Seperti Orang Yang Jatuh Cinta

(Ferni Yustiana)

Aku seperti orang yang jatuh cinta. Hanya melihat wajahnya dari jauh saja, aku sudah girang luar biasa. Jantung ku berdegup kencang, hati ku melompat-lompat, aku menahan pekik jerit ku agar tidak terlontar keluar, aku berusaha dengan segala cara untuk bisa sekedar melihat wajahnya, meski hanya sekilas lintas.

Walaupun aku tau dia tak akan pernah menoleh padaku, aku tetap begitu. Walaupun aku sadar dia tak akan tertarik padaku, aku tetap berupaya. Walaupun aku mengerti bahwa harapan ku hanya kosong dan hampa, aku tetap mencari wajahnya. Walaupun impian ku sedemikian tinggi, tetaplah hanya bagai pungguk yang merindukan bulan.

Matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya, suaranya, nada bicaranya, tubuhnya, gerakannya … semua membuat ku terpana dan seakan tak bisa jauh. Aku selalu menunggunya, merindukannya. Begitu saja dia menarik hati ku. Entah dengan cara apa dia melakukannya. Aku seperti tersihir oleh pesona yang sedemikian kuat. Aku dijeratnya. Aku terjerat tanpa aku mampu menghindar.

Ketika dia dekat, ingin ku bisa memegang tangannya walau sekejap. Ketika dia ada, ingin sekali aku selalu berada sedekat mungkin dengannya. Ketika melihat dia berbicara, aku seperti terhipnotis yang tak mampu mengalihkan pandangan ku darinya. Aku bodoh. Sungguh terasa bodoh.

Ingin sekali bersikap logis. Ingin sekali aku bersikap biasa-biasa saja. Ingin sekali aku mampu untuk tidak menghiraukan pesonanya. Ingin sekali terbebas dari rasa yang menyesakkan ini. Ingin sekali mengambil kembali energi ku yang telah dirampoknya habis. Tapi bagaimana caranya? Aku tak mampu mengontrol hasrat ku.

Aku sadar sepenuhnya bahwa semua ini tidak logis. Rasa suka ku adalah rasa suka yang aneh. Dia tidak teraih. Dia begitu jauh, laksana berada di langit ketujuh sementara aku di bawah lapisan bumi. Hiperbola? Pastinya begitu karena memang begitulah keadaan kami. Dan menyadari keadaan ini, hati ku terpapar kesedihan dan nelangsa. Mata ku seperti tertutup oleh selapis membran yang bahkan lebih tipis dari kulit tipis buah salak. Aku tau masih ada yang lebih baik dari dia, masih ada yang lebih hebat, lebih tampan, lebih berbakat, lebih … sempurna, tapi aku tak bisa menghindar.

Mencuri-curi waktu untuk sekedar bisa melihat wajahnya. Oh, bahkan dengan menuliskan hal ini saja, aku didera perasaan rindu. Sungguh betapa hatiku serasa merinding hanya melihat tatapannya…dan dia bahkan tidak melihat dan menyadari aku ada.

Sedih karena impian ku hanyalah impian yang tak tentu arah dan sudah pasti tak kan pernah terwujud. Sendu karena aku tau semua hanya ilusi yang tak kan pernah ada bentuknya. Malu karena aku sadar aku laksana orang gila yang tidak lagi mengaca pada umur dan keadaan. Sekaligus melayang jauh ketika berada di alam khayal yang tak masuk akal.

Bagaimana menepis perasaan ini, sungguh aku tak tau. Dan mungkin tak kan peduli. Masa bodoh jika orang lain benar menganggap aku sungguh seorang gila yang sama sekali tak bisa dimengerti. Biar saja semua orang yang mengetahuinya menertawakan kebodohan ku. Tak kan aku pedulikan semua yang mencela dan mencemooh.

Aku dengan rasa sukaku. Aku dengan hati ku yang gemetar karena senang. Aku yang tak sabar menanti setiap kehadirannya.

Oh…Robert Pattinson. Aku tak sabar menunggumu. Kita akan bertemu lagi Maret nanti.

(cat 1: katarsis wong edan :D :D )

(cat 2: buat yang tidak tau Robert Pattinson…please read and/or watch…hmmm…silakan googling aja deh)

Tertarik dengan yang ini?

  • Untuk Bunga
  • Mengenang 12 Tahun Lalu, Saat Sang Pahlawan Pulang
  • Apa Aku Bisa?
  • Gadis Itu Aku
  • Love’s Melody
  • Mimpi Berhadiah
  • Masalah sepele
  • Belajar menghargai …
  • Ide Mampet?
  • I’m in a bad mood

Comments (1)

FemikhiranaFebruary 24th, 2010 at 1:38 am

weh… emang dikau nonton oscar live ya fer wkwkwkwkwk… salam ya :p

Leave a comment

Your comment