Do I Know You?
(G. Lini Hanafiah)
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Aku tidak kenal mereka, mereka tidak kenal aku. Itu bukan masalah. Masalahnya adalah ketika mereka mencap segala atribut dengan sesuka hati, itu menjadi masalah. Masalahnya adalah “Do I know you?”
Sungguh, aku sangat tidak peduli segala label negatif yang ditempelkan di jidatku. Aku bukan selebriti yang butuh dielu-elukan. Aku hanya orang biasa yang butuh teman di saat susah dan senang. Pun ketika seseorang yang tidak kenal tiba-tiba bersikap sedemikian rupa. Marah? Kecewa? Manusiawi kan?
Aku sampaikan pada temanku, “Mungkin sebaiknya jika membagi sesuatu dibatasi pada mereka yang saling kenal. Sehingga terhindar dari reaksi di luar dugaan seperti itu.” Aku dan temanku dalam posisi yang sama-sama tidak enak. Dia tidak enak karena merasa aku tersinggung, aku tidak enak karena hampir semua temannya di dalam pesan itu terkontaminasi sikapku dan jadi marah.
Menuntut memang lebih mudah daripada mengerti. “Hargai dong dia yang berniat menghibur lo,” atau “Lo lagi kena masalah, gw ga kenal lo jadi jangan bawa-bawa ke sini masalahnya,” atau “Bersikap dewasa dong!” Itu baru segelintir dari sekian banyak tuntutan kita pada orang lain.
Kamu memang tidak mengerti masalahku. Mungkin juga tidak akan pernah mengerti karena kamu tidak mau mengerti. Yang penting adalah aku tidak minta kamu untuk mengerti karena kita tidak saling kenal dan kamu tidak terlibat. Aku juga tidak akan mengatakan, “Seandainya kamu yang mengalami pasti sikapmu akan bertolak belakang.”
Maaf kalau aku makin tidak berminat berteman dengan orang macam itu. Manusia yang berteman, tidak akan sesuka hati memberi label negatif pada temannya. Tidak perlu dukungan yang menghebohkan, cukup katakan, “Aku turut simpati.” Itu lebih dari cukup. Atau diam saja, itu juga sudah cukup. Aku semakin yakin bahwa masih sangat banyak manusia yang sungguh ingin berteman dengan baik.
Teman saling menjaga, bukan saling menuntut. Teman menerima kita utuh apa adanya, dengan segala macam kekurangan yang kita punya. Ketika teman-temanku menjadikan kekuranganku sebagai guyonan, aku menganggap itulah bentuk perhatiannya padaku.
Bahkan ketika seorang teman pun melabeli macam-macam, aku hanya bisa menyanyikan lagu Saykoji, “So what gitu loh…”
Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan teman yang luar biasa padaku.
Buat temanku yang kemarin menghiburku, terima kasih banyak. You are such a wonderful friend. Boleh aku perbaiki kesalahanku kah?













saya mengerti perasaan anda tentang “penjiplakan” itu. Tulisan saya pun pernah dijiplak dan diakui oleh seseorang sebagai hasil karyanya. Sedih, marah, geram, kesal, ingin nabok..dll..
Tindakan saya adalah meninggalkan pesan di blognya yang meng “copy” “paste” tulisan saya itu dan menegurnya.. Hasilnya ?? Tulisan saya di delete dari arsip blognya…
Yah…rasanya kita perlu perlindungan hak cipta di dunia maya ya?
halo Riris,
itulah
beda reaksi orang yang pernah mengalami atau terlibat
beda lagi reaksi teman/sahabat yang empati
beda juga reaksi orang yang kita ga kenal
yang udah2, saya biasanya tulis di kotak komennya “makasih udah memuat tulisan saya, aslinya ada di http://blablabla” dan biasanya dia minta maaf meskipun ga dicantumkan
anggap aja promosi gratis
nulis terus ya!
gak papa, saat geram, tangan kita mencengkram semakin kuat untuk berpegang bagai akar yang terus menghunjam ke tanah supaya tidak jatuh kena terpaan kata-kata yang yang gak berguna gitu.
biasalah… namanya orang yang gak kenal gitu kalo ngomong emang gak pakek mikir karena emang ‘gak kenal’ kan jadi emang gak mau mikir… jadi memang walaupun jadi pikiran tapi anggap aja tuh orang nebeng ngetop :p
the problem is kebenaran kita belum tentu adalah kebenaran orang lain. Yang terpenting kita sendiri tahu apa kebenaran kita. Saat orang lain tidak mengerti, biarkan saja. Banyak org berpikir bahwa mereka tahu segala-galanya dan selalu tahu apa yang benar. Tapi sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar tahu karena dalam segala keputusan dan tindakan yang kita ambil, kita yang paling jelas apa pertimbangan di balik itu semua. Dan kita yang bertanggungjawab atas hidup kita sendiri, bukan orang lain. So, keep the faith. Tetap yakin pada diri sendiri. And be happy
@ Femi n Angel: itulah bedanya teman n orang ga kenal
halaaahhh… mentah lagi
wkwkwk
Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu . . .bahkan ontanya juga ga nengok kali yeee . . .Be happy always.
Do i know you?? jawab balik..You dont know me?? ayuukk kenalaaaaannnnn…hehehehe….dan yukk nuliss..yg fair…jangan menjiplak…hehehhhe
kidding lin
wahhh… baru sempet baca tulisanmu yg satu ini lho (waktu abis kena jiplak itu ya…)
kalo dibilang ga kenal emang ga tp koq rasanya kenal (wahhh… aku ini sok kenal kali ya…) lha wong ga pernah ketemu koq hehehe… tp rasa sebel pengen labrak itu penjiplak memang ada seh.. selama ini ak ga sok kenal kan ya…? (jiper mode on)
Dan karna sibuknya di kantor dan rumah lantas aku suka berandai2… seandainya komputerku ini tau apa yg ada di otakku trus dia bisa langsung nyuruh keyboard ngetik sendiri yg ada di kepalaku untuk ditulis whuaaaahhhh enaknya (ini nyolong2 nulis komen pula) karena ak pengen bisa langsung nulis apa yg ada di otakku… seandainya… makasih ya lin udh mau jadi temenku juga…
@ Christine: tulisan ini bukan ditujukan buat yang jiplak, tapi buat orang-orang yang memberi cap bahwa si lini mendramatisir kasus itu. iya, coba klo dia ngrasain, baru deh mati berdiri! makasih juga mau jadi temanku… hehehe