Rasa cinta yang salah

(Fransyustiana)

Adakah rasa cinta yang salah?

Sejak dulu selalu berusaha mencari jawaban untuk pertanyaan itu. Ketika menemui para sahabat yang merasakan cinta yang menurut saya salah, mereka bilang cinta tak pernah salah. Standard apa yang digunakan untuk menilai rasa cinta yang muncul, salah atau benar?

Ketika terjadi perselingkuhan di antara hubungan suami istri – masalah yang klasik – kadang cinta dijadikan alasan. “Saya sudah tidak mencintai pasangan saya.” seperti itu yang kerap terdengar. Atau alasan lain, “Pasangan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya dan saya menemukan orang lain yang bisa sehingga saya jatuh cinta kepadanya.” Atau, “Saya menemukan cinta yang lain dan saya bahagia.” Atau, “Saya dulu terpaksa menikah sehingga saya tidak punya pilihan dan sekarang saya ingin memilih dan merasakan cinta yang sebenarnya.” Atau alasan konyol seperti, “Cinta yang baru itu menegangkan dan memacu adrenalin.” Atau yang lain, “Dia ibarat ikan gratis. Mana ada kucing yang tidak mau dengan ikan gratis yang dianggurin?”

Well, alasan apapun yang diajukan, bisakah alasan itu dijadikan pembenaran untuk cinta yang muncul di tempat yang tidak semestinya?

Sepasang suami istri diasumsikan – jika bisa dipakai kata tersebut – sebelum memutuskan untuk menikah, pastilah telah berkomitmen atas cinta mereka. Pasti pernikahan itu dilakukan dengan kesadaran dan keinginan mereka untuk menyatukan cinta itu. Merekapun bersumpah kepada Tuhan atas nama cinta. Saat itu mereka sangat yakin akan cinta mereka. Cinta yang bahkan mendatangkan anugrah kehidupan terindah berlabelkan anak-anak.

Lalu ketika di pertengahan bahtera pernikahan, salah satu pihak, atau malah keduanya, menyatakan bahwa mereka menemukan cinta pada pribadi yang lain, dimanakah pertanggungan jawab mereka terhadap komitmen cinta awal? Bukankah dulu, dengan kesadaran dan keinginannya mereka telah berkomitmen?

Komitmen apapun pasti ada resiko yang mengikutinya. Jika seorang pria telah berkomitmen menjadi pastur, dia harus menyadari dan menerima segala resiko yang mengikutinya. Jika seorang wanita yang mandul berkomitmen pada hidupnya bahwa ia tidak akan menikah, maka ia menyadari dan menerima resikonya. Jika sepasang kekasih berkomitmen untuk berkeluarga, mereka (harusnya) menyadari dan menerima resikonya. Jika mereka tidak menyadari dan menerima resiko yang timbul, mestinya dari awal mereka tidak usah berkomitmen.

Jadi, apakah cinta lain yang muncul di tengah komitmen adalah bukti ketidakdewasaan seseorang? Bukti bahwa ia tidak mengerti arti sebenarnya dari komitmen? Bukti bahwa ia tidak bertanggung jawab? Bukti bahwa ia kurang mampu mengendalikan hasrat dagingnya? Bukti ketidakmampuannya mengendalikan diri sendiri? Bukti rendahnya nilai dan norma yang dimilikinya?

Apapun itu, memang lebih mudah menghakimi seseorang. Namun tulisan yang lebih merupakan curahan hati ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapapun. Hanya sejumput cara untuk berusaha memahami kehadiran cinta yang lain, yang lagi-lagi menurut saya, adalah rasa cinta yang salah.

Manusia dianugerahi karunia luar biasa dari Penciptanya yang disebut kehendak bebas. Free will bahasa kerennya. Seorang bijak pernah mengatakan bahwa dengan kehendak bebas ini manusia mencitrakan Penciptanya sendiri yaitu memiliki kesempatan untuk memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya, entah itu baik atau buruk, benar atau salah, lurus atau bengkok-bengkok. Yang kerap menjadi masalah, lagi-lagi, adalah konsekuensi dari free will ini yaitu pasti ada resiko yang mengikutinya, yang sayangnya sering tidak disadari oleh manusia.

Munculnya cinta di tengah kehidupan komitmen adalah salah satu action menggunakan kehendak bebas itu. Cinta itu muncul karena manusia memilih untuk menindaklanjuti cinta itu. Tapi sering akibatnya atau resiko pilihan itu kurang disadari. Jika pada akhirnya, resiko itu menampakkan wajahnya, yang muncul adalah penyesalan diri. Sayang sekali.

Pada akhirnya, tetap saja, adalah hak individu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Apakah ia mau tetap setia di jalan awal atau tidak. Tapi “ kesia-siaan belaka, segala sesuatu sia-sia, tak ada yang baru di bawah matahari, kata Salomo lebih dari tiga ribu tahun lalu.” (Coelho, Paulo; 2008; “The Winner Stands Alone”; GPU; hal. 87)

Tertarik dengan yang ini?

  • Love’s Melody
  • Mimpi Berhadiah
  • Leaving on a Jet Plane
  • Pohon
  • Kasmaran
  • Getar cinta
  • indah Kau pertemukan kami
  • Kidung Rindu
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II

Leave a comment

Your comment