Aku Tidak Bodoh, Ma
Hari Anak Nasional 2009
Hari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?
Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.

“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.
Ok, anak itu nilainya B. Nilai B itu jelek. Masa? Dulu, aku tahu kalau nilai D itu jelek, harus mengulang. Nilai E itu angka mati, harus mengulang dari awal. Tapi ini nilai B? Gak boleh pulang sampai bisa baca soal? Kayaknya kelewatan deh!
Aku ingat juga dengan seoarang kerabat yang juga menuntut bahwa anaknya harus dapat nilai A. Aku tahu betul bahwa kerabat ini tidak mendampingi anaknya belajar. Ibunya memang pengacara, pengangguran banyak acara. Entah apa yang dikerjakan sampai tidak mendampingi anaknya belajar. Tapi kalau anaknya dapat nilai B, kerabat ini juga sama marahnya. Hanya bedanya, kerabat ini tidak berteriak.
Mungkin aku ibu yang aneh. Si Sulung pernah dapat nilai D untuk Bahasa Mandarin waktu TK A. Waktu itu Ibu Guru hati-hati menjelaskan. Sementara aku hanya cengengesan. Mau apa lagi? Gak ada seorangpun yang bisa Bahasa Mandarin. Ada keponakan yang di Bandung memang pandai, tapi untuk minta diajari kok jauh banget ya? Toh, Si Sulung bekerja keras. Nilai Bahasa Mandarinnya tiap semester naik terus. Mulai dapat nilai C, terakhir lulus TK dengan nilai B. Untuk ukuran yang tidak didampingi orang tua – karena aku gak ngerti, cuma tau bentuk tulisannya sebisa mungkin memang mirip dengan contohnya – itu sudah luarr biasaa!
Kemarin, ketika aku jemput Si Sulung, ternyata Lau She-nya kurang memberi tugas, tidak sama dengan teman-temannya. Maka aku menghadap Lau She untuk konfirmasi. Ternyata betul, tugasnya kurang. Ortu murid jaman sekarang memang harus ikut sekolah. Mengecek apa tugasnya sudah betul yang diberikan, apakah anaknya sudah betul mengerjakan. Makanya di buku tulis itu selalu ada kolom “tanda tangan orang tua”. Kecuali orang tua hanya paraf tanpa membaca isinya.
Ibu, mungkin anak-anak tidak bodoh. Mungkin mereka hanya ingin didampingi. Bagaimanapun, tugas sekian banyak yang harus dikerjakan dan membuat stress akan terasa berbeda meskipun aku hanya tiduran di sebelah Si Sulung.
Ibu, anak-anak juga butuh bermain. Terbayangkah bahwa di sekolah mereka cukup stress? Ditambah lagi dengan berbagai les matematika? Kapan mereka bermain?
Maaf, aku memang Ibu yang aneh. Anak-anakku akan banyak les, tapi bukan matematika. Kesenian, olah raga atau bahasa itu saja. Maaf, kalau aku berbeda dengan Anda. Karena aku dan Si Ayah membuktikan bahwa pandai di sekolah dengan nilai yang selalu juara tidak menjamin kami sukses dalam karir.
Nak, jadi anak pandai itu relatif, jadi anak baik itu mutlak.
Selamat pesta Hari Anak Nasional!













Setujuuuuu…. Jadi ingat masa kecil kalo pulang dengan hasil ulangan, dapat nilai delapan, nyokap pasti comment gini: Kok delapan? Kenapa gak sepuluh…??
Hiks….
gw pilih sebelas deh
hehehe
pernah dulu dapet nilai 9
seneeeng… banget!!
tnyata temen2 dapetnya 20!!
ada 1 anak yg dapet 60
wakakak
iya, setuju, anak hrs menikmati masa kanak2nya… soalnya anak pintar tidak selalu sukses dalam kehidupan nyata
loh ganti lagi theme blog-nya, tapi ini bagus kok… lebih membumi, pakek pensil sama mesin ketik. lebih pas lagi kalo laptop juga ada wkwkwkkw..
lin itu nilai mungkin guru lu kurang kasih tambahan 0 di belakangan angka 9 :p
fem,
ga ganti, cuman ganti header ama footer biar lebih kontekstual
HALAH!
guru gw ga salah, kan jaman skolah gw ngaco
kwkwkwk
walah…dulu saya dibiarin ajah tuh ma orang tua…mau belajar mau nggak silahkaaaan….yg penting tau kewajiban sendiri……bebasssss eeeeuuuyy
sekali2nya nilai akuntansi (benci dah ma akuntansi makanya nggak mau dah ketemu akuntansi pas kelas 2-nya…hheheh) dpt 4 waktu kelas satu SMA….papi saya malah bilang …”nggak papa biar sekali2 ngrasain dpt nilai 4″ wkakakakaka….
yg ada tengsin sendiri…….