersenyum ketika ia mengenangnya.
Membuat manusia kembali mampu tertawa dan melupakan isak sedihnya.
Membuat manusia kembali mampu berjuang menjalani hidup setelah putus asa yang rasanya tidak berkesudahan.
Membuat rumah-rumah gadang kembali elok setelah luluh lantak mencium bumi. Membuat manusia saling berpikir untuk selalu ingat pertolongan sesamanya dan kemudian saling menolong.
Dan akhirnya membuat manusia kembali dekat kepada Tuhannya.
Manusia adalah mahluk yang arif dalam mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap perjalanan hidup. Semoga duka negeri ini yang kembali melanda di ranah Minang, mengarifkan kita semua untuk kembali kepada Si Empunya Kehidupan dan kodrat manusia untuk saling menolong dan meringankan beban.
(01 Oktober 2009: Kuningan, Jakarta)













bagus!
Inspiratif