Aku Cemburu!
Aku tidak cinta pada tetanggaku, maka aku tidak cemburu apalagi benci. Aku cinta pada keluargaku, maka aku cemburu dan berusaha untuk tidak benci. Kesal? Pasti! Katanya benci itu tak terobati. Jadi cukup sampai kesal saja lah.
Sahabatku punya kesibukan baru, tidak lagi memperhatikan, jelas aku cemburu. Anakku lebih akrab dengan temannya, tentu aku lebih cemburu. Si Ayah sibuk dan tidak memperhatikan, pasti aku sangat cemburu. Jaman pacaran dengan mantan-mantan yang dulu, aku hampir nggak pernah cemburu. Kok bisa? Nggak tahu, nggak merasa begitu. Apa karena nggak cinta? Si Ayah bukan pencemburu, apa karena nggak cinta? Nggak juga. Sesekali memang dia cemburu, hanya sikapnya yang diam perlu dicermati kalau dia lagi cemburu.
Cemburu pasti timbul karena ada rasa kehilangan perhatian. Cemburu buta bisa menghasilkan hal-hal ekstrim, bahkan sampai ke urusan bunuh-membunuh. Setelah korbannya mati, apa cemburunya selesai? Kok jadi penyelesaian yang konyol?
Sahabatku tiba-tiba menutup diri. Kesal. Jengkel. Curiga. Cemburu. Ada apa sebenarnya? Ada hal-hal yang hilang dari kebiasaan kami. Telepon hanya kalau butuh, siapa yang tidak jengkel? Rasanya mau teriak, “Hei! Aku bukan orang lain yang kalau butuh kamu cari, tidak butuh kamu abaikan! Katanya kita bersahabat baik?” Tapi begitulah, namanya juga manusia. Ketika butuh baru ingat pada semua sahabatnya karena hanya sahabat yang sudi menemani di kala susah. Kalau senang, siapapun mau dekat-dekat jadi wajar saja kalau sahabat terlupakan.
Setiap hari, susah menyingkirkan pikiran-pikiran buruk itu. Jangan-jangan dia punya sahabat baru. Jangan-jangan dia punya pacar lalu aku terlupakan. Jangan-jangan aku punya salah. Jangan-jangan…
Mau diomong, kok ya takut dikira terlalu sensi. Tidak diomong, mengganjal. Aku diam saja ditanya-tanya, “Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak ceria?” Padahal aku menekan emosi. Padahal aku (berusaha) tetap ceria seperti biasa. Padahal aku ingin jaga jarak dengannya. Padahal aku ingin dia tahu kalau aku jengkel dan cemburu. Padahal…
Aku juga tahu jawabannya selalu sama, “Lagi sibuk aja.” Sibuk memang alasan paling mudah dan paling sederhana yang bisa diajukan pada banyak hal. Lupa doa, lupa teman, lupa makan, lupa balas sms, lupa telepon, lupa…
Jadi nggak boleh cemburu? Segala perasaan – apapun itu – punya hak sama untuk dirasakan dan dimiliki. Kasihan sekali orang yang tidak boleh memiliki perasaan tertentu, lebih kasihan lagi pada orang yang tidak membolehkannya.
Pacar, sahabat, pasangan, orang tua, biasanya “membatasi” perasaan-perasaan sejenis itu. “Gitu aja marah,” atau”Jangan nangis!” atau “Nggak usah cemburu!” Malang betul nasib para perasaan itu hanya bisa hinggap di hati sebagian orang. Perasaan tidak ada benar-salah. Semua perasaan itu benar. Tapi pertanyaannya adalah: bagaimana mengungkapkannya tanpa menyinggung orang yang dimaksud?
Si Ayah juaraang… sekali cemburu. Kalaupun cemburu hanya diam. Itu karena dia introvert. Aku yang extrovert tentu tidak bisa menjaga mulutku. Pasti kubilang, “Aku cemburu.”
Cemburu yang diungkapkan dengan marah-marah tidak jelas, tentu tidak menyelesaikan masalah. Lawan bicara tidak paham kalau kita cemburu, pesan cemburunya juga tidak sampai. Jika kita merasa diri dewasa dan matang, tentu bisa bersikap lebih arif. Katakan dengan sederhana, “Aku cemburu, karena…” Jika disampaikan dengan begitu, teorinya tidak menyulut keributan. Prakteknya memang tergantung kedua belah pihak kan. Tapi setidaknya pesan yang dibungkus dengan manis biasanya diterima dengan lebih baik. Bayangkan jika kita memberi benda pada orang lain dengan dilempar, bukan diserahkan?
Jangan pernah membatasi perasaan cemburu. Batasi bagaimana menyampaikannya. Jika pilihannya adalah diam, itu sah-sah saja. Cemburu itu indah, karena bagian dari rasa cinta. Membuktikan pada orang lain bahwa kita cemburu karena kita cinta.
Sahabat, tahukah kamu, aku cemburu? Itu menyiksaku!













memang, cemburu itu menyiksa…