Terima Kasih
(fransyustiana)
Saya sering melihat seorang ibu yang sedang ngajarin anaknya yang masih kecil untuk berterima kasih jika menerima atau diberikan sesuatu. “Bilang apa dek?” kata si ibu biasanya. Dan kalau si anak diam saja sambil melihat malu-malu, si ibu akan bilang lagi, “Bilang makasih donk sayang!” Tapi ternyata si anak cuma mesam mesem, tanpa bilang apa-apa. Saya juga ikut mesam mesem melihatnya. Tapi jika orang dewasa yang menerima sesuatu dan hanya mesam mesem, saya tidak serta merta mesam mesem juga. Paling saya berkata dalam hati dengan nada mengejek, “Dasar orang gak tau berterima kasih.” Terus, si super-ego ikutan nimbrung, “Emangnya kamu selalu jadi orang yang tau berterima kasih?” Haah, saya kaget dengar si super-ego.
Memberi Kesenangan
Suatu saat saya bertamu ke salah satu perusahaan dan ketika di toilet saya mendengar obrolan dua karyawati. “Gue heran deh. Apa sih susahnya bilang terima kasih. Gue kerja kayak kesetanan biar apa yang dia mau selesai tepat waktu, begitu gue kasih, gak ada tuh terima kasihnya.” Temannya menimpali, “Gue juga heran sama tuh orang. Kok susah banget sih cuma bilang terima kasih? Padahal dikasih terima kasih juga kita udah seneng kok.”
Keluar dari toilet saya merasa kesindir padahal saya yakin bukan saya yang mereka maksud. Lah kok saya jadi kesindir? Berarti saya juga orang yang jarang berterima kasih ya?
Saya lalu introspeksi. Ketika saya yang mendapat ucapan terima kasih, harus saya akui, saya senang sekali. Terima kasih yang diucapkan seseorang kepada saya membuat saya melambung dengan perasaan lega dan bahagia. Terima kasih yang cuma sebentar pengucapannya dan tidak menuntut energi banyak, mampu membuat saya bersemangat kembali. Terima kasih yang terucap membuat saya kembali ceria dan tulus, dan saya tidak berakhir di toilet dengan ngedumel sambil ngomongin orang laksana dua orang karyawati tadi. Bisa jadi omongannya berbeda, “Wah, si anu memang charming ya. Ganteng, pinter, hebat, tau pula terima kasih sama kita-kita.”
Terus, jika saya sendiri bisa introspeksi seperti diatas, lah kok melakukan dan mempraktekkannya susah banget, sampai harus merasa kesindir? Padahal sederhana saja, saya senang orang lain berterima kasih kepada saya, seharusnya begitu pulalah saya kepada orang lain. Memberi kebahagiaan dan kelegaan kepada orang lain dengan terima kasih tulus yang saya ucapkan kepada mereka.
Penghargaan
Sisi lain dari terima kasih adalah perasaan dihargai. Apa yang sudah dikerjakan, apa yang sudah diberikan, apa yang sudah dikorbankan, rasanya terbayar dengan sedikit ucapan terima kasih yang didapat. “Berarti lo ga tulus dong go? Lo punya pamrih dong.” kata si super-ego. “Pamrih gimana, bro?” tanya si ego. “Lah, kalo lo sedikit-sedikit minta terima kasih melulu bukannya pamrih namanya? Belum mulai berbuat baik aja udah ngarepin terima kasih. Itu namanya pamrih.” jawab si super-ego.
Memang segala sesuatu harus secara tulus ikhlas kita berikan dan lakukan, tanpa pamrih. Itu teorinya. But it’s easier said than done. Manusia butuh penghargaan dan sedikit ucapan terima kasih, membawa penghargaan tersendiri. Tidak diperlukan hal yang besar untuk seseorang merasa dihargai. Tidak diperlukan pemberian yang mahal bin mewah untuk menghargai seseorang. Rasa terima kasih yang diungkapkan membawa penghargaannya sendiri. Kecil tapi berarti. Mungkin kerap tidak disadari tapi bermakna signifikan.
Rendah Hati
“Tuh orang sombong banget sih. Main pergi aja. Ga bilang terima kasih lagi.” dumel seseorang ketika saya jalan kaki ke pasar. Waduh, bisa gawat juga label yang diberikan kepada orang yang tidak berterima kasih. Sombong alias tinggi hati. Bisa jadi benar begitu adanya.
Dalam terima kasih ada pengakuan tidak langsung bahwa kita sudah dibantu, ditolong, dipermudah urusannya. Nah masalahnya jika kalimatnya telah bernada dibantu, ditolong, dipermudah, kesan yang timbul adalah kekurangmampuan diri. Jarang sekali ada orang yang mengakui dirinya kurang atau tidak mampu karena si ego mendominasi. Nah jika si ego sudah mendominasi biasanya si super-ego diacuhkan. “Go, bilang terima kasih kek. Kan udah ditolongin sama orang itu!” super-ego mengingatkan. Si ego cuma membalas, “Ogah ah, gengsi banget.” Jika si ego kurang menyadari bahwa dia telah dibantu dan ditolong, maka terima kasih pun tinggal harapan kosong si super-ego.
Terima kasih menuntut kerendahan hati. Kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa diri ini lemah dan kurang mampu, sehingga selalu butuh bantuan orang lain. Jika diri dan hati sudah merendah maka si ego akan bisa menghargai apa yang telah dilakukan orang lain dan si ego bisa mengatakan terima kasih bersama si super-ego.
“Makasih ya sup.” si ego berkata malu-malu kepada si super-ego.
“Tumben bisa bilang makasih go. Makasih buat apa?”
“Buat ngingetin gue terus. Kadang gue khilaf.”
“Kadang? Gak salah ngomong lo go?”
“Iya deh. Gue ngaku. Gue banyak khilafnya. Tapi kan ada elo yang selalu ngingetin gue. Contohnya soal terima kasih aja, lo terus terusan nyindir gue. Tapi ga papa. Makasih sekali lagi ya.”
“Sama-sama go. Kita saling kerjasama dan menghargai aja.”
Kemudian si ego dan si super-ego bersamalaman hangat. Sementara id diam saja mengamati dari bawah.
(makasih ya udah baca
)











