Terpesona oleh Christmas Carol

(Frans Yustiana)

Tadinya saya berpikir mengapa film tentang Natal diputar worldwide pada bulan November 2009, justru pada saat Adven belum lagi dimulai. Saya malah sempet males nontonnya, lah wong belum masanya Natal. Setelah terpengaruh sana sini akhirnya saya terjerembab juga di Setiabudi 21 mencoba mencari tahu apa sih bagusnya film yang katanya bagus itu.

Well, ternyata memang bagus dan saya tidak berbicara soal animasinya, efek 3D-nya, lagu-lagunya, atau suara pengisi suaranya. Yang saya maksud adalah ide ceritanya.

Pernah suatu masa saya melihat buku Charles Dickens tersebut tapi saat itu saya hanya berpikir, “Yah cuma buku cerita anak-anak biasa.” Dan saya sama sekali tidak tertarik untuk membeli dan membacanya. Padahal saya sudah mengerti saat itu bahwa Charles Dickens bukan penulis sembarangan. Tapi entah kenapa saat itu seperti ada yang menutupi mata hati saya untuk sama sekali tidak tertarik bahkan hanya untuk meliriknya saja. Sekarang saya terpesona.

Terlepas dari judulnya dan plot cerita yang berbicara soal Natal dan suasananya, ide cerita yang menjadi inti cerita tersebut sebenarnya sederhana saja tapi sangat mendalam dan bersifat universal. Kebetulan saja plot ceritanya tentang Natal sehingga disebut Christmas Carol.

Bagaimana menghargai sesuatu.

Bagaimana menolong orang lain dan menemukan kebahagiaan dalam melakukan hal tersebut.

Bagaimana kita sebaiknya mengingat saat kematian kita dimana tak ada satupun yang bisa kita bawa sebagai pembelaan diri kecuali amal dan perbuatan kasih.

Bagaimana berbuat dan menebar kasih kepada semua orang termasuk keluarga.

Bila seseorang selalu berada dalam keadaan yang berkelimpahan (seperti Scrooge yang kaya), ia jadi sulit mengidentifikasikan diri dengan kekurangan. Ia pun akan kesulitan untuk menghargai sesuatu baik dalam hidupnya terlebih dalam hidup orang lain. Untuk menghargai seseorang butuh kerendahan hati untuk melihat ke bawah. Dan soal kerendahan hati ini diajarkan dengan begitu indah oleh roh yang kedua, roh Natal masa sekarang. Scrooge yang kaya tidak bisa melihat kekurangan Bob bawahannya yang selama ini dengan setia bekerja dan melayani dia karena Scrooge terlalu terpaku pada diri sendiri, egois, sombong, dan tidak mau membuka mata dan hatinya terhadap kekurangan dan kebutuhan bawahannya. Sungguh menghargai berbanding lurus dengan kerendahan hati.

Digambarkan pula Scrooge jarang sekali menolong orang lain karena dia selalu menganggap kemiskinan melulu disebabkan karena kemalasan orang itu. Orang miskin karena ia malas bekerja. Kenyatannya, Bob miskin tapi dia bukan pemalas. Ketika roh kedua menunjukkan kemiskinan Bob dan kematian Tim, anak Bob yang pincang, ia mulai mengerti. Ketika roh ketiga yang adalah roh kematian menunjukkan orang-orang yang ‘bersyukur’ atas kematiannya, ia mulai mengerti. Ia mulai menolong orang lain dan belajar untuk bermurah hati. Dan ia menemukan kebahagiaan dalam tindakannya itu. Ketika kita dengan ikhlas menolong orang lain dan melihat betapa orang lain bahagia karenanya maka kita pun akan ikut berbahagia dan seperti kataNya, “tak ada yang dapat mengambil kebahagian itu daripadamu.”

Mengingat kematian kadang membuat seseorang semakin menyadari eksistensi diri sendiri dan orang lain. Maka (menurut saya) seharusnya Scrooge bersyukur bisa bertemu dengan roh ketiga, roh kematian. Ia menunjukkan kepada Scrooge tentang kematiannya sendiri dan bisa melihat akibat perbuatannya yang jahat di dunia. Tak ada yang memberikan penghormatan terakhir dan respek kepadanya kecuali sepasang suami istri yang merasa bersyukur karena Scrooge tidak lagi menagih hutang yang tak mampu mereka bayar. Ia sangat takut akan lobang kuburnya sendiri yang seakan-akan menjadi pintu neraka baginya karena tidak satupun perbuatan baik dan kasih yang ia bisa bawa sebagai pembelaan dan saksinya.

Saya sedikit iri dengan Ebeneezer Scrooge. Dia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Dan dia memang tersentuh bukan karena ia takut pada ketiga roh tersebut atau roh gentayangan temannya tapi dia memang telah mengerti tentang arti kasih kepada sesamanya, sehingga dia mulai berubah. Perubahan itu membawa kebaikan kepada dirinya, keluarganya, dan teman-temannya. Amal kasih kepada sesama itulah intinya.

Secara pribadi saya sangat terkesan kepada penggambaran roh kedua yang di kedua kakinya ada kebebalan dan kemiskinan. Roh kedua itu mengingatkan Scrooge (atau kita semua) bahwa ia harus berhati-hati terhadap kebebalan manusia dan kemiskinan (hati) yang bisa mendera siapa saja. Bahwa kebebalan dan kemiskinan (hati) sungguh mampu membuat manusia itu terperangkap dalam ketidakpedulian akan sesama.

Last but not the least, Charles Dickens luar biasa. Robert Zemeckis pun luar biasa dalam menggarap film itu. Dan akan luar biasa pula jika para penonton mampu mengambil nilai positif dari film itu, lagi-lagi, terlepas dari plot dan nuansa Christmas Carol didalamnya…sehingga menjadi sesuatu yang luar biasa pula dalam hidup.

(noted on Nov 24, 200)



Tertarik dengan yang ini?

Comments (1)

fekhiNovember 25th, 2009 at 1:43 am

pengen nonton juga nih

Leave a comment

Your comment